Metode 1 (wet mount)
Tujuan: pengamatan lemak, abnormalitas, parasit, virus
Alat dan bahan:
- Mikroskop dengan perbesaran 10-100x
- Objek glass
- Cover glass
- Air laut atau gunakan NaCl
- Pipet Pasteur
- Alat bedah
-->
Metode 1 (wet mount)
Tujuan: pengamatan lemak, abnormalitas, parasit, virus
Alat dan bahan:
Metode molekuler merupakan metode diagnosis yang cukup penting dalam diagnosa penyakit udang. Diagnosa penyakit udang yang paling banyak digunakan dalam waktu cepat dengan akurasi tinggi adalah menggunakan PCR. Probe gene pertama dikembangkan untuk mendiagnosa penyakit udang IHHNV. Metode ini mengamplifikasi bagian unik dari genom patogen yang terdeteksi dengan sepasang primer spesifik.
Metode PCR menargetkan sebagian kecil dari asam nukleat patogen (RNA maupun DNA) yang diamplifikasi dengan bantuan deoxynucleotida dan DNA polymerase. PCR dapat mendeteksi patogen yang berjumlah banyak (dalam stadium infeksi berat) maupun patogen dalam jumlah sedikit (stadium awal atau tanpa gejala) dengan nested PCR. PCR sangat membantu dalam deteksi dini penyakit udang sehingga penyakit dikontrol lebih awal. PCR juga dapat mendeteksi karier, air, sedimen, untuk melihat adanya kontaminasi di lingkungan budidaya.
Nama lain: Cotton shrimp, milky shrimp, white back shrimp [1], microsporidiasis [6].
Etiologi/ penyebab: microsporidia seperti Ameson (Nosema) nelsoni, Agmasoma (Thelohania) duorara, Pleistophora (Plistophora) penaei [1]. Parasit ini masuk dalam parasite uniseluler pengahsil spora (kingdom fungi) [7]. Setiap jenis mikrosporidia memiliki ukuran yang berbeda, dengan uraian sebagai berikut [6]:
Ameson: 1.2 x 2 μm, dihasilkan secara tunggal dari sporont
Pleistophora: 2.1 x 2.6 μm, spora berjumlah 16-40 di setiap sporont
Agmasoma penaei: 2.0 x 5.0 atau 5.0 x 8.2 μm dengan jumlah 8 spora tiap sporont
Agmasoma duorara : 3.6 x 5.4 μm dengan jumlah 8 spora tiap sporont
Pada budidaya udang, oubreak penyakit dapat dikatakan jika terdapat minimal 10 (bisa 20,30 bahkan 50) ekor udang yang mati atau sakit per harinya yang terlihat di tepi tambak dalam lima hari berturut-turut. Atau, terdapat keabnormalitasan pada udang yang mencapai >2% dari populasi. Kondisi ini dapat meningkat menjadi gawat darurat apabila kematian terjadi dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Pola kematian semacam ini dapat disebabkan oleh faktor lingkungan atau kesalahan manajemen. Apabila terdapat indikasi kematian disebabkan oleh penyakit, maka dibutuhkan peran dari petugas laboratorium atau pihak terkait. Petugas yang datang ke lokasi harus mendapatkan sejumlah informasi dan melakukan tindakan lapangan. Proses ini membutuhkan kerjasama dengan pembudidaya ataupun teknisi yang berada di lapangan.
Manajamen kesehatan udang merupakan bagian dari biosekuriti untuk keberlanjutan produksi perikanan. Pemahaman mengenai lingkungan, biota, biologi spesies, penyakit, patogen, perkembangan penyakit, diagnosa, epidemiologi, dan pengendalian adalah faktor penting dalam manajamen penyakit udang. Mengapa manajemen kesehatan udang menjadi penting? yakni guna mengetahui munculnya penyakit sedini mungkin sehingga dapat melakukan respon lebih awal sebelum penyakit merebak dan meluas. Fokus manajemen kesehatan udang utamanya bersumber pada pencegahan baik pada pemeliharaan, aspek nutrisi, maupun pengelolaan stress. Teknik manajemen yang baik juga harus diterapkan. Hal ini perlu didukung dengan laboratorium kesehatan ikan yang mampu mendeteksi penyakit secara tepat lebih awal. Oleh karenanya pada budidaya masa kini, laboratorium kesehatan ikan banyak berkembang dengan peralatan yang personel yang telah dilatih.