-->

    Sunday, 17 February 2019

    Epitheliocystis

    Nama lain:  Mucophilosis [1]

    Etiologi/ penyebab
    Bermacam-macam, namun secara patologi gambarannya serupa baik di ikan air tawar maupun laut [3]. Organisme chlamidya dipercaya menjadi penyebab epitheliocystis [2]. Organisme ini intraseluler, gram negatif, 16R rRNA, bedimeter 0,2-1,2um [3]. Terdapat enam famili dari filum Clamidya yang menjelaskan penyebab epitheliocystis pada ikan yaitu Ca. Piscichlamydiaceae, Ca. Clavichamydiaceae, Ca. Parilichamydiaceae, Parachlamydiaceae, Simkaniaceae dan Rhabdochlamydiaceae. Yang menarik pada epitheliocystis adalah
    dalam publikasi terbaru disebutkan bahwa β-proteobakteria dan γ- proteobakteria turut terlibat. γ- proteobakteria patogenik dari genus endozoicomonas dapat menyebabkan epitheliocystis. Beberapa jenis β-proteobakteria yang berkaitan dengan epitheliocystis antara lain Candidatus Branchiomonas cysticola yang terdeteksi pada kista ikan Atlantic Salmon, Ca. B. cysticola dan Ca. Piscichlamydia pada ikan salmon air laut yang dibudidayakan, Ca. Ichthyocystis hellenicum dan  Ca. Ichthyocystis sparus pada ikan gilthed seabream [5]

    Hospes
    Lebih dari 90 spesies ikan air tawar dan laut pada 14 negara dapat terinfeksi oleh epitheliocystis [4,5]. Patogen ini berkaitan dengan kematian pada ikan white sturgeon, common grey mullet, grey liza mullet, striped bass, Australian bass, pacu, largemouth bass, bartail fl athead, gilthead sea bream, red sea bream, common carp, Atlantic salmon, rainbow trout, lake trout, yellowtail kingfi sh, yellowtail, dan amberjack [1]

    Stadium rentan 
    Ikan juvenil pada masa pembesaran memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi [2]

    Epizootiologi
    Istilah epitheliocystis yang awalnya disebut sebagai mucophilosis teramati pada ikan mas [4]. Selanjutnya pada tahuan 1969 baru dideskripsikan sebagai epitheliocytis yang terjadi pada ikan bluegill [5]. Penularannya sangat terbatas pada spesies ataupun famili yang sama [1]. Umumnya infeksi akan muncul 3-4 minggu pada hewan percobaan [3].  Penularan secara horizontal berasal dari ikan yang terinfeksi sebagai reservoir. Translokasi atau aktifitas penebaran ikan mungkin berkontribusi terhadap penularan. Penularan secara vertikal diduga terjadi pada ikan kakap putih dari benih ke tokolan. Lingkungan sebagai reservoid juga menjelaskan mengapa ikan kingfish dapat terinfeksi pada beberapa musim. Epitheliocystis diduga memiliki vektor yang potensial seperti invertebrata maupun amuba meskipun belum sepenuhnya dibuktikan [5]. Dalam jumlah sedikit, epitheliocystis mungkin saja kebetulan ditemukan. Namun dalam jumlah banyak, tentunya berkaitan dengan kematian [1]. Epitheliocystis sebenarnya tidak berbahaya namun mortalitas yang tinggi dapat terjadi terutama pada benih ikan [3]. Mortalitas dapat berada dikisaran 4-100%, dan sebagian besar terjadi pada ikan budidaya dibandingkan ikan liar [4].

    Siklus Hidup
    Tidak diketahui [1]. Arkush et al (2011) merangkum beberapa studi mengenai siklus hidup epitheiliocystis yang terbagi menjadi dua. Siklus pertama dicirikan dengan pergantian antara badan elementary infeksius non replikasi dan replikasi badan reticulatus non infeksius. Pada siklus ini, infeksi ditandai dengan perlekatan badan elementary pada sel hospes. Begitu badan tersebut masuk ke dalam sel, terjadi germinasi dan berubah menjadi bentuk reticulatus yang di dalamnya terdapat vesikel endocytic. Setelah membelah, organisme menjadi badan elementary dan lepas dari sel tubuh melalui eksositosis. Pada siklus kedua, stadium vegetatif intraseluler diidentifikasi sebagai sel primer dan intermediet pajang dimana yang infektof berbentuk lebih kecil. Siklus hidupnya bergantung pada kondisi ikan, lingkungan, dan tipe sel yang terinfeksi  [3].

    Faktor pendukung
    Beberapa studi menyatakan bahwa infeksi epitheliocystis kerap terjadi pada musim panas ketika suhu tinggi. Namun adapula studi yang menyatakan bahwa perkembangan epitheliocystis dari kronis ke proliferatif terjadi pada suhu rendah. Umur sepertinya tidak berpengaruh pada infeksi ini [3]. Ikan budidaya tampaknya memiliki prevalensi yang lebih besar untuk mengalami epitheliocystis dibandingkan ikan liar. Kondisi budidaya dapat memperburuk epitheliocystis karena peningkatan kepadatan ikan, adanya nutrien dan / stress [4]

    Gejala Klinis
    Target utama dari epitheliocystis adalah kulit,(terkadang) insang, dan pseudobranchia. Lesi berupa nodul berwarna putih dengan diameter 0,8-<1mm pada insang atau kulit [1,2]. Lesi ini merupakan kondisi epitel insang atau kulit yang mengalami proliferasi [2]. Infeksi pada insang akan menyebabkan ikan sulit bernafas dan operculum terbuka [3]. Epitheliocystis juga dapat berdampak pada osmoregulasi, meningkatkan serum osmolalitas seperti yang teramati pada striped trumpeter [5]

    Perubahan patologi
    Pada epitheliocystis tubuh ikan merespon dari tanpa reaksi hingga hiperplasia pada insang. Pada infeksi ringan respon yang terlihat hanya peradangan sekitar. Pada sel yang terinfeksi, umumnya akan mengalami pembengkakan hingga diameter 20-400mm dengan tepi berupa epitel squamus atau kuboid[1,2]. Pembengkakan ini berupa kista yang secara makroskopis  berwarna transparan putih  hingga kuning [3]. Secara mikroskopis kista berbentuk bulat dibatasi dengan kapsul hyalin eosinofilik yang tersusun dari sista-sisa membran sel dan sitoplasma yang masih tertahan [4]. Pada insang, semua jenis sel bisa terinfeki termasuk, sel mukus, sel pillar,  sel klorida dan sel goblet. Sitoplasma yang hipertrofi berada di tepi, bergranula, tercat basofilik, fan banyak sekali badan inklusi berbentuk kokus atau kokobasil. Pada kulit, secara histopatologi mirip dengan limphocystis namun dapat dibedakan dengan infeksi pada fibroblast dermis diman terdapat inklusi ireguler dan nukleus yang tidak berubah [1,2]. Infeksi pada kulit sangat jarang.

    Gb. Epitheliocystis secara histologi (picture credit to Blanford, 2018)


    Diagnosa banding
    Epitheliocystis memiliki gambaran serupa dengan Ichthyophthirius multifiliis, limphocystis, dan lesi kulit nodular. Meskipun serupa, namun pada histopatologi lesinya akan mudah dibedakan. Disamping itu, epitheliocystis dapat menyerang ikan mas, salmon, dan catfish, yang tidak terjadi pada lymphocystis [1]

    Metode Diagnosa
    Diagnosa sedehana dapat dilakukan dengan wet mount dimana terdapat sel epitel yang membesar baik pada insang maupun kulit. Hal yang serupa juga akan teramati pada pengamatan histopatologi [1]. Secara makroskopis kista terlihat seperti nodul kuning pada insang atau kulit [3].

    Gb. Epitheliocystis pada Threadfin shad (figure credit to Dr Andy Goodwin)
    Pencegahan dan Pengendalian
    Pengendalian dapat dilakukan dengan oksitetrasiklin oral [1]. Dosis yang direkomendasikan adalah 25mg/l bahan aktif dua kali sehari selama 3 hari. Pengembangan vaksinasi sepertinya tidak mungkin dilakukan. DIsamping infeksinya tidak berbahaya, agen patogen ini belum dapat diisolasi maupun dikultur [3].  Iradiasi ultraviolet sumber air dapat mengontrol outbreak pada amberjack dan leopard coral grouper [1,4].  Beberapa percobaan terkait pengobatan epitheliocystis pernah dilakukan pada juvenil ikan nil yaitu formalin (30ppm), garam (2ppt), benzalkonium klorida (2ppm), potassium permanganat (4ppm), dan pergantian air. Berdasarkan studi tersebut, semua perlakuan mampu mengurangi kista, namun pergantian air dan benzalkonium klorida merupakan perlakuan terbaik dengan sedikit kematian [5]

    Bahan bacaan
    1. Noga, E J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Blackwell Publishing
    2. Roberts, R.J (Ed). Fish Pathology 4th Ed. Wiley-Blackwell: UK
    3. Arkush, K.D. dan Bartholomew, J.L. Chapter 8: Piscirickettsia, Francisella and Epitheliocystis. Dalam Woo, P.K. dan Bruno, D.W. (Ed).2011. Fish Diseases and Disorders, Volume 3: Viral, Bacterial and Fungal Infections, 2nd Edition. CABI international: UK
    4. Nowak, B.F. dan LaPatra, S.E. 2006. Epitheliocystis in Fish. Journal of Fish Diseases 29: 573–588
    5. Blanford, M.A., A. Taylor-Brown., T. A. Schlacher., B. Nowak., A. Polkinghorne. 2018. Epitheliocystis in fish: An emerging aquaculture disease with a global impact. Transbound Emerg Dis:1–11.

    No comments:

    Post a Comment