-->

    Saturday, 8 December 2018

    Nekrosis otot pada udang


    Etiologi/Penyebab
    Ketika udang berada pada kondisi stress, seperti oksigen rendah atau kepadatan yang tinggi, otot akan kehilangan transparansinya (mengalami nekrosis) dan menjadi bercak-bercak dengan area berwarna keputih-putihan. Hal ini akan terjadi hingga seluruh ekor berwarna putih. Pada kondisi yang diperbaiki, udang akan kembali normal. Namun pada kondisi ekstrim udang akan mati dalam hitungan menit [1].
    Kondisi nekrosis juga dapat disebabkan oleh fluktuasi suhu dan salinitas [2], organisme fouling pada insang [3], dan penanganan yang kasar (saat pengambilan udang, pemanenan, dll) [4]. Di luar ini, nekrosis otot juga merupakan  salah satu kondisi yang disebabkan oleh infeksi virus seperti IMNV (Infectious Myonecrosis Virus) dan PvNV (Penaeus vannamei  Nodavirus) atau infeksi bakterial. Penyebab nekrosis oleh patogen dijelaskan pada postingan lainnya.  

    Hospes
    Udang monodon [3], semua jenis udang penaeid [5]

    Stadium rentan
    Postlarva, juvenil, dewasa [3]

    Gejala klinis
    Perubahan klinis udang yang mengalami nekrosis dapat terlihat dari perubahan warna menjadi opaq pada bagian abdomen [2], khususnya abdomen bagian atas [5]. Pada tepi uropod menjadi hitam diikuti dengan erosi. Pada stadium laut teramati cairan yang mengisi tepi uropod. Udang dapat menjadi lemah, kemudian mati. Pada postlarva, garis-garis di abdomen terlihat seperti “wood grain” atau butiran kayu [3]. Penyakit ini bersifat reversible jika terjadi pada stadium awal, namun menjadi fatal jika terjadi pada area yang luas [5].

    Perubahan patologi
    Bagian yang terkena, seperti uropod dan otot, lama kelamaan akan mengalami erosi terutama pada bagian ekor. Area erosi ini dapat menjadi tempat masuknya bakteri sekunder [3].

    Pencegahan dan Pengendalian
    Pencegahan dilakukan dengan mengurangi kepadatan, pakan yang cukup tidak berlebih, dan perbaikan kualitas air agar tidak fluktuatif [3]. DIsamping itu juga harus dilakukan handling yang baik. 


    Sumber bacaan

    1. Johnson, S.K. 1995. Handbook of Shrimp Diseases. Department of Wildlife and Fisheries Science, Texas A&M University.

    2. Lipton, A.P. 1994. 5. Shrimp Disease and Control. Dalam Raj, S.P. (Ed). 1994. Shrimp Farming Techniques, Problems and Solutions. Palani Paramount Publication: Palani

    3. Lavilla-Pitogo, C.R., Lio-Po, G.D., Cruz-Lacierda, E.R., Alapide-Tendencia, E.V., de la Pena, L.D. 2000. Diseases of Penaeid Shrimps in the Philippines. Southeast Asian Fisheries Development Center: Filipina

    4. University of Arizona. 2012. Pathology Course

    5. Treece, G.D. dan Fox, J.M. 1999. Design, Operation and Training Manual for an Intensive Culture Shrimp Hatchery. Diane Publishing


    No comments:

    Post a Comment