-->

    Monday, 20 November 2017

    Penyakit insang hitam pada udang oleh Fusarium

    Nama lain:  penyakit insang hitam, black gill disease



    Hospes : udang penaeid [5] P. duorarum, P. californiensis  [6], Rock Lobster Panilurus ornatus dan udang mantis O.oatoria  [8]. L. vannamei lebih tahan dibandingkan spesies lain seperti P. stylirostris dan P. japonicus [4]



    Stadium rentan : juvenil – dewasa [2] Utamanya terjadi pada dewasa hingga indukan. Infeksi pada juvenile hingga subadult sangat jarang . Fusarium tidak menginfeksi stadium larva [4].



    Etiologi/ penyebab: jamur Fusarium spp[1] Fusarium solani, F. moniliforme, Ascomycetes [5] F. tobacinum [7] F. oxsporum, F. incarnatum[9] . Beberapa spesies jamur lainnya dapat terlibat pada infeksi ini [6]



    Epizootiologi

    Fusarium sp dilaporkan oleh Egusa dan Ueda (1942) menyebabkan penyakit Black Gill Disease pada Penaeus japonicus  [6]. Khoa dan Hatai (2006) melaporkan penyakit insang hitam pada P. japonicus yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Di Vietnam, Khoa et al (2004) menemukan infeksi Fusarium incarnatum penyebab insang hitam pada udang windu. Udang terinfeksi menunjukkan gejala insang hitam dan kematian sekitar satu bulan jelang panen. Jamur ini juga pathogen pada udang kuruma melalui percobaan infeksi [9]. Spora Fusarium solani dapat ditemukan di semua perairan pantai, terutama pasir yang mengandung banyak bahan organic [12]. Laporan kasus epizootic yang cukup parah pada udang California berukuran 10cm terjadi di Puerto Penasco, Mexico dengan tingkat kejadian 100% dan kematian 90%. Jamur ini menyerang insang, segmen basal kaki jalan, dan dinding tubuh [6]. Jamur ini dapat masuk ke dalam tubuh udang melalui kutikula yang robek ataupun mengalami erosi [4]. Infeksi buatan menunjukkan bahwa infeksi jamur dapat diperoleh melalui injeksi intramuscular dan kematian terjadi dalam 7 hari. Jamur akan menyerang jaringan yang rusak atau mati dari luka akibat kepadatan dan kerusakan insang akibat treatmen bahan kimia [10]. Penyakit ini mudah menular dari induk udang yang terinfeksi kepada larva melalui telur. Indukan yang terinfeksi akan menjadi sumber infeksi bagi induk udang lainnya [12].



    Faktor pendukung

    Prevalensi akan tinggi pada tambak dengan persiapan tambak kurang baik. Secara umum faktor yang memicu fusariosis pada udang vaname adalah ukuran dan umur udang, lesi kutikula, dan sanitasi yang tidak sesuai [4].  Faktor stress dan kepadatan yang tinggi juga dapat menjadi factor pemicu masuknya infeksi Fusarium [5].



    Gejala Klinis

    Udang menunjukkan gejala insang berwarna hitam atau coklat. Luka pada tubuh menjadi tempat pertumbuhan jamur [1]. Organ lain seperti kaki renang dan kaki jalan mengalami kerusakan dan terputus [2].  Insang pada infeksi awal menunjukkan perubahan warna insang. Insang berwarna putih opak jingga kuning atau coklat yang kemudian berubah menjadi hitam [8]. Pada udang yang diinfeksi buatan dengan F.oxysporum menunjukkan gejala insang hitam dan gejala lain yang serupa dengan udang yang diinfeksi alami [9] Lesi yang berwarna hitam dapat disebabkan oleh respon hemosit pada kaki, dinding tubuh, dan insang pada udang California [10]



    Perubahan patologi

    F. solani menyebabkan bagian kepala, ekor, insang, dan otot berwarna hitam atau mengalami melanisasi. Secara patologi terdapat akumulasi hemosit, hyperplasia, dan nodul granulomatous pada insang [7]. Pada fase lanjutan, infiltrasi hemosit menurun, mycelia menyebar, dan terjadi infeksi sekunder [11]. Pada jaringan yang rusak oleh infeksi jamur ini, hifa jamur yakni konidia dan sporangium terlihat di dalam filamen insang. Insang merupakan orang yang penting untuk pernafasan udang. Infeksi jamur pada insang akan menghalangi pernafasan, meningkatkan kematian kronis, dan membuka jalan bagi masuknya penyakit lain [8]


    Gb. Morfologi F. solani secara mikroskopis (Raghukumar, 2012)
    a. Aerial conidiophore panjang dan tidak bercabang, monophialidic, menghasilkan 0-1 septat conidia
    b. Satu sel konidia oval/ ellipsoid dan dua sel konidia subsilindris atau melengkung
    c. Aerial conidiophore tidak bercabang terbagi menjadi 3-4 septat konidia dan melengkung dengan ujung sel pendek dan tumpul
    d. Aerial conodiophore bercabang ke samping dengan 1-4 septat konidia
    e. Sporodochial conidiophore bercabang ke atas dank e samping, membentuk monophialides serta 3-4 septat konidia
    f. Sporodochial conidiophore membentuk conidiophore vertical-lateral pada fase awal sporulasi
    g. Chlamydospore terminal dari conidiophore, berdinding lembut, globose
    h. Chlamydospore intercalatus dalam hifa, berdinding lembut, globose, sepasang


    Metode Diagnosa dan pengiriman sampel

    Diagnosa dilakukan dengan scraping daerah luka yang diamati dengan mikroskop. Hasil positif diperoleh jika terdapat makrokonidia berbentuk bulan sabit [1] atau canoe shape   [5]. Isolasi pada agar semisolid dapat dilakukan untuk identifikasi penyebab [2]. Isolasi pada agar Sabouraud akan terdapat pembentukan makro dan mikrokonidida serta produksi pigmen coklat yang difus [6].



    Pencegahan dan Pengendalian

    Penanganan dan pengendalian cukup sulit karena berasal dari tanah atau saprobiont air [11].Pengendalian dapat dicoba dilakukan dengan perbaikan kualitas air, penyiponan lumpur, dan merangsang udang untuk moulting [1].  Di lapangan, belum ada fungisida yang efektif menangani penyakit ini [5]. Namun pada tahun 1974, studi Hatai et al menyatakan bahwa Nystatin dan Azalomycin F efektif untuk melawan infeksi jamur ini [6].  Disarankan melakukan pemusnahan sumber spora dan udang terinfeksi [6,12]



    Referensi

    [1]. Arifin, Z., Handayani, R., Sri Murti Astuti, Noor Fahris. 2010.  Waspadai Penyakit pada Budidaya Ikan dan Udang Air Payau. Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau: Jepara.



    [2].Maskur, Mukti Sri Hastuti, Taukhid, Angela Mariana Lusiastuti, M. Nurzain, Dewi Retno Murdati, Andi Rahman, Trinita Debataraja Simamora. 2012. Buku Saku Pengendalian Penyakit Ikan. Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.



    [3] Johnson, S.K. 1995. Handbook of Shrimp Diseases. Department of Wildlife and Fisheries Science, Texas A&M University.



    4 Brock, J.A. dan Main, K.L. 1994. A Guide to The Common Problems and Diseases of Cultured Penaeus vannamei. The Oceanic Institute: Honolulu



    5. Lio-Po. G.D. dan Inui, Y. 2014. Health Management in Aquaculture Second Edition. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department.



    6. Sindermann, C (Ed). 1974. Diagnosis and Control of MAriculture Disease in United States. Middle Atlantic Coastal Fisheries Center, National Marine Fisheries Services.






    8. Dewangan, N.K., Gopalakrishnan, A., Kannan, D., Shettu, D., Singh., R.R. 2015. Black gill disease of Pacific white leg shrimp (Litopenaeus vannamei) by Aspergillus flavus. Journal of Coastal Life Medicine 2015; 3(10): 761-765



    9. Hatai, K. 2012. Chapter 2 Diseases of Fish and Shellfish Caused by Marine Fungi. Progress in Molecular and Subcellular Biology 53, DOI 10.1007/978-3-642-23342-5_2, # Springer-Verlag Berlin Heidelberg



    10 Provenzano, A.J. 2012. Biology of Crustacea: Pathobiology. Elsevier.



    11. Woo, P.T.K., Leatherland., J.F., Bruno, D.W. 2011. Fish Disease and Disorder, Volume 3. CABI



    12. Murtidjo, B.A. 2003. Benih Udang WIndu Skala Kecil. Penerbit Kanisius: Yogyakarta




























    Gb. Morfologi F. solani secara mikroskopis (Raghukumar, 2012)

    Aerial conidiophore panjang dan tidak bercabang, monophialidic, menghasilkan 0-1 septat conidia

    Satu sel konidia oval/ ellipsoid dan dua sel konidia subsilindris atau melengkung

    Aerial conidiophore tidak bercabang terbagi menjadi 3-4 septat konidia dan melengkung dengan ujung sel pendek dan tumpul

    Aerial conodiophore bercabang ke samping dengan 1-4 septat konidia

    Sporodochial conidiophore bercabang ke atas dank e samping, membentuk monophialides serta 3-4 septat konidia

    Sporodochial conidiophore membentuk conidiophore vertical-lateral pada fase awal sporulasi

    Chlamydospore terminal dari conidiophore, berdinding lembut, globose

    Chlamydospore intercalatus dalam hifa, berdinding lembut, globose, sepasang


    No comments:

    Post a Comment