-->

    Wednesday, 11 April 2018

    Basic Pemeriksaan dan Diagnosa Penyakit Pada Ikan

    1. Anamnesa
    2. Pemeriksaan klinis
      Pemeriksaan ini meliputi pengamatan perilaku dan pemeriksaan klinis secara eksternal. Berat dan panjang ikan dicatat. Seluruh perubahan dan abnormalitas yang teramati dicatat.
    3. Pemeriksaan insang dan kulit untuk ektoparasit
    4. Pengambilan sampel darah (jika dibutuhkan). Lakukan pembuatan preparat apus darah. Bila ingin memeriksa kimia darah, lakukan pengawetan.
    5. Pengambilan sampel untuk jamur jika terdapat indikasi infeksi jamur. Buat preparat basah atau isolasi pada media jamur
    6. Pengambilan sampel untuk bakteri jika terdapat lesi eksternal
    7. Nekropsi
      Pembedahan dilakukan dengan membuat irisan dari garis ventral tubuh hingga ke bagian antar sirip pectoral. Lalu dari bagian anus melengkung ke belakang operculum. Pembedahan dilakukan secara hati-hati agar tidak merobek organ dalam. Selalu usahakan organ dalam berada di tempatnya dan dalam kondisi utuh belum berubah. Hal ini disamping akan mempermudah pemeriksaan internal juga mencegah kontaminasi jika akan dilakukan pengambilan sampel bakteriologi.
    8. Pemeriksaan internal
      Pemeriksaan internal sangatlah penting untuk mendapatkan informasi perubahan organ dalam. Pemeriksaan ini akan lebih mudah dilakukan pada spesies ikan berukuran besar. Pengamatan pada ikan kecil dapat dilakukan, namun sangat terbatas. Pemeriksaan dilakukan setelah nekropsi dilakukan. Organ dalam dapat disisihkan dari gelembung renang dan ginjal.  Hati-hati saat melakukan eksplorasi sebab beberapa organ dapat rapuh ataupun melekat kuat pada dinding abdomen. Isolasi bakteri dapat dilakukan pada tahap ini.
      Abdomen : amati adanya cairan, hemoragi, kista
      Hati : amati konsisntensi, warna, ukuran, bentuk, cairan, nodul
      Gelembung renang : amati adanya tumor
      Lambung : amati ada tidaknya makanan, isi lambung, parasite
      Usus : terisi makanan
      Otot : keras
      Ginjal : merah gelap
      Limpa : merah
      Gonad : tergantung stadium
      Jantung : bulbus arterious terpisah dan bening
    9. Pengambilan sampel untuk pengujian bakteri dari organ hati, limpa, ginjal, dan organ lain yang mengarah ke infeksi bacterial.
    10. Pemeriksaan endoparasite
      Pemeriksaan endoparasite dapat dilakukan dengan melakukan scrapping pada lambung kemudian diperiksa secara mikroskopis.
    11. Pemeriksaan tempel jaringan (jika dibutuhkan)
      Pengambilan sampel tempel jaringan dapat dilakukan jika dibutuhkan untuk pemeriksaan bakteri dan parasite. Pembuatan preparat dilakukan dengan melakukan squash atau smear dari organ limpa, hati, ginjal
    12. Pembedahan cranium/ kepala untuk mengambil otak dan enukleasi untuk mengambil mata (jika diperlukan)
    13. Pengambilan sampel untuk virologi
    14. Pengambilan sampel untuk histopatologi
    15. Pengawetan (jika dibutuhkan)
    16. Penandaan sampel yang telah diambil
    17. Pengambilan data sekunder (kualitas air, lingkungan, dokumentasi)
      Dokumentasi berupa foto penting untuk dapat melihat kembali perubahan organ terutama warna dan lesi
    18. Tambahan, pada kasus-kasus kematian pada perairan umum atau dugaan pencemaran, pengambilan sampel ikan untuk pemeriksaan residu akan sangat membantu diagnosa
    Catatan
    Ketepatan diagnosa penyakit ikan ditentukan oleh banyak hal. Oleh karenanya pemeriksaan klinis harus dilakukan secara seksama. Pemilihan sampel yang akan diuji juga menentukan keberhasilan diagnosa. Ikan yang diambil sebisa mungkin adalah ikan yang sakit dengan gejala klinis yang nyata. Faktor lain yang menentukan ketepatan diagnosa adalah ketepatan prosedur pengambilan dan pengawetan sampel. Jumlah sampel juga harus memadai agar mewakili populasi tersebut (lebih banyak sampel akan lebih representative hasilnya).

    Referensi
    Anonim. Brosur hama Penyakit Ikan.
    Wildgoose, W.H (Ed). 2001. BSAVA Manual of Ornamental Fish. British Small Animal Veterinary Association
    Reantaso M G., B.,  Mcgladdery S E, Subangsinghe. 2001. Asian Diagnostic Guide to Aquatic Animal Diseases. FAO Fisheries Technical Paper, No. 402, supplement 2. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), Rome, Italy, 240 pp.


    No comments:

    Post a Comment