-->

    Saturday, 2 September 2017

    Lintah pada ikan laut



    Nama lain:  Leech/ Hirudinea



    Etiologi/ penyebab: lintah. Parasit ini memiliki dua sucker (alat penghisap) di bagian anterior dan posterior [1]. Sucker memiliki ukuran dan perkembangan yang bervariasi  untuk membantu pergerakan, perlekatan, aktifitas memakan [3]. Di bagian anterior terdapat mata. Lintah yang termasuk kelas hirudinea ini memiliki dua famili, piscicolidae dan glossiphoniidae. Spesies yang kerap menyerang yakni Zeylanicobdela arugamensis. [1]. Adapula spesies Hemibdella.sp yang menyerang dover sole dan turbot [2]. Glossophoniidae berbentuk pipih, tidak terbagi menjadi anterior dan posterior. Kepala lebih kecil daripada tubuh dengan sucker anterior yang sulit dibedakan atau besarnya serupa dengan tubuh. Area tengah tubuh di tiap segmen memiliki 3 annuli. Sedangkan piscicolidae berbentuk silindris dan terbagi pada segmen XIII menjadi anterior dan posterior. Sucker anterior dibedakan dengan tubuh yang memiliki 3 annuli per segmen. Mata sederhana terlihat di kepala, leher, dan sucker posterior [8]

    Hospes : ikan budidaya, ikan liar [1] ikan laut seperti kerapu [4], ikan napoleon [9] crimson snapper/ ikan bambangan [10]

    Stadium rentan : lintah dapat menyerang berbagai stadium, mulai dari pembenihan, pembesaran, hingga indukan [7]


    Epizootiologi:

    Parasit ini merupakan parasit yang umum ditemukan di asia seperti di Srilanka, Malaysia, Indonesia, Singapura, India, Filipina, dan Australia [4]. Lintah berbahaya sebab dapat membawa parasite darah dan mungkin saja hemogregarin [2]. Lintah ditularkan secara horizontal.


    Faktor pendukung

    Parasit ini dapat muncul jika turbiditas air yang masuk terlalu tinggi [4]. Faktor lain yang mendukung infestasi lintah adalah manajemen fasilitas dan air yang buruk.


    Siklus Hidup

    Siklus hidup lintah adalah secara langsung. Parasit dewasa akan meletakkan coccon nya pada substrat atau pada famili tertentu dibawa oleh induknya. Coccon akan menetas menjadi larva muda. Lintah memiliki siklus hidup yang lengkap kurang dari setahun atau hingga beberapa tahun [2]. Lintah biasanya akan mati setelah mengelurakan coccon [7]

    Gejala Klinis

    Parasit dapat terlihat secara kasat mata di tubuh, sirip, mata, insang, dan rongga mulut. Ikan terinfeksi akan mengalami anemia kronis, ikan menjadi pucat, lemah, dan rentan terkena infeksi sekunder jamur atau bakteri.. Ikan juga bergerak lamban, berenang di permukaan air dan mengalami penurunan nafsu makan [1] [7]. Area tempat melekatnya lintah mengalami hemoragi dan pembengkakan kulit. Sedangkan sirip menjadi geripis [4]. Lintah diketahui sebagai vektor virus, bakteri, parasit darah [7].


    lintah pada ikan (gambar dari https://www.wildlife.ca.gov)


    Perubahan patologi

    Lintah sangat jarang menimbulkan perubahan patologi. Lesi akibat infestasi lintah hanya yang berkaitan dengan aktifitasnya menghisap darah. Lesi ini akan bersih dan sembuh setelah pendarahan berhenti. Mortalitas juga harang terjadi, dan biasanya terbatas pada perlambatan pertumbuhan saja [2]


    Patogenesitas

    Patogenesitas dari parasit ini bergantung pada jumlah dan ukuran parasit, lama perlekatan, dan hewan inangnya [1]. Lintah akan menginjeksikan histamin ke dalam pembuluh darah hospesnya agar berdilatasi sehingga aliran darah meningkat. Beberapa spesies menghisap seminggu sekali, sedangkan yang lainnya 6 bulan sekali [5]. Mortalitas terjadi pada ikan yang terinfestasi berat [7].



    Metode Diagnosa

    Lintah dapat bertahan selama beberapa waktu, bahkan walaupun dimasukkan vial dengan kapas basah. Fiksasi terbaik menggunakan etabol 70%. Pengamatan dilakukan dengan membuat lintah berelaksasi menggunakan methol, eter, atau pendinginan baru kemudian diletakkan di objek glass [8]. Lintah dapat diamati secara makroskopis, mikroskopis, maupun dengan histopatologi. Pengujian secara PCR dapat dilakukan untuk pengamatan DNA [10]


    Pencegahan dan Pengendalian

    Sistem filtrasi air yang masuk merupakan hal yang sangat dibutuhkan untuk mencegah masuknya lintah ke fasilitas budidaya. Menurukan salinitas bukalah hal yang tepat sebab lintah pada ikan laut tahan kondisi air payau. Penggunaan formalin bisa berhasil membunuh lintah dewasa, namun tidak untuk coccon.  Coccon sangat tahan terhadap bahan kimia. Sehingga meskipun dilakukan treatmen, lintah masih dapat menyerang kembali dari coccon yang menjadi dewasa. Penanganan terbaik untuk wadah budidaya adalah dengan melakukan pengeringan fasilitas budidaya [4]. Wadah budidya harus dibersihkan dengan detergen, didisinfeksi dengan klorin, baru dikeringkan langsung di bawah sinar matahari selama beberapa minggu untuk menghilangkan coccon parasit. Penanganan secara manual pada ikan dapat dilakukan menggunakan kain basah [7]. Namun cara ini kurang efektif bila infestasi terjadi besar-besaran

    Pengobatan dengan bahan kimia dapat dilakukan menggunakan bahan sebagai berikut: [4], [9]

    Bahan
    dosis
    aplikasi
    Keterangan
    Formalin
    50ppm
    Perendaman selama 1 jam
    Aerasi kuat. Pasca penggunaan formallin, ikan dipindahkan ke wadah yang bebas parasit.
    200-250ppm
    Perendaman dalam air laut selama 1jam
    Prefuran
    1-2ppm
    Perendaman 1-2 jam
    Perendaman pasca pemberian formalin

    Bila memungkinkan dan dapat dilakukan, dapat dibuat sebuah “jebakan” untuk lintah. Cara ini tidak membutuhkan bahan kimia. Tehniknya adalah dengan meletakkan sepotong daging atau hati di sebuah plastik yang telah dilubangi. Kemudian plastik berisi daging atau hati diberi pemberat agar tenggelam dan tali untuk mengangkat. Letakkan di beberapa sisi di kolam. Lintah akan tertarik pada “jebakan” tersebut dan dapat dibuang secara rutin [6]\

    Referensi


    [1] Novriadi, R. 2014. Penyakit Ikan Air Laut di Indonesia. Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

    [2] Roberts, R.J (ed). 2012.  Fish Pathology Fourth Edition. Blackwell Publishing

    [3] Carl N. Shuster, Jr.,Roland F. Smith,T,  John J. Mcdermott. 1953. Leeches and Their Importance in the Life Cycle of Fishes. NEW JERSEY FISHERIES SURVEY

    [4]. Cruz-Lacierda, E.R., Joebert D. Toledo, Josefa D. Tan-Fermin, Eugene M. Burreson. 2000. Marine leech Zeylanicobdella arugamensis infestation in cultured orange-spotted grouper, Epinephelus coioides. Aquaculture 185 (2000) 191–196

    [5] Hutson, K.S. 2010. Marine Leech. School of Marine & Tropical Biology James Cook University

    [6] Wildgoose, W.H (ed). BSAVA Manual of Ornamental Fish Second Edition. British Small Animal Veterinary Assosociation.

    [7] Nagasawa, K. and E. R. Cruz-Lacierda (eds.) 2004: Diseases of cultured groupers. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department, Iloilo, Philippines. 81 p.

    [8] Svobodová, Z. Dan Vykusová, B. 1991. Diagnostics, Prevention And Therapy Of Fish Diseases And Intoxications. RESEARCH INSTITUTE OF FISH CULTURE AND HYDROBIOLOGY VODŇANY CZECHOSLOVAKIA

    [9] Koesharyani, I., Roza, S., Mahardika, K., Johnny, F., Zafran, Yuasa, K.  Manual for Fish Disease Diagnosis Marine Fish and Crustacean Disease in Indonesia. Gondol Research Station for Coastal Fisheries-JICA

    [10] Ravi, R. Dan Yahaya, Z.S. 2017. Zeylanicobdella arugamensis, the marine leech from cultured crimson snapper (Lutjanus erythropterus), Jerejak Island, Penang, Malaysia. Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine Volume 7, Issue 5, May 2017, Pages 473-477


    No comments:

    Post a Comment