-->

    Saturday, 13 May 2017

    Saprolegniasis

    Nama lain:  Watermold, skin fungus cotton wool disease [4], winter fungus, winter mortality, winter kill [8]
     

    Etiologi/ penyebab: Saprolegnia.sp, Achyla.sp, Aphanomyces.sp [1], Dichyucus, Pythium [4], Leptolegnia, Leptomitus [6]. Merupakan oomycetes dengan hifa aseptat. Zoosporanya bergerak dengan flagella yang dihasilkan oleh sporangia pada ujung hifa [1]



    Hospes : ikan air tawar, payau, dan laut [1], amfibi, insekta [6].

    Stadium rentan : telur dan ikan [1]

    Epizootiologi: Serangan jamur ini bersifat kronis hingga akut dengan kematian hingga 100% [2]. Jamur ini menyerang pada ikan segala usia termasuk telur. Lesinya terlihat pasca penanganan dan kondisi padat serta setelah adanya infeksi bakteri dan virus. Penyakit banyak terjadi pada suhu 10-18°C [7].


    Faktor pendukung
    Suhu rendah berpengaruh terhadap kejadian saprolegniasis [1]. Pada ikan silver perch kejadian berkaitan dengan penanganan yang kasar, kerusakan epidermis, dan penghilangan mucus [4]. Suhu dan oksigen yang rendah, malnutrisi, bahan organic yang tinggi, kualitas telur yang buruk, kepadatan yang tinggi dapat memicu timbulnya penyakit ini [2]

    Gejala Klinis
    Terdapat miselium  berwarna putih abu-abu gelap hingga kecoklatan pada kulit, insang, sirip, atau telur sehingga gagal menetas. Infeksi dapat melanjut menimbulkan nekrosis pada jaringan otot tubuh [1]. Pada stadium awal disamping terdapat area berwarna putih yang bersifat fokal (terlokalisir) di kulit, ekor, dan jaringan lunak di ujung operculum. Disamping itu juga dijumpai adanya hemoragi di abdomen bagian bawah. Pada stadium lanjut, terlihat adanya warna putih seperti kapas pada kulit dan insang [3]. Ikan mengalami letargi, kurang responsive terhadap rangsangan, dan kerap menggosok-gosokkan tubuhnya.  Sebelum mati ikan menunjukkan gejala kehilangan keseimbangan [4].
    Jamur Saprolegnia parasitica tumbuh pada large silver perch (kiri). Stadium awa saprolegniasis (panah) (kanan) (crefdit to Phil Read)

    Perubahan patologi
    Kematian pada saprolegniasis disebabkan oleh masalah osmosis bila infeksi berlangsung di insang atau kulit sehingga menghambat respirasi [1]. Secara histopatologi terlihat adanya kematian jaringan epidermis dengan peradangan ringan [3].

    Patogenesis
    Lesi awal berukuran kecil dan fokal, infeksi kemudian menyebar secara cepat di permukaan tubuh. Lesi berukuran besar tidak pernah muncul secara tiba-tiba dalam 24 jam. Lesi berwarna putih karena adanya mycelia, terkadang menjadi merah, coklat, atau hijau akibat terjebak dalam sedimen, alga, atau debris. Meskipun tumbuh cepat, infeksi jarang masuk ke lapisan otot. Kerusakan kulit atau insang dapat berakibat fatal. Hilangnya elektrolit serum dan protein sepadan dengan persentase kulit yang terdampak. Yang artinya, mortbiditas dan mortalitas meningkat seiring dengan peningkatan lesi kulit atau insang. Pada lesi akut, ikan biasanya mati dalam beberapa hari atau sembuh dalam beberapa minggu. Infeksi pada saluran pencernaan tokolan jarang terjadi [5]

    Metode Diagnosa
    Dapat dilakukan dengan pengamatan hifa secara mirkoskopis atapun isolasi jamur pada media agar [2]. Sporangia dapat terlihat [4].

    Pencegahan dan Pengendalian
    Pencegahan dapat dilakukan dengan mengurangi faktor predisposisi pada akhir musim panas dimana suhu mulai turun. DIpastikan juga ikan bebas dari ektoparasit, melakukan pengurangan pakan, mengurangi bahan organic dan kepadatan [3]. Pengendalian dilakukan dengan menaikkan atau mempertahankan suhu diatas 28oC. Penggantian air sebaiknya sering dilakukan [2]

    Bahan/ Obat
    Dosis
    Aplkasi
    Keterangan
    Kalium permanganate (PK)
    1gr/100L
    Perendaman 90 menit

    Formalin
    100-200ppm
    Perendaman 1-3 jam

    1000mg/L
    Perendaman selama 15 menit/hari
    Pada telur ikan murray (bak)
    100mg/L
    Perendaman 30 menit
    Gunakan sistem resirkulasi dengan garam 2-3g/L
    30mg/L di awal kemudian 25-30mg/L/hari
    perendaman
    Beri aerasi dan suplemen
    0,4-0,5mL/L formalin 30%
    Perendaman 1 jam

    Garam dapur
    1-10 promil
    Perendaman 10-60 menit
    Dosis tergantung ukuran dan spesies
    2-5gram/L
    perendaman
    Untuk pencegahan dewasa, larva, juvenil. Suhu dipertahankan <.25oC (bak)
    20gram/L
    Perendaman 30 menit

    30gram/L
    Perendaman 10 menit

    2gr/L
    Perendaman
    Telur, larva (bak)
    Methylene Blue
    3-5ppm
    Perendaman 24 jam

    Kupri sulfat (CuSO4)
    0,1-0,2mg/L

    Aerasi, alkalinitas >50mg/L
    Sumber: [2], [3], [4]


    Sumber: [2].

    Referensi
    1. Irianto, A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
    2. Maskur, Mukti Sri Hastuti, Taukhid, Angela Mariana Lusiastuti, M. Nurzain, Dewi Retno Murdati, Andi Rahman, Trinita Debataraja Simamora. 2012. Buku Saku Pengendalian Penyakit Ikan. Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

    3. Lio-Po. G.D. dan Inui, Y. 2014. Health Management in Aquaculture Second Edition. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department.
    4. Noga, Edward J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Blackwell Publishing
    5. Bailey,T.A. 1994. 4.2.2. Saprolegniasis. AFS Fish Health Section
    6. Abduljabbar.Fish Disease 5th Stage.
    7. Tucker, C.S dan Hagreaves,J.A. 2004. Biology and Culture of Channel Catfish. Elesevier

    No comments:

    Post a Comment