-->

atas

    Sunday, 27 September 2020

    Ulcer pada Ikan

    Nama lain: -

    Etiologi/ penyebab
    Tidak ada seorangpun yang mampu mendefinisikan secara pasti penyebab dari ulcer hanya dengan pengamatan makroskopis. Semua penyebab dapat terjadi secara bersamaan sehingga penentuan penyebab utama sulit dilakukan [11]. Ulcer pada ikan air tawar sebagian besar timbul akibat penyakit Epizootic Ulcerative Syndrome (EUS), septicaemia disease, busuk ekor dan sirip, busuk insang, dropsy, jamur, parasit [1].

    Agen infeksius

    a. Jamur
    Gambaran ulcer yang disebabkan oleh EUS sulit dideskripsikan dan ditentukan penyebabnya dengan melihat lukanya. Pada studi, jamur Aphanomyces sp., Saprolegnia sp., dan Achlya sp terisolasi dari ikan yang memilki ulcer [2].

    b. Bakteri
    Bakteri Aeromonas, Pseudomonas, dan Edwardsiella terlibat pada kasus ulcer yang disebakan oleh EUS [2]. Pada studi oleh Majumder et al (2001), ditemukan bahwa bakteri Aeromonas hydrophila berperan penting dalam menimbulkan lesi tipe ulcer pada ikan [3]. Sedangkan pada studi lainnya mengindikasikan keterkaitan bakteri Vibrio sebagai penyebab ulcer pada flatfish [10]. Pada ikan salmon, terdapat suatu penyakit yang disebut Winter ulcer disease pada hatcheri yang menggunakan air laut [8]. Penyakit ini disebabkan oleh Moritella viscosa [7]. Penyakit ini muncul pada saat suhu rendah di musim dingin [8].

    c. Parasit
    Ulcerasi juga dapat disebabkan oleh parasit seperti Argulus, Lernaea, Lepeophteirus salmonis, Caligus elongatus [4, 6]. Parasit kelompok protozoa yakni Kudoa sp banyak didiagnosa pada kasus dermatitis ikan [12].

    d. Virus
    Kelompok rhbdovirus terlibat pada banyak kejadian ulcerative syndrome ikan [13].


    Gb. Diagnosa banding lesi ulceratif pada ikan (pict from Law, 2000)

    B. Non infeksius

    a. Toksin
    Ulcer pada kulit ikan dapat menjadi suatu indikator adanya cemaran atau stress lingkungan. Ulcer yang bersifat endemik, pada banyak studi berkaitan dengan adanya xenobiotik dan biotoksin. Salah satu penghasil toksin yang dikaitkan dengan ulcer adalah dinoflagellata Pfiesteria [4].

    b. Fisik, imunologis, nutrisi, dan metabolik
    Hipoksia yang berlangsung secara kronis akan memicu dampak seperti imunosupresi, stress, peningkatan hormon atau lesi ulceratif kulit. Hipoksia kronis menyebabkan ulcer secara langsung akibat hilangnya fosforilasi oksidatif seluler [14]. Adanya tingkat kepadatan yang tinggi juga akan memicu stress dan meningkatkan resiko kelukaan secara fisik maupun predasi sehingga penyakit infeksius akan cepat menyebar [12]. Perubahan kualitas air secara mendadak seperti suhu atau pH atau arus cemaran antropogenik dapat memicu kerusakan pada sel. Perubahan mendadak pada kualitas air, perubahan fisiologis, dan penurunan status nutrisi berkontribusi terhadap perubahan lapisan mukus kulit yang mana bekerja sebagai pertahanan pertama ikan dari perubahan lingkungan [12]. Pada kasus lain, sengatan dari ubur-ubur pada ikan salmon yang tidak parah dapat menimbulkan ulcer dan infeksi sekunder. Sedangkan sengatan yang cukup serius dapat mengakibatkan kematian [6]. Disamping disebabkan oleh patogen maupun organisme lainnya, ulcer juga dapat disebabkan oleh adanya jeratan, gesekan, ataupun gigitan [11].

    Hospes
    Ikan air tawar dan laut

    Epizootiologi
    Kejadian penyakit ulcer ini berkisar antara 0-100% di perairan umum [3].

    Faktor pendukung
    Peningkatan kasus ulcer berhubungan langsung dengan kontak dari toksin atau secara tidak langsung melalui perubahan lingkungan seperti pH dan suhu. Adanya virus lymphocystis juga dapat memicu ulcer dari munculnya infeksi sekunder [4]. Pada penyakit winter ulcer disease, permasalahan osmoregulasi berkaitan dengan ulcer pada suhu rendah [6].

    Gejala Klinis
    Lesi ulcer digambarkan sebagai lesi hemoragi pada permukaan kulit [3]. Bentuk lesi secara makroskopis boleh jadi serupa meskipun agen penyebabnya berbeda [4]. Dilihat dari bentuknya, ulcer memiliki dua bentuk. Ulcer yang asal penyebabnya dari eksternal (outside-in), memiliki dasar sempit. Sedangkan ulcer yang muncul sebagai lesi yang berasal di bawah permukaan (inside-out) memiliki dasar yang lebar (lihat gambar) [12] Gejala lainnya berbeda-beda, bergantung jenis patogen yang terlibat.  Pada lesi yang disebabkan oleh kutu laut (sea lice) dapat terlokalisir atau meluas, bergantung pada ukuran ikan, mobilitas, dan jumlah parasit [6].

    a
    Gb. Gambaran lesi "inside out" dan "outside in" (pict from Law, 2000)

    Perubahan patologi
    Pada pemeriksaan histopatologi, lesi granuloma dengan hifa jamur menciri pada kasus ulcer yang disebabkan oleh EUS [5].

    Metode Diagnosa
    Diagnosa penyebab ulcer dilakukan secara komprehensif. Isolasi dan identifikasi bakteri dan jamur dibutuhkan untuk menentukan jenis patogen yang terlibat. Uji patogenesitas bakteri dan jamur yang diperoleh dilakukan untuk mengetahui gambaran lesi yang dihasilkan. Pemeriksaan histopatologi diperlukan untuk melihat lebih jauh lesi pada jaringan [5].

    Diagnosa banding
    Diagnosa banding yang umum untuk ulcer adalah agen infeksius, toksin, fisik, imunologi, nutrisi, dan metabolik [12].

    Pencegahan dan Pengendalian
    Aplikasi garam dan pengapuran dirasa sangat membantu mengurangi keparahan dari ulcer. Aplikasi keduanya juga efektif digunakan sebagai pencegahan [2]. Pada winter ulcer disease salmon, pengobatan dengan antimikrobial tidak selalu efektif. Hal ini disebabkan oleh suhu lingkungan yang rendah dan nafsu makan ikan yang tidak ada. Vaksin untuk penyakit ini telah tersedia, namun belum terekam keefektifannya [9]. Penyakit ini akan menghilang seiring peningkatan suhu di atas 10oC [6]. Untuk mencegah kasus ulcer, kualitas air budidaya sebagiknya selalu terkontrol [12]. Pada ikan salmon yang mengalami ulcer akibat sea lice,  penggunaan ikan pembersih seperti ballan wrasse (Labrus berggylta), goldsinny wrasse (Ctenolabrus rupestris), sea patridge (Symphodus melops), rock cock (Centrolabrus exoletus) cukup efektif. Namun spesies ini berpotensi menyerang salmon saat jaring sudah bersih dari kutu. Pada ulcer yang disebabkan oleh ubur-ubur, pencegahan terbaik adalah dengan pengaturan keramba agar ubur-ubur tidak masuk ke dalamnya [6].  

     

    Referensi

    1. Chowdhury, M.B.R. 1997. Bacterial involvement in fish disease in Bangladesh. The paper presented at the International Symposium on Disease in Marine Aquaculture October 3-6, 1997. Hiroshima, Japan, Abstract: III-2: 24
    2. Chowdury, M.B.K., M. Muniruzzaman., U.A. Zahura, K.Z.A Habib, & M.D. Khatun. 2003. Ulcer type of disease in the fishes of small-scale farmer’s pond in Bangladesh. Pakistan Journal pf Biological Science 6(6):540-550
    3. Majumder, B., M.G.A. Sarker, M.H. Khan, & M.B.R. Chowdhury. 2001. Incidence of ulcer type of disease in wild fishes of Bangladesh. Bangladesh J.fish. Res 5(2): 163-168
    4. Noga, E.J. 2000. Review Article Skin Ulcers in Fish: Pfiesteria and Other Etiologies. Toxicologic Pathology 28(6):807-823
    5. Muniruzzaman, M. & Chowdhury, M.B.R. 2006. Isolation of pathpgens causing ulcer disease in farmed and wild fishes of Mymensingh. J. Bangladesh Agril. Univ. 4(2):32-332
    6. Torud, B. & Hastein, Tore. 2008. Skin lesions in fish: causes and solutions. Acta Veterinaria Scandinavica 50 (Suppl I): S7
    7. Benediktsdottir E, Verdonck L, Sproer C, Helgason S, Swings J. 2000. Characterisation of Vibrio viscosus and Vibrio woodanis isolated at different geographical locations: a proposal for reclassification of Vibrio viscosus as Moritella viscosa. comb nov Int J System Evol Microbiol 50:479-488.
    8. Lunder T, Evensen, Holstad G, Håstein T. 1995. Winter ulcer» in the Atlantic salmon Salmo salar. Pathological and bacteriological investigations and transmission experiments. Dis Aquat Org  23:39-49
    9. Håstein T, Gudding R, Evensen. 2005. Bacterial vaccines for fish – an update of the current situation world wide. In Progress in Fish Vaccinology, Dev Biol Volume 121. Edited by: Midtlyng PJ. Basel, Karger 55-74
    10. Robohm, R.A. & Brown, C. 1978.A new bacterium (presumptive Vibrio species) causing ulcers in faltfish. Marine fisheries review 5-7pp
    11. United States Environmental Protection Agency. 1999. What you should know about fish lesion. EPA
    12. Law, M. 2000. Differential Diagnosis of Ulcerative Lesion in fish. Environmental Health Perspectives 109: 681-686
    13. Sindermann CJ. 1988. Epizootic ulcerative syndromes in coastal/ estuarine fish. In: NOAA Technical Memorandum NMFS-F/NEC- 54. Woods Hole, MA:Northeast Fisheries Center
    14. Noga EJ. 2000. Skin ulcers in fish: Pfiesteria and other etiologies. Toxicol Pathol 28:807–823 

    
    

    No comments:

    Post a comment