-->

    Monday, 9 July 2018

    Hole in the Head (HITH)


    Nama lain
    Lateral line disease [3], HITH syndrome [4], Head and Lateral Line Erosion (HLLE) [5], Freshwater Head and Lateral Line Erosion (FHLLE), Marine Head and Lateral Line Erosion (MHLLE) [9], lateral line depigmentation [10], hexamitiasiss [11]


    Etiologi/ penyebab
    Penyebab sebenarnya dari penyakit ini belum diketahui [5]. Parasite seperti Hexamita sp, Spironucleus sp, Protoopalina sp, Trichomonas sp, Cryptobia sp, malnutrisi, air kurang mengandung mineral [2] dan infeksi bakteri [3] diduga terlibat. Meskipun parasite disebut-sebut terlibat, namun perannya sebagai patogen utama atau oportunistik masih dipertanyakan [3]. Kotoran karbon aktif, logam berat seperti copper, voltase listrik yang tidak stabil, ozon, dan radiasi UV, defisiensi vitamin C dan A, serta penyakit internal lainnya juga diduga menjadi penyebabnya [5]. Pada ikan lele, penyakit hole in head banyak dikaitkan dengan infeksi Edwardsiella ictaluri [7]. Namun pada artikel ini hanya dibatasi pada ikan hias saja

    Hospes cichlid air tawar [4] (discus, Oscar, cichlid amerika selatan lainnya [9]), ikan air laut [5] (surgeonfish, tangs, angelfish [9]), ikan hias, salmon, cyprinid [6]



    Spesies rentan
    angelfish dan surgeonfish lebih rentan [11]

    Faktor pendukung
    Parasit ini lebih mudah menyerang ketika ikan lemah akibat stress, umur, atau kualitas air yang buruk [1]. Kepadatan yang tinggi dan nutrisi yang buruk dapat memicu penyakit ini [9].

    Gejala Klinis
    Hole in the head ditandai dengan munculnya erosi kulit sepanjang linea lateralis. Lesi ini membesar dan mengarah ke kepala [3]. Terlihat untaian feses putih disertai dengan lubang besar terisi nanah di kepala. Kulit dan otot menjadi erosi yang kemudian meluas ke tulang dan tengkorak. Lesi juga terkadang terdapat di linea lateralis [1]. Ikan mengalami perubahan menjadi lemah dan kulitnya menghitam [2]

    HITH syndrome (pict from wetwebmedia.com)


    Perubahan patologi
    Pada bagian kepala, kulit seperti memiliki lesi serupa lubang dengan mucus berwarna kuning dan untaian mengkeju [6]. Pemeriksaan histologi akan ditemukan lymphohistiocytic epidermidis dan dermatitis dengan multifocal keratinocyte ballooning degeneration, nekrosis, ulcerasi, dan pembentukan vesikel [9].

    Patogenesis
    Patogen akan menyerap nutrisi, mineral, dan vitamin yang berasal dari makanan lalu mempengaruhi pencernaan dan merusak membrane mukosa usus. Ikan mencoba mengkompensasi dengan mencukupi kekurangan mineral dengan dekomposisi dan menggunakan tulang cartilage di kepala. Hal inilah yang membuat kepala menjadi berlubang [2]

    Diagnosa banding
    Penyakit ulcerative atau erosi lainnya, infeksi bacterial, parasite, jamur lainnya  dengan gejala klinis serupa [9].

    Metode Diagnosa
    Pengumpulan data sejarah dari kasus ini haruslah lengkap. Kualitas kimia air dan evaluasi lingkungan harus dilakukan. Baru kemudian dilakukan pengamatan langsung [9]. Diagnosa terhadap parasite dapat dilakukan dengan pemeriksaan kerokan kulit [7]. Pada pemeriksaan feses, atau isi usus, flagellate  kecil dan bergerak cepat dapat teramati [8]|

    Pencegahan dan Pengendalian
    Penanganan ikan dengan hole in head dilakukan dengan memindahkan ikan ke kolam yang lebih besar disertai dengan penggantian air. Perbaikan nutrisi serta suplementasi vitamin C mampu memperbaiki kondisi ini [1]. Perbaikan sistem pencernaan membutuhkan waktu lama dan butuh tambahan antibiotic [2]. Jika ikan masih mau makan, metronidazole dapat diberikan [3]. Dosis mettronidazol 600-900mg/100lt air akuarium direkomendasikan selama 3 hari. Metronidazole juga dapat dicampur dalam pakan [8]. Karbon aktif yang berada di lingkungan budidaya sebaiknya dihilangkan. Beberapa ikan hias air laut berhasil ditangani dengan 0,01% becaplermin. Lubang yang berukuran <5mm sebaiknya dibersihkan debrisnya kemudian diflushing seminggu sekali selama 3-4 minggu untuk menstimulasi regenerasi kulit [5]. Perbaikan grounding untuk mengurangi voltase di dasar harus dilakukan [9]. Metode terbaru yang digunakan untuk menangani penyakit hole in head ini adalah cupping. Metode ini dicobakan pada flower horn fish. Ikan pertama dipindahkan pada wadah bervolume 70L dengan suhu 28oC dilengkapi heater dan suplai oksigen. Media ikan harus bebas dari stress. Selanjutnya, cup kecil berdiameter 20-30mm didisinfeksi dengan peroksida lalu dibilas dengan air. Garis di permukaan kepala dibuat menggunakan pisau lalau 2/3 nya diserap dengan cup. Setelah cupping 2% metilin biru dimasukkan ke air untuk mencegah infeksi sekunder. Dengan metode ini 50% ikan sembuh dalam 4-6 hari [11].

    Referensi

    1. Skhomal, G. 2007. Freshwater Aquariums, 2nd Edition. Howel Book House

    2. Seraguide. Healthy Aquarium Fish. Sera: Germany

    3. Ballard, B dan Cheek, R. 2017. Exotic Animal Medicine for the Veterinary Technician. John Wiley and Sons

    4. Roberts, H.E (Ed). 2010. Fundamentals of ornamental fi sh health. Blackwell Publishing

    5. Lewbart, G.A. 2017. Self-Assessment Color Review Ornamental Fishes and Aquatic Invertebrates Second Edition. CRC Press: Boca Raton

    6. Woo, P.T.K. (Ed). 2006. Fish diseases and disorders Volume 1: Protozoan and Metazoan Infections

    Second Edition2nd ed. CABI International

    7. Wildgoose, W.H (Ed). 2001. BSAVA Manual of Ornamental Fish. British Small Animal Veterinary Association

    8. Bassleer, G. 2004. Disease. in Marine Aquarium Fish: causes - development- symptoms- treatment  3rd Edition. Bassleer Biofish: Belgium

    9. Mayer, J. dan GDonnelly, T.M (Ed). 2013. Cinical Veterinary Advisor Birds and Exotic Pets. Elsevier

    10. Noga, E J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Blackwell Publishing

    11. Sahandi, J dan Hajimoradloo, A. Hole-in-head disease: New method of treatment in flower horn ornamental fish. HVM Bioflux, 2011, Volume 3, Issue 2.

    No comments:

    Post a Comment