-->

    Wednesday, 6 June 2018

    Aflatoxicosis

    Nama lain:  -

    Etiologi/ penyebab:
    Bahan toksik bernama Aflatoxin yang diproduksi oleh jamur Aspergillus flavus dan A. parasiticus [1]. Disamping dua spesies ini, strain lain A. nomius, A. tamari, dan A. pseudotamarii  mampu memproduksi afalroxin [2]. Terdapat 4 macam aflatoxin utama AFB1, AFB2, AFG1, dan AFG2 yang secara langsung mencemari biji-biji dan produk akhir pakan termasuk pellet [1]. Aflatoxin kebanyakan mencemari bahan pangan seperti biji kapas, tepung kacang tanah, jagung, gandum, bunga matahari, kedelai, tepung ikan dan bahan pelengkap pangan  [1]

    Hospes
    Semua jenis ikan seperti salmon, rainbow trout, channel catfish, nila, guppy, carp, dan udang windu [1]

    Stadium rentan
    Benih lebih rentan daripada dewasa [1]

    Spesies rentan:
    nila dan rainbowtrout rentan terhadap AFB1 sedangkan channel catfish tidak.


    Epizootiologi:
    Aflatoxin pertama kali dikarakterisasi pada tahun 1962 dari suatu kasus pada peternakan kalkun di Inggris [2]. Pada ikan kasus aflatoxicosis pertama kali terjadi pada tahun 1960an pada hatcheri rainbow trout. Aflatoxicosis dapat mengakibatkan kematian mencapai 60% pada sistem produksi [1]. Aflatoxin tersebar luas di dunia. Jamur Aspergillus mampu tumbuh di berbagai substrat dan kondisi lingkungan [2]

    Faktor pendukung
    Tingginya kadar aflatoxin dapat dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan pakan, penggunaan tumbuhan sebagai sumber protein, dan suhu area tropis yang terlalu tinggi. Suhu di atas 27oC dengan kelembaban >62% dan tingkat kelembaban pakan >14% saat penyimpanan dapat meningkatkan produksi aflatoksin[1]. Faktor lain yang berpengaruh terhadap produksi aflatoxin afalah pH, atmosfir (kondisi oksigen), kompetisi microbial, mekanisme kerusakan biji-bijian, variasi dan spesifikasi strain [2].

    Tanda pakan terkontaminasi aflatoxin
    Pakan tercemar aflatoxin mengalami perubahan warna, bentuknya menggumpal, dan berbau apek. Pakan yang lama disimpan patut dicurigai tercemar oleh jamur. Kadangkala terlihat warna biru /abu-abu pada pakan.  Pakan semacam ini mudah hancur atau lembek dan tampak seperti ‘berembun/berair’ [1]

    Gejala Klinis pada ikan
    Pada kasus aflatoxicosis pertama, ikan rainbow trout menunjukkan gejala munculnya tumor hati dan 85% kematian. Ikan dengan aflatoxicosis dapat mengalami perlambatan pertumbuhan dan berkurangnya nafsu makan, abnormalitas jaringan atau lesi pada hati. Insang memucat, busuk sirip dan ekor, kehilangan opasitas mata sehingga muncul katarak dan kebutaan, pembekuan darah terganggu, anemia [1]. Ikan juga mengalami abnormalitas berenang [4]Keparahan penyakit bergantung pada usia dan spesies ikan[1]. Kasus aflatoxicosis akut sangat jarang ditemukan, sedangkan kasus kronis paling sering ditemukan dan bersifat serius. Kasus akut hanya dapat terjadi jika paparan dalam jumlah besar. Paparan akut mengakibatkan penurunan kesehatan, fertilitas, kehilangan produktifitasm penurunan berat badan, dan penurunan sistem imun [2].

    Dampak aflatoxin dalam pakan
    Aflatoxin sejumlah 200ppb menyebabkan penurunan nafsu makan dan pertumbuhan. Pada kadar 1000-5000ppb dapat mengakibatkan kematian. Toksin ini berdampak tidak langsung terhadap kesehatan ikan. Aflatoxin merusak vitamin C dan thiamin dalam pakan, menekan sistem imun sehingga ikan rentan terhadap patogen [1]

    Perubahan patologi
    Pada ikan, perubahan patologis akibat aflatoxicosis sama dengan pada manusia dimana bersifat genotoksik, tumorigenic, teratogenic, berdampak hormonal dan neurotoksik [2]. Pada ikan nila, studi pemberian AFB1 menyebabkan pembentukan kanker, penurunan berat badan, dan jumlah sel darah merah [2]. Aflatoxin sejumlah 0,01 ppb dapat memicu munculnya tumor atau neoplastic pada rainbow trout dalam waktu singkat. Aflatoxicosis akut dapat menimbulkan nekrosis hepatic fokal, oedema insang, dan sindrom hemoragi. Lesi juga dapat melibatkan jaringan vaskuler dan empedu. Lesi histopatologi awal yang paling menciri pada aflatoxicosis adalah invasive malignant trabecular hepatocarcinoma. Lesi ini tercat gelap. Ketika berkembang, lesi menjadi rapuh lalu muncul kematian yang disebabkan oleh hemoragi yang diikuti dengan nekrosis infark pada bagian tengah bertumbuhnya tumor atau rupture traumatic. Tumor juga dapat metastasis hingga ke limpa, ginjal, dan insang. Pada ikan nila, toksin ini berkaitan erat dengan neoplasma pada ginjal, lymphoma, dan hepatoma. Dalam jumlah kecil aflatoxin tidak menimbulkan perubahan patologi, hanya saja terjadi perubahan pertumbuhan, kadar hemoglobin, dan jumlah eritrosit[3]. Hati yang terpapar sendiri secara makroskopis mengalami pembengkakan dan berwarna kuning [4].

    Patologi klinik
    Aflatoxicosis menimbulkan kerusakan pada organ hati. Secara patologi klinik, kerusakan diindikasikan dengan peningkatan enzim AST (Aspartate Aminotransferase) pada hati, otot jantung, dan ginjal. Enzim lain yang menunjukkan peningkatan berkaitan dengan aflatoxicosis adalah ALT (Alanine aminotransferase) [5]

    Metode Diagnosa
    Keberadaan  aflatoxin dapat diketahui dengan melakukan ujilaboratorium dengan ELISA [1], HPLC, spektrpofluorometri, spektrofotometeri [2]. Perubahan pada ikan akibat aflatoxicosis dapat diamati melalui histopatologi [4].

    Pencegahan dan Pengendalian
    Produksi aflatoksin dalam pakan dapat dicegah dengan melakukan prosesing pakan yang higienis serta mempertahankan suhu lingkungan yang optimal. Sangat disarankan untuk menggunakan inhibitor jamur dan kuprisulfat. Penambahan aditif silase seperti ammonia, asam propionate, kultur microbial, atau enzim silase dapat mencegah mikotoksin sebab menurunkan pertumbuhan jamur. Wadah-wadah pakan dibersihkan secara reguler dan melakukan pengaturan kelembaban pakan [1].  Pengecekan kadar aflatoxin dapat dilakukan jika dicurigai terdapat indikasi [4]

    Kesehatan manusia
    AFB1 tidak hanya berbahaya bagi hewan tapi juga manusia [1]

    Referensi
    1. Sotolu, A.O., Sule, S.O., Oshinowo, J.A, Ogara I. M. 2014. Implication of Aflatoxin In Fish Feeds and Management Strategies For Sustainable Aquaculture. PAT June, 2014; 10 (1): 38-52 ISSN: 0794-5213
    2. Dirican, S. 2015. A Review Of Effects Of Aflatoxins In Aquaculture. Applied Research Journal Vol.1, Issue, 4, pp.192-196, June, 2015
    3. Roberts, R.J (Ed). Fish Pathology 4th Ed. Wiley-Blackwell: UK
    4. Lio-Po. G.D. dan Inui, Y. 2014. Health Management in Aquaculture Second Edition. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department
    5. Goncalves, R. 2017. The Main Threats of Aflatoxins in Pangasius catfish production.aquafeed.com

    No comments:

    Post a Comment