-->

    Monday, 15 April 2019

    Spring Viraemia of Carp Virus (SVCV)

    Nama lain
    Swim bladder inflammation (SBI), Infectious dropsy of carp (IDC), rubella, infectious ascites, haemorrhagic septicaemia, red contagious disease [2,6], rhabdovirus infection [7]

    Etiologi/ penyebab
    Rhabdovirus carpio[1], RNA virus [8], virus memiliki lebar 60-90nm dan panjang 80-180nm, berbentuk seperti peluru dengan spikula di permukaannya [6]

    Hospes
    Cyprinid, ikan mas, grass carp (Ctenopharyngodon idella), ikan mola (Hypophthalmichthys molitrix), bighead carp (Aristichthys nobilis) crucian carp (Carassius carassius), mas koki (C. auratus), tench (Tinca tinca) dan sheatfish (Siluris glanis) [1], koi, udang penaeid, pike [2]. Secara eksperimen dapat menginfeksi golden shiners, grass carp, guppies, pike, pumpkinseeds, roach, zebra danios, dan laalt buah [2]


    Stadium rentan 
    Benih [4], In aquaculture, ikan karper berusia 9–12 dan 21–24 bulan kerap terinfeksi [4].

    Epizootiologi:
    Penyakit ini pertama kali ditemukan oleh Fijan et al (1977) pada ikan karper yang disebut acute infectious dropsy of carp. Penyebaran penyakit ini sangat terbatas pada negara-negara benua Eropa yang memiliki suhu rendah pada musim dingin. Namun pernah terjadi juga laporan penyakit SVCV di Amerika dan Inggris [1]. Timur tengah dan Cina juga dilaporkan pernah mengisolasi virus ini, meskipun dalam bentuk laporan yang tidak lengkap [2]. Disamping pada musim dingin, SVCV dapat menyerang pada musim gugur, jika suhu lingkungan mendukung [2]. Outbreak SVCV kerap terjadi pada suhu 10-17oC. Pada benih, infeksi dapat terjadi pada suhu diatas 23, namun tidak pada ikan dewasa [3]. Sumber penularan penyakit ini adalah ikan yang terinfeksi dan virus yang bebas melalui feses, cairan reproduksi, mungkin insang dan kulit [1]. Argulus, lintah Piscicola, nematode Philometra geomtra mungkin dapat menjadi vector mekanik SVCV [2,8]. Virus juga dapat menyebar melalui kontaminasi peralatan dan burung predator. Masa inkubasi virus 6 hingga 60 hari. Mortalitas dari penyakit SVCV dapat mencapai 30-70%. Ikan yang sembuh dari infeksi SVCV masih berpotensi menyebarkan virus pada ikan lainnya [3]

    Faktor pendukung
    Infeksi lebih sering terjadi pada suhu rendah (15-17oC) dan ketika sistem imun hospes kurang aktif [2]

    Gejala Klinis
    Gejala klinis sering disamarkan dengan infeksi bacterial, tidak spesifik, dan tidak semua gejala terlihat. Ikan biasanya mengalami letargi, pembesaran abdomen, hemoragi petekie pada insang dan kulit serta sekitar mata, kulit menghitam, edema pada bagian ventral dan terdapat feses mucoid, eksopthalmia. Pembesaran abdomen dan hemoragi merupakan gejala yang paling terlihat dan kerap mucul pada penyakit SVCV [1,5]. Ikan berenang berkelompok mendekati tepi atau dasar kolam [3], terkadang berenang pelan dan tidak terarah, kehilangan keseimbangan [5], atau berenang satu sisi [7]. Infeksi sekunder bersama Aeromonas hydrophila  kerap dijumpai [7].

    Gb. Hemoragi petekie pada gelembung renang European Carp yang terinfeksi SVCV
    (picture credit to Dr D Alderman)

    Perubahan patologi
    Ikan mengalami ascites dengan hemoragi fokal pada gelembung renang dan organ dalam lainnya. Gelembung renang mengalami peradangan. Epitel selapis menjadi berlapis disertai dilatasi dan peradangan pembuluh darah submucosa. Pada pengamatan mikroskopis ikan mengalami perivasculitis dan edema pembuluh darah pada hati, dan nekrosis fokal hati serta mengalami hyperemia. Nekrosis multifocal teramati pada pancreas disertai periglandular oedema dan infiltrasi leukosit [1,3,4,5]. Ginjal dan limpa mengalami edema. Terdapat enteritis hemoragika [2]. Epitel usus mengalami sloughing dengan vili yang atrofi. Pada jantung teramati peradangan otot dan melanjut menjadi nekrosis [4]. Badan inklusi eosinofilik teramati pada sel glial otak. Insang mengalami hyperplasia dan fusi serta nekrosis difus [5].

    Gb. Gambaran ikan mas yang terinfeksi SVCV dimana terdapat pembengkakan abdomen, hemoragi yang meluas pada permukaan tubuh, dan penonjolan mata (picture credit to Dixon dan Stone, 2017)

    Patogenesis
    Multiplikasi SVCV pada kapiler endotel, termasuk pada jaringan ginjal ekskretori dan hematopoietik menyebabkan ketidakseimbangan air-garam, hal ini bersifat fatal [6].

    Metode Diagnosa
    Mortalitas pada tokolan dan ikan dewasa aibat SVCV dapat diduga bila terjadi pada suhu dibawah 18-20oC seperti pada musim  semi dan awal musim panas, namun lebih sering pada musim dingin dan gugur. Gejala klinis meliputi perilaku dan perubahan eksternal dapat menjadi panduan. Pada stadium awal infeksi, ikan berkumpul ditepi kolam dan fasi akhir berenang satu sisi dengan lambat [6].Diagnosa konfirmatori SVCV dapat dilakukan dengan kultur sel (FHM, EPC, atau BF2-cell lines) dilanjutkan deteksi imunologi menggunakan virus neutralization, immunofluorescence atau ELISA [1]. Metode RT PCR dapat menjadi metode konfirmatori dari cell culture [2].

    Diagnosa banding
    Gambaran klinis SVCV sebelumnya disebut sebagai Infectious dropsy of carp (IDC). Definisi IDC sendiri saat ini terbagi menjadi dua. Bentuk akut atau ascetic mencakup penyakit SVC. Sedangkan kondisi IDC kronis berkaitan dengan carp erythrodermatitis akibat Aeromonas salmonicida. Penyakit lain yang juga termasuk ke dalam IDC adalah Swim-bladder inflammation (SBI), infeksi Pseudomonas fluorescens, motile aeromonas septicaemia, dan beberapa kasus columnaris disease dengan lesi kulit [6]

    Pencegahan dan Pengendalian
    Pengendalian yang telah dilakukan yang dengan surveilans yang diiringi eradikasi pada wilayah terpapar di Eropa [1]. Sebagai pencegahan, benih sebaiknya bebas SVCV, karantina ikan pada suhu 10-17oC sebelum dimasukkan ke dalam kolam, penggunaan air bebas virus, disinfeksi telur, kolam, dan peralatan.
    Vaksin telah dikembangkan namun tidak untuk penggunaan komersial [1]. Virus ini dapat diinaktivasi dengan klorin 500ppm selama 10 menit, iodin 100ppm selama 10 menit, pemanasan 60oC selama 15 menit, gliserol, ozon, dietilpoliarbonat, pH dibawah 4/ diatas 10, formalin 3% semala 5 menit, NaOH 2% selama 10 menit, benzalconiumcloride 100mg/L selama 20 menit, alkyltoluene 350mg/L selama 20 menit, chlorhexidine gluconate 100mg/L selama 20 menit, gamma iradiasi 103krads selama 10menit, radiasi UV 254nm selama 10 menit [4]. Methisoprinol secara in vitro dapat menghambat replikasi SVCV secara in vitro namun belum diujikan langsung terhadap ikan [5].

    Referensi

    1. Rodger, H.D. 2010. Fish Disease Manual. Marine Institute and the Marine Research Sub-Programme of the National Development Plan
    2. Goodwin, A.E. dan Winton, J.R. 2.2.9 Spring Viremia of Carp. UFS-WS
    3. Lio-Po, G. D., & Goodwin, A. E. (2007). Spring viremia of carp: SVC. Tigbauan, Iloilo, Philippines: SEAFDEC Aquaculture Department.
    4. Roberts, R.J (Ed). Fish Pathology 4th Ed. Wiley-Blackwell: UK
    5. Dixon, P. dan Stone, D. 7. Spring Viraemia of Carp dalam Woo, P.T.K. dan Cipriano, C (Ed). 2017. Fish Viruses and Bacteria Pathobiology and Protection. CABI
    6. Sano, M., T. Nakai, N. Fijan. 5. Viral Disease and Agents of Warmwater Fish. Dalam Woo., P.T.K. dan Bruno, D.W. (ed). 2011. Fish Diseases and Disorders, Volume 3: Viral, Bacterial and Fungal Infections, 2nd Edition. CABI
    7. Noga, E J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Blackwell Publishing
    8. Raidal, S., Garry Cross, Stan Fenwick, Philip Nicholls, Barbara Nowak, Kevin Ellard, Frances Stephens. 1004. Aquatic Animal Health: Exotic Diseases Training Manual. Murdoch Print: Australia

    No comments:

    Post a Comment