-->

atas

    Sunday, 9 February 2020

    Decapod iridescent virus 1 (DIV1)



    Nama lain:  white head, white spot

    Etiologi/ penyebab:
    Decapod iridescent virus 1 (DIV1) [1]. Virus ini termasuk dalam genus Decapodairidovirus [2]. Terdapat literatur menyamakan penyakit ini dengan shrimp haemocyte iridescent virus (SHIV), white head disease (WHD), Decapod iridescent virus 1 (DIV1) [4]. Namun, sekuensing genom lengkap menunjukkan bahwa SHIV dan CQIV merupakan virus yang berbeda strain atau genom [5].


    Hospes
    Virus ini terdeteksi pada P. vannamei, P. chinensis, P. japonicus, C. quadricarinatus, Procambarus clarkii, Macrobrachium nipponense, dan M. rosenbergii. Namun demikian M. rosenbergii. M. nipponense dan Pr. clarkii lebih rentan dibandingkan spesies lainnya meskipun belum ada studi mengenai perbedaan virulensi antar spesies ini. Virus ini terbukti merupakan patogen alamiah pada M. nipponense dan Pr. clarkii [1].


    Spesies rentan
    Pada uji coba intramuskuler dengan virus ini, udang vaname sedikit lebih rentan dibandingkan C. quadricarinatus dan Pr. clarkii [3]. Sedangkan M. rosenbergii dan M. nipponense tidak memiliki toleransi terhadap virus ini

    Epizootiologi:
    Virus ini terdeteksi pada berbagai spesies udang pertama kali di China, sejak tahun 2014. Pada surveilans tahun 2017, virus ini terdeteksi pada 6 provinsi dari 13 provinsi yang diisurvei [2]. Penyakit ini dapat dengan mudah menyebar antar kolam dan spesies akibat rendahnya biosekuriti pada budidaya [1]. Angka mortalitas dari virus ini mencapai 80% [1]. Pada udang vaname, kematian dalam jumlah besar terjadi dalam 2 minggu [3].

    Faktor pendukung
    -

    Gejala Klinis
    Qiu et al (2019) pada studinya memperlihatkan adanya gejala kepala putih dan insang menguning akibat adanya virus ini. Udang yang sekarat akan kehilangan kemampuan berenangnya, tenggelam di dasar dan jarang terlihat pada aliran air. Hepatopankreas udang memucat dengan bidang irisan kuning disertai usus dan lambung yang kosong. Namun, gejala ini tidaklah spesifik, beberapa penyakit lain juga dapat menimbulkan gejala serupa. Pada beberapa udang lainnya teramati otot yang putih dan antena yang terpotong [1].

    Gb. Gambaran berwarna putih di bawah rostrum (Qiu et al., 2019)


    Perubahan patologi
    Secara histopatologi, infeksi dari virus DIV1 dapat diamati dengan adanya badan inklusi eosinofilik gelap dan piknosis pada jaringan hematopoietik, hepatopankreas, dan insang dari M. rosenbergii dan M. nipponense. Sedangkan pada Pr. clarkii dan cladocera perubahan histopatologi menciri tidak ditemukan [1].

    Diagnosa banding
    -

    Metode Diagnosa
    Penyakit ini dapat didiagnosa secara histopatologi, LAMP, mikroskop elektron dan real time PCR [1].

    Pencegahan dan Pengendalian
    Salah satu upaya pencegahan dari penularan virus ini adalah dengan menghindari budidaya secara polikultur antara udang galah, vaname dan windu [1].

    Referensi

    1. Qiu, L., X. Chen, R.H. Zhao, C. Li, W. Gao, Q.L. Zhang, J. Huang. 2019. Description of a Natural Infection with Decapod Iridescent Virus 1 in Farmed Giant Freshwater Prawn, Macrobrachium rosenbergii. Viruses 11(354): 1-14pp

    2. Qiu, L.; Dong, X.; Wan, X.Y.; Huang, J. Analysis of iridescent viral disease of shrimp (SHID) in 2017. In Analysis of Important Diseases of Aquatic Animals in China in 2017; Fishery and Fishery Administration Bureau under the Ministry of Agriculture and Rural Affairs, National Fishery Technical Extension Center, Eds.; China Agriculture Press: Beijing, China, 2018; pp. 187–204, ISBN 978-7-109-24522-8

    3. Xu, L.; Wang, T.; Li, F.; Yang, F. Isolation and preliminary characterization of a new pathogenic iridovirus from redclaw crayfish Cherax quadricarinatus. Dis. Aquat. Organ. 2016, 120, 17–26













    No comments:

    Post a Comment