-->

atas

    Saturday, 25 July 2020

    Covid-19 dan Dampaknya terhadap Dunia Perikanan


    Covid-19 merupakan penyakit yang sejak akhir tahun 2019 hingga saat dimana tulisan ini dibuat, masih menjadi perbincangan dan wabah di segala penjuru dunia. Perlu diketahui bahwa penyakit Covid-19 ini disebabkan oleh virus yang bernama SARS –Cov-2 yang termasuk dalam famili coronaviridae dan genus betacoronavirus. SARS-Cov-2 ini menyerang pada sistem pernafasan terutama paru-paru. Virus ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui reseptor protein angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2). Dibandingkan dengan ikan, kecuali untuk lungfish, ikan bernafas menggunakan insang. Kesamaan genetik asam amino pada ikan terhadap reseptor ACE2 ini sangat rendah. Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa ikan tidak rentan dan tidak ada kemungkinan bagi virus ini untuk menginfeksi pada ikan. Namun hal yang tidak dapat diabaikan adalah pengaruh pandemi
    Covid-19 ini pada rantai suplai makanan berbasis ikan. Baik dari penangkapan, akuakultur, pemrosesan, transportasi, distribusi, penjualan, perdagangan, semuanya terdampak baik secara langsung maupun tidak oleh pandemi ini. Dampak yang ditimbulkan dapat bersifat negatif maupun positif. Pada tulisan ini dipaparkan mengenai keseluruhan aspek perikanan yang terdampak oleh pandemi Covid-19. Dampak mungkin berdinamika, sama atau dapat berbeda dan berubah, bergantung pada kondisi, situasi, dan perkembangan dari wabah ini.

    Gb, Dampak Covid-19 dalam rantai suplai perikanan (pict credit to de Souza, 2020)
    Seafood
    Diketahui bahwa tidak ada kejadian yang mengindikasikan infeksi SARS-CoV-2 pada bahan pangan akuatik (ikan, udang, kerang). Namun demikian, permukaan bahan pangan dapat terkontaminasi bila ditangani oleh individu yang terinfeksi dan aktif menyebarkan virus. Adanya kemungkinan terkontaminasi virus Covid-19 ini tidak langsung dapat dikatakan bahwa virus ini menular melalui bahan pangan. Untuk dapat menginfeksi manusia, virus membutuhkan titer atau kadar yang mencukupi. Selain itu, setiap virus memiliki ketahanan yang berbeda-beda di ruang terbuka, bergantung dimana virus tersebut melekat. Meskipun Covid-19 ini tidak menginfeksi pada seafood, namun berbagai sektor terdampak oleh pandemi ini.  Terlebih lagi, belum ada data lamanya waktu virus dapat bertahan di permukaan seafood. Akan tetapi, dengan penanganan dan sanitasi yang baik, kemungkinan kontaminasi dari virus ini dapat ditiadakan. Sedangkan untuk seafood sendiri, aman untuk dikonsumsi, selama disiapkan secara higiene dan aman, serta proses memasak yang matang.

    Budidaya
    Pandemi Covid-19 ini berdampak terhadap budidaya dimana terjadi perubahan permintaan konsumen, akses pasar serta munculnya permasalahan logistik akibat pembatasan transportasi. Sehingga secara tidak langsung berdampak terhadap mata pencaharian, keamanan pangan dan nutrisi pada mereka yang menggantungkan hewan akuatik sebagai sumber pangan dan pendapatan. Kapasitas produksi budidaya juga terpengaruh akibat sulitnya mendapat induk, benih dan pakan, serta kesulitan mendapatkan pekerja akibat adanya karantina wilayah/ lockdown. Di negara seperti India dan Ekuador, minimnya pekerja disebabkan oleh banyaknya bekerja yang absen masuk kerja akibat ketakutan untuk melakukan perjalanan ke lokasi kerja dengan transportasi umum. Hasil panen menjadi sulit terjual dan pembudidaya terpaksa mempertahankan pemeliharaan meskipun beresiko terhadap membengkaknya biaya untuk pemeliharaan.
    Terhadap negara China, dimana pandemi ini awalnya dilaporkan, produksi ikan air tawar mengalami hambatan dalam penjualan di awal tahun 2020. Transportasi dan logistik saat ini mulai dibuka namun sayangnya masa tebar menjadi tertunda dan harga ikan pun melambung. Kondisi semacam ini ditemukan di berbagai negara di Asia. Berbeda halnya dengan di Mesir, dimana pada sektor budidaya, produksi dan penjualan ikan laut menurun. Sedangkan harga ikan nila sedikit meningkat karena permintaan yang cenderung stabil.
                    Pada negara produsen udang seperti Vietnam, produksi benih perlahan mulai pulih dan terjadi peningkatan penggunaan sistem budidaya intensif. Sedangkan di India, mengalami kendala pada stok induk dan operasional pekerja yang turun hingga 40%. Di awal pandemi di India, banyak pembudidaya melakukan panen cepat yang berdampak pada turunnya harga.

    Ikan hias
    Dari aspek produsen ikan hias, Covid-19 mempengaruhi pemasaran dimana berbagai kontrak jual beli ditunda atau dibatalkan. Pasar ekspor impor menuju negara China terguncang akibat ditutupnya perdagangan ke negara tersebut (sumber: http://trobosaqua.com/). Dari sini, dampak yang dapat dilihat dari pandemi ini terhadap usaha ikan hias adalah cepat atau lambat staf yang bekerja di bidang ini akan dirumahkan sebagai akibat turunnya penjualan.
    Dipandang darisegi pasar domestik, teramati hal yang berbanding terbalik dimana permintaan dan minat pasar terhadap ikan hias meningkat pesat meskipun sempat mengalami penurunan. Tidak terganggunya pasar ikan hias domestik ini dapat dimungkinkan oleh aktifitas masyarakat yang lebih banyak berada di rumah. Memelihara ikan hias menjadi alternatif untuk membuang rasa bosan selama pembatasan aktifitas luar rumah. Tidak hanya ikan cupang, beberapa jenis ikan hias lain seperti neon tetra, arwana, louhan, dan channa menjadi tren di masyarakat (sumber: https://lifestyle.okezone.com ). Meningkatnya permintaan terhadap ikan hias juga berdampak terhadap peningkatan permintaan akuarium bahkan aquascape (sumber: https://www.liputan6.com ; https://pontas.id). Ada juga yang menjadikan  ikan hias sebagai suatu langkah yang cukup prospektif di masa ini. Terlebih lagi banyak karyawan yang dirumahkan dan tidak dapat kembali bekerja. Bagi mereka, bisnis ikan hias dipandang mampu menjadi sebuah solusi (sumber: https://finance.detik.com)
    Meskipun minat terhadap ikan hias di pasar lokal cukup baik, hal yang paling disayangkan dari masa pandemi ini adalah banyak kontes ikan hias yang tidak terlaksana. Sementara adanya kontes sangat menjanjikan sebab pasar jual-beli peminat ikan hias banyak terjadi di kontes ini. Hal inilah yang diungkapkan oleh Andi, seorang senior pembudidaya cupang di Tegal pada acara pelatihan online Budidaya Cupang di Rumah Saja.

    Rumput laut
    Dikutip dari pernyataan Donny W Nagasan (Ketua ASTRULI/ Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia) pada Seminar Nasional Virtual “Pangan, Bioteknologi dan Budidaya Alga di Era COVID-19” , kondisi pandemi covid-19 ini tidak berdampak secara signifikan terhadap  konsumsi alga sebagai hidrokoloid. Sementara untuk bactograde ada indikasi peningkatan harga dan kemungkinan penggunaan di pandemi ini.  Perusahaan karaginofit dan Agarofit mengalami penurunan penggunaan kapasitas mesin akibat turunnya pasar ekspor, pengurangan volume kerja, penurunan permintaan pasar domestik, terhentinya proses produksi. Akibatnya terjadi penurunan harga akibat suplai berlebih.  Hal ini juga terjadi pada produk makanan asal rumput laut. Namun demikian, agar-agar dan pectin masih sangat diminati sebagai bahan alam dan sehat. Negara-negara barat juga mengalami peningkatan untuk konsumsi ‘natural’ alga yang dirasa lebih menyehatkan untuk di masa pandemi ini.

    Perdagangan dan Pemasaran
    Terganggunya pasar produksi budidaya mengakibatkan pembudidaya tidak dapat menjual hasil panennya atau mereka harus menunda masa panen, sementara ikan tetap harus diberi pakan. Akibatnya, biaya produksi, pengeluaran, dan resiko meningkat. Kendala lain dihadapi pada komoditas yang dieksport karena ditutupnya pasar internasional sehingga produksi yang semula diekspor dialihkan untuk produsen lokal. Namun demikian, di beberapa negara, pasar lokal masih minim atau bahkan tidak ada. Belum lagi untuk ikan-ikan laut bernilai jual tinggi (premium) yang biasa dipasarkan ke Yunani, Turki, dan Mesir tidak mungkin untuk dipanen. Penggeseran penjualan ke pasar ritel juga tidak mudah karena harga yang terlalu mahal atau jenis ikan yang kurang familiar bagi konsumen pasar domestik. Akibatnya, produksi yang ada melebihi kapasitas kebutuhan. Hal ini juga menjadi sebuah permasalahan.
    Pembatasan perdagangan internasional tak hanya berdampak pada eksportir saja, namun juga berdampak terhadap perdagangan benih dan induk yang secara tidak langsung dapat menurunkan produksi budidaya. Produk lain seperti kerang mengalami kendala dalam pemasaran akibat penutupan sejumlah hotel, restoran, dan pariwisata. Akhirnya pemasaranpun dialihkan ke pasar lokal. Diantara dampak negatif dari pandemi ini, industri perikanan skala kecil dapat meraup keuntungan sebab berkurangnya persaingan dari importir. Sementara itu produk-produk olahan perikanan turut mendapatkan keuntungan akibat  adanya panic buying dimana produk beku terjual lebih cepat. Sayangnya, pembatasan akses pasar dan logistik menimbulkan permasalahan dimana produk akan tertahan lebih lama sehingga kualitas produk perlahan menurun.
     Ibu-ibu yang bekerja di pasca penangkapan juga memiliki resiko dalam pandemi Covid-19 ini. Ibu-ibu yang berjualan beresiko terpapar sebab di area pasar tradisional ada begitu banyak orang tanpa pembatasan fisik yang memadai serta fasilitas dan sanitasi yang higienis. Oleh karenanya diperlukan suatu inovasi metode penjualan ikan yang hidup ataupun yang segar. Penjualan secara online baik dari industri ritel atau perdagangan elektronik sejenis menjadi metode yang paling efisien dan banyak digunakan dalam masa wabah ini.
    Dari sisi harga, pembatasan kapasitas penerbangan akan meningkatkan harga terutama untuk komoditas ikan segar seperti salmon, kakap, seabream, dan ikan nila. Untuk negara Kanada, harga ikan salmon masih sesuai dengan kontrak. Jumlah yang diekspor juga masih ditangani dengan baik. Sedangkan, ekspor dari negara Norwegia sempat mengalami penurunan, namun beranjak meningkat. Bahkan ekspor sudah mulai berjalan ke Cina, negara uni eropa bahkan Italia. Harga ikan salmon dalam standar EURO ini termasuk rendah akibat turunnya nilai tukar dengan mata uang di Norwegia. Di pasar Amerika, kuarter pertama 2020, harga ikan jatuh, dan diikuti harga filet yang mulai turun di akhir kuarter.
    Untuk udang, stok di pasar dunia berlebih sebelum adanya covid-19. Harganya  pun cukup rendah sejak tahun lalu. Di negara pengimpor udang seperti Amerika, pasokan udang di awal tahun masih terkontrol sebab udang yang seharusnya dikirim ke China dialihkan ke Amerika. Sedangkan di negara pengekspor seperti Ekuador, Vietnam, India, harga udang mengalami penurunan. Meskipun demikian, nilai ekspor beranjak naik sebab mulai masuknya permintaan dari negara seperti China. Tak jauh berbeda, harga udang di Indonesia juga mengalami keguncangan, tidak hanya di pasar ekspor, namun juga di pasar lokal. Penebaran yang di lakukan di awal tahun mengalami kebingungan tujuan untuk ekspor ketika pasar Amerika di tutup. 

    Konsumsi ikan
    Selama wabah Covid-19 ini, sejumlah negara melaporkan adanya penurunan konsumsi bahan pangan asal akuatik. Hal ini disebabkan oleh kesalahpahaman mengenai resiko penularan virus. Namun, peningkatan konsumsi juga mungkin terjadi pada komunitas tertentu, akibat pembatasan transportasi atau perdagangan sehingga hasil tangkapan ataupun hasil panen akhirnya digunakan sebagai sumber alternatif protein hewani. Misalnya seperti di Mesir, dimana ikan nila lebih banyak dikonsumsi dibandingkan ayam.
    Sebenarnya covid-19 ini tidak terlalu berdampak terhadap konsumsi seafood. Akan tetapi, peran pemerintah untuk mendorong konsumsi di masa ini sangat dibutuhkan. Beberapa negara bahkan mengeluarkan kampanye untuk meningkatkan konsumsi ikan. Misalnya di Turki dengan kampanye nya “Life at home, Fish at Table” (sumber: turkishagrinews.com/) atau di Amerika dengan  program “Seafood for Heroes” guna mendukung tenaga kesehatan dan garda terdepan dalam krisis covid-19 ini (sumber : www.seafoodforheroes.com). Lalu bagaimana dengan Indonesia? Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) jauh sebelum pandemi covid-19 ini telah mendorong konsumsi ikan dengan gerakan nasional GEMARIKAN (Gemar Memasyarakatkan Makan Ikan) (sumber: kkp.go.id/). Di masa pandemi covid-19, ini dimunculkan Gerakan Nasi Ikan yang disosialisasikan oleh seluruh Unit Pelayanan Teknis KKP yang bertujuan membantu masyarakat, meningkatkan imunitas dan mendorong masyarakat agar gemar makan ikan (sumber: kkp.go.id/). Di beberapa negara lain, meskipun tidak menggunakan kampanye atau gerakan tertentu, banyak industri perikanan skala kecil bahkan pembudidaya lokal yang turut berkontribusi terhadap ketahanan pangan di masa pandemi ini dengan berbagi makanan.
                    Pola-pola konsumsi pun mengalami perubahan. Seafood  yang harganya cukup tinggi akan semakin sulit terbeli sebab pendapatan konsumen di masa ini juga cukup berat. Konsumen Asia ditantang untuk mulai belajar untuk melakukan pembelian ikan secara daring dan menyadari bahwa pembelian dengan cara tersebut cukup baik dan efektif dibandingkan membeli di pasar tradisional. Konsumen di negara barat pun makin banyak belajar menyiapkan seafood di rumah. Hal ini berdampak positif terhadap konsumsi. Bahkan beberapa restoran sudah mulai buka kembali.

    Gb. Gerakan donasi seafood untuk para garda terdepan covid-19 di Amerika
    (pict credit to https://www.seafoodforheroes.com/)

    Gb. Gerakan Nasi Ikan sebagai gerakan berbagi di masa pandemi covid-19
    (pict. credit to kkp.go.id)

    Industri Perikanan Tangkap
    Pada industri perikanan tangkap, pandemi Covid-19 berdampak terhadap penurunan usaha penangkapan di beberapa negara di Asia, Afrika dan Eropa. Keterbatasan alat dan bahan penangkapan, pembatasan ruang gerak karena adanya pengukuran sanitasi, pemangkasan tenaga kerja, faktor-faktor seperti ketersediaan peralatan untuk memastikan kesehatan, kelayakan kru untuk beraktifitas serta seluruh mekanisme pendukung mempengaruhi tingkat penangkapan. Kru yang bekerja di kapal penangkapan skala besar, yang biasanya beristirahat di akhir pekan akhirnya tidak dapat kembali ke rumah karena keterbatasan penerbangan dan karantina. Pun demikian yang melaut jarak jauh (antar negara) tidak diperkenankan untuk masuk ke negara yang disinggahi. Akibatnya, mereka harus menghabiskan waktu lebih lama di laut. Hal ini berpotensi meningkatkan kecemasan, stress, dan resiko kecelakaan kapal. Penurunan pada sektor penangkapan juga dapat disebabkan oleh turunnya permintaan dari industri makanan, seperti yang terjadi di Mesir. Namun, belakangan ini, di beberapa wilayah sudah mulai terjadi perbaikan, menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Penyesuaian dilakukan dengan merubah target ikan dan strategi penjualan yang menyesuaikan dengan permintaan pasar.

    Manajemen dan Kebijakan
    Adanya pandemi Covid-19 ini menyebabkan terhambatnya proses survei asesmen perikanan, program pengamatan perikanan, rapat manajemen dan ilmiah, serta penundaan implementasi pemantauan dan penegakan hal-hal tersebut. Berkurangnya pemantauan dan penegakan hukum mengakibatkan longgarnya pemantauan operasi perikanan sehingga terjadi kemungkinan peningkatan resiko terhadap kejadian IUU (illegal, unreported and unregulated) Fishing. Namun demikian, di beberapat tempat, tekanan terhadap penangkapan ikan semacam ini berkurang karena adanya armada yang berizin dan legal. Hal ini mempengaruhi jumlah stok ikan di pasaran dan secara tidak langsung berefek terhadap sektor skala kecil. Di Indonesia sendiri, selama pandemi covid-19 ini, aksi penangkapan ikan secara ilegal masih dilakukan. Beberapa kapal ilegal berhasil ditangkap. Pengawasan di masa pandemi ini tidak boleh berhenti meskipun dari pendanaan jauh berkurang sebab pemerintah berfokus pada pengendalian covid-19 ini. (sumber: https://news.mongabay.com)
    Di luar itu, keselamatan pekerja sektor perikanan juga menjadi sebuah perhatian. Kebijakan yang diambil harus mempertimbangkan aspek sosial termasuk keamanan dan aspek kesehatan masyarakat. Sejumlah kebijakan terkait keamanan dan keselamatan pekerja diperhitungkan. Protokol kesehatan pun diterapkan di berbagai sektor misalnya di sektor pengemasan dimana dilakukan pengecekan suhu, skrining kesehatan, meningkatkan sanitasi, melakukan pembatasan sosial, dan meniadakan kunjungan. Ke depannya, inovasi juga akan merambah ke mekanisasi sehingga pemrosesan berlangsung secara otomatis sekaligus meningkatkan keselamatan dan keamanana pekerja. Dan diharapkan jauh ke depan, permintaan protein dapat meningkat diiringi dengan sektor perikanan yang dapat berdampingan dengan makanan yang diproduksi secara sehat dan higienis.


    Comments:

    Dampak dari pandemi covid-19 di bidang perikanan cukuplah luas. Diperlukan suatu dukungan dari pemerintah, lembaga, pihak swasta, dan masyarakat untuk secara bersama-sama mendorong dampak pandemi ini ke arah yang lebih positif. Meskipun berangsur-angsur berbagai sektor mulai beradaptasi terhadap kondisi ini, namun sejumlah kajian, inovasi, dan kebijakan sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi dan mengarahkan dampak positif dan menurunkan dampak negatif dari pandemi covid-19 ini, baik untuk jangka pendek, menengah maupun panjang. 

      
    Referensi


    Bennett, N.J.,  E.M. Finkbeiner, N.C. Ban, D. Belhabib, S.D. Jupiter, J.N. Kittinger, S. Mangubhai, J. Scholtens, D. Gill., P Christie. 2020. The COVID-19 Pandemic, Small-Scale Fisheries and Coastal Fishing Communities. DOI: 10.1080/08920753.2020.1766937

    Bondad-Reantaso, M.G., MacKinnon, B., Hao, B., Huang, J., Tang-Nelson, K., Surachetpong, W., Alday-Sanz, V., Salman, M., Brun, E., Karunasagar, I., Hanson, L., Sumption, K., Barange, M., Lovatelli, A., Sunarto, A., Fejzic, N., Subasinghe, R., Mathiesen, Á.M. & Shariff, M. 2020. Viewpoint: SARS-CoV-2 (the cause of COVID-19 in humans) is not known to infect aquatic food animals nor contaminate their products. Asian Fisheries Science, 33: 74–78 [online]. https://doi.org/10.33997/j.afs.2020.33.1.009
    Chamberlain, G. 2020. Impact of Covid-19 on Aquaculture. USSEC Global Trade Program COVID-19 and the Implications to Global Aquaculture

    FAO. 2020. How is COVID-19 affecting the fisheries and aquaculture food systems?

    FAO. 2020. The impact of COVID-19 on fisheries and aquaculture – a global assessment from the perspective of regional fishery bodies. Initial assessment, May 2020. No. 1. Rome. 35 pp

    FAO. 2020. Summary of the impacts of the COVID-19 pandemic on the fsheries and aquaculture sector: Addendum to the State of World Fisheries and Acquaculture 2020. Rome. https://doi.org/10.4060/ca9349en

    Nikolik, G. 2020. Salmon & Shrimp Aquaculture Industry Update. USSEC Global Trade Program COVID-19 and the Implications to Global Aquaculture

    Virginia Cooperative Extension Fact Sheet VCE-AAEC-218. 2020. Impacts of COVID-19 on U.S. ornamental fish farms: Quarter 1 Results


    No comments:

    Post a comment