-->

    Friday, 8 June 2018

    Hepatopancreatic Parvo-Like Virus Disease (HPV)

    Nama lain
    Penaeus Monodon densovirus (PmDNV) – nama terkini, Midgut Gland Parvovirus [5], Runt Syndrom pada udang monodon [8]

    Hospes
     P. monodon, P. merguensis,  L. vannamei [1], P. indicus  [3] P. semiculcatus, P. penicillatus, P. chinensis, P. orientallis [1].

    Stadium rentan
    PL, juvenil, dewasa [1]. Meskipun dapat terpapar, infeksi pada udang dewasa tidaklah parah [6].

    Etiologi/ penyebab
    Pmdensovirus [1], virus DNA 22-24nm [2], memiliki open reading frame yang besar [5]

    Epizootiologi
    Infeksi HPV merupakan salah satu jenis penyakit udang yang ditemukan sejak pertengahan 80an [4]. Pertama kali virus ini ditemukan pada udang P. merguiensis dan Fe chinensi di Singapura dan China [6]. Penularan penyakit ini melalui mode horizontal [4]. Penularan horizontal lebih mudah terjadi pada stadium larva, sedangkan penularan vertical melalui indukan [9]. Penyakit ini telah menyebar di Asia, Australia, Afrika, dan beberapa negara Amerika Selatan [4]. Penularan secara vertical mungkin saja terjadi [6]. Di Filipina, penyakit HPV memiliki prevalensi 7,8 – 26,4% untuk PL 1-19. Sedangkan pada P. merguensis kematian dapat mencapai 50% dalam 4-8 minggu sejak munculnya penyakit [3] Meskipun tidak menimbulkan kematian yang signifikan, namun udang yang terinfeksi dapat menurunkan jumlah produksi [5]


    Gejala Klinis
    Udang mengalami perlambatan pertumbuhan, terdapat warna putih opaq pada ekor dan otot abdomen. Hepatopankreas mengerut (atrofi) dengan jumlah simpanan lemak dan vakuola sekretori menurun [1]. Pada bagian ekstral tubuh seringkali ditemukan organisme fouling seperti Zoothamnium sp dan bakteri berfilamen [3]. Disamping gejala diatas, pada kasus yang berat, hepatopancreas daoat berwarna putih, atrofi, rentan terhadap Vibrio spp [9].

    Perubahan patologi
    Organ target utama hanyalah hepatopancreas [6]. Pada hepatopankreas terdapat nekrosis dan atrofi HP, pergeseran nucleolus ke lateral, marginasi kromatin, dan badan inklusi intranuklear basofilik yang mencolok [1]. Badan inklusi hanya ditemukan pada bagian perifer yakni pada sel E saja [4]. Badan inklusi pada HPV sangatlah menciri dengan adanya bentukan nucleolar cap [6].   Awalnya badan inklusi berwarna asidofilik berukuran kecil di nucleus, melekat pada nucleolus. Badan inklusi kemudian membesar, nucleus menjadi hipertrofi. Kromatin menjadi termarginasi dan nucleolus terdesak ke samping nucleus sehingga sering terlihat berbentuk sabit kecil. Dan bentuk akhir badan inklusi adalah warna basofilik yang dikelilingi halo [8]. Pada infeksi HPV juga dapat bersamaan dengan infeksi MBV (Monodon Baculovirus ) [6]. Inflamasi pada kasus HPV sangatlah minimal [7].

    Gb histopatologi HPV pada udang windu. Badan inklusi stadium awal berwarna eosinofilik
    (pict credit to Flegel, 2006)


    Dampak Penyakit
    Karena organ target utama adalah hepatopancreas, kerusakan pada hepatopancreas ini mengakibatkan gangguan metabolisme hingga berdampak munculnya kematian [3]. Virus ini menimbulkan perlambatan pertumbuhan. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya nilai koofisien variasi (CV) lebih dari 30% [8]

    Metode Diagnosa
    Metode diagnose sederhana adalah dengan melakukan wet mount yang diwarnai dengan malachite green [4] atau preparat tekan ulas diwarnai diemsa [6]. Diagnosa HPV dapat dilakukan melalui histopatologi dimana ditemukan badan inklusi basofilik intranuclear [2]. Penggunaan ISH dengan probe khusus juga telah dikembangkan [1] termasuk PCR [6].

    Pencegahan dan Pengendalian
    HPV dapat dicegah dengan melakukan karantina dan skrining terhadap patogen [2]. Mempergunakan benih bebas HPV serta menghancurkan udang yang telah terinfeksi [3].

    Referensi

    1. Lio-Po. G.D. dan Inui, Y. 2014. Health Management in Aquaculture Second Edition. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department.

    2. CIBA. 2000. Shrimp Diseases: Symptoms, Causes, Diagnosis, Prevention and Contro, CIBA Extension Series No.19

    3. Lavilla-Pitogo, C.R., Lio-Po, G.D., Cruz-Lacierda, E.R., Alapide-Tendencia, E.V., de la Pena, L.D. 2000. Diseases of Penaeid Shrimps in the Philippines. Southeast Asian Fisheries Development Center: Filipina

    4. Catap, E.S. and R.D. Travina. 2005. Experimental transmission of Hepatopancreatic Parvovirus (HPV) infection in Penaeus monodon postlarvae. In P. Walker, R. Lester and M.G. Bondad-Reantaso (eds). Diseases in Asian Aquaculture V, pp. 415-420. Fish Health Section, Asian Fisheries Society, Manila.

    5. Attasart, P., Kaewkhaw, R., Chimwai, C., Kongphom, U., Namramoon , O., Panyim, S. 2010. Inhibition of Penaeus monodon densovirus replication in shrimp by double-stranded RNA. Arch Virol (2010) 155:825–832 DOI 10.1007/s00705-010-0649-5

    6. UAZ. 2012. HPV. University of Arizona, Pathology Short Course

    7. Mahidol University. 2007. Biology and Pathology of Shrimp. International Training Course Mahidol University Thailand

    8. Alaya de Graindrage, V. dan Flegel, T.W. 1999. Diagnosis of shrimp diseases, with emphasis on the black tiger shrimp (Penaeus monodon). FAO: Roma

    9. Lightner, D.V (Ed). 1996. A Handbook of Shrimp Pathlogy and Diagnostic Procedures For Diseases of Cultured Penaeid Shrimp. The World Aquaculture Society

    No comments:

    Post a Comment