-->

    Friday, 25 May 2018

    Tenacibaculosis


    Nama lain

    Gliding bacterial disease, eroded mouth syndrome, black patch necrosis [1] tenacibaculosis, salt water columnaris disease, bacterial stomatitis [2]


    Etiologi/ penyebab
    Tenacibaculum maritimum atau dulu lebih dikenal dengan Cytophaga marina / Flexibacter marinus [1]/ Flexibacter maritimus [3] merupakan bakteri gram negatif [2], berfilamen [8], berukuran 0,75 x 2-7 mikron [9].

    Hospes
    semua ikan laut [8]  kakap , sea bream [1] salmon, rainbow trout, flounder [2], turbot, dover, mullet [3], ikan laut liar [2]

    Stadium rentan
    Ikan muda lebih rentan daripada dewasa [3]

    Epizootiologi
    Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Eropa pada ahun 1982. Sedangkan di Jepang, flexibacteriosis dikenal lebih awal yakni tahun 1979. Saat ini flexibacteriosis telah menyebar di Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Bakteri ini dapat ditemukan pada lingkungan perairan laut dan bertahan hingga berbulan-bulan bahkan jika dapat ‘terlindungi’ oleh lumpur atau mucus ikan [1]. Karier utama dari patogen belum dapat diklarifikasi sebab data yang terlalu sedikit, namun patogen ini dapat terisoladi dari sedimen, permukaan kolam, dan air yang terinfeksi. Penularan secara horizontal telah diduga[2]. Kematian dapat mencapai 80% dalam beberapa hari. Bakteri dapat menghancurkan ekor dalam 2 hari [10].

    Faktor pendukung
    Prevalensi kasus tenacibaculosis akan meningkat bersamaan dengan meningkatnya suhu (diatas 15oC) dan salinitas (30-35 permil) dengan kualitas air yang buruk. Munculnya penyakit juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan (stress, paparan UV berlebih, kurangnya substrat pasir padakolam) dan manajemen (kepadatan tinggi dan pakan buruk), serta inang (kondisi permukaan kulit) [2]. Pada ikan laut liar, luka yang disebabkan oleh sudut tajam terumbu karang berperan terhadap masuknya bakteri Tenacibaculum [4]. 

    Gejala Klinis
    Ikan mengalami anoreksia, letargi, dan lesi ekstrenal [3]. Lesi hemoragi terdapat pada kulit [1], nekrosis, ulcer, erosi mulut, sirip geripis, busuk ekor, nekrosis insang dan mata. Gejala klinis tenacibaculosis bervariasi bergantung spesies dan umur ikan. Bakteri ini menyukai permukaan tubuh seperti kepala, sirip, dan sisi tubuh. Bakteri dapat melekat erat pada mucus tubuh ikan dimana tidak mengandung komponen yang menghambat pertumbuhan bakteri. Keberadaannya pada mata dan insang kasus ikan salmon tidaklah umum [2. Pada kulit akan tampak perubahan warna kuning pucat hingga putih akibat kumpulan sejumlah bakteri. Insang akan memucat dengan lender berlebih [8].

    Gb. ulcer kulit pada ikan black damselfish yang terinfeksi Tenacibaculum
    (picture credit to El Galil dan Hashiem, 2012)
    Gb. ulcerasi dan erosi mulut pada ikan Picasso trigger fish 
    (picture credit to El Galil dan Hashiem, 2012)


    Perubahan patologi
    Pada insang, lesi dicirikan dengan erosi pada ujung bebas lamella primer [3]. Percobaan pada ikan Picasso trigger dan black damselfish teramati peradangan pada kulit, lesi pada hati berupa degenerasi melemak dan nekrosis fokal, nekrosis jaringan otot, dan infiltrasi mononuclear pada limpa. Pada ikan salmon, lesi berupa kongesti otot juga teramati [3]. Pada ikan kakap, teramati degenerasi dan nekrosis liquefactive hati, ginjal, dam limpa. Pada kulit, lapisan epitel menghilang dan terdapat lesi ulcerative yang dalam hingga ke dermis. Insang mengalami erosi dan hemoragi[5].

    Prognosis
    Bakteri ini dapat menyebabkan kematian tinggi, terutama jika ikan dalam kondisi stress [8].

    Metode Diagnosa
    Isolasi dan identifikasinya dapat dilakukan dengan wet mount atau pewarnaan gram dari insang atau lesi kulit. Isolasi dapat dilakukan dengan berbagai media [1]. Pada squash, bakteri berbentuk batang panjang 0,5x2,5mikron dan bergerak tanpa flagella [10]. Karena merupakan bakteri obligat, maka tidak dapat tumbuh hanya dengan NaCl, harus dikultur pada media oligotrofik non selektif yang mengandung 30% air laut. Namun hanya media AOA dan FMM yang dapat menggambarkan karakteristik koloni bakteri ini secara spesifik yakni datar, kuning pucat dengan tepi tidak menaik, dan melekat erat dengan media. Pada media agar laut koloni bulat dengan pigmen kuning[2]. Pertumbuhannya lambat dan dapat terhambat dengan adanya bakteri lain yang tumbuh lebih cepat. Karakteristik fenotip bakteri dapat dilakukan dengan metode PCR [1]. PCR menggunakan mucus ikan juga lebih mempermudah dan mempercepat diagnosa tanpa harus membedah ikan [6]. Diagnosa lain dapat menggunakan serologi dot blot assay dan immunoblot. Reproduksi penyakit tidak efektif jika dilakukan menggunakan perendaman, injeksi intramuscular maupun intraperitoneal. Penyakit hanya dapat muncul degan aplikasi topical pada mulut atau ekor atau dengan perendaman jangka panjang [2].

    Pencegahan dan Pengendalian
    Secara laboratorium T. maritimum resisten terhadap colistin, kanamycine, neomycine, dan quinolone, oxolinic acid serta flumequine. Bakteri ini rentan terhadap nitrofuran, penisilin, eritromisin, tetrasiklin, kloramfenicol. Trimethoprim, sulfonamide, dan fluoroquinolone. Aplikasi di lapangan, penggunaan streptomycine  sulfat dan penisilin dengan perendaman cukup efektif namun hanya untuk jangka pendek. Uji lapang lainnya menggunakan amoxycillin dan trimethoprim cukup efektif baik secara oral maupun rendaman pada ikan salmon dan rainbow trout. Penggunaan furazolidone pada turbot dan oxytetrasiklin pada salmon mampu mengontrol penyakit ini. Pada kasus outbreak, enrofloxacin merupakan pilihan paling terjamin [2]. Pada ikan marine surge wrasse, pengobatan secara herbal dapat menggunakan ekstrak carvacrol dikombinasikan dengan precursor cymene sebanyak 100ppm selama 14 hari dalam pakan [7]. Disamping pengobatan, pengendalian juga dapat dilakukan dengan melakukan disinfeksi menggunakan formalin 30-40ppm selama 6 jam. Akan tetapi treatmen ini mengganggu fungsi insang ikan. Alternatif disinfektan lain adalah Potassium permanganate (PK) dan peroksida (H2O2). Peroksida pada penyakit ini direkomendasikan pada dosis 240ppm. Manipulasi suhu dan salinitas berguna mengurangi morbiditas penyakit. Vaksin bakterin untuk tenacibaculosis juga telah dikembangkan [2]

    Berikut adalah daftar tanaman herbal yang telah diujikan potensinya untuk pengobatan Tenacibaculosis



    Referensi
    1. Kolygas, M.N., Gourzioti, E.,  Vatsos, I.N., Athanassopoulou, F. 2012. Identification of Tenacibaculum maritimum strains from marine farmed fish in Greece doi: 10.1136/vr.100778 Veterinary Record 2012 170: 623

    2. Avendano-Herrera, R., Toranzo, A.E., Magarinos, B. 2006. Tenacibaculosis infection in marine fish caused by Tenacibaculum maritimum: a review. DISEASES OF AQUATIC ORGANISMS Dis Aquat Org Vol. 71: 255–266, 2006

    3. Haridy M, Hasheim M, El-Galil MA, Sakai H, Yanai T (2015) Pathological Findings of Tenacibaculum maritimus Infection in Black Damselfish, Neoglyphieodon melas and Picasso Triggerfish, Rhinecanthus assasi in Red Sea, Egypt. J Veterinar Sci Technol 6: 214. doi:10.4172/2157-7579.1000214

    4. El- Galil, M.A.A.A dan Hashem, M. 2012. Epidemiological and bacteriological studies on Tenacibaculosis in some Red Sea fishes, Egypt. INTERNATIONAL JOURNAL OF ENVIRONMENTAL SCIENCE AND ENGINEERING (IJESE) Vol. 3: 25- 32

    5. Yardimci, R.E dan Timur, G. 2015. Isolation and Identification of Tenacibaculum maritimum, the Causative Agent of Tenacibaculosis in Farmed Sea Bass (Dicentrarchus labrax) on the Aegean Sea Coast of Turkey. The Israeli Journal of Aquaculture - Bamidgeh, IJA_67.2015.1172, 10 pages

    6. Avendano-Herrera, R., Nunez, S., Magarinos, B., Toranzo, A.E. 2004. A non-destructive method for rapid detection of Tenacibaculum maritimum in farmed fish using nested PCR amplification. Bull. Eur. Ass. Fish Pathol., 24(6) 2004, 280

    7. El-Galil, M.A.A.A. dan Hashiem, M. 2012. Experimental Infection of Tenacibaculosis and a Trial for Treatment by Plant Extract Carvacrol in Surge Wrasses Fish (Thalassoma Purpureum). Life Science Journal, 2012;9(2)

    8. Meyers, T., Burton, T., Bentz, C., Strakey, N. 2008. Common disease of wild and culturen fishes in Alaska. Fish Pathology Laboratories, Alaska

    9. Roberts, R.J (Ed). Fish Pathology 4th Ed. Wiley-Blackwell: UK

    10. Nagasawa, K. and E. R. Cruz-Lacierda (eds.) 2004: Diseases of cultured groupers. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department, Iloilo, Philippines. 81 p.

    11 Harikrishnan, S., Kim, C.H., Kim, J.H, Kim, D.H., Hong, S.H., Heo, M.S. 2011. Alnus Firma Supplementation Diet On Haematology  And Innate Immune Response In Olive Flounder  Against  Tenacibaculum Maritimum. 649 Bull Vet Inst Pulawy 55, 649-655, 2011

    12. Jang YH, Jeong JB, Yeo IK, Kim KY, Harikrishnan R, Heo MS. Biological characterization of Tenacibaculum maritimum isolated from culture olive flounder in Korean and sensitivity against native plant extract. J Fish Pathol 2009;22:53e65





















    No comments:

    Post a Comment