-->

    Monday, 15 May 2017

    Epizootic Ulcerative Syndrome (EUS)


    Nama lain:  mycotic granuloma (MG), EUS related Aphanomyces (ERA) [1], Red Spot disease, Ulcerative mycosis [2].


    Etiologi/ penyebab: oomycetes, Aphanomyces invadans. Penyakit ini berkaitan erat dengan Aeromonas hydrophila  dan Rhabdovirus. Dapat juga berasal dari superinfeksi strain Aphanomyces, Achyla, Pthyium, serta pengaruh dari faktor lingkungan [2].

    Hospes : ikan air tawar, dan estuarine [1] serta ikan laut [2]. Bandeng, nila, Chinese carp resisten terhadap penyakit ini [1]

    Stadium rentan : juvenil dan ikan usia muda [4]

    Epizootiologi
    Laporan pertama penyakit ini terdapat pada Ayu (Plecoglossus altivelis) di Jepang. Outbreak besar terjadi di Bagian Timur Australia yang berdampak pada ikan estuarine, sebagian pada hrey mullet (Mugil cephalus). Pola penyebaran outbreak ke arah barat melalui Asia Selatan dan Tenggara. EUS juga dilaporkan menimbulkan outbreak di Papua Nugini, Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, Srilanka, Banglades, dan India. Mortalitas EUS biasanya berkaitan dengan outbreak, namun beberapa ikan tidak menyerah terhadap invasi sekunder dari luka sehingga ulcer dapat sembuh [1].
    Penularan terjadi secara horizontal melalui air. Hanya zoospore sekunder yang mampu melekat pada kulit luka dan bergerminasi menjadi hifa. Prevalensi penyakit ini dapat tinggi pada area endemic atau ketika terjadi kematian tinggi. Angka mortalitas pun dapat mencapai > 50% dan morbiditas >50% pada ikan gabus. Namun angka tersebut bervariasi tergantung jenis ikan[4]. EUS kerap muncul pasca hujan lebat dan banjir dengan pH air yang asam, serta pada suhu terbaik untuk sporulasi yakni 18–22°C [6].

    Faktor pendukung
    Di Australia dan Filipina, outbreak berkaitan dengan air yang asam (karena asam sulfat), bersama dengan suhu rendah, keberadaan ikan yang rentan. Di daerah lain, faktor biologis seperti infeksi rhabdovirus atau faktor lingkungan (seperti suhu) dapat memicu timbulnya lesi [1]

    Gejala Klinis
    Lesi awal berupa bintik-bintik merah yang semakin dalam seiring proses infeksi berjalan lalu mempenetrasi otot di bawahnya [1]. Bintik merah tersebut terlihat pada permukaan tubuh, kepala, operculum [3]. Tubuh ikan berwarna lebih gelap, kehilangan nafsu makan, ikan mengapung di permukaan, beberapa tampak hiperaktif [2].  Pada lesi melanjut tampak tepi berwarna putih menonjol [1]. Lesi hemoragi atau ulcerative terlihat pada rahang, kepala, dari yang berukuran kecil hingga luas dan dalam [2].
     
    Granuloma pada grey mullet (Roberts, 2012)
    Perubahan patologi
    Ada dua bentuk lesi spesifik dari EUS yakni ulcer yang sangat daam yang dapat masuk ke rongga tubuh dan peradangan kronis yang berat [5]. Gambaran makroskopis lesi bervariasi antar spesies, habitat, dan stadium perkembangan lesi. Lesi awal EUS berupa dermatitis hemoragi yang dangkal tanpa keterlibatan fungi. Lesi selanjutnya terlihat hifa A. invadans masuk ke jaringan otot dan muncul peradangan. Jamur mendapatkan respon peradangan hebat dan granuloma dibentuk mengelilingi hifa yang mempenetrasi. Lesi ini dapat melanjut membentuk dermatitis kronis ringan hingga berat, lokal, dermatitis nekrosis dengan degenerasi otot berat. Lesi menciri EUS berupa ulcer terbuka kulit secara histologi ditandai dengan adanya granuloma mikosis di jaringan. Lesi ini berdiameter 1-4cm. Secara umum infeksi sekunder dari bakteri dan strain patogenik Aeromonas hydrophila akan terisolasi dari lesi[1]. Hifa jamur dapat mencapai ginjal, kepala, dan spinal cord [2].
    Ulcerasi sisi kepala snakehead stripped (Roberts 2012)

    Diagnosa banding
    Aeromonas salmonicida- strain atipikal, KHV, VHS [6]

    Metode Diagnosa
    Diagnosa secara makroskopis sulit sebab lesi terbuka pada kulit juga dapat muncul pada penyakit lain. Squash lesi kulit akan didapatkan gambaran berupa hifa aseptat. Pemeriksaan lain yang dapat digunakan adalah histopatologi, isolasi jamur, [1]. Pemeriksaan dengan PCR juga dapat digunakan [3].  Lesi menciri adalah mycotic granuloma [2]. Isolasi A. invadans  dari lesi EUS sangat sulit karena banyaknya bakteri yang ada dalam lesi. Pada lesi yang sangat terkontaminasi, pemberian penisilin 500U/mL atau streptomycin 0,2ug/mL dapat memperbaiki kondisi, namun Aphanomyces terhambat oleh adanya antibiotik [5]. Diagnosa juga dpat dilakukan secara hematologi, biokimia, dan imunologi [7].

    Pencegahan dan Pengendalian
    Pengendalian pada populasi sulit dilakukan. Pemilihan strain resisten untuk budidaya akan lebih efektif. Apabila tidak memungkinkan, tindakan eradikasi dapat dilakukan melalui pengeringan dan pengapuran kolam, pembuangan ikan liar, penggunaan bahan propilaksis, media air yang baik, perendaman air garam, disinfeksi peralatan budidaya [1]. Penggunaan spesies tahan EUS seperti bandeng dan nila akan lebih menguntungkan [2]. Di Thailand, penanganan EUS dilakukan dengan meningkatkan kualitas air, menambahkan 60-100kg kapur/1600m2 (diulang tiap 3 minggu) disertai penambahan 200-300kg garam/1600m2 [5]


    Bahan/ Obat
    Dosis
    Keterangan
    Coptrol (Chelated Copper Compound)
    5ppm

    Malachite Green
    0,1mg/L

    Kapur
    100-600kg/ha

    KMnO4
    1-10mg/L

    Bleaching powder
    0,5-1mg/L

    CaO
    50-100kg/ha
    1 minggu setelah pemberian bleaching powder
    NaCl 3-4%

    Perendaman
    Sumber: [2], [7]

    Referensi
    1.   Reantaso M G., B.,  Mcgladdery S E, Subangsinghe. 2001. Asian Diagnostic Guide to Aquatic Animal Diseases. FAO Fisheries Technical Paper, No. 402, supplement 2. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), Rome, Italy, 240 pp.
    2. Lio-Po. G.D. dan Inui, Y. 2014. Health Management in Aquaculture Second Edition. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department.
          3.  Rodger, H.D. 2010. Fish Disease Manual.  Marine institute
    4.  OIE. 2013. Chapter 2.3.2. — Infection with Aphanomyces invadans (Epizootic ulcerative syndrome) in Manual of Diagnostic Tests for Aquatic Animals.
    5.   Noga, Edward J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Blackwell Publishing
    6.   Australian Government Department of Agriculture, Fisheries and Forestry.2012. Aquatic Animal Diseases Significant to Australia: Identification Field Guide, 4Th Edition. DAFF, Canberra.
    7.  Barman, D., Kumar, V., Mandal, S.C. 2012. Epizootic ulcerative syndrome (EUS)— A great concern in modern aquaculture. Wo r l d  Aq u A c u l t u r e   63


    No comments:

    Post a Comment