-->

    Sunday, 10 June 2018

    Pakan Alami


    Pakan alami  atau life food adalah pakan yang dikonsumsi yang berupa organisme dan berasal dari alam. Di dalam dunia perikanan, pakan alami merupakan salah satu jenis pilihan pakan untuk komoditas ikan konsumsi air tawar, laut, payau, serta ikan hias. Umumnya pakan alami diperoleh dari alam. Namun seiring dengan perkembangannya, pakan alami kini telah dapat dibudidayakan. Penggunaan pakan alami memiliki keunggulan bagi larva atau benih ikan sebab ukurannya yang kecil sesuai dengan bukaan mulut ikan. Disamping itu, nilai nutrisi yang tinggi, mudah dibudidayakan, gerakan yang merangsang ikan untuk memangsa, ketersediaan yang terjamin, dan biaya budidaya yang relative rendah menjadi kelebihan pemberian pakan alami.

    Organisme pakan alami (life food organism)
    Merupakan organisme hidup yang dipelihara, dimanfaatkan sebagai sumber pakan dalam proses budidaya perikanan. Organisme ini berkaitan erat dengan plankton baik fitoplankton dan zooplankton serta benthos. Keduanya merupakan organisme air yang dapat digunakan sebagai sumber pakan ikan. Sebagai sumber pakan, keduanya harus bersifat aman bagi lingkungan, tidak beracun atau mengandung logam berat, serta bukan merupakan inang atau perantara suatu patogen. 

    Kebutuhan pakan alami pada ikan
    Larva ikan laut membutuhkan pakan alami dengan nutrisi yang cukup meliputi asam lemak, asam organic, lemak dan minyak nabati. EFA tampaknya menjadi salah satu kebutuhan utama yang harus ada dalam pakan alami. Pada ikan hias, pakan alami dibutuhkan untuk menghasilkan warna. Contoh pakan alami yang merupakan sumber karotenoid  bagi ikan hias antara lain Spirulina platensis, Haematococcus, pluvialis, Chlorella sp, Numaliella salina. Crustacea, Tubifex sp. 

    Kandungan gizi pakan alami
    Pakan alami mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral untuk pertumbuhan larva ikan. Karbohidrat pada pakan alami umumnya relative rendah. Kadar nutrisi pakan alami bervariasi bergantung pada jenisnya. Perbedaan nutrisi pada fitoplankton dipengaruhi oleh unsur hara serta kondisi lingkungan (cahaya, suhu, dll). Sedangkan nilai nutrisi zooplankton bergantung pada jenis pakan yang digunakan untuk budidaya zooplankton. Sejumlah eicosapentanoic acid (EPA) terkandung dalam spesies diatom. Sedangkan DHA paling tinggi terdapat pada I.  galbana  dan P. lutheri.

    Jenis-jenis pakan alami
    Terdapat beragam jenis pakan alami. Ikan mengawali masa hidupnya dengan memakan plankton. Kemudian seiring bertambahnya ukuran ikan, pakan pun akan berubah. Pakan alami yang dapat digunakan dan dikembangbiakkan antara lain klorella, tetraselmis, infusoria, Moina, Daphnia, jentik nyamuk, cacing merah, artemia, dll. Setiap jenis pakan alami ini memiliki habitat, karakteristik, siklus hidup yang berbeda-beda. 

    A. Fitoplankton
    Plankton ini merupakan produsen pertama yang berklorofil dan mampu berfotosintesis. Fitoplankton yang digunakan sebagai pakan ikan terdiri dari tiga kelompok yaitu alga hijau, diatom, dan blue green alga

    fitoplankton (pict from FAO.org)


    Tetraselmis
    Berukuran 7-12mikron. Merupakan alga biru hijau. Tetraselmis memiliki 4 buah flagella berwarna hijau, memiliki klorofil, dan dindingnya terbentuk dari selulosa dan pektin. Alga ini berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan sel dan seksual dengan penyatuan kloroplast dari gamet jantan dan gamet betina. Tetraselmis hidup pada salinitas 15-36 permil dengan suhu sekitar 15-33oC. Tetraselmis mengandung lemak dalam kadar tinggi. 

    Kandungan nutrisi (%)
    Vitamin C
    0,25
    Chlorophyll A
    1,42
    Protein
    54,66
    karbohidrat
    18,31
    lemak
    14,27
    EPA
    9,3
    DHA
    0

    Chlorella sp
    Berukuran 2-8 mikron. Terdapat dua jenis Chlorella yaitu yang hidup di air tawar dan laut. Berbentuk bulat atau bulat telur. Chlorella merupakan alga bersel tunggal (uniseluler), berwarna hijau, dinding selnya tersusun atas selulosa dan pekton. Terkadang organisme ini tampak bergerombol dan bergerak sangat lambat. Alga ini tumbuh pada salinitas 0-35ppt dan suhu 25-30oC. Reproduksinya dilakukan secara aseksual dengan pembelahan sel atau dengan pemisahan autospora. 

    Dunaliella salina
    Merupakan alga hijau uniseluler, memiliki sepasang flagella dan sebuah kloroplast berbentuk cangkir. Bentuk selnya berubah-ubah sesuai kondisi lingkungan. Dunaliella bersifat halofilik yang artinya menyukai lingkungan bersalinitas tinggi serta merupakan organisme eurythermal yakni toleran terhadap suhu yang lebar. Alga ini bereproduksi secara seksual dan aseksual.

    Spirulina sp
    Berukuran 1-12 mikron, berbentuk bulat dan segiempat. Dinding dari diatom ini terbentuk oleh silika. Alga yang memiliki pigmen karotenoid dan diatomin ini berwarna kuning keemasan. Chaetoceros tumbuh pada suhu 25-30oC dengan salinitas 6-50permil. Spirulina kaya akan vitamin A, B1, B2, B6, C, dan E, beta karoten. Spirulina juga memiliki pigmen yang membantu mempertahankan warna ikan, mineral, asam lemak esensial, 8 asam amino. 

    Skeletonema costatum
    Berukuran 4-15 mikron, merupakan alga dari kelompok diatom. Alga ini membentuk untaian dengan beberapa sel. Setiap sel berbentuk kotak dengan bagian epiteka di bagian atas dan hipoteka di bagian bawah. Alga ini memiliki pigmen diatomin dan karotenoid. Skeletonema bersifat eurythermal dan tumbuh pada salinitas 25-29. Pertumbuhan alga ini banyak dipengaruhi oleh cahaya. Reproduksinya secara aseksual dan seksual.

    Isochrysis sp
    Berukuran 5-7  mikron, berwarn coklat berflagella, berukuran spheris hingga serupa pir.  Isochrysis menyukai suhu 30oC dengan intensitas cahaya tinggi. Planton ini mengandung DHA dalam jumlah tinggi dan banyak digunakan untuk menumbuhkan rotifer. 

    Nanochloropsis
    Merupakan alga berwarna kuning kehijauan dan berflagella dengan ukuran 2-4um. Sering digunakan sebagai pakan untuk rotifer. Plankton ini sering membuat warna air menjadi hijau. Nanochloropsis mengandung lemak dan EPA dalam jumlah tinggi.

    Kandungan nutrisi (%)
    Vitamin C
    0,85
    Chlorophyll A
    0,89
    Protein
    52,11
    karbohidrat
    12,32
    lemak
    27,64
    EPA
    10,1%
    DHA
    0%

    Chaetoceros sp
    Berukuran 2-5 mikron. Merupakan diatom tak berantai berwarna coklat keemas an berbentuk persegi. Chaeocheros tumbuh pada salinitas 25-30oC dengan cahaya 500-10000lux.  

    B. Zooplankton
    Merupakan konsumen pertama yang memanfaatkan fitoplankton. Zooplankton terdiri dari tiga kelompok yaitu protozoa (sarcodina, flagellate, ciliate), rotifer, dan crustacean

    Zooplankton (pict from FAO.org)

    Artemia/ Brine shrimp
    Nuplii artemia memiliki panjang ± 400mikron sedangkan dewasa panjangnya ± 1,8 Cm. Keunggulan penggunaan artemia sebagai pakan alami adalah dapat dilakukan manipulasi kualitas nutrisi melalui pemberian pakan dengan kultur rotifer atau dengan bioenkapsulasi. Nauplii artemia banyak digunakan untuk produksi benih ikan laut, ikan tawar, dan krustasea. Pada ikan air tawar, nauplii artemia dapat dipergunakan sebagai pakan perantara bagi larva jika Moina terlalu besar untuk digunakan. Penggunaan Artemia saat ini terbilang kurang ekonomis sebab selain sulit didapat juga harganya mahal. Artemia yang berasal dari alam memiliki resiko sebagai pembawa penyakit ikan. Dari kandungan gizi,  artemia tidak banyak mengandung DHA, EPA, dan ARA oleh karenanya harus diperkaya. Arteemia juga mampu mengkatabolisme DHA menjadi EPA sehingga pengkayaan DHA akan sangat terbatas.

    Kandungan gizi (%)
    Kadar air
    81,9
    Protein
    55
    Lemak
    18,9
    Serat kasar
    -
    abu
    7,2

    Rotifera (Brachionus sp)
    Merupakan jenis rotifer. Memiliki panjang 80 – 400mikron dengan nauplius 115 – 255mikron dan ewasa 1000 – 1200mikron. Kadar lemak pada Brachionus bergantung pada kepadatanTerdapat dua spesies laut yaitu Brachionus pliticalis dan B. rotundiformis. Rotifer bereproduksi seksual dengan menghasilkan kista dorman. Rotifer dapat dibudidayakan dengan alga hidup atau pasta alga. Kelemahan penggunaan rotifer adalah kurangnya nutrisi yang terkandung bagi larva ikan. Kandungan DHA, EPA, dan ARA rotifer sangat rendah. Rotifer juga tidak mampu memperpanjang rantai asam lemak sehingga harus diperkaya dengan HUFA sebelum diberikan sebagai pakan.



    Kandungan gizi (%)
    nauplii
    Kadar air
    85,7
    karbohidrat
    10,5-27%
    Protein
    8,6
    Lemak
    4,5
    Serat kasar
    -
    abu
    0,7
    karbohidrat
    6-7

    Protozoa
    Infusoria (Paramaecium sp)
    Merupakan protozoa, umumnya berada di peraian tawar berukuran 40-100 mikron dan hidup bergerombol. Organisme ini dpaat dibudidayakan pada media sayuran. Infusoria memakan ganggang, renik, detritus, ragi, dll. Reproduksinya secara seksual dan aseksual.

    Copepoda
    Merupakan crustacea kecil dengan lebih dari 21.000 spesies dengan ukuran nauplii antara 38-220 mikron. Larva ikan laut memakan nauplii copepod, sedangkan juvenilnya memakan copepod dewasa. Copepod mampu mensintesis HUFA tanpa pengkayaan serta mempertahankan rasio DHA:EPA dan EPA: ARA. Sejumlah 90% asam lemak juga terdapat pada copepod. Beberapa jenis copepod yang sering digunakan sebagai pakan alami ikan laut adalah Calanoida, Harpcticoida, dan Cyclopoida.  Copepoda air tawar yang banyak dikenal adalah Moina dan Daphnia. Budidayanya membutuhkan pakan rotifer. Kelemahan dari penggunaan copepod sebagai sumber pakan adalah ketersediaannya yang sedikit, budidaya yang membutuhkan tempat luas, peralatan, dan waktu untuk pakannya.


    Kandungan gizi (%)
    nauplii
    Kadar air


    Protein
    43
    30,3
    Lemak
    6,9-22,5

    Serat kasar


    abu


    Vitamin E (ug/g BK)
    113
    -
    Vitamin B1 (ug/g BK)
    515
    -
    Vitamin C (ug/g BK)
    23
    -
    EPA
    1,8
    1,4
    DHA
    3,5
    3,5

    Kladosera (Moina sp)
    Moina banyak dikenal sebagai kutu air. Berbentuk agak bulat, dengan diameter 0,19-1,8mm dan berwarna kemerahan. Moina banyak digunakan sebagai pakan untuk benih umur 2-6 hari. Moina juga banya digunakan sebagai pengganti atau alternatif pakan cacing tubifex. Reproduksi moina dilakukan secara aseksual dan seksual. Budidayanya membutuhkan kotoran hewan kering atau Chlorella sebagai sumber pakannya. Moina akan tumbuh dengan baik pada perairan yang mempunyai kisaran suhu antara 14-30 ° C  dan pH antara 6,5 - 9.

    Kandungan gizi (%)
    Kadar air
    99,6
    Protein
    37,38
    Lemak
    13,29
    Serat kasar
    -
    abu
    11,00

    Daphnia sp
    Daphnia merupakan copepoda yang berbentuk lonjong, pipih, dan beruas. Daphnia banyak digunakan sebagai pakan untuk benih umur 6-12 hari. Daphnia bereproduksi secara seksual dan aseksual. Budidayanya membutuhkan kotoran hewan kering. Daphnia dapat tumbuh pada suhu 21oC dan pH 6,5-8,5.

    Kandungan gizi (%)
    Kadar air
    94,78
    Protein
    42,65
    Lemak
    8,00
    Serat kasar
    2,58
    abu
    4,00

    Cacing 

    Cacing sutra (Tubifex sp)
    Merupakan jenis cacing serupa rambut dengan panjang 1-3cm.  Tubuhnya berwarna merah kecoklatan dan beruas-ruas. Umumnya cacing ini hidup bergerombol dalam lumpur dan ekornya menjuntai. Cacing sutra ini bereproduksi dengan bertelur. Habitat hidupnya adalah selokan, parit, dan sungai yang tercemar bahan organic. Budidayanya membutuhkan pH 6-7,5 dengan intensitas cahaya matahari tidak terlalu tinggi. Media pemeliharaannya membutuhkan bahan pupuk kendang, ampas tahu, dan tetes tebu. 

    Kandungan gizi (%)
    Kadar air
    87,19
    Protein
    57,5
    Lemak
    13,5
    Serat kasar
    2,04
    abu
    3,6

    Jentik nyamuk (Larva Culex sp)

    Kandungan gizi (%)
    Kadar air
    87,22
    Protein
    9,17
    Lemak
    3,01
    Serat kasar
    1,17
    abu
    0,46


    Referensi

    Arif, D. 2014. Diktat Teknologi Pakan Ikan Semester I TBP. Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan.

    Balai Budidaya Air Tawar Jambi. 2012. Budidaya Pakan Alami (Moina sp). Balai Budidaya Air Tawar Jambi. Leaflet

    Cahyaningsih, S. 2016. Metode Menyiapkan Pakan Alami (Live feed) untuk ikan hias laut. Presentasi disampaikan pada IMOS (Nusatic) 16-18 Desember 2018

    Conceicao, L.E., Yufera, M., Makridis, P., Morais, S., Teresa, M., Dinis, M.T. 2010. Live feeds for early stages of fish rearing. Aquaculture Research, 2010, 41, 613-640 doi:10.1111/j.1365-2109.2009.02242

    Darmanto, Satyani. D., Putra, A., Chumaidi, Rochjat D, M. 2000. Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Budidaya Pakan Alami Untuk Benih Ikan Air Tawar Instalasi Penelitian Dan Pengkajian Teknologi Pertanian

    Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Banten. 2016. Budidaya Cacing Sutra (Tubifex sp). Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Banten

    Lim, L.C., Dhert, P., Sorgeloos, P.  2003. Recent developments in the application of live feeds in the freshwater ornamental fish culture. Aquaculture 227 (2003) 319–331

    Live food aquaculture training course. www.aquatrain.org

    Ohs, C.L., Cassiano, E.J., Rhodes, A. 2016.  Choosing an Appropriate Live Feed for Larviculture of Marine Fish Institute of Food and Agricultural Sciences (IFAS)

    No comments:

    Post a Comment