-->

    Monday, 27 February 2017

    Furunkulosis

    Nama lain:  -

    Hospes :
    Semua ikan salmon, salmon atlantik (Salmo salar), rainbow trout (Oncorhynchus mykiss), dan brook trout (Salvelinus fontinalis) rentan terhadap penyakit ini. Penyakit ini juga ditemukan pada berbagai spesies ikan air tawar dan ikan air laut [1]. Diperoleh juga laporan pada ikan cyprinid seperti ikan mas dan ikan hias mas koki [3]. Ikan Rainbow trout relative resisten namun masih mungkin mendapatkan infeksi [4]

    Stadium rentan :  semua usia [4]

    Etiologi/ penyebab:
    Aeromonas salmonicida subsp. salmonicida, bakteri gram negatif  non motil 0.8 x 1.3-2.0 μm [1]. Terdapat dua strain yaitu  A. salmonicida atipikal dan tipikal [3]. Subspesies tipikal berkaitan dengan penyakit sistemik (furunkulosis), sedangkan yang atipikal merupakan kelompok heterogen yang tidak mengindikasikan pola fenotipikal pada kultur. Bakteri ini dapat bertahan lama di tubuh ikan. Bakteri ini dapat menetap di perairan selama 3 minggu dan disedimen hingga berbulan-bulan [6]


    Epizootiologi
    Pertama kali penyakit ini terdeteksi di Jerman pada sebuah hatcheri tahu 1894 [7]. Penyakit ini terdapat di Amerika Utara, Jepang, Afrika selatan,  dan Eropa. Penularan terjadi secara horizontal dan vertikal [4]. Penularan juga dapat melalui ikan karier. Infeksi yang tersembunyi pada karier dapat muncul ketika stress. Penyakit dapat terlihat secara nyata pada ikan salmon muda pada air tawar maupun laut. Air, sedimen, peralatan, dan berbagai hal yang dapat menyebarkan agen infektif [1]. Bakteri ini telah terdeteksi di permukaan telur yang telah dibuahi [4]. Penularan juga dapat terjadi secara aerosol untuk daerah yang dekat [6].

    Faktor pendukung
    Lingkungan yang tercemar bahan organik. Pada kondisi perbedaan suhu yang ekstrim, musim peralihan kemarau-hujan. Bakteri ini lebih mudah menyerang ikan yang terluka karena penanganan yang kasar, kurang gizi, infeksi sekunder parasite, air kolam terlalu subr dan zat asam terlalu rendah. Serangan terjadi pada saat suhu tinggi dan oksigen rendah. Stress akibat kepadatan tinggi, keterlambatan pemberian pakan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi [2]

    Gejala Klinis
    Infeksi bersifat perakut, akut, subakut, kronis atau laten. Penyakit sering terlihat sebagai hemoragi septisemia pada infeksi perakut atau sub akut. Ikan mati dalam 2-3 hari dari munculnya gejala klinis [2]. Terkadang tidak ada gejala klinis yang teramati, terutama pada kasus perakut. Ikan malas berenang atau berenang di permukaan, kehilangan nafsu makan, dan teramati adanya stress pernafasan yang ditandai dengan melompat di permukaan air [4]. Kejadian perakut biasanya terjadi pada benih dengan gejala kulit menghitam. Kasus akut biasanya terjadi di pembesaran. Kasus subakut atau kronis jarang terjadi  [6]

    Warna tubuh menggelap, anoreksia, letargi, hemoragi pada basal insang dan sirip, furunkel (lesi kulit) pada infeksi kronis [1]. Terdapat ulkus-ulkus yang menyerupai bisul, perdarahan sirip, sirip putus, perdarahan insang atau insang memucat, lendir pada rektum berdarah [2]. Lesi pada jaringan di bawah kulit membentuk borok (ulcerative dermatitits) [3].

    Perubahan patologi
    Furunkel di kulit dan / otot melanjut menjadi lesi borok (biasanya pada kasus subakut dan kronis pada salmon dewasa). Perdarahan teramati pada kulit, mulut, dan pangkal sirip. Tubuh gelap, insang pucat, keluar cairan darah dari lubang hidung, eksopthalmia. Limpa membengkak dan hati mengalami nekrosis. Perut terisi mucus, darah, dan epitel yang mengalami peluruhan [4]. Usus mengalami kongesti dan usus bagian belakang saling melekat dan bersatu, limpa membengkan. Perdarahan berupa titik-titik (petechiae) pada otot dan adanya cairan berdarah juga ditemukan. Ginjal mengalami nekrosis [2]. Terdapat akumulasi sel-sel bakteri dan sel radang akibat eksotoksin leukositolitik [3]. Lamella insang mengalami fusi dengan nekrosis pada epitelnya. Peradangan juga teramati di insang. Sel-sel epitel usus mengalami peluruhan di lumen usus [4]. Saluran pencernaan mengalami enteritis nekrotik dan terdapat eksudat kataralis [6]. Jantung mengalami nekrosis terutama pada tepi atrium. Pada kulit lesi dimulai dengan adanya lesi tebal berwarna putih, spongiotic epidermal hyperplasia pada permukaan tubuh [5].

     
    Gb. Furunkulosis pada ikan salmon. Sumber: T. HAstein (in Australian Government Department of Agriculture, Fisheries and Forestry, 2012)
     
    Gb. Furunkulosis pada ikan salmon. Sumber: T. HAstein (in Australian Government Department of Agriculture, Fisheries and Forestry, 2012)
    Metode Diagnosa
    Diagnosa dilakukan melalui isolasi organ internal atau mucus kulit pada media mikrobiologi dilanjutkan dengan uji biokimia. PCR, ELISA, aglutinasi, IFAT, histopatologi dapat digunakan untuk mendiagnosa penyakit ini [1]. Pada medi isolasi mengandung tryptone  seperti TSA A. salmonicida atipikal tidak menghasilkan pigmen sedangkan yang tipikal menghadilkan warna coklat difus [3].

    Diagnosa banding
    Enteric redmouth, bruising, septicemia lainnya akibat bakteri gram negatif seperti Aeromonas hydrophila, septicemia oleh virus [1]

    Pencegahan dan Pengendalian
    Pengendalian dapat dilakukan dengan vaksinasi, pengosongan lahan budidaya, budidaya satu jenis umur saja, manajemen yang baik dan higienitas. Uji stress dapat dilakukan untuk mendeteksi ikan karier tanpa gejala klinis. Antibiotik terkadang dapat digunakan untuk infeksi awal [1]. Dekontaminasi iodine pada telur efektif mencegah penularan secara vertikal [4]. Beberapa antibiotik yang dapat digunakan antara lain oxytetrasiklin, florfenicol, enrofloxacin, amoxicillin [6]

    Referensi

    1.       Raidal, S., Garry Cross, Stan Fenwick, Philip Nicholls, Barbara Nowak, Kevin Ellard, Frances Stephens. 2004. Aquatic Animal Health: Exotic Diseases Training Manual. Murdoch Print: Australia
    2.       Afrianto, E., Evi Liviawaty, Zafran Jamaris, Hendi. 2015. Penyakit Ikan. Penebar Swadaya: Jakarta Timur
    3.       Irianto, A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
    4.       Australian Government Department of Agriculture, Fisheries and Forestry. 2012. Aquatic Animal Diseases Significant to Australia: Identification Field Guide, 4Th Edition, DAFF, Canberra.
    5.       Roberts, R.J. 2000. Fish Pathology. WB Saunders
    6.       Noga, E.J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Wiley-Blackwell: Iowa
    7.       Rodger, H.D. 2010. Fish Disease Manual. Marine Institute and Marine Research Sub Programme of The National Development Plant


    1 comment:

    1. Thanks for informations
      unfortunately, ga bisa di copas :(

      ReplyDelete