-->

    Saturday, 4 March 2017

    Dactylogyrosis

    Nama lain:  Cacing insang [2], Gill Fluke [3]


    Etiologi/ penyebab
    parasit Dactylogyrus.sp, Cychlidogyrus.sp, Quadricanthus.sp [2].  Termasuk ordo dactylogydae family diplectanidae [3]. Trematoda jenis monogenean, berbentuk pipih, bagian ujungnya dilengkapi alat yang berfungsi sebagai pengait dan alat penghisap darah [1]. Memiliki dua titik mata dan pada ujung kepalanya terdapat 4 buah tonjolan [2]. Memiliki alat penghisap (sucker) dan panjang 0,5-1mm [3]. Parasit ini bersifat ovipar [4]. Haptor atau alat pengait memiliki  sepasang kait dengan satu baris kutikula dan 16 kait utama, dan sepasang kait kecil. Bagian posterior, aat penghisap (ophistapor) memiliki 1-2 kait besar dan 14 kait marginal di bagian posterior [7]

    Hospes
    semua jenis ikan air tawar [2]. Dikatakan juga spesifik pada cyprinidae. Kadang ditemukan di hemiramphidae dan satu spesies lele (Clarias bastrachus) [8]

    Stadium rentan :  benih [2], ikan kecil, indukan [8]

    Epizootiologi:
    Parasit ini tersebar luas di seluruh dunia. Secara geografis keberadaan parasite ini tidak terlaporkan dengan jelas sebab masih banyaknya kesalahan identifikasi antara Dactylogyrus  dan Gyrodactylus. PAda beberapa kasus, parasite ini juga dikaitkan dengan infeksi sekunder dari bakteri dan jamur [10] Infeksi berat dapat menimbulkan kematian 30-100% dalam beberapa minggu [2]. Penularannya secara horizontal [5].
                   


     Siklus Hidup
     Tanpa hospes intermediet atau perantara, seluruh fase hidupnya sebagai parasite [3]. Fase infektif parasite ini adalah onkomirasidium [2]. Parasit dewasa membebaskan telur ke air. telur akan menetas menjadi larva berbulu getar (onkomirasidium) yang berenang bebas hingga menemukan inang. Waktu untuk telur menjadi dewasa bergantung suhu. Suhu yang lebih rendah akan memperlambat proses pendewasaan dari beberapa minggu hingga beberapa bulan [4]

    siklus hidup Dactylogyrus (gambar dari Noga, 2010)

    Faktor pendukung
    Kepadatan tinggi [5].

    Gejala Klinis
    Dactylogyrus.sp lebih senang menyerang bagian insang [1]. Warna tubuh pucat, nafsu makan menurun, frekuensi pernafasan meningkat, lendir berlebih, berkumpul dekat dengan saluran masuk air, insang pucat dan membengkak [2]. Ikan tampak menggosok-gosokkan tubuhnya ke dasar kolam atau benda keras lainnya [3]. Bagian operculum akan terbuka lebih lebar [8]. Kematian biasanya disebabkan oleh pembusukan insang dan kulit [9]

    Perubahan patologi
    Pada insang akan teramati hyperplasia epitel lamella [5]. Parasit memakan sel epitel dan perlekatannya mengakibatkan hemoragi serta hyperplasia jaringna insang. Infeksi bacterial sekunder biasanya terjadi dan mengakibatkan kematian.D. vastator menyebabkan hyperplasia berat dari epitel lamella insang. Proliferasi yang terjadi akan mengganggu pernafasan dan menyebabkan kematian. Lokasi proliferasi bergantung dari jenis spesies. D. vastator lebih menyukai bagian tepi lamella insang dan kematian terjadi pada ikan muda, jarang pada ikan lebih dari 35mm. Sedangkan pada D. extensus kematian terjadi pada indukan dengan berat 4-7kg [8].

    Patogenesis
    Dactylogyrus.sp akan merangsang produksi mucus berlebih dan menyebabkan tepi lamella insang tercabik atau luka. Pada infeksi berat akan mengganggu pernafasan dan penyerapan oksigen sehingga ikan kekurangan oksigen dan operculum memerah [4].


    Metode Diagnosa
    Diagnosa dilakukan dengan pengamatan visual tingkah laku dan gejala klinis. Diagnosa secara laboratoris dilakukan dengan pembuatan preparat basah dari insang [2]

    Gambar dari Noga, 2010


    Pencegahan dan Pengendalian
    Pencegahan dilakukan dengan manajemen kepadatan yang optimum dan pemberian pakan yang sesuai [5]. Pencegahan diupayakan dengan menstabilkan suhu air >29oC. kadar bahan organic berlebih sebaiknya dikurangi disertai penggantian air [2]. Pengobatan pada cacing insang relative lebih sulit sebab lebih resisten dan dipersulit oleh insang yang memiliki mekanisme perlindungan terhadap paparan obat [6]. Eradikasi ikan pembawa dari kolam dapat dilakukan, namun strategi terbaik untuk keramba di perairan umum adalah melakukan strategi manajemen yang baik [8]


    Pengobatan dapat menggunakan beberapa bahan seperti pada tabel berikut:
    Bahan
    Dosis
    Aplikasi
    Keterangan
    Larutan ammonium
    1:2000
    Perendaman selama 5-15 menit

    1ppm
    Perendaman 5-15 menit

    Metilin biru/ Methylene blue
    1 gram/100cm kubik air
    Perendaman

    3ppm
    Perendaman selama 24 jam

    garam
    2,5%
    Perendaman 10-15 menit

    5000-10000ppm
    Perendaman 24 jam
    Tergantung umur dan jenis ikan.Untuk kasus ringan
    5%
    Perendaman 5 menit

    PK (kalium permanganate)
    4-5 gram/Lt
    Perendaman

    4ppm
    Perendaman 12 jam
    Kasus ringan
    1 bagian: 400000 bagian
    perendaman
    Beri aerasi kuat
    Formalin
    200-250ppm
    Perendaman selama 30 menit

    20-25ppm
    Perendaman 24 jam atau lebih
    Kasus ringan
    1 bagian: 4000 bagian air
    perendaman
    Beri aerasi kuat
    Formalin 40%
    250ppm
    Perendaman 1 jam

    100-200ppm
    Perendaman 30-60 menit diulang selama 3 hari
    Dibarengi dengan aerasi kuat
    Asam asetat glacial
    0,5 ml/L
    Perendaman selama 30 detik setiap 2 hari selama 3-4 kali
    Kasus ringan
    Air bersalinitas tinggi
    60ppt
    Perendaman 15 menit

    Larutan NaCl 2%

    Perendaman 30 menit

    100ppm
    Perendaman 1 menit

    Sumber: [1], [2], [3], [5]

    Pengobatan secara herbal [1]


     Referensi
    1. Afrianto, E. dan Liviawaty, E. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Penerbit Kanisius: Yogyakarta
    2. Maskur, Mukti Sri Hastuti, Taukhid, Angela Mariana Lusiastuti, M. Nurzain, Dewi Retno Murdati, Andi Rahman, Trinita Debataraja Simamora. 2012. Buku Saku Pengendalian Penyakit Ikan. Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.
    3. Afrianto, E., Evi Liviawaty, Zafran Jamaris, Hendi. 2015. Penyakit Ikan. Penebar Swadaya: Jakarta Timur
    4. Irianto, A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
    5. Lio-Po. G.D. dan Inui, Y. 2014. Health Management in Aquaculture Second Edition. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department.
    6. Noga, E.J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Wiley-Blackwell: Iowa
    7. Gusrina. 2008.  Budidaya Ikan Jilid 3. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
    8. Woo, P.T.K dan Bruno, D.W. 2014. Disease and Disorder of Finfish in cage Culture 2nd Edition. CABI International
    9. Aquaculture Fisheries Division.2009. Good Aquaculture Series 4. Agriculture. Fisheries and Conservation Department
    10. Turgut, E. dan Akun. S. 2003. A Review on Gyrodactylidae  and Dactylogyridae (Monogeneans)  and Their Importance in Aquaculture. GOU Ziraat Fakultesi Dergisi, 2003, 20(2), 43-48


    No comments:

    Post a Comment