-->

    Thursday, 11 April 2019

    Morbilivirus pada cetacean

    Nama lain
    Cetacean morbillivirus {CMV/ CeMV}. Sebelumnya terdapat istilah Porpoise dan dolphin morbillivirus (PMV dan DMV). Akan tetapi karena keduanya memiliki kemiripan secara antigenic dan genetic, kemudian disebut dengan cetacean morbillivirus (CMV) [3].

    Etiologi/ penyebab
    Morbillivirus, family paramyxovirus (termasuk canine dan phocine distemper serta measles virus), three single – stranded RNA. Morbilivirus cetacean baik PMV (phocine morbillivirus) maupun DMV (dolphin morbillivirus) lebih dekat kekeluargaannya dengan rinderpest dan peste des petits [2] atau ruminant morbillivirus [3]. Sekuensing PMV dan DMV menunjukkan bahwa terdapat 18,3% perbedaan dan kini keduanya dalam kelompok terpisah pada genus morbillivirus. Satu lain strain yang juga masuk kelompok cetacean morbillivirus adalah Pilot Waleh Morbilivirus (PWMV) [4].


    Hospes 
    Cetacean (dolphin, porpoise, whales) [2], striped dolphin Stenella coreuelba [1], lumba-lumba hidung botol (Tursiop truncatus), common dolphins (Delphinus delphis), fin whales (Balaenoptera physalus), false killer whales (Pseudorca crassidens), inshore bottlenose dolphin (Tursiop aduncus), paus kepala melon (Peponocephala electra), paus pilot (Globicephala melas), lumba-lumba fraser’s (Lagenodelphis hosei) [2]

    Stadium rentan 
    -

    Epizootiologi:
    Virus ini tersebar luas di dunia dan endemic pada beberapa jenis cetacean termasuk lumba-lumba Fraser’s dan paus pilot. Morbilivirus mudah menular pada populasi atau pada individu dengan imunitas rendah. Paus pilot diperkirakan sebagai reservoir infeksi virus ini bagi spesies lainnya. Penularan virus ini terjadi via udara (aerosol)[2], namun penularan dari ibu ke anak juga pernah dilaporkan [4]. Mortalitas dapat terjadi secara massif saat enzootic. DIbandingkan kejadian enzootic atau epizootic, CMV lebih cenderung memiliki dampak jangka panjang [3].

    Faktor pendukung
    -

    Gejala Klinis
    Cetacean terlihat sangat kurus [1], terkadang dijumpai banyak infestasi ektoparasit [5], muncul gejala nurologis dan gangguan pernafasan. Pada mucosa buccal terdapat erosi. Di luar itu, gejala yang terkadang muncul adalah tachycardia, fasciculasi otot, vokalisasi buruk, ritme pernafasan abdnormal. Paru-paru gagal mengembang [2]. Pada pinnipeds, gejala klinisnya mirip dengan canine distemper pada anjing, seperti demam, terdapat leleran oculonasal mukopurulen atau serosa, konjunctivitis, keratitis, kesulitan bernafas, diare, dan abortus [5].

    Perubahan patologi
    Prinsip patologi dari infeksi morbillivirus cetacean adalah serupa dengan distemper pada karnivora terrestrial, singa laut Baikal, phocine distemper virus pada harbor seals, dan infeksi morbillivirus harbor porpoise. Cetacean mengalami pneumonia. Pada organ paru-paru mengalami nekrosis bronchial dan epitel bronchiolar disertai dengan infiltrasi makrofag, limfosit, nutrofil dan multinuklearr syncytia pada alveolus (Pneumonia bronchointerstitial non suppuratif). Badan inklusi intrasitoplasmik intranuklear eosinofili teramati pada bronchus dan epitel bronchiolus serta syncytia. Organ internal mengalami edema. Cairan serosanguinous teramati pada pleura dan rongga peritoneum [1,2,4]. Pada otak terdapat degenerasi difus, nekrosis neuron, mikrogliosis, perivascular cuffing, bentukan syncytia, dan demyelinasi fokal. Enchepalitis yang terjadi non suppuratif [1,2]. Badan inklusi serupa teramati pada neuron dan sel glial. Syncytia teramati juga pada limpa dan nodus limfaticus disertai nekrosis dan deplesi limfoid[1]. Bentuk syncytia tipe “Warhin-Finkeldey” ini patognomonik untuk infeksi CMV pada cetacean [2]. Perubahan pada hati tidak spesifik namun dijumpai vakuolasi eosinofilik. Vakuola mengandung lisosom dengan lipid dan material proteinaceous yang normal terjadi pada kasus hipoksia atau infeksi virus [1].
                    Perubahan di atas teramati pada stadium akut. Pada stadium subakut, individu yang berhasil bertahan boleh jadi mati akibat infeksi pathogen oportunis (toxoplasmosis, herpesvirus, bakteri Photobacterium damselae, dan jamur) sebagai dampak adanya imunosupresi. Lesi stadium akut tidak lagi teramati atau terdapat respon peradanga yang tak jelas akibat pathogen oportunis, demyelinating meningoenchephalitis non supuratif. Kolonisasi jamur  pada otak juga umum ditemui [4]. Stadium kronis sistemik dapat terjadi bila hewan mampu bertahan dari stadium akut dan subakut. Kematian terjadi akibat imunosupresi atau komplikasi infeksi otak. Tidak ada lesi atau sedikit sekali lesi yang dapat teramati akibat CMV. Namun virus dapat terdeteksi dengan IHC. Stadium kronis encephalitis terjadi setelah stadium sistemik berlalu. Lesinya terlokalisasi pada otak. Berlawanan denngan stadium subakut cerebral CMV, badan inklusi jarang  bahkan syncytia tidak teramati [4].


    Gb. Histopatologi Morbilivirus pada cetacean
     (pict credit to Stephens et al., 2014)
    Patogenesis
    Studi menggunakan Canine Distemper Virus (CDV) menunjukkan bahwa paparan aerosol virus diikuti dengan replikasi virus pada jaringan limfoid kemudian menyebar secara sistemik melalui limfosit yang terinfeksi [1].

    Patologi klinik
    Pada pemeriksaan darah dijumpai leukopenia dengan limfopenia [2]

    Diagnosa banding
    Sebaran lesi pada striped dolphin serupa dengan distemper pada singa laut, harbor porpoise, dan mamalia terrestrial [1]. Diagnosa banding lainnya adalah toxoplasmosis, leptospirosis, brucellosis [2]. Phocine Distemper Virus (PDV) menimbulkan pneumonia bronchointerstitial, PhHV-1 menyebabkan pneumonia interstitial, dan influenza menimbulkan pneumonia bronchial [5].

    Metode Diagnosa
    Infeksi morbillivirus patut diduga bila terjadi cetacean terdampar (hidup ataupun mati) dan/dengan gejala neurologis [2]. Diagnosa secara serologi dapat membantu. Diagnosa definitive membutuhkan metode isolasi virus, deteksi DNA virus, dan deteksi antigen virus dengan metode IHC [2]. Metode PCR dapat menggunakan jaringan yang telah difiksasi maupun segar. Metode ELISAA juga tersedia untuk homogenate jaringan. Isolasi virus pada sel ginjal primer ataupun sekunder bisa saja sulit kecuali jika karkas masih dalam kondisi segar [5].

    Pencegahan dan Pengendalian
    Tidak ada. Pada mamalia di kebun binatang atau taman laut harus dikarantina untuk dilakukan rehabilitasi [2]. Terapi secara suportif dapat dilakukan tapi kematian tidak dapat ditekan pada populasi yang rentan. Vaksinasi pernah dikembangkan dengan memodifikasi dari canine distemper. Namun demikian hal ini masih kontroversi dans sulit diterapkan [5].

    Referensi

    1. Duignan, P.J., J.R. Geraci, J.A Raga, N. Calzada. 1992. Pathology of Morbillivirus Infection in Striped Dolphins (Stenella coeruleoalba) from Valencia and Murcia, Spain. Can J Vet Res 56: 242-248
    2. WHA. 2013. WHA Fact sheet: Cetacean morbilliviruses in Australian whales and dolphins
    3. Bressem, MF.V., K.V Waerebeek., J.A. Raga. 1999. A review of virus infections of cetaceans and the potential impact of morbilliviruses, poxviruses and papillomaviruses on host population dynamics. Disease of Aquatic Organisms 38:53-65
    4. Van Bressem, M.F., P.J. Duignan., A. Banyard., M. Barbieri., K.M. Colegrove., S. De Guise., G. Di Guardo, A. Dobson, M. Domingo, D. Fauquier., A. Fernandez., T. Goldstein., B. Grenfell., K.R. Groch., F. Gulland., B.A. Jensen., P.D. Jepson., A. Hall., T. Kuiken., S. Mazzariol., S.E. Morris, O. Nielsen, J.A. Raga, T.K. Rowles., J. Saliki, E. Sierra, N. Stephens, B. Stone., I. Tomo., J. Wang., T. Waltzek., J.F. Wellehan. 2014. Cetacean Morbillivirus: Current Knowledge and Future Directions. Viruses 6:5145-5181; doi:10.3390/v6125145
    5. Kennedy-Stoskopf, S. 2001. 15: Viral Diseases. Dalam Dierauf, L.A. dan Gulland, F.M.D (ed). 2001. CRC Handbook of marine mammal medicine. CRC Press: USA

    No comments:

    Post a Comment