-->

    Sunday, 29 October 2017

    Pemeriksaan klinis pada udang - bagian 2

    3. Pengamatan alat gerak
    Alat gerak merupakan bagian yang rentan rusak terutama bila kepadatan tinggi (bertabrakan oleh udang lain). Kerusakan alat gerak dapat menjadi portal masuknya bakteri, jamur, parasite yang kemudian memicu respon hemosit diikuti melanisasi. Bila penyebab mampu dihilangkan dan udang dalam lingkungan yang cukup nutrisi akan terjadi regenerasi alat gerak atau ujung alat gerak.

    4. Pengamatan kutikula
    Perubahan warna dapat terjadi di kutikula dan jaringan. Melanisasi kutikula dapat hilang saat molting dan digantikan kutikula baru. Melanisasi kutikula juga sering dikaitkan dengan fusariosis, mycobacteriosis, TSV, dan defisiensi vitamin C. Tak hanya di insang, pada kutikula juga kerap terjadi kolonisasi bakteri dan parasit. Adanya parasite patogen ataupun komensal mengindikasikan kondisi yang suboptimal atau mungkin ada suatu penyakit. Kutikula yang lunak bukan pada masa moulting mengindikasikan adanya infeksi. Kerusakan atau luka kutikula akan menjadi lokasi untuk masuknya infeksi patogen oportunistik (bakteri dan jamur) ke dalam jaringan yang lebih lunak lalu mengganggu kesehatan udang. Penyakit tertentu seperti White Spot Disease (WSD) dapat langsung mempengaruhi kutikula. Namun demikian bakteri juga dapat menimbulkan gejala serupa WSD dan Bacterial White Spot syndrome. Disamping perubahan warna, perubahan fisik kutikula juga dapat terjadi. Erosi atau hilangnya kutikula alat gerak (kaki, ekor, antenna, rostrum) dengan atau tanpa melanisasi juga mengindikasikan adanya penyakit. Kutikula juga dapat rusak akibat gesekan, serangan, gigitaan dengan udang lain apabila dalam kondisi kepadatan tinggi. 

    5. Pengamatan Otot
           Jaringan otot dapat berubah menjadi coklat atau hitam akibat penyakit tertentu (vibriosis, black splinter, mikosis, dan mikobakteriosis). Terkadang perubahannya baru terlihat jika kutikulanya dibuang. Bercak hitam juga dapat ditemukan di antara ekor udang. Hal ini merupakan gejala adanya nekrosis pada otot yang diikuti dengan melanisasi. Kemungkinan besar penyebabnya adalah infeksi microbial yang masuk ke dalam ruang diantara serabut otot. Pada udang yang mengalami defisiensi nutrisi, otot abdomen termasuk otot ekor akan “diserap “ oleh tubuh udang untuk mencukupi nutrisi yang kurang. Terkadang perubahan warna tidak selalu disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan terhadap mikroba. Parasit seperti microsporidia dapat menimbulkan warna putih opak pada otot di bagian ekor.

             Pada situasi tertentu pada udang windu terdapat kasus dimana otot mengalami melanisasi yang terlihat jika kutikula dibuka. Namun pada kasus ini tidak ditemukan mikroba jenis apapun. Secara histologi ditemukan agregasi hemosit dan nekrosis jaringan. Lesi ini serupa dengan lesi pada udang galah yang terjadi tanpa melanisasi. Diduga kuat faktor stress akibat tebar padat tinggi berperan pada kasus keduanya. Namun demikian jumlah udang terkena penyakit semacam ini sangat sedikit. Kondisi stess seperti kadar DO yang rendah atau kepadatang tinggi menyebabkan otot kehilangan transparansi dan muncul bercak putih pada otot yang meluas hingga ke area ekor. Apabila udang dipindahkan pada lingkungan yang lebih baik, kondisinya akan kembali normal. Tetapi pada kondisi ekstrim, udang tidak dapat kembali seperti semula dan mati dalam beberapa menit. Infeksi moderat menyebabkan otot segmen terakhir tidak dapat berecoveri , malah memicu adanya infeksi bakterial. Udang ini akan mati dalam 1-2 hari. 



                                    Gb. Melanisasi pada jaringan otot (Johnson, 1995)


    6. Pengamatan spermatophore
    Penyakit black spermatophore mengakibatkan perubahan warna spermatophore dan saluran reproduksi bagian bawah dari coklat hingga hitam . Penyakit ini jarang mengakibatkan kematian dan namun banyak sperma yang mengalmi abnormalitas.

    7. Pertumbuhan lambat (slow growth) dan Runt Deformity
    Pada tambak udang, koofisien variasi/ Coefficient of variation (CV) merupakan standar deviasi dari ukuran tiap udang yang nilai normalnya adalah kurang dari 30%. Jika nilainya lebih dari 30%, maka terlalu banyak udang yang berukuran kecil/ kerdil (stunted/ runted), bila nilainya rendah dapat diartikan adanya indikasi agen infeksius yang menyebabkan pertumbuhan lambat namun tidak menyebabkan kematian. Terkadang pertumbuhan lambat udang ditandai dengan abnormalitas bentuk rostrum. Runt Deformity Syndrome (RDS) merupakan sidrom perlambatan pertumbuhan yang juga dapat ditunjukkan dengan rostrum yang membengkok atau berubah bentuk. Virus IHHNV diduga kuat sebagai salah satu penyebabnya. Disamping RDS, juga ada Runt Syndrome (RDS) yang juga ditandai dengan ukuran udang yang mengecikl akibat infeksi dari HPV (Hepatopancreatic parvovirus).

    8. Perubahan bentuk tubuh
                 Abnormalitas bentuk tubuh atau alat gerak dapat terjadi akibat agen infeksi, lingkungan, tidak tercukupinya nutrisi, serta genetik. Perubahan bentuk tubuh meliputi tubuh yang membengkok, alat gerak yang berubah bentuk atau hilang. Perubahan ini jarang terjadi pada larva tangkapan daripada di hatcheri. Hal ini disebabkan udang tangkapan lebih mampu beradaptasi terhadap kondisi alam sehingga dapat kembali normal. Abnormalitas kerap terjadi ketika molting dan menimbulkan perubahan bentuk pasca molting. Pada beberapa kasus di larva, PL, atau juvenil tidak berhasil molting dan berakhir dengan kematian. Sebelumnya telah disebutkan bahwa penyebab perubahan bentuk adalah RSD syndrome. Disamping penyakit tersebut, terdapat penyakit lain yakni Muscle Cramp Syndrome. Penyakit ini terjadi ketika kadar oksigen rendah dan tingkat stress tinggi. Beberapa sumber lain menyatakan ketidakseimbangan mineral memicu terjadinya hal ini. Otot abdomen udang membengkok dan tidak bisa kembali ke bentuk semula sehingga otot kehilangan transparansinya dan terjadi kematian. Pada larva terdapat penyakit Larval deformity syndrome. Penyakit ini disebabkan oleh permasalahan molting yang disebabkan oleh faktor nutrisi. Udang yang tidak cukup makan akan kehilangan bentuk tubuh yang penuh berisi dan sehat, kemudian timbullah emasiasi / kekurusan. Emasiasi juga akan diikuti dengan perubahan pola makan, misalnya pada kondisi penyakit kronis atau ketika terdapat paparan lingkungan yang kurang menguntungkan. Pada kasus ini, biasanya usus yang kosong juga dapat dengan mudah teramati. Pembengkakan/ pembesaran jaringan tubuh (tumor) secara mencolok pernah dilaporkan pada udang. Kebanyakan kasus ini terjadi pada udang yang ditangkap dari air tercemar. Akan tetapi kasus ini jarang terjadi pada farm komersial. Iritasi yang terjadi ketika udang ditangkan terkadang juga menimbulkan pertumbuhan jaringan secara fokal. Pertumbuhan ini terjadi di permukaan dalam karapas yang menutupi insang, dan bila diikuti infeksi bakteri, cangkang terlihat seperti lepas sehingga insang terlihat. Pada kasus lain, sebagian jaringan yang hilang menyebabkan kutikula terekspos ke arah luar. Contohnya pada kasus hemolimphoma atau lepuh yang terisi cairan di karapas. Penyebab dari kasus ini belum diketahui.

    9. Cangkang lunak
    Eksoskeleton udang dapat mengeras akibat adanya kalsium karbonat. Pasca molting, eksoskeleton baru yang terbentuk masih lunak dan membutuhkan beberapa jam hingga beberapa hari untuk mengeras. Selama waktu pengerasan inilah udang rentan terhadap kerusakan terutama serangan kanibal dari udang lain. Proses pengerasan ini dapat dipengaruhi oleh faktor fisikokimia, nutrisi, dan penyakit. Pada beberapa kasus, lunaknya cangkang berkaitan dengan paparan pestisida, kelaparan, dan ketidakseimbangan mineral. Cangkang lunak juga banyak dilaporkan pada kasus sindrom taura (TSV) dan NHP (Necrotizing hepatopancreatitis). Pada kasus emasiasi/ kekurusan, masa molting menjadi lebih singkat sehingga cangkang menjadi tipis dan mudah dibengkokkan. Disamping melunak, cangkang juga berubah menjadi hitam.

    10. Isi dan warna usus (midgut)
           Warna dan isi usus sering digunakan sebagai indicator kesehatan udang. Terisinya usus dapat membantu menganalisa apakah udang makan atau tidak. Usus kosong setelah pemberian pakan mengindikasikan kekurangan pakan atau adanya suatu gangguan seperti anorexia. Abnormalitas warna usus juga mengindikasikan penyakit tertentu. Pada BMNV (Baculovirus Midgut Necrosis Virus), warna usus menjadi putih (white larval gut). Sedangkan warna kuning erat kaitannya dengan gregarine dan adanya melanisasi di posterior midgut caeca mengindikasikan enteritis hemositik.

    11. Warna Feses
           Usus udang yang berwarna merah dapat disebabkan oleh penyakit atau dari pakan. Beberapa cacing laut dapat dimakan oleh udang menyebabkan feses menjadi merah. Sedangkan untuk penyakit yang menyebabkan perubahan warna feses adalah SMSV (Spawner Mortality Syndrome Virus) dan White faeces disease (WFD).

    12. Pengamatan hepatopankreas
           Hepatopankreas normalnya berwarna orange hingga kemerahan, memilli lemak pada sel-sel penyimpannya. Pada hepatopankreas yang mengalami atrofi, akan berwarna putih dan terisi dengan cairan. Penyakit seperti NHP (necrotizing hepatopancreatitis), SHPN (Septic hepatopancreatitisi) atau aflatoksikosis akan menyebabkan munculnya garis-garis hitam pada hepatopankreas. Pada kasus AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease) hepatopankreas berwarna putih akibat kehilangan pigmen pada kapsula jaringan ikatnya. Hepatopankreas mengalami atrofi (mengerut, mengecil) dan terkadang terdapat garis-garis hitam di dalamnya. Hepatopankreas menjadi lebih kenyal dan sulit dihancurkan dengan tangan. Pada kasus nutrisi yang buruk, ukuran hepatopankreas mengecil.

    13. Pengamatan antenna dan ekor
                   Patahnya antenna merupakan pertanda bahaya. Normalnya udang penaeid memiliki panjang antenna hingga 1/3 panjang tubuh (bila dibentangkan sepanjang tubuh). Erosi atau pembengkakan ekor (telson dan uropod) dengan atau tanpa melanisasi merupakan gejala suatu penyakit

    14. Pengamatan gonad
                  Degenerasi saluran reproduksi jantan terkadang terjadi pada udang tangkapan dan spesies penaeid tertentu. Tubulus yang menghitam dan membengkak berasal dari testes hingga spermatofora jelas terlihat pada tubuh udang yang transparan.




    Gb. gonad jantan P. stylirostris tampak normal (kiri) dan
    mengalami melanisasi (kanan) (Johnson, 1995)


    Referensi:

    Alaya de Graindrage, V. dan Flegel, T.W. 1999. Diagnosis of shrimp diseases, with emphasis on the black tiger shrimp (Penaeus monodon). FAO: Roma

    Bondad-Reantaso, M.G., McGladdery, S.E., East, I., and Subasinghe, R.P. (eds.)Asia Diagnostic Guide to Aquatic Animal Diseases.FAO Fisheries Technical Paper No. 402, Supplement 2. Rome, FAO. 2001. 240 p.

    Clifford, H.C. dan Cook. H.L. 2002. Disease Management in Shrimp Culture Ponds - Part 3. Published in Aquaculture Magazine: 28(4)

    Johnson, S.K. 1995. Handbook of Shrimp Diseases. Department of Wildlife and Fisheries Sciences Texas A&M University 90-601

    Lightner, D.V (Ed). 1996. A Handbook of Shrimp Pathology and Diagnostic Procedures For Diseases of Cultured Penaeid Shrimp. The World Aquaculture Society














    McVey, J.P. 1993. CRC Handbook of Mariculture: Crustacean Aquaculture, Second Edition, Volume 1. CRC Press










































    No comments:

    Post a Comment