-->

    Wednesday, 14 November 2018

    Channel Catfish Virus Disease (CCVD)

    Nama lain:  -

    Etiologi/ penyebab
    Channel catfish Virus (CCV), virus yang termasuk kelompok herpesviridae [1]. Virus ini kemudian berubah namanya menjadi Ictalurid herpesvirus (IcHV-1) sesuai dengan ketentuan komite Taksonomi Internasional untuk herpesvirus. Akan tetapi, nama sebelumnya masih melekat dan dikenal. Virus ini beramplop, icosahedral, memiliki genom DNA dan diameter nukleokapsid 95-105nm, dapat diinaktivasi dengan 20-50% kloroform, bertahan 24 jam pada pengeringan atau kaca coverslip. Virus tidak dapat diisolasi dari ikan yang membusuk pada suhu 22oC dalam 48 jam setelah mati. Namun virus dapat merecoveri dalam 14 hari dari viscera ikan yang dibekukan selama 162 hari dari ikan yang dibekukan pasa suhu -20oC dan selama 210 hari pada pembekuan -80oC[2]. Disamping IcHV1, juga terdapat virus ictalurid herpesvirus 2 (IcHV2)  yang menimbulkan penyakit serupa CCVD pada blackbullhead catfish (Ameiurus melas)  di Italia[3]


    Hospes
    Ikan channel catfish (Ictalurus punctatus). Catfish biru (Ictalurus furcatus) dapat terinfeksi secara eksperimental [1]. Ikan hibrid seperti channel blue hibrid juga dapat terinfeksi [3]. Catfish putih (I. cams) rentan terhadap penyakit ini pada infeksi buatan, namun insidensi dan mortalitasnya rendah [7]. Sedangkan catfish Eropa (Silurus glanis) rentan terhadap CCV dan spesies lainnya masih bias [1]. Ikan muda hasil silangan dengan strain channel catfish lebih resisten terhadap CCV daripada stain utamanya [2]. Bluegill African catfish dan Asian catfish juga resisten [5]. Virus dari CCVD ini pernah diisolasi dari crucian carp (Carassius carassius) dan common carp (Cyprinus carpio) tanpa gejala klinis. Namun tidak diketahui apakah keduanya menjadi reservoir penyakit [6]

    Stadium rentan 
    Virus ini menginfeksi benih dan tokolan saat musim kemarau (suhu lebih dari 25oC) namun adapula laporan serangan CCVD pada suhu dibawah 8oC. Virus CCV kadang teramati pada ikan usia 1 tahun, namun jarang [1]. Ikan paling rentan terhadap infeksi CCV pada ukuran kurang dari 4 bulan. Ikan yang lebih mudah lebih memiliki kecenderungan mengalami kematian tinggi. Akan tetapi pada satu studi menunjukkan bahwa benih yang sangat muda lebih resisten. Hal ini dapat disebabkan oleh kadar antibodi neutralizing yang ditransfer dari induk betina terhadap CCV [2]

    Epidemiologi
    Awal mula dari kemunculan penyakit ini adalah ketika industri budidaya ikakn channel catfish mulai berkembang pada pertengahan tahun 1960an. Kematian ikan terjadi di beberapa wilayah di Selatan Amerika Serikat [7]. Inkubasi virus terjadi bergantung pada suhu air. Eksperimen pada suhu 30oC menimbulkan gejala klinis dalam 32-42 jam yang diikuti dengan kematian. Inkubasi terjadi dalam 10 hari pada suhu 20oC. Di lapangan, dengan suhu 25-30oC, infeksi terjadii dalam 72-78 jam dan kematian 100% terjadi dalam 6 hari [2]. Ikan berukuran kurang dari 5cm sulit bertahan, namun makin dewasa tingkat kematian makin turun. Virus CCV tidak dapat diisolasi dari individu yang terpapar. Mortalitas dari penyakit CCVD ini bergantung pada ukuran ikan, kondisi lingkungan, padat tebar, strain ikan, dan serangan infeksi sekunder dari Aeromonas dan Flexibacter [1]. Penularan secara horizontal terjadi secara langsung dari air dan hewan yang bertindak sebagai vektor [6]. Penyakit secara vertikal ditularkan melalui produksi telur dari indukan [2] tanpa menimbulkan gejala klinis sehingga tidak terdeteksi [3]. Penularan secara horizontal juga dapat terjadi. Sekali terjadi infeksi CCVD baik secara horizontal maupun vertikal, maka ikan tersebut selamanya menjadi karier [4]. Namun demikian, secara eksperimental, CCVD tidak dapat diinduksi secara oral dan kohabitasi [7]. Pada benih umur 3-5 hari, prevalensi penyakit adalah 11,7-26,7% dengan replikasi virus tidak terdeteksi pada kultur sel dan tidak terjadi outbreak sepanjang tahun. Akan tetapi, di awal musim produksi prevalensinya naik dari 13 hingga >35% [3]. Tingkat kematian ikan yang terpapar mencapa 95% [6].

    Faktor pendukung
    Outbreak CCVD kerap terjadi ketika musim panas ketika suhu >25oC dengan kematian mencapai 90% dalam 2 minggu. Disamping suhu, stres, padat tebar, dan umur ikan mempengaruhi terjadinya outbreak CCVD[3]

    Gejala Klinis
    Ikan yang terinfeksi oleh CCVD akan menunjukkan gejala berenang tidak menentu, terkadang berputar atau mengikuti sumbu tubuh. Perubahan eksternal yang teramati adalah pembesaran abdomen, eksopthalmia (mata menonjol), insang hemoragi atau pucat, dan petechiae pada pangkal sirip dan seluruh kulit terutama bagian ventral tubuh [1,2]. Ikan menunjukkan penurunan nafsu makan (pada gejala awal) [6]. Pada pembedahan dapat teramati rongga abdomen yang terisi cairan bening hingga kekuningan serta hemoragi pada otot dan berbagai organ seperti hati, ginjal, dan limpa. Organ hati, ginjal, lambung, dan usus berwarna pucat pada stadium lanjut penyakit [1,2]. Limpa juga dapat membesar dan menghitam [6]. Saluran pencernaan juga terisi oleh sekret mukoid [1,2].

    Perubahan patologi
    Hati, limpa, ginjal, dan usus merupakan organ tempat replikasi virus dalam 24-48 jam pasca infeksi. Virus juga dapat diisolasi dari otak dalam 48 jam. Perubahan histopatologi ditandai dengan peningkatan sel limfoid pada ginjal. Tubulusnya juga mengalami edema dan nekrosis. Kondisi ini juga terjadi pada jaringan hematopoietik diantara tubulus. Hati mengalami edema, nekrosis difus, dan hemoragi [1]. Gambaran ini terjadi pada individu yang lebih tua [3].  Badan inklusi intrasitoplasmik eosinofilik juga dapat teramati di hati [2]. Badan inklusi juga dapat teramati pada limfosit (nukleus membesar dengan lingkaran berwarna basofilik tipis dan menyebabkan sitoplasma lebih sedikit) pada ginjal posterior dan jarnag pada limpa[3]. Acinar pankreas mengalami nekrosis [2]. Pada usus, disamping hemoragi dan edema juga terjadi sloughing mukosa. Kongesti, edema, dan terisinya makrofag disertai degenerasi eritrosit teramati di limpa. Jaringan pada organ jantung mengalami nekrosis dan ototnya mengalami hemoragi fokal [1]. Lambung  mengalami nekrosis pada kelenjarnya dan dapat meluas ke usus depan. Nekrosis pada mukosa usus bersifat multifokal dan meluas ke submukosa. Agregasi mononuklear sel radang terkadang teramati di dasar vili. Kongesti ekstensif lokal juga dapat teramati di gastrointestinal [3]. Perubahan pada sistem syaraf meliputi vakuolasi pada neuron dan edema pada serabut syaraf [8].

    Gb. Histopatologi infeksi CCVD yang menunjukkan nekrosis intestitial ginjal dengan synctial multinuklear (A) dan diduga adalah badan inklusi tercat eosinofilik (B) (pict by Hanson dan Khoo)

    Gb. edema dan nekrosis pada jaringan hematopoietic ginjal (pict by Plumb dan Grizzle)

    Patogenesis
    Kerusakan ginjal mengakibatkan keseimbangan cairan terganggu sehingga tampak secara klinis berupa lesi ascites, pembesaran abdomen dan exopthalmia. Warna ascites mengindikasikan merupakan transudat yang berasal dari pembuluh darah. Lesi di saluran pencernaan dan hati juga menyebabkan ascites dan edema karena kurangnya absorbsi dan sintesis protein sehingga tekanan onkotik plasma berkurang. Pucatnya insang disebabkan kongesti dan hemoragi di berbagai organ. Nekrosis ginjal proterior mempengaruhi hematopoiesis dan menyebabkan anemia[3].

    Diagnosa banding
    Penyakit CCVD ini menyerupai Aeromonas salmonicida, penyebab Enteric Septicaemia of fish (ESC)[6]. Pembedanya adalah lesi hole in the head yang spesifik untuk ESC [8] dan infeksinya yang berlangsung pada suhu yang lebih dingin (21-27oC) [9]. Beberapa channel catfish juga memiliki lesi hole in the head yang disebabkan oleh Edwardsiella tarda  [8]. Disamping infeksi bakterial, parasit monogenea Bulbophorus  juga menjadi diagnosa banding dari CCVD [9]

    Metode Diagnosa
    Diagnosa CCVD secara klinis dapat diamati dari pola kematian pada ikan muda dan gejala klinisnya serta perubahan patologi dan histopatologinya [3]. Akan tetapi, pada kasus epidemik, infeksi CCVD kerap disertai dengan infeksi bakteri sekunder seperti Aeromonas, Flavobacterium, Edwardsiella yang dapat mengaburkan diagnosa utama [8]. Infeksi CCV termasuk mudah didiagnosa menggunakan kultur sel, namun deteksi CCV pada karier sangatlah sulit [2]. Virus dapat diinokulasikan pada brown bullhead cell atau channel catfish ovary pada suhu 25-30oC pada suhu 7,2-7,4. Virus dapat diisolasi dan dikonfirmasikan menggunakan serum neutralisasi [1]. Hal yang perlu diperhatikan dalam mengisolasi adalah virus CCVD ini tidak dapat diisolasi pasca outbreak dan virus ini relatif tidak stabil di lingkungan [8]. Deteksi antibodi dapat digunakan untuk menskrining individu yang terinfeksi dan tidak [2]. Metode PCR dan qPCR membantu mendeteksi infeksi laten IcHV1 pada jaringan karier. Sebagai acuan, ginjal posterior merupakan organ paling direkomendasikan untuk diagnosa CCVD. Pada ikan besar dengan infeksi laten, biopsi sirip caudal cukup dapat dipercaya [3]. Melalui percobaan,  infeksi laten CCVD dapat didiagnosa menggunakan organ ginjal dan insang [8].

    Pencegahan dan Pengendalian
    Penyakit ini banyak menyerang pada ikan usia muda. Oleh karenanya pengaturan benih dengan padat tebar sesuai dan memindahkan ikan bila suhu mencapai >25oC sebaiknya dilakukan. Kolam dimonitor dan diaerasi dengan kadar oksigen di atas 3mg/L. Klorida juga dijaga di atas 100mg/L untuk menurunkan toksistas nitrit. Pemasukan benih baiknya dilakukan pada pagi hari ketika suhu turun [3]. Penurunan suhu air hingga 19oC dapat menurunkan mortalitas, hanya jika dilakukan segera setelah infeksi, tidak setelah muncul penyakit. Manipulasi cukup membantu, namun jarang dilakukan di peternakan besar [7]. Bila terjadi kematian, benih harus disingkirkan serta dilakukan disinfeksi. Vaksinasi benih bebas IcHV1 menjanjikan namun belum diimplementasikan, masih harus dilakukan studi. Faktor pembatas dari vaksinasi CCVD adalah usia serangan yang cukup muda sedangkan vaksin diberikan ketika sistem imun sudah cukup dan berkembang. Sehingga biasanya vaksin diberikan pada umur setelah 8 hari, ketika benih dimasukkan ke kolam tokolan [3]. Perbaikan manajemen merupakan metode yang sebaiknya diterapkan untuk menurunkan insidensi dan keparahan penyakit. Pengaturan aliran air, sirkulasi, dan pembuangan debris sel telur serta sisa pakan secara reguler ditambah pemberian pakan yang bernutrisi akan cukup membantu. Pada lokasi endemik CCVD, padat tebar diatur dibawah 220.000 ekor/ha dan feeding rate dibawah 75kg/ha saat suhu cukup tinggi [7]. Aplikasi imunostimulan sebagai metode pencegahan pada channel catfish belum banyak dipelajari. Beberapa strain channel catfish lebih resisten terhadap CCVD sehingga metode selective breeding dapat digunakan untuk mengontrol outbreak. BIla terjadi outbreak, kontrol suhu dapat menurunkan kematian. Air dari wadah terinfeksi tidak boleh digunakan di tempat lain. Kolam didepopulasi, sterilisasi dengan pengeringan, pengapuran sebelum memulai produksi kembali [3]. 20-50mg/l klorin dapat digunakan untuk memastikan virus tereliminasi [8] Hama dan predator juga harus dibatasi. Ikan yang mati sebaiknya ditimbun atau dibakar. Ikan yang mampu bertahan dari CCVD dapat dipasarkan seperti biasa tanpa kendala namun ikan ini tidak diperbolehkan menjadi indukan [3]. Stress dapat dikurangi dengan mencegah padat tebar terlalu tinggi, oksigen dan nutrisi yang mencukupi, serta tidak menghandle ikan ketika suhu tinggi [8].


    Referensi

    1. Plumb, J.A. 2003. 2.2.1 Channel Catfish Virus Disease. Blue book

    2. Plumb, J.A dan Hanson, L.A. 2011. Health Maintenance and Principal Microbial Diseases of Cultured Fishes Third Edition. Black and Wiley: Iowa

    3. Hanson, L.A dan Khoo, L.H. 2017. Channel Catfish Viral Disease in Fish viruses and bacteria : pathobiology and protection. CABInt

    4. L. Hanson, A. Doszpoly, S.J. van Beurden, P.H. de Oliveira Viadanna, T. Waltzek. 2016. Alloherpesvirus of Fish dalam Kibenge, F.S.B dan Godoy., M.G. Aquaculture Virus. Academic Press: UK

    5. Roberts, R.J (Ed). Fish Pathology 4th Ed. Wiley-Blackwell: UK

    6. Australian Government Department of Agriculture, Fisheries and Forestry. 2012. Aquatic Animal Diseases Significant to Australia: Identification Field Guide, 4Th Edition, DAFF, Canberra.

    7. Sano, M., Nakai, T., Fijan, N. 5. 2011. Viral Diseases and Agents of Warmwater Fish dalam Woo, P.T.K dan Bruno, D.W (Ed). Fish Diseases and Disorders, Volume 3: Viral, Bacterial and Fungal Infections 2nd Edition. CABi: UK

    8. Noga, E J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Blackwell Publishing

    9. Raidal, S., Garry Cross, Stan Fenwick, Philip Nicholls, Barbara Nowak, Kevin Ellard, Frances Stephens. 1004. Aquatic Animal Health: Exotic Diseases Training Manual. Murdoch Print: Australia



    No comments:

    Post a Comment