-->

atas

    Sunday, 19 January 2020

    Pemeriksaan jamur pada ikan


    Jamur merupakan salah satu patogen ikan yang penting namun kadang kala terabaikan karena keberadaan patogen lainnya yang lebih “berbahaya” dan infeksi jamur yang kerap sebagai infeksi sekunder. Meskipun demikian, beberapa fungi atau jamur cukup mematikan, seperti pada kasus Epizootic Ulcer Syndrom (EUS). Pun demikian dengan pemeriksaan dan identifikasi jamur tidaklah mudah. Pemeriksaan  dan identifikasi jamur terbilang sulit dan terkadang membutuhkan media buatan agar jamur dapat tumbuh. Sebagai dampaknya adalah patogen jamur jarang sekali teridentifikasi hingga level genus.


    1. Makroskopis
    Pemeriksaan ini dilakukan secara kasat mata. Pada umumnya, infeksi jamur ditandai dengan adanya gambaran serupa kapas pada permukaan kulit, insang, atau telur ketika ikan berada di dalam air. Warna dari gambaran ini bervariasi, karena adanya kontak dengan alga sehingga dapat berwarna merah, coklat ataupun hijau. Sedangkan ketika di luar media air, gambaran kapas ini sulit teramati karena akan berubah menjadi seperti massa tebal dan licin. Namun pada jenis jamur lainnya, seperti Aphanomyces, secara makroskopis yang dapat terlihat adalah lesi eritema yang berkembang menjadi dermatitis nekrotik.

    Infeksi jamur Aphanomyces serupa kapas pada sisi tubuh (Grant et al., 2014)
    2. Mikroskopis
    a. Wet mount
    Prosedur ini dilakukan dengan mengerok kulit (skin scrapping) atau mengiris insang dimana lesi berada. Pada pemeriksaan ini, akan teramati miselium yang transparan, cabang, septa, serta hifa.

    Wet mount dari kulit ikan Channel catfish yang merepresentasikan Saprolegnia  (Khoo, 2000)
     b. Menggunakan bahan pewarna
    Serupa dengan wet mount, namun pada pemeriksaan ini ditambahkan bahan pewarna untuk mempermudah pemeriksaan. Pemeriksaan jamur mikroskopis metode ini yang populer adalah menggunakan pewarna lactophenol cotton blue. Pada pemeriksaan ini digunakan tiga komponen yakni phenol untuk membunuh organisme lain yang masih hidup, asam laktat untuk  memperjelas struktur jamur, dan cotton blue yang mewarnai kitin pada dinding sel jamur. Langkah yang dilakukan pada pemeriksaan ini meliputi:
    - Tempatkan setetes alkohol 70% pada gelas objek
    - Goreskan material/spesimen pada alkohol tersebut
    - Tambahkan 1-2 tetes pewarna lactophenol/cottonblue sebelum alkohol mengering
    - Tempatkan kaca penutup lalu amati
    Pada pemeriksaan dengan lactophenol cotton blue, dapat diamati adanya septa dari hifa, conidiofor yang halus/kasar, bentuk vesikel, susunan, jumlah baris dari strigmata. Disamping dengan lactophenol cotton blue, bahan pewarna lainnya seperti metilin biru, giemsa, dll juga dapat digunakan.


    Conidiophore dari A. flavus (Abdel-Latif et al., 2015)


    c. Bakteriologis
    Isolasi dan kultur jamur dapat digunakan menggunakan berbagai media. Media jamur pada umumnya mengandung antibiotik yang bertujuan meminimalisir pertumbuhan bakteri. Namun demikian ada beberapa jenis jamur yang sensitif terhadap antibiotik. Media yang umum digunakan untuk jamur antara lain Saubouraud's dextrose agar (SDA), glucose yeast extract agar, peptone-dextrose agar, dan corn meal agar. Noga (1996) menyatakan bahwa SDA direkomendasikan untuk non oomycetes  dan media corn-meal agar untuk kultur oomycetes. Pada kultur jamur asal laut, disarankan menambahkan air laut steril atau garam tambahan. Pertumbuhan jamur dapat diamati setelah beberapa hari.


    d. Histopatologi
    Penggunaan histologi dalam deteksi infeksi jamur cukup menguntungkan, disamping lebih cepat dan murah, mampu menampilkan gambaran reaksi jaringan terhadap infeksi jamur. Namun demikian struktur-struktur unik dari jamur terkadang sulit teramati sehingga identfikasi spesies sulit dilakukan dengan histologi. Meskipun bukan pewarnaan khusus, pada beberapa jenis jamur seperti L. Loboi atau Rhinosporidium, diagnosa secara histopatologi lebih berguna sebab isolasi jamur uni masih belum berhasil dilakukan. Pada pewarnaan histologi, keberhasilan deteksi jamur ditentukan sejak pemilihan sampel yang akan diamati. Beberapa jamur berada di tepi lesi infeksi, yang lainnya berada di tengah. Bentukan jamur yang dapat teramati pada histologi meliputi sel yeast, hifa, pseudohypha, arthroconidia,  chlamydoconidia dan spherula. Reaksi yang ditimbulkan oleh infeksi jamur juga bervariasi. Beberapa menimbulkan respon granulomatous (seperti Ichthyoponus) namun pada yang lainnya teramati gambaran hifa disertai debris seluler dan material di permukaan kulit. Pada area di bawahnya, akan teramati nekrosis, edema, dan hemoragi sebagai lesi utama. Lesi semacam ini dapat ditemukan pada infeksi Saprolegnia.


    Degenerasi disertai bagian dari fungi (Abdel-Latif et al., 2015)

    e. Pewarnaan khusus
    Beberapa pewarna khusus histologi dapat digunakan untuk mendeskripsikan jamur seperti PAS, GMS, Gridley’s fungus. Diantara ketiganya, GMS lebih menguntungkan dilakukan sebab dapat mewarnai elemen jamur yang viabel dan tua. Pewarna mucin seperti Meyer’s mucicarmine dan alcial blue dapat mewarnai kapsula C. Neoformans. Kelompok Blastomeyces dan R. Seeberi juga dapat terwarnai dengan pewarna mucin.



    Pewarnaan PAS untuk jamur (Abdel-Latif et al., 2015)

    Referensi

    Abdel-Latif, H.M.R., R.H. Khalil, H.R. El-hofi, T.T. Saad, S.M.A. Zaied. 2015. Epidemiological investigations of Mycotic infections of cultured Gilthead seabream, Sparus aurata at Marriott Lake, Egypt. International Journal of Fisheries and Aquatic Studies 2(3): 05-13

    Meyer, F.P. dan Barclay, L.A (Ed). 1990. Field Manual for The Investigation of Fish Kills. U.S. Fish and Wildlife Service

    Wildgoose, W.H (Ed). 2001. BSAVA Manual of Ornamental Fish. British Small Animal Veterinary Association

    Anonim. 1999. Corneal ulcer. Community Eye Health 12(30)

    Gupta, E., P. Bhalla, N. Khurana, T. Singh. 2009. Histopathology For The Diagnosis Of Infectious Diseases. Indian Journal of Medical Microbiology 27(2): 100-6

    Himedia technical data

    Khoo, L. 2000. Fungal Disease in Fish. Seminars in Avian and Exotic Pet Medicine 9(2)

    Yanong, R.P.E. 2000. Fungal Disease of Fish. Vet Clin Exot Anim 6: 377–400


    No comments:

    Post a comment