-->

    Saturday, 29 September 2018

    Glugeosis


    Nama lain: 
    Glugeasis, Glugea disease [7]. Penyakitnya dapat disebut sebagai mikrosporidiasis. Akan tetapi, istilah microsporidia juga merujuk pada seluruh penyakit yang disebabkan oleh microsporidia.


    Etiologi/ penyebab:
    Endoparasit, microsporidia Glugea [1] spesies Glugea anomala, Glugea stephani  [5], Glugea herald  [3]


    Hospes
    parasit ini dapat menyerang ikan air tawar dan laut [1]


    Stadium rentan :
    Parasit menginfeksi pada masa pembenihan maupun pembesaran [3]



    Organ Target:
    Glugea dapat menyerang berbagai organ [1]. Organ dalam, kulit, sirip, insang juga dapat menjadi tempat infeksi parasit ini [2].


    Epizootiologi:
    Sebagian besar parasit ini disebarkan melalui ikan atau pakan yang terinfeksi [2]. Kematian yang disebabkan oleh parasit ini bervariasi [3]


    Siklus Hidup:
    Glugea menghasilkan spora yang bereproduksi dalam tubuh ikan. Spora dilepaskan dari tubuh melalui urin dan feses. 

    Faktor pendukung
    Buruknya nutrisi dan kualitas air memicu munculnya infeksi Glugea [3]




    Gejala Klinis
    Pada insang teramati gambaran nodul dengan diameter dapat mencapai 2mm [1]. Nodul berwarna coklat putih serupa dengan kista [5]. Apabila nodul ini mengalami rupture, maka infeksi sekunder oleh bakter oportunis dapat terjadi [1]. Mukosa dinding usus besar ikan mengalami peradangan sehingga ikan kehlangan nafsu makan[7] lalu mengalami kehilangan berat badan dan perubahan bentuk tubuh [2]. Abdomen atau perut tampak membesar [3]. Infeksi yang disebabkan oleh Gluge anomala teramati sekitar 9 hari pasca infeksi. Parasit akan bereplikasi di kulit, belakang mata, dan organ lain. Pada ikan yang terinfeksi berat, ikan akan mengalami emasiasi kemudian mati [6].



    Gb. Diagram xenoma ( tipe Glugea anomala), menunjukkan perkembangan hingga spora dewasa. Stadiumnya serupa untuk semua microsporidia. 1 =  meront bersel satu; 2 = pembelahan meront menjadi multinuclear meront ( 3 ); 4 = meront multinuclear membulat; 5 = plasmodium sporogonial yang memanjang mulai bersegmen menjadi sporoblast mother cells dalam sporophorous vesicle (SPV; diindikasikan dengan ruang yang kosong); 6 = plasmodium sporogonial plasmodium bersegmen menjadi sporoblast mother cells; 7 = sporoblast mother cells, yang membelah ( 8 dan 9 ), menghasilkan sporoblasts ( 10 ); 11 = SPV dengan sppora ( 12 ); spora juga bebas fi dalam xenoma. Spora berbentuk seperti telur dengan vakuola posterior mencolok; T = jaringan ikat hospes; W = dinding sel xenoma; M = membrane sel xenoma; P = xenoma di perifer dengan peningkatan aktifitas pinositik; N = inti sel hospes (Noga, 2003)


    Perubahan patologi
    Glugea dapat menghasilkan sel hipertrofi atau xenoma pada insang dengan struktur nodular berukuran beberapa millimeter [1]. Bentukan xenoma merupakan perubahan menciri pada kebanyakan infeksi dari genus microsporidia. Xenoma merupakan suatu bentukan yang timbul sebagai respon ketika parasit menginfeksi sel hospes. Bentukan ini terjadi ketika sel hospes mengalami perubahan bentuk dan struktur, yang secara fisiologis berintegrasi dengan parasit. Isi dari sitoplasma sel hospes tergantukan oleh parasit. Permukaan sel hospes dimodifikasi untuk meningkatkan absorbsinya. Akibatnya sel hospes membengkak/ mengalami hipertrofi sehingga xenoma terlihat bentukan membesar seperti kista [6]. Pada jaringan yang berdekatan dengan xenoma biasanya hanya ada sedikit reaksi jaringan. Akan tetapi xenoma tetap dapat menimbulkan kerusakan jaringan karena ukurannya yang membesar. Pada ikan salmon held yang berada air laut, lesi pada insang menjadi lebih parah. Meskipun insang merupakan lokasi utama infeksi, parasit dan lesinya dapat terjadi di organ dalam seperti jantung, limpa, ginjal, dan pseudobranchia. Apabila xenoma rupture, spora akan dilepaskan dan infeksi melanjut. Spora yang bebas ditemukan dalam makrofag dan menimbulkan vasculitis multifocal kronis dan parah serta perivasculitis insang. Pada Glugea anomala,  peradangan kronis juga akan terjadi pada xenoma yang terbentuk ataupun rupture [6]. Selain xenoma, Bersama parasit ini juga dapat terbentuk xenoparasitik kompleks [5]. 

    Gb. Xenoma pada ikan Ayu (picture from http://fishparasite.fs.a.u-tokyo.ac.jp)



    Diagnosa banding
    Pada fase awal, infeksi Glugea sulit dibedakan dengan Cryptocaryon, sedangkan pada stadium lanjut akan mirip sekali dengan Lymphocystis [2]. Lesi yang disebabkan oleh Glugea juga serupa dengan lesi microsporidia lain dan juga infeksi myxozoa, ich, dermal metacercariae, granuloma, dan neoplasia [5].Untuk membedakannya, paling mudah adalah dengan melakukan wet mount pada jaringan yang terinfeksi [2] atau bisa juga dilakukan pemeriksaan dengan histologi [5].


    Tabel jenis-jenis Glugea, hospes, organ target, dan ciri yang membantu diagnosa
    Agen patogen
    Hospes
    Organ target
    Ciri untuk diagnosa
    referensi
    Glugea stephani
    Flatfish (European flounder; plaice;
    English sole; turbot; 7 spesies lainnya)
    Saluran gatstrointestinal
    Xenoma pada jaringan ikat saluran gastrointestinal
    Call et al (1986)
    Glugea hertwigi
    Smelts (Osmerus)
    Organ dalam
    Xenoma berada di usus; sumbatan pada usus; turunnya fekunditas
    Nepszy et al (1980)
    Glugea luciopercae
    Pike perch
    usus
    Kerusahan usus
    Dogel dan Bykhob (1939)
    Glugea plecoglossi
    Ayu; rainbow trout (EX)
    Hampir di seluruh jaringan
    Xenoma muncul di permukaan tubuh
    Takashashi dan Egusa (1977)
    Glugea anomala
    Threespine stickleback; ninespine stickleback; tropical killies
    Hampir di seluruh jaringan
    Xenoma terlihat di berbagai jaringan dan dapat muncul di permukaan.
    Canning et al. (1982)
    Lom et al. (1995)
    Kurtz et al. (2004)
    Glugea heraldi
    Lined seahorse
    kulit
    Xenoma menonjol dari subkutan kulit
    Blasiola (1979)
    Sumber: dirangkum dari Noga et al (2003)

    Metode Diagnosa
    Glugea dapat diamati dengan pemeriksaan mikroskopis dari sampel jaringan atau organ. Parasit dapat teramati dengan mikroskop perbesaran 300-500x [2]. Sampel juga dapat diwarnai dengan giemsa. Parasit akan teramati berupa spora berbentuk oval dengan ukuran 5-6.5 × 2-2.5 μm [3]. Spora bersifat gram positif baik pada smear jaringan maupun histologi. Xenoma berukuran besar akan mudah diamati secara kasat mata, namun xenoma kecil membutuhkan pengamatan histologi. Histologi menunjukkan spora bebas dalam lesi yang meradang. Pewarnaan tahan asam dapat digunakan untuk membantu diagnose. Pada pewarnaan fluorescent (seperti Fungi-Fluor, Polysciences, Warrington, PA) teramati gambaran mengandung kitin yang terikat secara tidak spesifik pada polisakarida dalam sel. Karena kitin ada pada dinding spora microsporidia, pewarnaan ini sangat baik untuk menunjukkan spora baik pada smear maupun histologi. Uji Polymerase chain reaction (PCR) juga dikembangkan untuk beberapa jenis microsporidia. Uji ini dapat digunakan untuk skrining ikan dengan gejala subklinis sebelum dipelihara [6]

    Pencegahan dan Pengendalian
    Tidak ada pengobatan yang efektif. Pencegahan lebih baik dilakukan [2]. Pencegahan dapat dilakukan dengan penggantian air, isolasi, pemusnahan ikan yang terinfeksi, disinfeksi sistem budidaya dengan klorin ataupun iodin, menghindari penggunaan pakan yang terkontaminasi [3]. Meskipun tidak ada pengobatan yang efektif, namun bahan seperti toltrazuril (30mg/L perendaman 60 menit diulang selama 3 hari berturut-turut) dan fumagillin (0,1% fumagillin dalam pakan) dapat dipertimbangkan [4]. Pemberian toltrazuril menyebabkan hancurnya semua stadium parasit dan secara keseluruhan menurunkan prevalensi serta intensitas infeksi microsporidia. Penggunaan fumagillin harus diperhatikan sebab untuk jangka panjang yang ditemukan pada salmon akan menyebabkan anoreksia, kesehatan yang buruk, anemia, degenerasi tubulus ginjal, atrofi jaringan hematopoietic. Obat ini sulit larut dalam air namun larut dalam alcohol.vMonensin dapat digunakan untuk pencegahan. Sedangkan albendazole untuk pengobatan dimana quinie hydrochloride menunda pembentukan xenoma [6]. Pembasmian spora dapat dilakukan dengan pemberian germisida dosis tinggi. Klorin >100 atau 1500ppm dapat memberikan kematian spora >95% [5].



    Referensi

    1. Wildgoose, W.H (Ed). 2001. BSAVA Manual of Ornamental Fish. British Small Animal Veterinary Association

    2. Bassleer, G. 2004. Disease. in Marine Aquarium Fish: causes - development- symptoms- treatment  3rd Edition. Bassleer Biofish: Belgium

    3. Nagasawa, K. and E. R. Cruz-Lacierda (eds.) 2004: Diseases of cultured groupers. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department, Iloilo, Philippines. 81 p.





    5. Noga, E J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Blackwell Publishing

    6. Baker, D.G. (Ed). Flynn’s Parasites Of Laboratory Animals Second Edition. Blackwell Publishing: Iowa

    7. Aquaculture Fisheries Division. 2009. Prevention and Treatment of Fish Diseases. Agriculture. Fisherles and Conservation Department






























    No comments:

    Post a Comment