-->

    Monday, 31 December 2018

    Gas Bubble disease (GBD) pada ikan

    Nama lain:  Gas bubble trauma [3], gas supersaturation [5]

    Etiologi/ penyebab
    peningkatan tekanan gas terlarut melebihi batas ambient udara (supersaturasi). Biasanya disebabkan oleh peningkatan tekanan nitrogen pada air tanah [1]. Sumber lain supersaturasi adalah air tanah dalam yang dipompa ke permukaan, air yang dimasukkan ke kolam dari air terjun yang besar, udara yang memapar melalui pipa yang bocor dan pompa dimana air yang mengalir membentuk efek venturi yang melanjut membentuk gas kecil [2].

    Hospes : semua spesies ikan [1].

    Stadium rentan :
    Berbagai usia bergantung spesies namun pada benih lebih berbahaya [1].


    Epizootiologi:
    Penyakit gas bubble disease ini serupa dengan penyakit dekompresi yang terjadi pada penyelam dan ikan-ikan tangkapan yang secara cepat dibawa ke permukaan [2]. Penyakitini dpaat bersifat akut dan letal ayau kronis dan prgresif. Kasus kronis terjadi pada tekanan 130% dan akut pada 102 - 115% total gas pressure [1,2]. Penyakit ini tidak menular antar ikan, namun murni karena kondisi lingkungan [6]

    Faktor pendukung
    Kerentanan pada spesies tertentu dan ikan tertentu, paparan toksin, infeksi bakteri atau parasit, peningkatan suhu air, peningkatan kedalaman air, handling, trauma, dan peningkatan cahaya secara mendadak [2].

    Gejala Klinis
    Benih mati perlahan tanpa gejala klinis. Pada kasus akut, ikan mengalami disorientasi, emfisema subakut, emboli, eksopthalmia satu sisi, berenang dekat permukaan dengan kulit menghitam, hemoragi, dan kematian tinggi[1]. Telur akan mengapung di permukaan dan larva atau benih akan mengalami hiperinflasi gelembung renang, pembengkakan cranial, exopthalmia, pembengkakan epitel insang, gas bubble pada yolk sac [5].  Pada kasus kronis, kematian disebabkan oleh infeksi sekunder jaringan yang mengalami emfisema [1]. Ikan akan mengalami emboli ekstravaskuler di gastrointestinal dan mulut [5]. Gelembung-gelembung akan teramati pada kulit, sirip, mulut, belakang mata, dan sistem peredaran darah. Pada yolk sac benih, gelembung akan menyebabkan benih berenang naik turun dan yang bertahan menunjukkan gejala white spot (coagulated yolk) [3]

    Gb. Archus insang ikan brook trout dengan gelembung gas/
    gas bubble pada permukaan dan lamella insang (lingkaran) (picture credit to Ch. Steinbach)


    Total dissolved gas/ total gas terlarut [6]

    100-106%   Lesi emboli teramati dengan homeostasis
    ≥103%       pada benih salmon mengalami stres yang diikuti kematian (koagulasi yolk, erosi sirip, dll)
    >120%       level akut, benih mati sebelum muncul gejala klinis

    Perubahan patologi
    Mata dan insang sensitif terhadap presipitasi gas. Kebutaan ditandai dengan korea yang opaq. Degenerasi retina berkembang menjadi hilangnya suplai darah chorioid lalu terjadi pemisahan chorioid dengan epitel pigmen retina dan terjadilah detachment. Degenerasi sering terjadi pada segmen inner dan outer fotoreseptor. Ulcerasi dan luka korena berkembang menjadi infeksi sekunder sehingga terjadi edema dan kebutaan [2]. Insang mengalami edema pada lamella sekunder dan degenerasi epitel. Mukosa usus dan buccal mengalami edema dan emboli sedangkan ginjal mengalami degenerasi vakuoler [5].

    Gb. Gambaran perubahan retina pada gas bubble akut pada ikan. Teramati degenerasi, hipertrofi dan hiperplasia pigmen retina, terdapat makrofag-pigmen choroidal (picture credit to Machova et al 2008). 


    Diagnosa banding
    Diagnosa banding penyakit ini adalah penyakit  gas bubble yang berkaitan dengan peningkatan tekanan dari air dalam ke permukaan dan piscine intraocular oxygen secretion syndrome. Piscine intraocular oxygen secretion syndrome sulit didiagnosa pada ikan peliharaan yang tidak mengalami supersaturasi. Panophthalmitis dan endophthalmitis sekunder akibat virus, bakteri, fungi, dan parasit intraokular juga dapat menunjukkan gejala serupa. Keratitis dan anomali lenticular juga dapat disalahdiagnosa sebagai gas bubble disease[2].

    Metode Diagnosa
    Dapat dilakukan dengan tensiometer yang mampu mengukur tekanan nitrogen, oksigen, dan total dissolved gas dalam air [2]. Supersaturasi satu jenis gas tidak dapat menyebabkan supersaturasi gas  untuk menyebabkan bubble gas, namun harus diperhitungkan total gas pressure yang melebihi tekanan barometrik [5]. Melalui pemeriksaan mikroskopis, gelembung udara dapat teramati di permukaan insang dan di dalam lamella insang [4] ataupun sirip [5].  Diagnosa juga dapat dilakukan melalui perubahan lesi dan gejala klinis [6].

    Prognosis
    Gas bubble disease menyebabkan kematian kronis pada ikan. Pada ikan di alam, ikan biasanya mengatasi penyakit ini dengan masuk ke perairan yang lebih dalam. Gas bubble disease sering menjadi predisposisi bagi masuknya patogen lain [6].

    Pencegahan dan Pengendalian
    Pengendalian dilakukan dengan menghilangkan faktor penyebab, memindahkan ikan sakit ke air mengalir, dan mengkompensasi tekanan di air yang lebih dalam (jika memungkinkan) [1]. Deaerasi sistem dapat dilakukan untuk mengembalikan keseimbangan, namun cara ini tidak praktis. Dapat digunakan sistem flow through dengan volume air besar sehingga air dapat melepaskan kelebihan gas melalui packed column degasser [5]

    Referensi

    1. Bohl M. 1997. Gas Bubble disease of Fish. Tierarztl Prax. 1997 May;25(3):284-8.
    2. Grahn, B.H., Sangster, C., Breaux, C., Stephen, C., Sandmeyer, L. 2007. Case Report: Clinical and Pathologic Manifestations of Gas Bubble Disease in Captive Fish. Journal of Exotic Pet Medicine, Vol 16, No 2 (April), 2007: pp 104-112
    3. Canadian Water Quality Guidelines for the Protection of Aquatic Life. Dissolved Gas Supersaturation
    4. Machova, J., R. Faina, T. Randak, O. Valentova, C. Steibach, H. Kocour Kroupova, Z. Svobodova. 2017. Fish death caused by gas bubble disease: a case report Veterinari Medicina, 62, 2017 (04): 231–237
    5. Meyers, T., Burton, T., Bentz, C., Starkey, N. 2008. Common Disease of Wild and Cultured Fishes in Alaska. Alaska Department of Fish and Game:  USA





    No comments:

    Post a Comment