-->

    Wednesday, 28 February 2018

    Morfologi dan Anatomi Eksternal Udang

    Udang merupakan spesies yang masuk dalam family Crustacea, Ordo Decapoda. Morfologi dan anatomi  tubuh udang terbagi menjadi 2, yakni Cephalothorax (kepala dan dada yang menyatu) dan abdomen.

    1. Sefalotoraks/ cephalothorax (kepala dan dada menjadi satu)  Sebagian besar organ pada udang berada di pangkal cephalothorax. Cephalothorax terbungkus oleh karapas. Pada bagian kepala terdapat beberapa alat mulut, yaitu:
    a. 2 pasang antenna
    Antenna seperti tentakel, indra yang berfungsi mendeteksi predator.
    b. Antennula
    Antennula berfungsi sebagai kemoreseptor
    c. Sepasang Mandibula, mandibular palp, gill balers. Bagian ini berfungsi sebagai indra, membantu mengambil makanan, dan mengatur pergerakan air di sekitar insang.
    d. Dua pasang maksilla.
    Maksilla berfungsi untuk mengunyah atau menghancurkan makanan
    e. Maksilliped
    Maksilla dan maksiliped berfungsi untuk menyaring makanan dan menghantarkan makanan kemulut.

    f. Sepasang mata facet yang bertangkai (compound eye)
    Mata berfungsi membedakan gelap-terang dan mengamati gerakan. Pada mata juga terdapat kemoreseptor yang berfungsi untuk mengetahui keberadaan makanan dan organ X yang berfungsi mengontrol pertumbuhan. Mata terletak di bawah rostrum di sisi kiri dan kanan kepala.
    g. Rostrum
    Rostrum merupakan bagian terdepan kepala yang berujung tajam dan bergerigi seperti gergaji. Rostrum digunaan sebagai alat untuk menyerang musuhnya.
    h. Periopod (kaki jalan)
    Berjumlah 5 pasang dan berfungsi untuk berjalan berpindah tempat.

    Gb. Morfologi dan Anatomi Udang (Gb dari Johnson., 1995)

    2. Abdomen (perut).
    Sebagian besar otot terdapat di bagian tubuh hingga ekor berupa segmen-segmen (6 segmen). Segmen 1-3 disebut dengan tergum, sedangkan segmen 4-6 disebut pleuron. Bagian anterior (ujung depan) tubuh besar dan lebih lebar, sedangkan posterior (ujung belakang)nya sempit. Otot abdomen berupa struktur otot lurik yang berfungsi membantu pergerakan udang. Segmen terakhir udang tersambung dengan bagian ekor kipas yang dibentuk oleh uropod dan telson. Ekor ini berfungsi sebagai pengontrol arah saat berenang. Alat gerak berupa kaki renang/ pleopod (satu pasang antar ruas pada abdomen) dan berfungsi untuk berenang, kemoreseptor, merangkak atau ‘menempel’ di dasar perairan.

    Gb. Bagian-bagian dari karapas. 1. Duri supraorbital, 2. Duri Antrolateral, 3. Duri Hepatik, 4. Median groove, 5. Median crest, 6. Gigi rostrum, 7. Punggung karapas depan, 8. Punggung karapas orbital, 9. Gigi epigastrik, 10. Adostral groove










    Gb. Bagian-bagian dari karapas. 1. Gigi rostrum, 2. Punggung karapas, 3. Punggung karapas orbital, 4. Gerigi hepatik, 5. Gigi Epigastrik, 6. Duri supraorbital, 7. Duri postorbital, 8. Duri antena, 9. Orbito-antennal groove, 10. Duri Anterolateral, 11. Duri Branchiostegal, 12. Hepatic groove, 13. Punggung hepatik, 14. Cervical groove


    Eksoskeleton

    Eksoskeleton merupakan bagian terluar anatomi  tubuh udang yang berfungsi melindungi dan penyokong. Eksoskeleton udang berupa lapisan kutikula. Kutikula memiliki beberapa lapisan, berupa kitin non seluler yang diperkuat oleh material kalsium. Kutikula berasal dari jaringan epidermal dan dilubrikasi oleh mucus kelenjar tegmental. Kutikula terdiri dari:
    - epikutikula (tidak berkitin, dengan protein dan kalsium).
    - eksokutikula (memiliki kitin, kalsium, dan melanin)
    - endokutikula (memiliki kitin dan kalsium tinggi)
    - kitin dalam dan lapisan protein (tidak berkalsium)
    Di bawah kutikula terdapat hipodermis atau yang sering disebut sebagai “kulit” udang. Hipodermis ini akan membentu eksoskeleton baru menggantikan kutikula yang sudah “tua”. Proses pergantian ini disebut dengan molting.

    Organ reproduksi
    Kadangkala pada udang dewasa organ reproduksi dapat terlihat dengan kasat mata. Udang betina memiliki ovarium yang terlihat di bagian bawah kutikula mulai dari cephalothorax ke arah dorsal (atas) hingga ke abdomen. Pada udang jantan spermatophore terlihat di bawah kutikula berupa struktur oval sepasang dengan sperma yang terdapat dekat perbatasan cephalothorax abdomen.

    Susunan morfologi udang di atas merupakan morfologi umum pada udang penaeid. Udang non penaeid memiliki struktur yang berbeda dan mudah dibedakan. Antar udang penaeid juga memiliki perbedaan struktur anatomy. Identifikasi udang biasanya menggunakan karapas dan spina, duri dorsal dan ventral rostrum, rigi atau carinae, sulcus, telson, appendage dan segmen, petasma, appendix musculina pada udang jantan, dan thelicum pada udang betina.

    Tabel. Perbedaan udang penaeid dan non penaeid

    Berikut ini adalah gambaran umum morfologi dan anatomi udang yang biasa dibudidayakan.

    Udang windu (P. monodon)Panjang maksimum 30 cm. Pada karapas tidak terdapat lekukan pada tonjolan tengah bagian atas, lekukan sisi dangkal dan hanya terlihat jelas pada setengah bagian atas.
    Udang muda warna abu-abu, udang dewasa tua hijau kehitam-hitaman.

    Udang putih (L. vannamei)Panjang karapas 3 cm, warna dasar putih kekuningan dihiasi dengan corak tidak beraturan berwarna hijau tua, dapat berubah tergantung substrat, pakan, dan turbiditas air. Lempengan rostrum dan tonjolan di daerah punggung berwarna coklat keunguan, pada bagian tepi dari uropod berwarna coklat kemerahan dan ditumbuhi oleh bulu atau rambut berwarna krem. Pada jantan memiliki petasma simetris dan semi terbuka. Sedangkan betina memiliki telikum.

    Udang bunga (P. japonicus)Dicirikan adanya garis lebar melintang berwarna coklat tua pada karapas dan garis besar melintang pada setiap ruas perut. Pada bagian sisinya terdapat lekukan yang dalam, lebih sempit dari tonjolan yang berada di tengah, memanjang sampai hampir mencapai tepi atas karapas.

    Referensi

    A.B. Doddy, M. 2013. Menguasai IPA Sistem Kebut Semalam Edisi Google Books. Pustaka Gema Media: Depok

    Anonim. Biology of shrimp ( P. monodon )

    FAO. Penaeus vannamei (Boone, 1931). Cultured Aquatic Species Information Programme
    Flegel, T.W. 2007. Shrimp Biology and Anatomy for Pathology. National Center for Genetic Engineeringand Biotechnology

    Johnson, S.K. Handbook of Shrimp Disease.

    Johnson, S.K. 1995. Handbook of Shrimp Diseases. Department of Wildlife and Fisheries Science, Texas A&M University.

    Sarifin, Wibowo, k.T., Rohmana, D., Rosellia, S. 2014. Untung 100% dari Budidaya Udang Galah. PT Agri Media Pustaka: Jakarta

    Tantu, A.G. Pengantar Biologi Udang. Shrimp Club Indonesia

    No comments:

    Post a Comment