-->

    Saturday, 24 February 2018

    Penanggulangan penyakit Ikan

    Penanggulangan penyakit ikan merupakan suatu langkah yang harus diambil apabila ikan menunjukkan gejala sakit atau terserang penyakit. Berdasarkan waktunya, penanggulangan penyakit ikan dibagi menjadi:

    a. Jangka pendek (short term)
    Penanggulangan ini bertujuan untuk menangani penyakit secara cepat dalam skala besar untuk mengurangi stress dan toksin. Penanggulangan jangka pendek dilakukan dengan 2 cara:
    1.   Perendaman. Metode ini dilakukan hanya beberapa detik saja.
    2. Pembilasan (flush). Metode ini dilakukan dengan menggunakan bahan dengan konsentrasi tinggi. Ikan dibilas sekaligus sembari dilakukan penggantian air

    b. Jangka panjang (prolonged term)
    Penanggulangan jangka panjang ditujukan untuk perbaikan manajemen dan mencegah munculnya penyakit serupa. Penanggulangan jangka panjang dilakukan dengan 2 cara:
    1. Pemandian (bath). Dilakukan sekitar 1 jam, ikan harus diamati selama pemandian
    2. Perlakuan aliran tetap (constant flow). Selama pengobatan diberikan aliran air secara tetap selama 1 jam

    c. Jangka waktu tak terbatas
    Metode ini dlakukan pada media budidaya yang cukup luas/ besar. Bahan yang digunakan berdosis rendah untuk waktu yang lama.

    Berdasarkan metodenya, penanggulangan penyakit ikan terbagi menjadi karantina, pengobatan, dan pemusnahan.

    A. Karantina
    Tindakan karantina merupakan salah satu tindakan memisahkan ikan yang sakit agar tidak menular ke ikan lainnya. Ikan dikarantina pada suatu wadah tertentu untuk dilakukan tindakan pengobatan. Karantina juga dapat diartikan sebagai tindakan isolasi terhadap ikan baru untuk dilakukan pengamatan sebelum dimasukkan ke media budidaya. Dalam cakupan yang lebih luas, tindakan karantina ini bertujuan mencegah penyebaran pathogen antar daerah bahkan antar negara. Tehnik karantina terbagi menjadi 8 antara lain:

    1. Level budidaya
    Karantina dilakukan baik untuk mengendalikan ikan yang sakit atau mencegah penularan penyakit ikan pada lokasi budidaya.
    2. Level nasional
    Pada level ini prosedur karantina menggunana strategi nasional untuk kesehatan hewan akuatik, meliputi: daftar pathogen nasional, diagnose penyakit, sertifikat kesehatan, zonasi penyakit, surveilans dan pelaporan, kontingensi, analisis resiko import, dll.
    3. Level internasional

    Karantina level ini menggunakan ICES (international Council for The Exploration of The Sea), meliputi risk management, risk assessment, risk communication.

    B. Metode fisik
    Metode ini dilakukan dengan tujuan menghilangkan pathogen dari wadah budidaya. Pathogen dapat diinaktivasi menggunakan radiasi UV atau dihilangkan dengan mikrofiltrasi. Apabila penyakit berasal dari bahan polutan, dapat dilakukan pengenceran air, filtrasi karbon, dan biofiltrasi. Kolam atau wadah budidaya  atau wadah karantina dapat dipaparkan dengan sinar matahari atau melakukan heating/ peningkatan suhu air untuk membasmi pathogen tertentu.

    C. Pengobatan
    Tindakan pengobatan ini dapat dilakukan pada ikan di wadah karantina atau pada wadah yang sebagian besar ikannya telah terserang penyakit. Penanggulangan antara ikan laut dan ikan air tawar berbeda dalam beberapa hal. Ada faktor-faktor yang harus diperhatikan agar pengobatan menjadi efektif
    - Pengobatan pada ikan laut tentunya menggunakan air laut. Perubahan salinitas air dapat mempengaruhi toksisitas beberapa bahan kimia. Harus dicek terlebih dahulu keefektifan bahan tersebut terhadap nilai salinitas
    - Beberapa antibiotic tidak efektif diberikan pada air laut. Tetrasiklin mengkelat kation divalent (Ca dan Mg) yang konsentrasinya tinggi di air laut. Sehiingga bila diberikan  melalui air laut malah kurang efektif.
    - Banyak bahan kimia untuk ikan laut berbahaya bagi invertebrate
    - Metabolisme obat antara ikan air tawar dan laut berbeda.

    Terdapat 3 metode penanggulanan penyakit ikan berdasarkan tehnik pengobatannya:

    1. Perendaman/ imersi
    Tehnik perendaman dilakukan dengan melarutkan obat sesuai dengan konsentrasi yang telah ditentukan, kemudian mencampurkannya dengan air dimana telah ditempatkan ikan yang akan diobati. Tehnik ini dilakukan bertujuan agar terjadi interaksi secara langsung antara obat dengan ikan. Oleh karena itu metode ini lebih cocok untuk pengobatan ektoparasit. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan pada pelaksanaan metode ini:
    a. Wadah akuarium atau bak
    - Hanya untuk perendaman selama beberapa jam
    b. Wadah kolam
    - Volume air diturunkan untuk menghemat penggunaan obat
    - Saat perendaman, air dalam kondisi statis/ tidak mengalir.
    - Setelah selesai, keran pembuangan dibuka untuk membuang sisa obat di kolam
    Beberapa metode perendaman yang biasa dilakukan antara lain: dipping (celup), topical, short bath, long bath, flow through, flush (pada kolam mengalir)
    c. Wadah keramba
    Pada wadah ini, pengobatan harus diubah menjadi system tertutup. Keramba harus ditutup dengan menggunakan desain tertentu sebab obat yang diberikan melalui air akan cepat menghilang dan perhitungan konsentrasinya tidak sesuai lagi.

    2. Per oral/ pakan
    Pemberian obat melalui pakan banyak digunakan untuk pengobatan penyakit, meningkatkan kekebalan tubuh, ataupun memperbaiki gizi pada ikan. Pengobatan melalui pakan sebaiknya segera dilakukan pada tahap awal serangan penyakit, saat ikan masih memiliki nafsu makan. Akan tetapi pengobatan melalui metode ini memiliki kelemahan, diantaranya:
    - Hanya dapat dilakukan jika ikan dalam kondisi masih mau makan
    - Proses persiapan obat cukup repot, obat harus dicampur pakan dahulu setiap harinya, tidak dapat disimpan jangka panjang
    - Pada obat tertentu, palatabilitasnya kurang sehingga tidak dimakan oleh ikan

    3. Parenteral/ injeksi
    Tehnik pengobatan melalui injeksi merupakan metode paling manjur untuk penanggulangan penyakit ikan. Obat yang diberikan akan masuk ke dalam tubuh ikan dengan dosis yang tepat dan cepat bereaksi. Namun metode ini juga memiliki kelemahan, antara lain:
    - Tidak dapat dberikan pada ikan berukuran kecil
    - Kurang efektif jika dilakukan pada ikan berjumlah banyak
    - Petugas harus memiliki keahlian menyuntik
    - Belum banyak obat ikan yang dapat diberikan melalui injeksi
    - Respon setiap spesies ikan terhadap metode injeksi dan obatnya berbeda-beda
    Injeksi dapat dilakukan dengan 2 cara:
    a. Intra peritoneal (i.p)/ pada rongga perut
    b. Intra muscular (i.m)/ pada otot punggung

    D. Pemusnahan/ eradikasi
    Pemusnahan dilakukan apabila metode pengobatan sudah tidak mampu mengatasi serangan penyakit. Ikan harus segera dimusnahkan agar agen penyakit tidak menyebar, terutama untuk pathogen yang sangat infeksius. Metode pemusnahan meliputi:
    1. Pembakaran
    2. Pendam/kubur
    Ikan yang terinfeksi harus dikubur dengan kedalama 2m dengan jarak minimal 20meter dari kolam. Dasar lubang untuk mengubur diberikan kapur atau ikan dibakar terlebih dahulu sebelum mengubur. Lapisan tanah untuk menutup setidaknya setebal 60-80cm.
    3. Masak

    Berdasarkan jenis patogennya, penanggulangan penyakit ikan terbagi menjadi:
    1. Penyakit viral
    Hingga saat ini belum ada obat yang mampu menangani penyakit virus. Tidakan yang paling utama dilakukan hanyalah pencegahan dan meningkatkan kekebalan tubuh ikan. Tindakan pencegahan meliputi disinfeksi, seleksi induk dan benih. Upaya meningkatkan kekebalan tubuh ikan dilakukan dengan vaksinasi, pemberian imunostimulan dan vitamin.
    2. Penyakit Bakterial
    Penyakit bacterial hanya dapat diobati dengan antibiotic. Antibiotik yang tepat mampu membasmi agen pathogen. Antibiotik ini dapat diperoleh dari produk komersil ataupun antibiotic alami dari herbal. Akan tetapi antibiotic ini memilik banyak dampak negatif terutama bagi lingkungan dan manusia, yakni munculnya resistensi
    3. Penyakit fungal
    Pengembangan antifungal hingga saat ini belum banyak dilakukan. Tindakan yang dapat diupayakan untuk penyakit fungal adalah pencegahan.
    4. Penyakit parasiter
    Penyakit ini dapat dibasmi dengan bahan kimia. Pengobatan disesuaikan dengan stadium dari setiap parasite sebab setiap stadium memiliki kerentanan terhadap bahan kimia yang berbeda-beda. Tak jarang juga pengobatan parasite harus dilakukan pengulangan.

    Referensi

    Afrianto, E. dan Liviawaty, E. 1992. Pengendalian Haman & Penyakit Ikan. Pernerbit Kanisius: Yogyakarta

    Afrianto, E., Evi Liviawaty, Zafran Jamaris, Hendi. 2015. Penyakit Ikan. Penebar Swadaya: Jakarta Timur

    Lio-Po. G.D. dan Inui, Y. 2014. Health Management in Aquaculture Second Edition. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department.

    Noga, Edward J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Blackwell Publishing

    Supian, E. 2013. Penanggulangan Hama dan Penyakit pada Ikan.  Pustaka Baru Press: Yogyakarta


    No comments:

    Post a Comment