-->

    Friday, 2 February 2018

    Caligosis

    Nama lain

    Sea louse [1], sea lice [4] salmon louse, salmon lice, white spot, dan summer lesion syndrome [7]
    .
    Etiologi/ penyebab
    Lepeophtheirus .spp., Caligus spp. Merupakan arthropoda crustacea golongan copepoda [1]. Tiga spesies Caligus yang sering menyerang pada budidaya di Asia adalah Caligus epidemicus, C. orientalis, C. punctatus [3]. Parasit caligus berbentuk oval, memiliki panjang 3mm, lebar 1,6mm dengan sepasang sucker pada bagian frontal dan 4 pasang kaki [5]

    Gb. Anatomi Caligus (Gb dari https://c1.staticflickr.com)


    Hospes
    Ikan laut [1]. L. salmonis ditemukan spesifik pada ikan salmon atlantik dan sea trout. Sedangkan beberapa spesies lainnya memiliki range hospes yang cukup luas [4].

    Predileksi
    Lokasi dimana infeksi dari calogosis ini adalah insang dan kulit. Predileksi dari setiap spesies parasit ini sangat spesifik. C. spinosus menyerang pada insang yellow tail Seriola quinqueradiata. Sedangkan C. longipedis  merupakan caligosis dermal pada ikan stripe jack. Di Indonesia, Caligus kerap menyerang kerapu dan bandeng dan berlokasi di kulit [6]

    Stadium rentan 
    Benih, dewasa, indukan [2]

    Epizootiologi
    Outbreak parasit L. salmonis pertama kali terjadi pada tahun 1960an pada pembudidaya salmon di Norwegia. Outbreak caligosis di Skotlandia terjadi beberapa decade kemudian. Di Jepang, L. salmonis  menyerang pada ikan salmon. Sementara caligus menyerang ikan rainbow trout. Di belahan bumi bagian selatan, parasit Caligus teres menyerang pada ikan coho salmon dan ikan rainbow trout pada awal tahun 1980an [3]. Kebanyakan caligosis terjadi pada daerah bersuhu hangat dan tropis, kecuali L. salmonis yang terbatas pada daerah bersuhu dingin saja [4]. Parasit ini dapat menular secara horizontal [2]. Prevalensi dan intensitas L. salmonis pada ikan liar cukup tinggi [3]

    Siklus Hidup
    Siklus hidup parasit ini terdiri dari 11 stadium, 2 nauplii, 1 copepodid, 6 chalimus, 1 pre adult, dan 1 adult [2]. L. salmonis  memiliki 10 stadium, dan Caligus spp memiliki 8-9 stadium [7].  Kutu betina yang melekat pada tubuh ikan melepaskan telur ke dalam air. Telur akan menetas dan nauplii larva bebas berenang. Copopoda ini bermetamorfosa beberapa kali fase hingga stadium larva (copepodid dan chalimus) yang melekat pada hospesnya [1]. Lama siklus adalah 15 hari [2], khusus pada spesies yang hidup di daerah hangat. Pada L. salmonis siklus hidup 4-9 minggu, bergantung pada suhu (6-18oC) [4].

    Gb. Siklus hidup L. salmonis  (picture from Schram, 1993)


    Faktor pendukung
    Kualitas air yang buruk [2]

    Gejala Klinis
    Parasit ini tampak berupa bercak putih pada permukaan tubuh. Area yang terinfeksi kehilangan sisik dan mengalami hemoragi. Permukaan tubuh menjadi kasar. Ikan berenang dengan malas dekat permukaan air, kehilangan nafsu makan, dan produksi mukusnya berlebih. Pada infeksi berat ikan menjadi lemah [2]. L. salmonis kerap menyerang area leher dan sepanjang basal sirip dorsal. Pada infeksi berat, lesi kulit dapat berubah menjadi lesi terbuka. Hemoragi subepidermal dan erosi kulit hingga tulang cranial terkespos sangat mungkin terjadi. Lesi terbuka ini biasanya akibat infeksi sekunder bakteri. Pada bagian mata copepoda ini akan menyebabkan ulcerasi kornea. Katarak dan kebutaan berpengaruh terhadap penurunan pakan dan tampilan [3]

    Perubahan patologi
    Parasit ini memakan darah, mucus, dan kulit ikan[1]. Parasit ini menimbulkan respon fisik, enzimatik, dan peradangan pada tempat melekatnya. Aktifitas memakan mengakibatkan lesi kulit ulcerative hemoragi. Parasit ini dapat menjadi vector dari berbagai virus ikan [1]. L. salmonis kemungkinan dapat menularkan Aeromonas salmonicida dan Infectious Salmon Anemia Virus (ISAV) [4]. Pada area gigitan, dapat menjadi tempat masuknya infeksi sekunder bakteri dan menyebabkan kematian massal [2]. Oedema, hyperplasia, sloughing sel epidermis, dan keradangan terjadi akibat perlekatan dan aksi memakan pre adult dan adult L. salmonis. Stadium Chalimus 1 (Ch1) dan Ch2 yang melekat dapat menyebabkan hyperplasia epidermis. Ch2 akan berfokus menyebabkan iritasi di sekitar lesi. Kerusakan terparah adalah dampak yang disebabkan oleh perlekatan stadium Ch4. Lesi berdiameter 0,5cm berbentuk cincin , berpigmen, dan bagian pusat berwarna putih. Membrana basalis terbentuk oleh filamen dan terdapat dermal fibrosis dengan infiltrasi sel radang. Lesi yang terjadi oleh L. pectoralis biasanya berupa hyperplasia epitel pada satu sisi sirip. Stadium dewasa, Ch3, dan Ch4 menyebabkan kerusakan terparah yang kerap kali meluas hingga ke bagian dermis. Kerusakan dermis dapat memicu terjadinya fibroplasia, infiltrasi, dan granulasi jaringan. C. elongatus meninggalkan bekas gigitan pada permukaan tubuh. Ketika parasit dewasa menggigit pada satu tempat, kerusakan meluas terjadi pada jaringan epidermis dan dermis. C. orientalis menyebabkan ulcer kulit pada ikan Liza akame sedangkan Caligus macarovi menyebakan luka bulat kecil pada epidermis ikan Coloabis saira. C. uruguayensis pada rongga mulut Trichurus savala sebagian terkapsulasi oleh hyperplasia jaringan ikat dan epitel. Jaringan lemak pada sirip O. gorbuscha erosi oleh stadium chalimus C. clemensi [3]

    Metode Diagnosa
    Parasit ini dapat terlihat secara kasat mata dimana memiliki cephalothorax yang besar dan memiliki organ untuk menghisap sekaligus melekat pada ikan [1]. Parasit ini dapat diamati secara mikroskopis dengan melakukan scraping area terinfeksi [2,6]. Warna, ukuran, lokasi pada hospes, dan spesies hospes tidak dapat digunakan untuk mendiferensiasi parasit ini. Identifikasi harus berdasarkan morfologi seperti bentuk tubuh dan alat gerak. Bentuk tiap spesies akan bervariasi sesuai dengan stadiumnya [7].

    Pengawetan dan Transportasi
    Parasit ini dapat dibawa dengan diawetkan dalam formalin 10% atau 70% etanol. Apabila tidak ada, pengawet histologi dapat digunakan. Penyimpanan jangka panjang dapat dilakukan dengan memfiksasi dalam 10% formalin selama 2 minggu kemudian dipindahkan ke 10% gilserin alcohol (10ml gliserin dlam 90ml etanol 70%) [7].

    Pencegahan dan Pengendalian
    Sirkulasi dengan baik mampu mencegah infeksi. Perendaman air tawar dapat dilakukan, namun pada spesies L. salmonis mampu mentoleransi air tawar selama 1 minggu. Untuk membasmi Caligus elongatus ikan dapat direndam dalam air tawar selama 20 menit [4].  Bahan kimia seperti hydrogen peroksida 150ppm (500ml H2O2 30% dalam 1lt air laut) selama 30 menit, formalin 200-250ppm selama 1 jam juga dapat membantu. Pada saat penanganan ikan harus dipindahkan ke bak karantina [2].

    Penggunaan organofosfat dapat dilakukan namun bahan ini cukup berbahaya [3]. Metriphonate telah digunakan sejak lama sebagai bahan standar penanganan stadium motil parasit ini. Dosis sebanyak 20mg/L selama 20 menit cukup untuk mengeliminasi. Akan tetapi bahan ini berbahaya, tidak hanya bagi ikan, namun juga bagi lingkungan [8]. Penggunaan hydrogen peroksida juga memiliki kendala dimana pada suhu air yang tinggi (>14oC) toksik bagi ikan. Pun dengan paparan 10g/L selama 30 menit pasti menimbulkan kerusakan epitel [3]. Potassium permanganate (PK) sebanyak 5mg/L untuk 10 menit mampu membasmi Caligus sp tanpa membahayakan lingkungan. PK hanya kurang efektif jika ikan kotor atau berlumpur [8]. C. elongatus sulit ditangani pada keramba sebab stadium dewasanya dapat hidup di kolom air atau menginfeksi ikan lain. Secara biologis, pengendalian caligosis dapat dilakukan dengan menggunakan  ikan pembersih seperti rockcook, Centrolabrus exoletus dan goldsinny, Ctenolabrus rupestris [3]. Alternatif pengendalian lainnya melalui penggunaan vaksin dan parasit [4]

    Referensi
    1. Zajac, A.M dan Conboy, G.A. 2011. Veterinary Clinical Parasitology.Wiley Blackwell
    2. Nagasawa, K. and E. R. Cruz-Lacierda (eds.) 2004: Diseases of cultured groupers. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department, Iloilo, Philippines. 81 p.
    3. Woo, P.T.K. (Ed). 2006. Fish diseases and disorders.--2nd ed. CAB International
    4. Noga, Edward J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Blackwell Publishing
    5. APEC/SEAFDEC. 2001. Husbandry and health management of grouper. APEC, Singapore and SEAFDEC, Iloilo, Philippines. 94 p.
    6. Koesharyani, I., Roza, S., Mahardika, K., Johnny, F., Zafran, Yuasa, K.  Manual for Fish Disease Diagnosis Marine Fish and Crustacean Disease in Indonesia. Gondol Research Station for Coastal Fisheries-JICA
    7. Johnson, S. dan Jacob, E. 2012. 3.2.14 Sea Lice Parasitism. Blue Book AFS-HS
    8. A.I.E. Noor El-Deen, Abeer., E. Mahmoud, Azza, H.M. Hassan. 2013. Field Studies of Caligus parasitic Infections among Cultured Seabass (Dicentrarchus labrax) and Mullet (Mugil cephalus) in Marine Fish Farms with Emphasis on Treatment Trials. Global Veterinaria 11 (5): 511-520, 2013 ISSN 1992-6197














    No comments:

    Post a Comment