-->

atas

    Thursday, 4 January 2018

    Amonia dalam Perikanan


    Amonia  dalam perikanan merupakan produk metabolisme protein pada ikan yang diekskresikan melalui insang dan ginjal.  Amonia juga dikeluarkan Bersama dengan urin dan feses.  Ikan mengeksresikan metabolit amonia sebanyak 50-100mg/kg berat badan setiap harinya. Kadar amonia akan meningkat beberapa jam setelah pemberian pakan pada ikan. Pada kolam-kolam yang sudah bertahun-tahun digunakan, bahan organik akan terdeposit di dasar kolam dan menghasilkan bahan berbahaya yang salah satunya adalah amonia. Kadar amonia juga dapat meningkat akibat pemberian pakan berlebih sehingga jumlah amonia yang diekskresikan meningkat tanpa diimbangi dengan jumlah bakteri dekomposer. Amonia juga dapat berasal dari alga atau tanaman air yang mati. Pada kasus tertentu seperti blooming alga, ketika alga tersebut mati, kadar amonia akan meningkat dengan cepat karena proses dekomposisi alga berlangsung cepat sehingga menurunkan kadar oksigen dan pH lalu meningkatkan amonia dan konsentrasi karbondioksida.

    Amonia masuk dalam salah satu komponen siklus nitrogen yang prosesnya disebut nitrifikasi. Dalam air, amonia akan digunakan oleh bakteri autotrof sebagai sumber energi. Amonia dioksidasi oleh bakteri Nitrosomonas menjadi nitrit (NO2) yang bersifat toksik bagi ikan. Bakteri nitrifikasi lainnya (Nitrobacter) akan mengubah nitrit menjadi nitrat (NO3) yang terakumulasi di air. Nitrat dapat ditoleransi oleh sebagian besar ikan atau dipergunakan oleh tanaman. Ikan terkadang memakan bahan asal tanaman. Kadar amonia akan meningkat akibat produk buangan dari ikan. Bakteri akan memetabolisme amonia ini sehingga kadarnya turun namun kadar nitrit akan naik. Bakteri lain kemudian akan memetabolisme nitrit ini menjadi nitrat. Kadar nitrat akan terus meningkat kecuali jika dibuang dari sistem budidaya.


    Gb. Siklus nitrogen, Bakteri nitrifikasi memanfaatkan oksigen dan alkalinitas untuk mengubah Amonia menjadi nitrat untuk digunakan kembali oleh fitoplankton, tanaman air, atau atmosfir dalam kolam (bagan oleh Francis-Floyd, 2009; ilustrasi oleh @dori)
    Dalam air amonia terlarut dalam dua bentuk yaitu ion ammonium (NH4+)/ terionisasi dan ammonium bebas (NH3)/ tidak terionisasi. Ion yang tidak terionisasi/ amonia bebas ini berbahaya bagi ikan. Kadar ammonium bebas akan meningkat jika pH tinggi (alkalin), suhu tinggi, dan salinitas rendah.

    Tolerasi terhadap Amonia

    Setiap spesies memiliki perbedaan kerentanan terhadap amonia. Telur dan larva ikan sangat sensitif terhadap amonia meskipun dalam kadar rendah. Batas lethal amonia belum terionisasi bagi ikan akuarium air tawar adalah 0,2-0,5 mg/L. Di bawah kadar ini masih mampu bertahan hidup namun kondisi ini mengakibatkan stress dan rentan mengalami infeksi sekunder. Oleh karenanya kadar amonia sebaiknya dijaga hingga 0mg/L. Literatur lain menyebutkan batas amonia dalam air tidak boleh lebih dari 0,05mg/L pada ikan tropis. Paparan amonia kadar subletal akan meningkatkan toleransi terhadap amonia.

    Toksisitas

    Amonia bebas bersifat toksik bagi ikan dibandingkan amonium. Pada ikan yang keracunan amonia, ikan akan kehilangan kelembapan, fungsi fisiologis terganggu, dan kehilangan nafsu makan. Pada kasus fatal, ikan akan mengalami kematian. Penyebab meningkatnya amonia yang dapat memicu timbulnya keracunan antara lain:

    - Filter yang belum terbentuk (jumlah bakteri nitrifikasi belum cukup/ sesuai untuk memetabolisme amonia)
    - kepadatan tinggi  (produksi amonia terlalu tinggi)
    - Dekomposisi (ikan / tanaman mati, pakan berlebih)
    - Pakan berlebih
    - rusaknya filter biologis (oleh penggunaan antiibakterial, kerusakan pompa, atau filter)

    Tingkat toksisitas amonia bergantung pada spesies, kadar garam, tingkat paparan amonia, lama paparan, dan pengaruh aklimasi yang diberikan sebelumnya. Pada perairan laut, tingkat toksisitas amonia 30% lebih rendah daripada lingkungan air tawar (Bahasan mengenai toksisitas ammonia ada di postingan selanjutnya)


    Pengukuran amonia:

    - test kit (colorimetric)
    -  ion-specific photometer

    Pengukuran amonia sebaiknya dilakukan setiap minggu, terutama pada sistem budidaya dengan jumlah pakan tinggi. Pengukuran dilakukan setiap sore, saat dimana nilai pH tinggi dan amonia berpotensi menimbulkan keracunan. Jika kepadatan ikan cukup tinggi, pengukuran amonia harus dilakukan lebih sering, 10-14 hari atau setiap minggu. Bila ikan dalam kondisi sakit, amonia juga hrus diukur. Kebanyakan kit untuk amonia menghitung kadar TAN (total amonia nitrogen). Untuk menghitung fraksi amonia yang terion atau tidak, membutuhkan pengukuran pH dan suhu. Nilai amonia akan diperoleh jika nilai TAN, pH, dan suhu disatukan.(tabel)

    Tabel. Fraksi pengukuran amonia (diambil dari Francis-Flyod, 2009)

    Referensi

    AFCD. 2009. Environmental Management of Pond Fish Culture. Aquaculture Fisheries Division

    Skomal, G. 2007. Saltwater Aquarium for Dummies 2nd Edition. Wiley Publishing

    Wakefield, R (Ed). 2014. Tilapia Biology, Management Practices And Human Consumption. Nova Publisher: New York

    Wildgoose, W.H. 2001. BSAVA Manual of Ornamental Fish. British Small Animal Veterinary Association

    Francis-Floyd, R., Craig Watson, Denise Petty, Deborah B. Pouder. Amonia in Aquatic Sistems. IFAS Extension University of Florida

    Hargreaves, J.A. dan Tucker, C.S. 2004. Managing Amonia in Fish Ponds. SRAC Publication No. 4603

    No comments:

    Post a Comment