-->

    Friday, 19 April 2019

    Q & A: tehnik budidaya Akuaponik


    Apakah akuaponik itu?
    Akuaponik merupakan kombinasi tehnik pembesaran ikan yang dibarengi dengan tehnik pembesaran tanaman secara hidroponik. Atau dengan kata lain penggabungan akuakultur dengan hidroponik.  

    Bagaimana prinsip kerja akuaponik?
    Teknologi akuaponik menggunakan prinsip resirkulasi air hasil pemeliharaan ikan yang terus menerus dialirkan ke media tanaman untuk disaring dan kembali ke air pemeliharaan ikan. Hasil perombakan bahan organik dalam pembesaran ikan digunakan sebagai nutrisi bagi tanaman. Dengan metode akuaponik, 80% ammonia di kolam dapat tersaring.

    Apakah keuntungan budidaya akuaponik?
    Budidaya akuaponik ini dapat mengoptimalkan lahan yang terbatas untuk memaksimalkan pertumbuhan ikan dan tanaman. Teknologi ini dapat dilakukan di lahan
    yang sempit dengan volume air yang minimal dan mengurangi pencemaran. Dalam skala kecil sistem ini bermanfaat untuk rumah tangga. Dalam skala besar dapat digunakan untuk kebutuhan komersial.  Biaya kebutuhan budidaya akan terpangkas dari segia air, upah, dan pupuk. Disamping itu produksi ikan dapat meningkat.

    Apa saja yang harus dipersiapkan untuk budidaya akuaponik?
    - Bibit tanaman
    - Benih ikan
    - Media tanam (kerikil, arang, sabut kelapa)
    - probiotik/ pupuk organik
    - Wadah pemeliharaan ikan
    - Rak pemeliharaan tanaman
    - Pipa PVC
    - Sambungan pipa
    - aerator
    - timer
    - Siphon
    Untuk skala rumah tangga cukup menyediakan bak fiberglass, pipa pvc, pompa akuarium.

    Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam akuaponik?
    Hal utama yang perlu diperhatikan adalah luas lahan, jenis ikan, kepadatan, jenis tanaman, media tanam, rancangan sistem akuaponik, parameter biotik lingkungan.

    Jenis ikan apa saja yang dapat digunakan dalam akuaponik?
    Ikan mas (10-200 ekor/m2), ikan nila (100-150 ekor/m2), ikan gurame (5-10 ekor/m2), ikan lele (100-150 ekor/m2), ikan baung, ikan tengadak, belut, ikan patin (10-15 ekor/m2).

    Bentuk kolam apa yang cocok untuk akuaponik?
    Bila lahan cukup luas dapat menggunakan kolam terpal, bila tidak, bekas drum juga dapat digunakan.

    Jenis tanaman apa saja yang dapat digunakan dalam akuaponik?
    Umumnya adalah sayuran seperti kangkung, sawi, selada, terong ungu, terong sayur, cabe merah, cabe rawit pokchai, tomat. Beberapa ada yang harus disemai, namun juga ada yang ditanam langsung. Bila disemai, tunggu sampai ketinggian 10cm. Jarak tanam antar tanaman sebaiknya kangkung 10cm, cabai 40cm, tomat, 40cm, terong sayur 40cm. Guna menghindari tanaman layu, penanaman dilakukan pada sore hari.

    Bagaimana sistem filtrasi pada akuaponik?
    Sebagai filter dapat menggunakan sabut kelapa, kerikil, dan arang. Adapula yang menggunakan zeolite, batu apung, dan bioball.

    Wadah apa yang digunakan untuk tanaman pada akuaponik?
    Semua wadah dapat digunakan. Bila untuk keperluan produksi, wadah murah seperti ember plastic, pot bunga, keranjang plastic, kotak, kayu, pipa pvc dapat digunakan.  Bila juga digunakan sebagai taman, dapat menggunakan pot keramik.

    Media tanam apa yang cocok untuk akuaponik?
    Media harus bersifat porous karena akan memfilter air seperti pasir kasar, kerikil, batu apung, arang, dll. Ada tiga macam model media tanam yang digunakan pada akuaponik yaitu deep water culture (DWC), Nutrient Film Technique) dan Media bed.

    Model media
    Kelebihan
    kekurangan
    Media bed
    - Cocok untuk pemula, sederhana, efisien tempat, murah.
    - Media yang digunakan dapat menyokong perakaran dan sebagai filter.
    - Semua jenis tanaman dapat ditanam secata tunggal maupun campuran
    - sulit dikembangkan untuk skala besar
    - adanya resiko penyumbatan
    - laju evaporasi cukup tinggi
    Model NFT
    - cocok untuk akuaponik komersial
    -pengaturan system vertical cocok diterapkan diperkotaan
    - pembuatan yang kompleks dan mahal
    - membutuhkan system filtrasi yang lebih
    - jenis tanaman sayuran terbatas
    Model DWC
    - cocok untuk skala besar dan komersial
    - cocok untuk selada, kemangi, dan beberapa jenis sawi
    - kompleksitas pembuatan
    - jenis tanaman terbatas


    Tanaman dapat ditempatkan pada stereofoam yang dilubangi dan diapungkan. Model media bed sangat direkomendasikan untuk akuaponik pemula yang pengetahuanya masih terbatas. Sistem NFT (nutrient film technique) juga cocok untuk beberapa sayuran, menggunakan pipa yang dipasang horizontal dan air dialirkan secara ripis saja. Deep Water Culture termasuk dalam model rakit dimana tanaman ditanam dalam pot net yang dimasukkan ke dalam lubang di atas rakit polystyrene. Akar menggantung dalam aliran air kolam pemeliharaan.  Sistem pasang surut lebih cocok lagi sebab akar tanaman diberi kesempatan bernafas sebelum kembali terendam air.

    Apakah kendala dari teknologi akuaponik? Bagaimana cara mengatasinya?
    Kendala utama adalah keharaan. Sumber hara utama akuaponik berasal dari pelet pakan. Sedangkan kebutuhan tanaman tidak semuanya ada dalam pakan ikan. Hal ini dapat menyebabkan defisiensi nutrisi tanaman. Di awal akuaponik juga akan ditemui permasalahan ketidakseimbangan unsur N  sebab belum seimbangnya laju dekomposisi dan nitrifikasi yang mengakibatkan tingginya kadar amonia dan bahan organik serta keasaman air.
             Permasalahan keasaman air dapat diatasi dengan penambahan basa dengan kalsium hidroksida, kalsium karbonat, atau lebih murah menggunakan tepunfg kulit telur, kapur, kulit kerang. Sedangkan defisiensi unsur hara diatasi dengan menghitung luasan tanaman yang membutuhkan unsur hara. Defisiensi unsur besi diatasi dengan bahan pengkelat seperti Fe EDTA, Fe DPTA, Fe EDDHA. Defisiensi unsur hara mikro ditasi dengan pemberian fermentasi kompos atau compost tea.


    Bahan Bacaan

    Anjani, P.A., R. Kusdarwati, Sudarno. 2017. Pengaruh Teknologi Akuaponik Dengan Media Tanam Selada (Lactuca sativa) yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Belut (Monopterus albus) Journal of Aquaculture and Fish Health 6(2): 67-73

    Harahap, T.S., Mulyadi, Rusliadi. Pemeliharaan Benih Ikan Baung (Mystus Nemurus C.V) Dengan Sistem Bioflok Pada Sistem Resirkulasi Akuaponik

    Rini, D.S., H. Hasan, E. Prasetio. Sistem Akuaponik Dengan Jenis Tumbuhan Yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Tengadak (Barbonymus Scwanenfeldii)

    Sastro, Y. 2015. Akuaponik : Budidaya Tanaman Terintegrasi Dengan Ikan, Permasalahan Keharaan dan Strategi Mengatasinya. Buletin Pertanian Perkotaan 5(1): 33-42

    Sari, I.G.A.A.R.P. Budidaya Ikan dan Tanaman dengan Sistem Akuaponik. UnSoed.

    Sutrisno, E. Nugroho, A. H. Kristanto. Akuaponik.  Presentasi

    Wicaksana, S.N., Hastuti, S., Arini, E. 2015. Performa Produksi Ikan Lele Dumbo (Clarias Gariepinus) Yang Dipelihara Dengan Sistem Biofilter Akuaponik Dan Konvensional. Journal of Aquaculture Management and Technology 4(4): 109-116

    Widyastuti, E. Sistem Aquaponik Sebagai Solusi Budidaya Ikai Dan Sayuran Pada Lahan Dan Air Terbatas. UnSoed

    No comments:

    Post a Comment