-->

atas

    Tampilkan postingan dengan label otot putih. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label otot putih. Tampilkan semua postingan

    Sabtu, 08 Desember 2018

    Nekrosis otot pada udang


    Etiologi/Penyebab
    Ketika udang berada pada kondisi stress, seperti oksigen rendah atau kepadatan yang tinggi, otot akan kehilangan transparansinya (mengalami nekrosis) dan menjadi bercak-bercak dengan area berwarna keputih-putihan. Hal ini akan terjadi hingga seluruh ekor berwarna putih. Pada kondisi yang diperbaiki, udang akan kembali normal. Namun pada kondisi ekstrim udang akan mati dalam hitungan menit [1].

    Sabtu, 11 November 2017

    MrNV-XSV pada Udang Galah

    Nama lain:  White Tail Disease (WTD), penyakit ekor putih

    Hospes 
    udang galah (Macrobrachium rosenbergii). Disamping udang galah, MrNV juga dapat menyebabkan kematian pada larva udang P. indicus, P. monodon, dan P. vannamei [3]. Udang dewasa dari spesies P. Indicus, P. Japonicus, dan P. Monodon serta 2 udang air tawar M. Rude dan M. Malcolmsonii tidak rentan terhadap infeksi MrNV-XSV, dimana secara oral dan intramuscular gagal mengakibatkan kematian [8].
    Etiologi/ penyebab
    Nodavirus yang sering kali berkaitan dengan virus satelit yang disebut Extra Small Virus (XSV) [3]. MrNV merupakan virus tidak beramplop, diameter 27nm [4], ss RNA [7]. Sedangkan XSV merupakan virus ss RNA tidak beramplop. Diduga XSV adalah virus satelit sementara MrNV adalah virus helper [7]. Detil informasi mengenai kaitan XSV dan MrNV tidak begitu jelas dan belum pernah dipublikasikan [8]
    Epizootiologi
    Pertama kali penyakit MrNV terdeteksi di India, di beberapa panti benih di Nellore Andhra Phrades dan Chennai. Selain di panti benih, penyakit serupa juga dilaporkan oleh pembudidaya di daerah tersebut. Penyakit ini dapat menimbulkan 100% kematian [1]. Hewan muda lebih banyak terserang virus ini. Mode penularan paling utama secara vertikal. Induk yang terinfeksi, jaringan ovarium, dan telur yang dibuahi terdeteksi positif dengan RT PCR. Beberapa PL yang terinfeksi dapat bertahan hingga dewasa dan menjadi pembawa penyakit ini. Pakan hidup seperti artemia berperan penting sebagai vector mekanik. Agen patogen WTD juga dapat ditularkan melalui paparan oral [4]. Lima spesies insekta akuatik giant water bug Belostoma sp., dragonfly nymphs Aesohna sp., diving beetles Cybister sp. dan back swimmers Notonecta sp terdeteksi positif melalui RT-PCR [6]. Hal ini mengindikasikan bahwa beberapa spesies insekta air memiliki resiko menularkan MrNV-XSV pada udang galah [8]. Terdeteksi positif dikoleksi dari kolam pembesaran. Penularan MrNV secara horizontal terjadi melalui sistem budidaya dan ekosistem karier hidup yang berdekatan, jaringan mati, ataupun virion bebas [6]. Udang penaeid juga berpotensi menularkan seperti  P. japonicus, P. indicus, P. monodon [7].

    Minggu, 29 Oktober 2017

    Pemeriksaan klinis pada udang - bagian 2

    3. Pengamatan alat gerak
    Alat gerak merupakan bagian yang rentan rusak terutama bila kepadatan tinggi (bertabrakan oleh udang lain). Kerusakan alat gerak dapat menjadi portal masuknya bakteri, jamur, parasite yang kemudian memicu respon hemosit diikuti melanisasi. Bila penyebab mampu dihilangkan dan udang dalam lingkungan yang cukup nutrisi akan terjadi regenerasi alat gerak atau ujung alat gerak.

    4. Pengamatan kutikula
    Perubahan warna dapat terjadi di kutikula dan jaringan. Melanisasi kutikula dapat hilang saat molting dan digantikan kutikula baru. Melanisasi kutikula juga sering dikaitkan dengan fusariosis, mycobacteriosis, TSV, dan defisiensi vitamin C. Tak hanya di insang, pada kutikula juga kerap terjadi kolonisasi bakteri dan parasit. Adanya parasite patogen ataupun komensal mengindikasikan kondisi yang suboptimal atau mungkin ada suatu penyakit. Kutikula yang lunak bukan pada masa moulting mengindikasikan adanya infeksi. Kerusakan atau luka kutikula akan menjadi lokasi untuk masuknya infeksi patogen oportunistik (bakteri dan jamur) ke dalam jaringan yang lebih lunak lalu mengganggu kesehatan udang. Penyakit tertentu seperti White Spot Disease (WSD) dapat langsung mempengaruhi kutikula. Namun demikian bakteri juga dapat menimbulkan gejala serupa WSD dan Bacterial White Spot syndrome. Disamping perubahan warna, perubahan fisik kutikula juga dapat terjadi. Erosi atau hilangnya kutikula alat gerak (kaki, ekor, antenna, rostrum) dengan atau tanpa melanisasi juga mengindikasikan adanya penyakit. Kutikula juga dapat rusak akibat gesekan, serangan, gigitaan dengan udang lain apabila dalam kondisi kepadatan tinggi.