Bakteri vibrio, termasuk Vibrio parahaemolyticus umum ditemukan di air laut. Bakteri ini termasuk bakteri laut gram negatif yang dapat dengan mudah diisolasi dari air, sedimen, endapan, plankton, ikan, udang, kerang, cumi-cumi, lobster, abalone, kepiting, dan spesies air laut lainnya. Bakteri ini tidak hidup di perairan dalam, dan optimal hidup pada suhu 7-10oC hingga 44oC, salinitas 3-4%. Bakteri ini memiliki karakteristik oksidase, katalase, indol, citrat positif, memfermentasi glukosa, manosa, maltosa, mannitol, arabinosa dan tidak memfermentasi sukrosa, laktosa, dan salicin. Bakteri V. parahaemolyticus kurang tahan panas, mati pada suhu 60oC selama 15 menit, rentan pengeringan, akuades, dan cuka dalam beberapa menit, namun dapat tetap hidup saat dibekukan atau didinginkan.
- Ikan
- Udang
- Ikan Hias
- Moluska
- Lobster
- Mamalia Laut
- Coral
- Rumput Laut
- Lingkungan
- Nutrisi
- Lab
Home » Posts filed under seafood
Tampilkan postingan dengan label seafood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seafood. Tampilkan semua postingan
Rabu, 16 Oktober 2024
Sabtu, 25 Juli 2020
Covid-19 dan Dampaknya terhadap Dunia Perikanan
Covid-19
merupakan penyakit yang sejak akhir tahun 2019 hingga saat dimana tulisan ini
dibuat, masih menjadi perbincangan dan wabah di segala penjuru dunia. Perlu
diketahui bahwa penyakit Covid-19 ini disebabkan oleh virus yang bernama SARS
–Cov-2 yang termasuk dalam famili coronaviridae dan genus betacoronavirus. SARS-Cov-2
ini menyerang pada sistem pernafasan terutama paru-paru. Virus ini masuk ke
dalam tubuh manusia melalui reseptor protein angiotensin-converting enzyme 2
(ACE2). Dibandingkan dengan ikan, kecuali untuk lungfish, ikan bernafas menggunakan insang. Kesamaan genetik asam
amino pada ikan terhadap reseptor ACE2 ini sangat rendah. Oleh karenanya, dapat
dikatakan bahwa ikan tidak rentan dan tidak ada kemungkinan bagi virus ini
untuk menginfeksi pada ikan. Namun hal yang tidak dapat diabaikan adalah pengaruh pandemi
Langganan:
Postingan (Atom)