Darah merupakan salah satu komponen dalam tubuh yang
dapat menjadi alat bantu diagnostik yang penting bagi hewan termasuk ikan. Pada
dunia hewan terrestrial, darah telah diaplikasikan sebagai pendukung diagnosa
dalam berbagai kasus penyakit. Hal yang serupa pun kini diadaptasi terhadap
hewan eksotik seperti amfibi, reptil, burung, dan tidak menutup kemungkinan
pada ikan. Namun demikian, pada ikan, data hematologi darah kurang memberikan
banyak informasi. Hal ini disebabkan adanya faktor lingkungan yang dapat
mempengaruhi perubahan nilai hematologi. Oleh karenaanya ketika hematologi
dijadikan suatu dasar diagnosa penyakit, beberapa faktor harus menjadi
pertimbangan, seperti spesies, jenis kelamin, asal ikan, suhu air, kimia air,
pakan, umur ikan, tehnik sampling, tehnik perhitungan darah, tehnik pewarnaan,
dan personel yang menguji.
Fungsi dan
komponen darah pada ikan
Darah pada ikan, sebagaimana pada hewan tingkat tinggi
lainnya tersusun atas sel darah dan plasma darah. Sel darah sendiri terdiri
dari kelompok sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah (trombosit).
Sedangkan plasma darah mengandung fibrinogen dan ion-ion anorganik dan komponen
organik yang berperan dalam metabolisme. Fungsi penggumpalan darah dan produksi
antibody menjadi salah satu fungsi darah. Darah juga membantu membawa substansi
penting tubuh dan mendistribusikannya melalui sistem peredaran darah. Sel darah
merah membawa oksigen , sel darah putih melindungi tubuh, dan kombinasi
trombosit dan fibrinogen membantu menghambat kebocoran pembuluh darah sekaligus
mempertahankan aliran darah.