Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang dikembangkan untuk diaplikasikan di air ataupun pakan. Pada budidaya udang, terutama pada pembesaran dengan sistem intensif, aplikasi probiotik merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Penggunaan probiotik pada budidaya udang intensif berkaitan dengan keseimbangan lingkungan yang mudah terganggu seiring dengan pertumbuhan udang dimana sisa feses dan pakan mudah mengendap dan merusak kualitas air. Penggunaan probiotik dapat memicu pertumbuhan plankton, menguraikan bahan organik dan sisa kotoran serta menekan populasi bakteri negatif di tambak.
- Ikan
- Udang
- Ikan Hias
- Moluska
- Lobster
- Mamalia Laut
- Coral
- Rumput Laut
- Lingkungan
- Nutrisi
- Lab
Kamis, 30 Oktober 2025
Minggu, 20 April 2025
Integrasi budidaya udang dan magrove
Budidaya udang membutuhkan lahan yang cukup luas. Meskipun intensifikasi telah dilakukan, produksi udang masih banyak dilakukan dengan metode ekstensifikasi. Ekstensifikasi pada budidaya udang bersinggungan dengan aspek lingkungan dan sosial. Lingkungan yang terdampak salah satunya adalah area mangrove dimana banyak dilakukan deforestasi untuk ekstensifikasi budidaya. Untuk mengatasi hal tersebut, belakangan banyak dikembangkan budidaya udang terintegrasi dengan mangrove. Budidaya ini dilakukan dengan memelihara udang pada lahan yang disitu juga terdapat mangrove. Budidaya udang terintegrasi mangrove ini sering disebut sebagai budidaya organik. Lebih jauh lagi, konsep budidaya perikanan yang digabungkan dengan konservasi disebut dengan silvofishery.
Vietnam merupakan salah satu negara yang telah menerapkan budidaya udang bersama mangrove. Udang dibudidayakan bersisian dengan mangrove dalam sistem budidaya terintegrasi. Tambak terisi dengan mangrove dan udang dengan bagian yang sama. Udang juga dibiarkan makan secara alami tanpa penambahan pakan komersil untuk mengurangi limbah. Hal ini merupakan salah satu upaya pemerintah Vietnam untuk melindungi mangrove. Pemerintah Vietnam menentukan batas plot untuk lahan mangrove adalah 50-70%, namun pembudidaya mampu membuat 30-50% saja. Mangrove dapat ditempatkan terpisah maupun bergabung. Bahkan terdapat pembudidaya yang menggunakan mangrove sebagai filter air limbah. Budidaya udang dengan mangrove ini, serupa dengan budidaya udang windu sebab udang dibudidayakan dengan padat tebar rendah.
Kamis, 16 Januari 2025
Ablasi dan dampaknya pada udang
Seiring dengan meningkatnya budidaya udang, panti benih harus mampu menyediakan benur sesuai dengan permintaan. Hal ini tidaklah mudah sebab pada proses pembenihan udang terdapat tantangan dalam mematangkan gonad udang. Diketahui, induk udang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai kematangan gonad secara alami. Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu metode yang umum digunakan adalah ablasi.
Ablasi memiliki tujuan untuk mempercepat pematangan gonad betina.dengan cara menghilangkan atau menghancurkan organ X – kelenjar sinus kompleks yang ditemukan di tangkai mata. Organ X berfungsi untuk mengendalikan fisiologis udang dengan gonad inhibiting hormone (GIH). Hormon ini dihasilkan oleh sel sekretori organ X dan disalurkan ke kelenjar sinus untuk disimpan maupun dilepaskan. Dengan hilangnya organ X, sumber dari GIH akan hilang dan proses maturasi menjadi lebih cepat dimana kerja organ Y sebagai penghasil Gonad Stimulating Hormone (GSH) menjadi tidak terhambat.
Senin, 06 Januari 2025
Pentingya nursery pond dalam budidaya udang
Pada pemeliharaan udang di Indonesia, umumnya benur yang dibeli langsung dipersiapkan untuk ditebar di lokasi pembesaran. Namun demikian, di beberapa Lokasi bahkan di luar negeri, benur yang datang tidak langsung masuk di tambak pembesaran, namun ditempatkan di suatu wadah yang disebut dengan nursery pond. Nursery pond merupakan suatu tambak sementara dimana post larva udang akan dipelihara sebelum ditebar pada tambak pembesaran. Pemeliharaan udang dengan menggunakan nursery pond memiliki beberapa tujuan diantaranya:
Rabu, 06 November 2024
Program pemuliaan untuk kesehatan ikan dan udang
Breeding ikan atau pemuliaan ikan adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan ikan unggul melalui perbaikan sifat yang terukur. Secara sederhana, pemuliaan ikan ditujukan demi produksi ikan yang berkelanjutan. Tak hanya mencakup kebutuhan ekonomi ataupun pasar, pemuliaan ikan mengarah pada tujuan biologis, ekologis, dan sosiologis. Dan pemuliaan ikan lebih jauh lagi mencakup fungsi kesehatan dan fungsionalitas.
Menurut PermenKP no 21 tahun 2021, ikan yang akan dilakukan pemuliaan memiliki syarat populasinya mulai menurun atau hampir punah, tidak membahayakan keanekaragaman hayati Ikan asli, dapat meningkatkan kualitas lingkungan, mempunyai nilai manfaat teknologi, sosial, dan ekonomi. Pemuliaan ikan dapat dilakukan dengan cara seleksi. Kegiatan ini dapat dipengaruhi oleh genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan seperti padat tebar, umur, suhu, kualitas air, sifat biologi dan fisiologi, maternal efek, pakan, pemeliharaan komunal, kompensasi pertumbuhan dapat menutup potensi genetik dan berpengaruh terhadap fenotip dari individu atau populasi.
Senin, 12 Februari 2024
Metode Diagnosa Klinis AHPND Dengan PSS (Practical Scoring System)
Acute hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) merupakan penyakit udang yang telah menyebabkan kerugian dan menurunkan tingkat produksi udang vaname secara global. Penyebaran penyakit AHPND cukup cepat sejak pertama kali diidentifikasi. Penyakit AHPND ditandai dengan kematian mulai dari 10 hari tebar atau kurang dari 30 hari penebaran. Gejala klinisnya dicirikan dengan hepatopankreas akan berwarna putih, mengecil (atrofi), karapas melunak, usus putus-putus atau kosong, dan bercak hitam karena adanya melanisasi (OIE, 2021).
Umumnya, deteksi penyakit AHPND menggunakan metode molekuler (PCR). Metode PCR membutuhkan peralatan dan keterampilan khusus yang jarang ditemukan pada lokasi tambak udang vaname, sehingga diperlukan metode diagnosis secara klinis oleh teknisi tambak untuk mencegah kerugian serta penyebaran AHPND. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah Practical Scoring System (PSS) yang dirangkum dari Olvera dan Rosales (2022). Metode ini didasarkan pada perubahan saluran pencernaan, perubahan warna, dan tampilan hepatopankreas (HP) secara eksternal dan internal. Setiap perubahan pada PSS dikategorikan 0 dan 1 berdasarkan keberadaan isi usus dan lambung. Khusus hepatopankreas kategori dibagi menjadi 0 hingga 3 dengan klasifikasi hepatopankreas dengan dan tanpa membran.
Langkah-langkah untuk melakukan PSS adalah sebagai berikut:
Sabtu, 10 April 2021
Outbreak Pada Budidaya Udang: Apa yang harus dilakukan?
Pada budidaya udang, oubreak penyakit dapat dikatakan jika terdapat minimal 10 (bisa 20,30 bahkan 50) ekor udang yang mati atau sakit per harinya yang terlihat di tepi tambak dalam lima hari berturut-turut. Atau, terdapat keabnormalitasan pada udang yang mencapai >2% dari populasi. Kondisi ini dapat meningkat menjadi gawat darurat apabila kematian terjadi dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Pola kematian semacam ini dapat disebabkan oleh faktor lingkungan atau kesalahan manajemen. Apabila terdapat indikasi kematian disebabkan oleh penyakit, maka dibutuhkan peran dari petugas laboratorium atau pihak terkait. Petugas yang datang ke lokasi harus mendapatkan sejumlah informasi dan melakukan tindakan lapangan. Proses ini membutuhkan kerjasama dengan pembudidaya ataupun teknisi yang berada di lapangan.
Minggu, 21 Maret 2021
Manajemen Pengendalian Penyakit pada Udang
Pada dasarnya pengendalian penyakit udang meliputi dua hal yaitu pemeriksaan penyakit dan pengamatan faktor budidaya (lingkungan dan manajemen). Keduanya saling berkaitan erat. Langkah pengendalian dilakukan apabila terjadi kondisi abnormal baik pada udang maupun lingkungannya. Namun demikian, sebagian besar metode pengendalian penyakit udang berbasis pada pencegahan seperti:
Kamis, 11 Maret 2021
Pencegahan Penyakit pada Budidaya Udang
Pencegahan adalah metode pertama dan utama yang harus dilakukan pada budidaya perikanan. Tindakan ini mencakup banyak aspek yang bertujuan untuk meminimalisir masuknya patogen dan mempertahankan kesehatan udang sekaligus untuk menghindari timbulnya kerugian. Penyakit pada udang pada dasarnya ada yang bersifat infeksius dan non infeksius. Penyakit yang non infeksius sebenarnya dapat dicegah dengan mengendalikan faktor lingkungan dan memperbaiki nutrisi udang.
Minggu, 31 Januari 2021
Manajemen Kesehatan Udang
Manajamen kesehatan udang merupakan bagian dari biosekuriti untuk keberlanjutan produksi perikanan. Pemahaman mengenai lingkungan, biota, biologi spesies, penyakit, patogen, perkembangan penyakit, diagnosa, epidemiologi, dan pengendalian adalah faktor penting dalam manajamen penyakit udang. Mengapa manajemen kesehatan udang menjadi penting? yakni guna mengetahui munculnya penyakit sedini mungkin sehingga dapat melakukan respon lebih awal sebelum penyakit merebak dan meluas. Fokus manajemen kesehatan udang utamanya bersumber pada pencegahan baik pada pemeliharaan, aspek nutrisi, maupun pengelolaan stress. Teknik manajemen yang baik juga harus diterapkan. Hal ini perlu didukung dengan laboratorium kesehatan ikan yang mampu mendeteksi penyakit secara tepat lebih awal. Oleh karenanya pada budidaya masa kini, laboratorium kesehatan ikan banyak berkembang dengan peralatan yang personel yang telah dilatih.