Nama lain:
Hospes : salmon, terutama rainbow trout (Oncorhynchus mykiss). Brook trout
tidak begitu parah terinfeksi, brown trout (Salmo trutta) lebih resisten
[1],
Stadium rentan :
Kebanyakan terjadi pada ikan muda, kurang dari 12 bulan karena jumlah
cartilago banyak: rasio tulang dan resistensi sangat minimal pada ikan yang
lebih muda [1]. Benih ikan umur 3 hari diketahui dapat terinfeksi parasite
ini . Ikan lebih dari 4,5 bulan dapat menjadi karier asimtomatik [3]
Etiologi/ penyebab:
Myxobolus cerebralis, sporanya sangat resisten dan mampu
bertahan dari pembekuan dan pengeringan untuk waktu yang lama
(bertahun-tahun) [1]. Parasit berkembang dari bentuk seperti amuba menjadi
tropozoit yang oval berukuran 8 x 10 um dengan dua kapsul polar berukuran
3x4um. Tropozoit ini akan membelah menghasilkan pansporoblast hingga menjadi
dua buah spora dan berlokasi di kartilago [2].
Epizootiologi
Penyakit ini kemungkinan besar berasal dari Eropa pada tahun 1904 kemudian
menyebar ke Amerika dan daerah lainnya melalui ikan yang terinfeksi dan
produk perikanan. Negara di Eropa yang terinfeksi penyakit ini antara lain
Denmark, Finlandia, Perancis, Cekoslovakia, Polandia, Norwegia, Austria,
Hongaria, Spanyol, Belanda, sebagian wilayah Rusia, Italia, Jerman,
Yugoslavia, Inggris, Irlandia, Bulgaria, Swedia, Afrika selatan, Selandia
baru, Amerika, sebagian Asia, Turki, Maroko, Libanon. Penyakit ditularkan
secara horizontal. Lebih sering terjadi pada ikan di kolam tanah atau sungai
dibandingkan yang dipelihara dalam kanal yang juga memiliki akses terhadap
hospes intermediet. Oligochaeta (Tubifex tubifex) dapat menjadi inang
perantara siklus tidak langsung parasit. Burung pemakan ikan juga berpotensi
menyebarkan penyakit. Ikan hanya dapat tertular pada kondisi air tawar [1,
3]. Air yang terkontaminasi dan endapan lumpur dapat menjadi reservoir
infeksi. Diketahui bahwa spora dapat bertahan hingga 10-15 tahun di lumpur
atau sedimen. Penularan melalui telur yang telah dibuahi mungkin saja
terjadi. Spora dapat bertahan hingga dua bulan pada ikan yang dibekukan[3].
Faktor pendukung
Lingkungan yang stress dapat memicu timbulnya penyakit [1]
Gejala Klinis
Gejala klinis dapat teramati 28 hari setelah terpapar [3]. Gejala klinis
yang teramati berupa kelainan struktur rangka seperti pembengkokan tulang
rangka (lordosis dan scoliosis), kelainan bentuk kepala (tempurung kepala
mengecil, rahang berubah bentuk, operculum memendek). Hal tersebut terjadi
akibat protozoa mampu merusak tulang rawan. Abnormalitas berenang “whirling”
disebabkan oleh pengerutan batang otak dan tali spinal. Ekor menghitam
disebabkan oleh parasit yang menginfeksi kartilago di posterior tali spinal
[1]. Infeksi pada kartilago menyebabkan tekanan pada syaraf caudal sehingga
kontrol terhadap melanofor dermal di bagian caudal hilang [2]. Benih yang
terinfeksi akut dari air yang terkontaminasi tidak menunjukkan gejala hingga
muncul kematian tinggi. Pada ikan yang lebih tua, gejala whirling dan ekor
menghitam kurang begitu nampak, namun kelainan rangka akan bersifat
permanen. Ikan dengan infeksi ringan tidak menunjukkan gejala klinis namun
membawa spora seumur hidupnya [3].
Gb. Deformasi bentuk tulang pada kasus whirling ikan salmon (Bruno et al., 2010)
Perubahan patologi
Infeksi biasanya menimbulkan gejala patologis 3-4 bulan setelah ikan mulai
makan dan sebelum osifikasi sempurna. Stadium maturasi akan melisiskan dan
mendigesti kondrosit sehingga mengganggu osteogenesis. Ikan dewasa dapat
terinfeksi namun hal ini merupakan hasil dari komplikasi klinis [2].
Beberapa benih ikan dapat mati sebelum muncul gejala whirling [2].
Siklus hidup dan patogenensis
Spora dilepaskan dari kartilago ikan yang mati, kemudian dimakan oleh
oligochaeta Tubifex tubifex. Di dalam epitel usus, spora berkembang menjadi
stadium triactinomyxon. Re infeksi inang dapat terjadi melalui rongga mulut
dan kulit. Tropozoit akan bermigrasi melalui epitel atau tepi saluran
pencernaan dan syaraf perifer untuk menuju cartilago cranial. Pada benih
rainbow trout, proses perkembangan parasit akan sempurna dalam dua hari.
Tropozoit akan masuk ke labirin dan melisiskan kartilago kepala dan
vertebrae. Ketika osifikasi sedang berjalan, gangguan osteogenesis
mengakibatkan kelainan struktur rangka dan kepala secara permanen. Tropozoit
yang masuk ke labirin juga akan mengakibatkan kelainan perilaku seperti
hilangnya keseimbangan. Pada banyak kasus, penyakit dapat bersifat kronis
dan spora tetap ada hingga beberapa tahun [2].
Diagnosa banding
Infeksi parasit myxosporea lainnya, defisiensi vitamin C, VHS, OMV, Yersinia
ruckeri, inkubasi suhu tinggi [1]
Metode Diagnosa
Pemeriksaan enzim pencerna (pepsin-tripsin) kartilago untuk spora, pewarnaan
dengan metilin biru, giemsa atau malachite green. Histopatologi kepala,
rangka, hancuran kartilago; penggunaan ikan sentinel untuk mendeteksi
parasite; PCR untuk deteksi awal; dan ISH
Pencegahan dan Pengendalian
Tindakan kontrol dilakukan dengan membesarkan tokolan hingga ukuran 6cm pada
air bebas spora, pemeliharaan ikan pada kolam bebas Tubifex, pengeringan,
pembersihan, dan disinfeksi kolam tanah. Toltrazuril dan fumagillin dapat
digunakan sebagai agen terapeutik [1].
Referensi
1. Raidal, S., Garry Cross, Stan Fenwick, Philip Nicholls, Barbara Nowak, Kevin
Ellard, Frances Stephens. 2004. Aquatic Animal Health: Exotic Diseases
Training Manual. Murdoch Print: Australia
2. Bruno, D.W., P.A. Noguera, T.T. Poppe. 2010. A Colour Atlas of Salmonid
Diseases Second Edition. Springer: London
3. Hnath, J.G. 1983. Chapter 27: Whirling Disease dalam Meyer, F.., J.W.
Waren, T.G. Carey (ed). 1983. A Guide to Integrated fish health management
in the great lakes basin. Great lake fishery commision. Michigan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar