-->

Referensi

    Rabu, 20 Mei 2026

    Whirling disease pada ikan salmon

    Nama lain:

    Hospes : salmon, terutama rainbow trout (Oncorhynchus mykiss). Brook trout tidak begitu parah terinfeksi, brown trout (Salmo trutta) lebih resisten [1],

    Stadium rentan :
    Kebanyakan terjadi pada ikan muda, kurang dari 12 bulan karena jumlah cartilago banyak: rasio tulang dan resistensi sangat minimal pada ikan yang lebih muda [1]. Benih ikan umur 3 hari diketahui dapat terinfeksi parasite ini . Ikan lebih dari 4,5 bulan dapat menjadi karier asimtomatik [3]

    Etiologi/ penyebab: 
    Myxobolus cerebralis, sporanya sangat resisten dan mampu bertahan dari pembekuan dan pengeringan untuk waktu yang lama (bertahun-tahun) [1]. Parasit berkembang dari bentuk seperti amuba menjadi tropozoit yang oval berukuran 8 x 10 um dengan dua kapsul polar berukuran 3x4um. Tropozoit ini akan membelah menghasilkan pansporoblast hingga menjadi dua buah spora dan berlokasi di kartilago [2].

    Epizootiologi
    Penyakit ini kemungkinan besar berasal dari Eropa pada tahun 1904 kemudian menyebar ke Amerika dan daerah lainnya melalui ikan yang terinfeksi dan produk perikanan. Negara di Eropa yang terinfeksi penyakit ini antara lain Denmark, Finlandia, Perancis, Cekoslovakia, Polandia, Norwegia, Austria, Hongaria, Spanyol, Belanda, sebagian wilayah Rusia, Italia, Jerman, Yugoslavia, Inggris, Irlandia, Bulgaria, Swedia, Afrika selatan, Selandia baru, Amerika, sebagian Asia, Turki, Maroko, Libanon. Penyakit ditularkan secara horizontal. Lebih sering terjadi pada ikan di kolam tanah atau sungai dibandingkan yang dipelihara dalam kanal yang juga memiliki akses terhadap hospes intermediet. Oligochaeta (Tubifex tubifex) dapat menjadi inang perantara siklus tidak langsung parasit. Burung pemakan ikan juga berpotensi menyebarkan penyakit. Ikan hanya dapat tertular pada kondisi air tawar [1, 3]. Air yang terkontaminasi dan endapan lumpur dapat menjadi reservoir infeksi. Diketahui bahwa spora dapat bertahan hingga 10-15 tahun di lumpur atau sedimen. Penularan melalui telur yang telah dibuahi mungkin saja terjadi. Spora dapat bertahan hingga dua bulan pada ikan yang dibekukan[3].

    Faktor pendukung
    Lingkungan yang stress dapat memicu timbulnya penyakit [1]

    Gejala Klinis
    Gejala klinis dapat teramati 28 hari setelah terpapar [3]. Gejala klinis yang teramati berupa kelainan struktur rangka seperti pembengkokan tulang rangka (lordosis dan scoliosis), kelainan bentuk kepala (tempurung kepala mengecil, rahang berubah bentuk, operculum memendek). Hal tersebut terjadi akibat protozoa mampu merusak tulang rawan. Abnormalitas berenang “whirling” disebabkan oleh pengerutan batang otak dan tali spinal. Ekor menghitam disebabkan oleh parasit yang menginfeksi kartilago di posterior tali spinal [1]. Infeksi pada kartilago menyebabkan tekanan pada syaraf caudal sehingga kontrol terhadap melanofor dermal di bagian caudal hilang [2]. Benih yang terinfeksi akut dari air yang terkontaminasi tidak menunjukkan gejala hingga muncul kematian tinggi. Pada ikan yang lebih tua, gejala whirling dan ekor menghitam kurang begitu nampak, namun kelainan rangka akan bersifat permanen. Ikan dengan infeksi ringan tidak menunjukkan gejala klinis namun membawa spora seumur hidupnya [3].

    Gb. Deformasi bentuk tulang pada kasus whirling ikan salmon (Bruno et al., 2010)

    Perubahan patologi
    Infeksi biasanya menimbulkan gejala patologis 3-4 bulan setelah ikan mulai makan dan sebelum osifikasi sempurna. Stadium maturasi akan melisiskan dan mendigesti kondrosit sehingga mengganggu osteogenesis. Ikan dewasa dapat terinfeksi namun hal ini merupakan hasil dari komplikasi klinis [2]. Beberapa benih ikan dapat mati sebelum muncul gejala whirling [2].

    Siklus hidup dan patogenensis
    Spora dilepaskan dari kartilago ikan yang mati, kemudian dimakan oleh oligochaeta Tubifex tubifex. Di dalam epitel usus, spora berkembang menjadi stadium triactinomyxon. Re infeksi inang dapat terjadi melalui rongga mulut dan kulit. Tropozoit akan bermigrasi melalui epitel atau tepi saluran pencernaan dan syaraf perifer untuk menuju cartilago cranial. Pada benih rainbow trout, proses perkembangan parasit akan sempurna dalam dua hari. Tropozoit akan masuk ke labirin dan melisiskan kartilago kepala dan vertebrae. Ketika osifikasi sedang berjalan, gangguan osteogenesis mengakibatkan kelainan struktur rangka dan kepala secara permanen. Tropozoit yang masuk ke labirin juga akan mengakibatkan kelainan perilaku seperti hilangnya keseimbangan. Pada banyak kasus, penyakit dapat bersifat kronis dan spora tetap ada hingga beberapa tahun [2].

    Diagnosa banding
    Infeksi parasit myxosporea lainnya, defisiensi vitamin C, VHS, OMV, Yersinia ruckeri, inkubasi suhu tinggi [1]

    Metode Diagnosa
    Pemeriksaan enzim pencerna (pepsin-tripsin) kartilago untuk spora, pewarnaan dengan metilin biru, giemsa atau malachite green. Histopatologi kepala, rangka, hancuran kartilago; penggunaan ikan sentinel untuk mendeteksi parasite; PCR untuk deteksi awal; dan ISH

    Pencegahan dan Pengendalian
    Tindakan kontrol dilakukan dengan membesarkan tokolan hingga ukuran 6cm pada air bebas spora, pemeliharaan ikan pada kolam bebas Tubifex, pengeringan, pembersihan, dan disinfeksi kolam tanah. Toltrazuril dan fumagillin dapat digunakan sebagai agen terapeutik [1].

    Referensi
    1. Raidal, S., Garry Cross, Stan Fenwick, Philip Nicholls, Barbara Nowak, Kevin Ellard, Frances Stephens. 2004. Aquatic Animal Health: Exotic Diseases Training Manual. Murdoch Print: Australia

    2. Bruno, D.W., P.A. Noguera, T.T. Poppe. 2010. A Colour Atlas of Salmonid Diseases Second Edition. Springer: London

    3. Hnath, J.G. 1983. Chapter 27: Whirling Disease dalam Meyer, F.., J.W. Waren, T.G. Carey (ed). 1983. A Guide to Integrated fish health management in the great lakes basin. Great lake fishery commision. Michigan


    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar