-->

atas

    Minggu, 30 Agustus 2026

    Melanomakrofag Dan Perannya pada Ikan

    Melanomakrofag adalah salah satu bentuk sel kekebalan yang khusus terdapat pada ikan teleostei [1]. Bentukan ini tidak teramati pada vertebrata tingkat tinggi [2].  Melanomakrofag tersusun dari berbagai pigmen seperti hemosiderin, lipofuscin, ceroid (kuning-pink hingga kecoklatan) dan melanin (hitam). Sel-sel ini umumnya bersifat soliter pada ikan salmon. Namun demikian pada ikan teleostei, melanomakrofag biasanya terkapsulasi dan disebut dengan melanomakrofag center (MMC). MMC sering ditemukan pada tepi pembuluh darah dan ditemukan di organ hematopoietik (pembentuk sel darah) terutama limpa dan ginjal. Namun demikian, melanomakrofag juga dapat ditemukan pada organ hati, gonad, timus, dan lainnya [1,9]. 

    Pigmen yang menyusun MMC memiliki fungsi yang berbeda-beda [7]. Terdapat setidaknya empat jenis pigmen yaitu melanin, lipofuscin, ceroid, dan hemosiderin [9] . Pigmen melanin dihasilkan oleh melanosit. Pigmen ini diketahui dapat menetralkan radikal bebas dan aktifitas kation yang berkaitan dengan kondisi oksidatif [7]. Pigmen lipofuscin merupakan pigmen dominan yang berasal dari polimerisasi oksidatif asam lemak polyunsaturated (PUFA). Pigmen ini dapat muncul pada ikan sebagai akibat adanya defisiensi pakan. Oleh karenanya sangat umum bila pigmen ini dijumpai pada individu yang kurus. Pigmen ceroid  atau lipofuscin juga dapat terakumulasi pada kondisi patologis seperti defisiensi nutrisi, penyakit bakterial, virus, dan toksisitas. Sedangkan pigmen hemosiderin biasa muncul pada kondisi tertentu seperti anemia hemolitik. Pigmen ini berwarna coklat dan mengandung zat besi yang berasal dari katabolisme hemoglobin dari eritrosit. Hemosiderin biasanya berlokasi berdekatan dengan lipofuscin dan keberadaannya sebagaian besar terbatas pada MMC di limpa [9]

    Pada teleostei tingkat rendah, MMC berkelompok berwarna hitam di berbagai jaringan hematopoietik. Sedangkan pada teleostei tingkat tinggi, pigmen berwarna hitam yang ditemukan di MMC sangat sedikit dan lebih banyak terlihat pigmen cerah yang kemungkinan merupakan lipofuscin [2]. MMC secara normal sangat umum ditemukan pada ikan sehat [6] Dan jumlahnya akan meningkat pada ikan yang lebih tua [7]. Bentuknya  berbeda-beda antar species, organ dan bergantung pada kondisi fisiologis (umur, perombakan jaringan, melabolisme zat besi dan hemoglobin), kondisi patologis dan imunologis ikan. Beberapa studi juga membuktikan adanya perubahan melanomakrofag berkaitan dengan perubahan lingkungan [9]. 


    Gb. Histolog igranuloma padai ginjal posterior ikan Chinook salmon yang terinfeksi oleh Renibacterium salmoninarum dimana area jaringan dipenuhi oleh melamonamkrofag disertai berbagai pigmen (Woo et al., 2011)

    MMC seringkali diduga terlihat dalam penjebakan antigen dan berperan sebagai pengingat atau memori dalam kekebalan [5]. MMC berperan sebagai tempat penyimpanan produk akhir dari pemecahan sel seperti fosfolipid. MMC juga banyak muncul pada ikan yang mengalami stress kronis, ikan yang tidak sehat, hidup di daerah tercemar, atau dalam kondisi katabolisme (misal, kelaparan). Pada ikan-ikan dengan kondisi tersebut, MMC akan tampak lebih banyak, lebih besar, dan lebih gelap. Kondisi ini juga dapat dijumpai pada ikan-ikan yang berusia lebih tua, berpenyakit, dan memiliki ketidakseimbangan pakan [1,3].

    Jumlah MMC cenderung mengalami peningkatan ketika ikan mengalami stress kronis. Namun demikian untuk dapat mendiagnosa stress kronis, pengamat harus mengetahui jumlah MMC normal pada spesies tersebut. Dan perlu diketahui bahwa tidak semua stress kronis selalu terjadi peningkatan MMC [4]. 

    Munculnya melanomakrofag pada ikan secara patologis dapat berkaitan dengan infestasi patogen baik parasit, bakteri, maupun virus [3]. MMC akan merespon benda asing dan agen infeksius. Makrofag mengambil peran untuk menangkal dan memigraskan benda asing tersebut [9]. Keberadaan MMC dapat menjadi adanya indikasi radang kronis. Bentukan MMC Pada radang kronis ini dapat ditemukan pada stroma organ ginjal, limpa, hati [8].  

    Pada ikan dengan infestasi parasit aporocotylid, Stephanostomum tenue, cestoda, melanomakrofag dijumpai bersama kapsula fibrotik membentuk massa granuloma. Bentukan ini diduga merupakan proses degradasi dari parasit dewasa [3]. Hal yang serupa juga dijumpai pada infestasi larva digenea yang membentuk kista. Karakteristik blackspot akan terbentuk dimana kapsulnya sebagaian tersusun dari fibrosis bercampur dengan melanomakrofag dan limfosit [4]. Serupa dengan parasit, granuloma yang terbentuk pada infeksi kronis bakteri Francisella nuatunensis dan mycobacterium dapat mengandung  melanomakrofag. Pada infeksi Photobacterium damselae, peningkatan  melanomakrofag center dan hemosiderin teramati pada limpa, ginjal dan hati. Hal yang serupa juga dapat dijumpai pada penyakit bakteri lain seperti pada infeksi Edwardsiella tarda, vibriosis, dan Bacterial Kidney Disease yang diseabkan oleh Renibacterium salmoninarum [8]


    Gb. Gambaran Melanomakrofag yang mengelilingi parasit (P) larvadigenea "blackspot" pada ikan pumpkinseed (Lepomis gibbosus) (H&E stain. image by S.A. Smith.)

    Kemunculan melanomakrofag juga dapat berkaitan dengan kasus virus. Misalnya pada VHSV (Viral Haemorrhagic Septicaemia Virus) dimana virus dapat terdeteksi pada makrofag dan melanomakrofag. Peningkatan jumlah melanomakrofag juga teramati pada kasus Spring Viremia of Carp (SVC). Namun demikian, tidak semua kasus infeksi virus disertai dengan peningkatan MMC. Misalnya pada penyakit Red Seabream Iridovirus (RSIV) dimana limpa akan dipenuhi dengan enlarged cell disertai nekrosis jaringan dan penurunan jumlah MMC [8]

    Pentingnya MMC ini menjadi sorotan bagi peneliti. Keberadaannya yang berkaitan dengan stresor menjadikan MMC dapat digunakan sebagai biomarker untuk memantau Kesehatan ikan baik di alam maupun di budidaya. Di masa mendatangi tehnik pendokumentasian Dan pewarnaan seperti imunohistokimia disertai dengan penilaian dapat membantu menginterpretasikan dinamika MMC pada ikan [10]. 

    1. Fergusson, F.W. (ed). 2006. Systemic Pathology of Fish A Text and Atlas of Normal Tissues in Teleosts and their Responses in Disease. Scotian Press: UK
    2. Roberts, R.J (Ed). 2012. Fish Pathology 4th Ed. Wiley-Blackwell: UK
    3. Eiras, J.C., H. Segner,T. Wahli,B.G. Kappoor (ed). 2008. Fish Diseases Volume 2. Science Publishers:
    4. Smith, Rohana Subasinghe, Michael Phillips. 2004. Introductions and movement of Penaeus vannamei and Penaeus stylirostris in Asia and the Pacific. Food and Agriculture Organization of The United Nations Regional Office For Asia and The Pacific.
    5. Jeney, G (Ed). 2017. Fish Diseases Prevention and Control St,,rategies. Academic Press
    6. Noga, E J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Blackwell Publishing
    7. Bruno, D.W., P.A. Noguera, T.T. Poppe. 2010. A Colour Atlas of Salmonid Diseases Second Edition. Springer: London
    8. Woo, P.T.K dan Bruno, D.W (Ed). 2011. Fish Diseases and Disorders, Volume 3: Viral, bacterial and Fungal Infections 2nd Edition. CABi: UK
    9. Agius, C., & Roberts, R. J. (2003). Melano-macrophage centres and their role in fish pathology. Journal of Fish Diseases, 26(9), 499–509. https://doi.org/10.1046/j.1365-2761.2003.00485.x
    10. Nature. Melano-macrophage centers in fish health assessment. Nature Index. Diakses pada 26 Agustus 2026, dari https://www.nature.com/nature-index/topics/l4/melano-macrophage-centers-in-fish-health-assessment

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar