-->

    Monday, 18 December 2017

    Tilapia Lake Virus (TiLV) - Updated

    Etiologi/ penyebab: 

    Orthomyxo-like virus, genus baru dari family Orthomyxoviridae. Virus ini berkaitan erat dengan virus influenza tipe C pada manusia [1]. Biologi dari virus ini belum banyak diketahui [3]. Virus ini memiliki 10 segmen dengan negative sense RNA genome, beramplop dengan partikel icosahedral 55-75nm [5,6]. Sembilan dari segmen gen virus ini tidak memiliki kesamaan dengan virus lainnya, hanya satu segmen yang sangat mirip dengan protein virus influenza tipe C. Virus ini bereplikasi di inti dari sel ikan [4]. Virus ini sensitive terhadap eter dan kloroform [5]. Virus ini mampu hidup di perairan tawar dan payau [12]

    Hospes:
    Virus ini hanya menyerang jenis ikan nila. Virus ini menyerang spesies S. galilaeus (Israel), T. zilli, O. aureus, T. simonis intermedia, persilangan Oreochromis niloticus Oreochromis aureus, Oreochromis niloticus [5,6], nile tilapia dan tilapia hybrid [9,10].
    Stadium rentan
    Dilaporkan tokolan paling sering terinfeksi. Sekitar 90% kematian terdapat pada tokolan nila merah umur 1 bulan pasca tebar di pembesaran. Sekitar 9% kematian pada ukuran medium-dewasa [12]. Di Thailand, ikan yang terinfeksi berukuran hingga 50gram. Namun, pada studi terkini telur yang dibuahi, larva, benih, dan tokolan terdeteksi positif TiLV [29]. Sedangkan di Mesir, kematian terdapat pada ikan berukuran >100gram [7]

    Epizootiologi
    Pada tahun 2009, di negara Israel teramati adanya penurunan produksi ikan nila secara tajam. Penurunan ini tidaklah biasa dan banyak dugaan mengarah pada infeksi virus ataupun infeksi resisten. Di Israel virus ini menyerang ikan nila alam yang ada di danau Kinneret (Sea of Galilee) dan ikan di kolam komersial [3]. Beberapa tahun kemudian ikan-ikan di kolam komersial di Ekuador juga mengalami kematian massal. Penyakit di kedua negara ini tampaknya tidak saling berkaitan sebab di Israel teramati gejala kerusakan otak dan sistem syaraf sementara di Ekuador perubahan yang terjadi terdapat di hati. Namun pada akhir tahun 2012 para peneliti membawa sampel ikan nila dari kedua tersebut dan hasilnya berupa virus baru. Hasil sequence ikan nila dari Ekuador dan Israel menunjukkan virus yang sama. Meskipun demikian belum diketahui bagaimana virus ini dapat berpindah antara Israel dan Ekuador [4]. Kematian yang dapat ditimbulkan oleh penyakit ini berkisar 80-100% dari total ikan yang terinfeksi [1]. Virus ini telah mengakibatkan kerugian sebesar USD 7,5 juta pada industri ikan nila di seluruh dunia setiap tahunnya [5]. Pada percobaan di Ekuador, kematian dimulai 4-7 hari pasca infeksi benih  (panjang 3cm, berat 3gr) dengan  hanya 20% saja yang bertahan [8]. Sedangkan pada uji in vivo yang dilakukan oleh Tattiyapong et al (2017), kematian dalam 4-12 hari pasca injeksi intraperitoneal pada nila merah adalah 66% dan nila 86% [20].


    Di Israel outbreak dari virus ini terjadi pada musim panas (Mei hingga Oktober). Virus ini dapat ditularkan dari ikan sakit ke ikan sehat. Virus ini juga dapat menyebar dari satu kolam ke kolam lain. Studi juga menunjukkan virus ini dapat menyebar melalui air. Namun demikian morbiditas dan mortalitasnya hanya terbatas pada jenis ikan nila saja (Oreochromis niloticus Oreochromis aureus). Pada kasus di Israel, spesies lain yang dibudidayakan di kolam yang sama dengan ikan nila seperti ikan mas (Cyprinus carpio) dan gray mullet (Mugil cephalus) tidak menunjukkan gejala klinis serupa dengan ikan nila bahkan setelah kohabitasi jangka panjang [5, 6]. Penularan TiLV adalah secara horizontal langsung. Belum ada laporan penularan secara horizontal. Ikan yang terinfeksi baik dalam lingkungan budidaya maupun liar merupakan satu-satunya reservoir dari infeksi. Sedangkan sumber aslinya belum diketahui [12].

    Kasus TiLV terbaru dilaporkan di Mesir tahun 2017. Kasus ini diawali dengan kematian ikan nila pada musim panas atau sindrom kematian musim panas. Kematian ini telah terjadi dalam 3-4 tahun terakhir. Sekitar 37% kolam nila terpapar [7]. Rilis OIE pada bulan Juni 2017 menyatakan bahwa China Taipei telah terdeteksi virus TiLV pada ikan nila (O. niloticus x O. aureus). Mortalitas dan morbiditas sekitar 6,4% [30]. Negara lain yang sudah mendeklarasikan keberadaan virus ini adalah Kolombia, Ekuador, dan Thailand [9]. Gejala klinis dan kematian tinggi nila di Thailand teramati pada ikan dengan berat 1-50gram. Kematiannya dapat mencapai 20-90%. Kematian akan lebih tinggi lagi bila ada infeksi parasit dan bakteri. Mortalitas tertinggi terjadi dalam 14 hari setelah ditemukan ikan mati [10]. Variasi tingkat kematian ditemukan di Thailand dimana sekitar 20% pada budidaya campuran nila merah dan nile tilapia pada kolam tanah hingga 90% pada keramba apung [28]. Di akhir 2017, publikasi terkini terkait TiLV adalah pernyataan keberadaan TiLV di India. Nila di dua daerah yakni Kerala dan Bengal Barat terdiagnosa terinfeksi TiLV secara RT PCR, sequencing, histopatologi, cell line, dan bioassay. Tingkat kematian berkisar antara 80-90%. Ikan yang dikohabitasikan dengan ikan nila seperti carp (Labeo rohita, Catla catla, Cirrhinus mrigala), bandeng , dan pearl spot (Etroplus suratensis) tidak menunjukkan gejala klinis [32]

     Pada komunikasi singkat yang dipublikasikan oleh Nicholson et al (2017), dari 8 farm nila komersial dari area delta sungai Nil, Mesir, morbiditas pada saat terjadi outbreak di tahun 2015 teramati sebesar 43-100% dimana 5 dari 8 farm terdeteksi positif TiLV dan semua farm teridentifikasi Aeromonas (A. hydrophilla, A. veronii, A. ichtiosmia, A. enteropelogenes, A. jandaei). Pada farm nila di Mesir, spesies Aeromonas terdeteksi sejak beberapa decade yang lalu berkaitan dengan beberapa outbreak penyakit (Ali, 2013 dalam Nicholson et al (2017) [15]. Disamping Aeromonas, infeksi yang berbarengan dengan TiLV antara lain Flavobacterium, Streptococcus, dan infestasi monogenean Dactylogyrus, Gyrodactylus, Trichodina [10]

     (*** informasi pada awal Agustus, dilansir dari “Egypt Independent” [22] dan “Egypt Today” [23] bahwasannya terdapat sanggahan terhadap adanya publikasi yang menyatakan adanya penyakit TiLV di Mesir. Hal ini masih membutuhkan klarifikasi lebih lanjut, terutama dari OIE. Disamping itu terdapat adanya laporan teridentifikasinya virus ini di Taiwan pada tambak di Taoyuan. Kematian dilaporkan sebanyak 2000-3000 ekor nila dan setelah diuji laboratorium terdeteksi TiLV [24])
    Dong et al (2017) melakukan studi dimana dilakukan investigasi terhadap infeksi TiLV dari sampel ikan yang baik yang baru maupun yang tersimpan sejak tahun 2012 hingga 2017 dari  berbagai hatcheri di Thailand. Hasilnya sangat mengejutkan, dimana sebagian besar sampel positif TiLV termasuk pada sampel lama. Dengan teridentifikasinya TiLV pada sampel tahun 2012, artinya ada lebih dari 40 negara di dunia yang telah mengimport benih dan tokolan nila dari Thailand yang beresiko terinfeksi TiLV. Oleh karenanya sangat direkomendasikan bagi negara pengimport untuk keperluan budidaya melakukan surveilans dan memasukkan TiLV dalam daftar inspeksi karantina [27]. Ke 40 negara yang dimaksud antara lain: Algeria, Bahrain, Bangladesh, Belgia, Burundi, Kanada, China, Kongo, Jerman, Guatemala, India, Indonesia, Jepang, Jordania, Laos, Malaysia, Mozambique, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Filipina, Rumania, Rwanda, Saudi Arabia, Singapura, Afrika selatan, Sri Lanka, Switzerland, Tanzania, Togo, Tunisia, Turki, Turkmenistan, Uganda, Ukraina, United Emirat Arab, Inggris, Amerika Serikat, Vietnam, dan Zambia. Sedangkan 3 negara lainny, El salvador, Meksiko, dan Nepal berpotensi rendah sebab melakukan importasi sebelum tahun 2012 [26].




    Gb. Peta sebaran TiLV di dunia. Warna merah: terlaporkan adanya TiLV. Warna oranye: 40 negara berpotensi tinggi terhadap TiLV; warna oranye muda: negara berpotensi rendah terhadap TiLV


    Faktor Predisposisi/ Faktor pendukung
    Outbreak yang terjadi pada musim panas (suhu air relative tinggi) mengindikasikan keterkaitan dengan agen infeksius. Suhu air banyak berpengaruh pada kejadian penyakit ikan oleh parasite, bakteri, dan virus. Mortalitas terbesar lebih teramati pada kolam (sirkulasi tertutup) dibandingkan dengan perairan umum seperti danau (sirkulasi terbuka) [6]. Pada kasus kematian di Mesir, kolam yang besar, kepadatan yang tinggi, dan budidaya polikultur nila dengan grey mullet diduga berperan pada kejadian TiLV [7]. Di Thailand ikan yang terinfeksi didapati 1 bulan pasca tebar di pembesaran [10]. Penyakit ini lebih rentan terjadi pada pemindahan ikan antar kolam. Stress juga berkaitan dengan kejadian penyakit TiLV. Kaitan faktor lingkungan belum dapat teridentifikasi [12].

    Gejala Klinis
    Ikan yang terinfeksi menunjukkan gejala lesi dan ulcer pada kulit, sisik terangkat, distensi abdomen, dan abnormalitas mata. Pada mata mengalami katarak (kehilangan opacity nya), lensa rupture dengan uveitis atau endophthalmitis, serta buphthalmia (pembengkakan bola mata), dan kehilangan fungsi lensa (phthisis bulbi). Kornea terkadang mengalami perforasi (berlubang) dan mengerut serta kehilangan fungsinya. Ikan menjadi kehilangan nafsu makan, gerakan lambat, berkumpul di dasar kolam, berkurangnya perilaku schooling (bergerak searah dan seirama) [8, 11,17]. Hasil pengamatan pada kasus di Israel menunjukkan gejala berupa letargi, tubuh menghitam, endopthalmitis, erosi kulit, kongesti ginjal, degenerasi ocular, dan encephalitis [5,6]. Penelitian berbeda di Ekuador menemukan bahwa perubahan lebih banyak terdapat pada hati dan saluran pencernaan dibandingkan sistem syaraf [5,6]. Hal menarik di temukan di Thailand yakni ikan yang mampu bertahan dari kematian massal jarang menunjukkan gejala klinis. Ini mengindikasikan adanya perkembangan imunitas untuk bertahan dan melawan virus [10].

    Gb. Ikan nila yang terinfeksi menunjukkan gejala berupa bola mata yang masuk
    ke dalam dan hilangnya fungsi okuler (phthisis bulbi) (picture credit to Eyngor et al., 2014) 



    Perubahan patologi
    Organ utama yang menjadi target adalah mata, otak, dan hati [12]. Perubahan makroskopis ditunjukkan dengan perubahan okuler, meliputi kekeruhan lensa (katarak). Pada kasus lebih lanjut lensa mengalami ruptur, phacoclastic induced uveitis atau endopthalmitis yang disertai pembentukan membrane cyclitic, diikuti dengan pembengkakan bola mata (bupthalmia), kehilangan integritas bola mata dengan kornea berlubang, penyusutan, dan hilangnya fungsi ocular (phthisis bulbi). Secara mikroskopis terlihat adanya undulasi, penipisan, coiled, dan rupture kapsula lenticular, dikelilingi oleh fibroplasia sirkuler serta fibrosis dengan multiple synechia hingga ke iris dan corpus ciliaris (posterior synechia). Teramati juga adanya sejumlah sel eosinofilik bergranula dan MMC.  Infiltrasi ini meluas hingga ke anterior chamber, iris, vitreous humour, dan choroid (endopthalmitis). Terdapat perubahan berupa katarak pada lensa yang dicirikan struktur spheris homogen eosinofilik (morgagnian globules), sel epitel lensa membesar dengan sitoplasma eosinofilik microvacuolated (sel bladder), large lakes of proteinaceous fluid (liquefied lens fibers), sel panjang pipih dan mengalami mineralisasi (fibrous metaplasia). Sel epitel squamus kornea mengalami erosi dan ulcerasi, terinfiltrasi oleh limfosit, makrofag, eosinophil, dan dibatasi stroma neovaskularisasi serta edema [6].

    Pada otak, perubahan histopatologi yang teramati berupa edema, hemoragi pada leptomeninges, dan kongesti kapiler pada white dan gray matter. Foki gliosis dan perivascular cuffing limfosit juga teramati. Beberapa neuron pada telencephalon dan sebagian lobus opticus menunjukkan berbagai tingkatan degenerasi neuron, termasuk vakuolisasi dan rarefaction sitoplasmik serta pergeseran inti ke tepi (central chromatolysis) [6]. Selain encephalitis, meningitis kronis ringan juga terjadi [7].

    Gb. Perivascular cuffing limfosit pada otak dan cortex 
    (picture credit to Eyngor et al., 2014) 


    Lesi lain yang teramati berupa erosi kulit, hemoragi pada leptomeninges, kongesti pada limpa dan ginjal. Pada hati terdapat foki pembengkakan dan kosong dari sel-sel hati. Sitoplasma sel hati terakumulasi pigmen bergranula berwarna kuning  hingga coklat (lipoprotein) [6, 18]. Hepatitis kronis, multifokal, dan perivascular juga teramati [7]. Ditemukan multinucleated giant cell atau pembentukan syncytial [4,5]. Syncytial  disini dapat diartikan sebagai massa sitoplasma yang memiliki banyak inti sel tanpa memiliki batas internal. Sel-sel multinuclear ini dapat berasal dari satu sel atau fusi dari beberapa sel (-red) [18].
          Limpa mengalami hyperplasia dengan proliferasi limfosit mengelilingi bentukan ellipsoid. MMC baik di hati maupun limpa meningkat, ukuran dan jumlahnya [6]. MMC teramati pada stadium akhir dari infeksi kronis [17]. Kongesti dan atau hemoragi umum ditemukan juga pada limpa. Epidermis secara moderat mengalami hemoragi superficial, peradangan, dan oedema [7].

    Syncytial Hepatitis (SHT) dan TiLV.
    Syncytial hepatitis of Tilapia (SHT) diduga merupakan virus baru yang menyebabkan kematian nila di Ekuador [19]. Organ target utama adalah saluran pencernaan termasuk hati. Virionnya ditemukan hanya di hepatosit pada space of disse (perisinusoid space), bukan di dalam endotel, yang artinya virus SHT merupakan virus epithelial. Karakteristik dari SHT adalah pembentukan syncytia yang bukan merupakan ciri dari orthomyxovirus. Pembentukan syncytia dipicu oleh faktor fusi, seperti yang dimiliki oleh paramyxovirus. Penyakit ikan yang berkaitan dengan hepatoseluler syncytia juga pernah dilaporkan pada infeksi reovirus-like dan herpesvirus [19]. TiLV secara histopatologi salah satunya dicirikan dengan pembentukan syncytial. Meskipun demikian terjadi perbedaan tissue tropism (jaringan yang disenangi patogen) secara makroskopis dan histologi antara SHT dan TiLV. Pada TiLV lesi ditandai dengan encephalitis, opthalmitis, degenerasi hepatoseluler. Sedangkan pada SHT terjadi nekrosis hati dengan dissosiasi/ pembentukan syncytia yang disertai nekrosis mukosa saluran pencernaan. Hal ini mengindikasikan keduanya adalah virus yang berbeda, meskipun  perbedaan tissue tropism mungkin saja terjadi pada 1 virus. Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya tissue tropism antara lain strain, umur ikan, dan variasi kerentanan interstrain terhadap SHT. SHT terjadi hanya pada benih yang kematiannya terjadi secara cepat. Sedangkan TiLV terjadi pada ikan yang lebih besar dan melalui percobaan mampu bertahan 7-10 hari pasca infeksi. Walaupun terdapat perbedaan tissue tropism, virus yang berkaitan dengan SHT secara ultrastruktur serupa dengan kelompok orthomyxovirus, yang memiliki homologi genetic (sebagian) dengan TiLV [18].

    Gb. Multinucleated giant cell atau pembentukan syncytial pada hati 
    (picture Copyright © Bacharach et al. (2016)) 

    Metode Diagnosa
    Diagnosa presumtif ditentukan dengan melakukan kultur virus dari ikan yang terinfeksi pada E-11 cell line atau sel otak ikan nila. Hasil propagasi menunjukkan CPE pada hari ke 5-10 pasca infeksi. Metode lain yang dapat digunakan adalah in situ Hibridisasi. Analisis Transmission Electron Microscopy dipergunakan untuk melihat induksi CPE pada biakan yang terinfeksi. Studi eksperimen untuk menghasilkan penyakit serupa dapat dilakukan dengan infeksi buatan secara intra peritoneal ataupun mengunakan infeksi alami secara kohabitasi. Analisis histopatologi dari organ yang difiksasi menggunakan NBF 10% dilakukan untuk melihat perubahan jaringan yang disebabkan oleh virus ini. Pemeriksaan secara PCR (RT-PCR dan semi-nested PCR) dapat dilakukan dari organ otak, ginjal, hati, jantung, dan limpa [5, 6, 11,12].
     Protokol semi-nested PCR telah dikembangkan dan dapat digunakan secara bebas untuk mendeteksi TiLV. Sampel terinfeksi berat akan memiliki2 band aplicon pada 415bp dan 250bp, sedangkan yang terinfeksi ringan hanya memiliki band 250bp [13]. Deteksi TiLV dengan metode PCR baik nested maupun qPCR serta cell line pada sampel kasus klinis telah dipaparkan oleh Tsofack et al (2016) [16]. Pengembangan metode PCR terbaru adalah SYBR green based reverse transcription quantitative PCR (RT-qPCR). Metode ini dapat menggunakan jaringan insang, hati, otak, jantung, ginjal anterior, dan limpa. Metode RT-qPCR ini lebih baik dari metode sebelumnya sebab mampu medeteksi hingga pengenceran 10-7 (100 kali lebih baik daripada RT konvensional PCR dan 10.000 kali lebih baik daripada kultur sel [31]. Partikel virus intrasitoplasmik dapat teramati pada jaringan terinfeksi dengan TEM [14]. Uji dengan in situ hivbridisasi (ISH) mengindikasikan virus ini melakukan replikasi dan transkripsi pada lokasi terjadinya perubahan patologi di hati dan sistem syaraf pusat [17]. TiLV telah dapat direproduksi secara eksperimental melalui pasase (low-passage) injeksi intraperitoneal dengan kematian >80% dan  80-100% dengan kohabitasi [8]. Uji postulat Koch telah dilakukan oleh Tattiyapong et al (2017) dimana ia menginjeksikan supernatant secara intraperitoneal dari kultur sel E-11 sebanyak 1 x 106 TCID50/ikan. Pada pengamatan selama 14 hari, gejala klinis teramati muncul pada hari 3-5 pasca infeksi. Tingkat kematian pada studi ini adalah 86% pada nila dan 66% pada nila merah [20]
    Sebuah penelitian terbaru dari Liamnimitr et al (2018) menemukan bahwa mucus dapat digunakan untuk sampling non-lethal virus TiLV. Mukus dianggap lebih mudah dilakukan di lapangan dan di laboratorium. Metode ini dapat dilakukan pada ikan nila bernilai tinggi dan ikan ukuran dewasa (konsumsi). Melalui kohabitasi, virus dapat terdeteksi di mucus 1-12 hari setelah infeksi. Sedangkan di hati dan usus terdeteksi 2-5 hari pasca infeksi. Virus berada di hati dan usus hingga 14 hari dan 12 hari pasca infeksi. Pada penelitian ini, ikan nila sehat dapat terinfeksi TiLV 1-2 hari setelah terpapar dengan ikan terinfeksi. Pada infeksi awal, jumlah virus di jaringan terinfeksi masih rendah. Penelitian yang sama juga menemukan bahwa tidak ada virus TiLV terdeteksi pada sampel feces. Namun demikian hal ini belum pasti, apakah feces dapat menyebarkan virus TiLV pada kondisi alami [33]

    Diagnosa Banding
    -

    Pencegahan dan Pengendalian
    Penyakit ini termasuk penyakit baru. Vaksin yang digunakan untuk pencegahan hingga saat ini masih dalam tahap penelitian dan pengembangan [3]. Pada studi yang dilakukan oleh Eyngor et al (2014), ikan yang bertahan dari mortalitas penyakit ini menjadi kebal terhadap infeksi TiLV.  Ikan –ikan inilah yang dapat dikembangkan sebagai indukan untuk mencegah kematian populasi akibat penyakit ini [6].

    Beberapa tindakan yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ini antara lain:[11], [21]
    ·        Kontrol biosekuriti sebelum, selama, dan pasca produksi
    ·        Membatasi perpindahan ikan dari satu farm ke farm lain
    ·        Melakukan cara budidaya ikan yang baik
    ·        Melakukan sanitasi pada seluruh peralatan dan tahapan budidaya
    ·        Memisahkan penggunaan alat antar kolam
    ·        Penggunaan immunostimulan
    ·        Meminimalisir stress pada ikan
    ·        Menurunkan kepadatan tebar
    ·        Pengelolaan pakan dengan baik

    Virus ini masih baru dan perkembangan serta penyebaran virus terus terbaharui sepanjang tahun. Pengetahuan mengenai TiLV masih banyak yang harus dikaji dan diteliti antara lain [9,10]
    · Spesies yang terinfeksi TiLV
    · Uji diagnostic yang terpercaya untuk TiLV
    · Pola penyebaran di dalam dan antar negara apakah melalui nila hidup atau melalui produk perikanan
    · Belum ada informasi ketahanan patogen di luar hospes, stabilitas, tingkat kematian pada berbagai stadia, karier, vector, dan treatmen
    · Pengembangan vaksin
    · Seleksi spesies nila yang resisten

    Beberapa rekomendasi yang diberikan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) antara lain [9,11]:

    Importasi nila hidup
    Negara pengimpor harus memberlakukan perhitungan manajemen resiko untuk menurunkan kemungkinan produk yang diimport terinfeksi TiLV
    ·  Uji diagnostic ikan untuk TiLV
    ·  Sertifikasi kesehatan internasional (negatif TiLV) harus ada, terutama dari negara terinfeksi atau beresiko
    ·  Karantina dan monitoring ikan yang baru tiba dan mengalami kematian
    ·  Respon tanggap darurat berupa penahanan hingga eradikasi bila positif TiLV


    Negara yang terkonfirmasi TiLV
    ·  Melakukan surveilans aktif  untuk menentukan sebaran infeksi dan mengidentifikasi faktor resiko
    · Edukasi masyarakat mengenai TiLV, gejala klinis, dampak ekonomi social, dan pelaporan bila ada kematian massal
    · Melakukan uji diagnostic terpercaya ketika ada kematian nila yang ganjil dan bila ada gejala klinis serupa TiLV
    ·  Mendesain dan melengkapi satu/dua laboratorium nasional untuk melakukan diagnosis TiLV
    ·  Melakukan penelitian untuk mengetahui peranan TiLV dalam kematian massal
    ·  Membangun Task Force dengan representative dari institusi nasional
    ·  Mengimplementasikan program biosekuriti di level pembudidaya

    Negara yang status TiLV belum diketahui/ beresiko
    · Surveilans aktif keberadaan TiLV, spesies rentan dan sebarannya
    · Edukasi masyarakat mengenai TiLV, gejala klinis, dampak ekonomi social, dan pelaporan bila ada kematian massal
    · Membuat analisis resiko terhadap introduksi nila hidup
    · Skrining nila hidup berupa benih atau indukan yang diimport untuk keperluan budidaya
    · Investigasi seluruh laporan kematian ikan nila
    · Mengembangkan respon tanggap darurat terhadap outbreak

    Kesehatan Masyarakat
    Hingga saat ini belum ada laporan hubungan penyakit ini dengan kesehatan manusia dan isu terkait konsumsi nila terinfeksi dari berbagai negara [11]

    Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia
    Melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan, terhadap adanya penyakit Tilapia Lake Virus ini  pemerintah mengambil kebijakan sebagai berikut [25,26,27]:
    1.    Menetapkan Tilapia Lake Virus sebagai penyakit yang harus dicegah pemasukannya ke dalam wilayah RI melalui SK BKIPM no 393/KEP-BKIPM/2017
    2.    Mengeluarkan surat Edaran no 3975/DJPB/VII/2017 mengenai Pencegahan dan pemantauan terhadap penyakit Tilapia Lake Virus (TiLV) pada ikan nila
    3.   Melarang pemasukan calon induk, induk, benih ikan dari negara yang terkena wabah TiLV
    4.   Membatasi pemasukan calon induk, induk, benih ikan dari negara yang tidak terkena wabah TiLV dengan syarat melampirkan izin pemasukan ikan hidup, sertifikat kesehatan bebas TiLV, hasil uji TiLV
    5.  Mendorong terlaksananya CPIB dan CBIB
    6.  Penyediaan benih yang bebas TiLV
    7.  Membatasi lalu lintas antar area untuk daerah yang mengalami permasalahan budidaya nila
    8.  Menerapkan biosekuriti dan sanitasi pada unit pembenihan dan budidaya
    9.  Melakukan surveilans dan monitoring TiLV
    10. Membatasi sementara penebaran benih TiLV di perairan umum
    11. Menjaga padat tebar dan kelayakan kualitas air
    12. Melakukan pengujian TiLV di pintu pemasukan dan pengeluaran
    13. Melakukan analisis resiko importasi ikan nila baik hidup maupun produknya
    14. Memperketat pengujian dan pemeriksaan terutama pada importasi ikan nila oleh Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu
    15. Sosialisasi kepada pembudidaya dan masyarakat terkait penyakit TiLV
    16. Peningkatan kapasitas laboratorium untuk pengujian dan pencegahan TiLV

    Berikutnya adalah hal-hal terkait pengendalian bila terjadi indikasi serangan TiLV [27]
    a. Melapor kepada dinas/ penyuluh/ posikandu/ satgas untuk TiLV
    b. Menyebarluaskan informasi kepada pembudidaya sekitar
    c. Membatasi lalu lintas orang dari dan ke  lokasi wabah
    d. Melarang penggunaan air. sarana, prasarana alat di lokasi wabah
    e. Melakukan pengamatan gejala klinis
    f.  Melakukan pengambilan sampel


    Referensi
    [1] Anonim. Tilapia Lake Virus. From Wikipedia
    [2] Anonim. 2016. Scientist Find Virus behind Tilapia Die-Offs in Israel, Ecuador. China.org.cn
    [3] Anonim. 2016. Scientist Identify Deadly Tilapia Virus. 
    [4] Anonim. 2016. Researchers Discover New Fish Virus That Threatens Global Tilapia Stocks. American Society for Microbiology.
    [5] Bacharach, E.,  Nischay Mishra, Thomas Briese, Michael C. Zody, Japhette Esther Kembou Tsofack, Rachel Zamostiano, Asaf Berkowitz, James Ng, Adam Nitido, AndrĂ© Corvelo, Nora C. Toussaint, Sandra Cathrine Abel Nielsen, Mady Hornig, Jorge Del Pozo, Toby Bloom, Hugh Ferguson, Avi Eldar, W. Ian Lipkin. 2016.  Characterization of a Novel Orthomyxo-like Virus Causing Mass Die-Offs of Tilapia. Journal mBio Volume 7 Issue 2 e00431-16
    [6] Eyngor M, Zamostiano R, Kembou Tsofack JE, Berkowitz A, BercovierH, Tinman S, Lev M, Hurvitz A, Galeotti M, Bacharach E, Eldar A. 2014. Identification of a novel RNA virus lethal to tilapia. J Clin Microbiol 52:4137–4146
    [7]. Mohamed Fathi, Cathryn Dickson, Malcolm Dickson, William Leschen, Johanna Baily, Fiona Muir, Kristina Ulrich, Manfred Weidmann. Identification of Tilapia Lake Virus in Egypt in Nile tilapia affected by ‘summer mortality’ syndrome. Aqua(2016), doi: 10.1016/j.aquaculture.2017.03.014
    [8]. Kibenge, F.B.S. dan Godoy, M.G. 2016. Aquaculture Virology. Academic Press: London
    [9] Food and Agriculture Organization (FAO). 2017. Outbreaks of Tilapia Lake Virus (TiLV) Threaten The Livelihoods and Food Security of Millions of People Dependent on Tilapia Farming. Global information and early warning system on food and agriculture (GIEWS)
    [10] Suratchepong, W., Jenatanakit, T., Nothabenjawan, N., Tattiyapong, P,., Sirikanchana, K., Amonsin, A. 2017. Outbreaks of Tilapia Lake Virus Infection, Thailand, 2015-2016. Research Letter, Emerging Infectious Disease, vol 23, no 6
    [11] CGIAR. 2017. Tilapia Lake Virus (TiLV): What to Know and do?. CGIAR Research Program on Fish, Fact Sheet
    [12] OIE. 2017. Tilapia Lake Virus (TiLV) – A Novel Orthomyxo-Like Virus. OIE, World Organization for Animal Health
    [13] Dong, H.T., Siriroob, S., Meemetta, W., Santimanawong, W., Gangnonngiw, W.,   Pirarat, N., Khunrae, P., Rattanarojpong, T., Vanichviriyakit, R., Senapin, S. 2017. A warning and an improved PCR detection method for tilapia lake virus (TiLV) disease in Thai tilapia farms. ENACA
    [14]. NACA.2017.Tilapia Lake Virus (TiLV) – an Emerging Threat to Farmed Tilapia in The Asia Pacific Region. Disease Advisory NACA
    [15] Nicholson P, Fathi MA, Fischer A, et al. Detection of Tilapia Lake Virus in Egyptian fish farms experiencing high mortalities in 2015. J Fish Dis. 2017;00:1–4.
    [16] Tsofack, J.E.K., Zamostiano,R.,  Watted, S., Berkowitz, A., Rosenbluth, E.,  Mishra, N., Briese, T., Lipkin, W.I., Kabuusu, R.M., Ferguson, H., del Pozo, J., Eldar, A., Bacharach, E. 2016. Detection of Tilapia Lake Virus (TiLV) in Clinical 1 Samples by Culturing and Nested RT-PCR. J. Clin. Microbiol. doi:10.1128/JCM.01808-16
    [17]. Dinesh, R., George, M.R., John, K.R., Abraham, S. 2017. TiLV- A Worldwide Menace to Tilapines Aquaculture. Journal of Entomology and Zoology Studies 5(2): 605-607
    [18] del-Pozo, J., Mishra, N., Kabuusu, R.,  Cheetham, S., Eldar, A., Bacharach,E., Lipkin, I.W., Ferguson, H.W. 2016. Syncytial Hepatitis of Tilapia (Oreochromis
    niloticus L.) is Associated With Orthomyxovirus-Like Virions in Hepatocytes. DOI: 10.1177/0300985816658100
    [19] Ferguson, H.W., Kabuusu, R., Beltran, S., Reyes, E., Lince, J.A., J del Pozo, J. 2014. Syncytial hepatitis of farmed tilapia, Oreochromis niloticus (L.): a case report. Journal of Fish Diseases 2014, 37, 583–589 doi:10.1111/jfd.12142
    [20] Tattiyapong, Puntanat, Dachavichitlead, Worawan, Surachetpong, W. 2017 Experimental infection of Tilapia Lake Virus (TiLV) in Nile tilapia (Oreochromis niloticus) and red tilapia (Oreochromis spp.). Veterinary Microbiology http://dx.doi.org/10.1016/j.vetmic.2017.06.014
    [21] Lusiastuti, A.M. 2017.  Mewaspadai Kedatangan Penyakit Eksotik Tilapia Lake Virus (TiLV) pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Info Akuakultur edisi no 28/Tahun III/15 Mei 2017
    [22] Anonim. 2017. Egypt is Free from Tilapia Lake Virus: FAO. Egypt Independent
    [23] Anonim. 2017. FAO Confirms Egypt Free from Tilapia Lake Virus: Minister. Egypt Today 05/08/17
    [24] Anonim. 2017. Taiwan Reports Tilapia Lake Virus. Focus Taiwan 140617
    [25] Herdikiawan, D. dan Rahman, A. 2017. Waspada TiLV pada Ikan Nila. Info Akuakultur edisi no 29/Tahun III/15 Juni 2017
    [26]. DJPB. 2017. Surat Edaran no 3975/DJPB/VII/2017
    [27] DJPB. 2017. Sambutan Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan pada acara Seminar Pencegahan TiLV 9 Agustus 2017
    [28] Dong, H.T.,  G.A. Ataguba, P. Khunrae, T. Rattanarojpong, S. Senapin. 2017. Evidence of TiLV infection in tilapia hatcheries in Thailand from 2012 to 2017 reveals probable global spread of the disease. aquaculture (2017), doi: 10.1016/
    j.aquaculture.2017.06.035
    [29] Jansen MD and Mohan CV. 2017. Tilapia lake virus (TiLV): Literature review.
    Penang, Malaysia: CGIAR Research Program on Fish Agri-Food Systems. Working Paper: FISH-2017-04.
    [30] OIE. 2017. Tilapia Lake Virus Disease, Chinese Taipei. OIE Report
    [31] Tattiyapong, P., Sirikachana, K., Surachetpong, W. 2017. Development and Validation of a Reverse Transcription Quantitative Polymerase Chain Reaction for Tilapia Lake Virus Detection in Clinical Samples and Experimentally Challenged Fish. J Fish Dise 2017 1-7
    [32] B.K. Behera, P.K. Pradhan, T.R. Swaminathan, N. Sood, Prasenjit Paria, Abhishek Das, D.K. Verma, Rajkumar, M.K. Yadav, A.K. Dev, P.K. Parida, B.K. Das, K.K. Lal, J.K. Jena. 2017. Emergence of Tilapia Lake Virus associated with mortalities of farmed Nile Tilapia Oreochromis niloticus (Linnaeus 1758) in India. AQUA 632923
    [33] Liamnimitr, P., Thammatorn, W., U-thoomporn, S., Tattiyapong, P., Surachetpong, W. 2018. Non-lethal sampling for Tilapia Lake Virus detection by RT-qPCR and cell culture. Aquaculture 486 (2018) 75–80



    2 comments:

    1. Nice complete info...

      Boleh di republish untuk blog kami pak Dokter Ikan ?

      ReplyDelete
      Replies
      1. Silahkan pak,disertakan sumbernya saja. Saya senang apabila artikel ini bermanfaat bagi masyarakat luas.

        Delete