-->

atas

    Wednesday, 5 September 2018

    Running Mortality Syndrome (RMS)

    Nama lain:  -

    Etiologi/ penyebab
    belum ada informasi terbaru


    Hospes : L. vannamei [1]

    Stadium rentan 
    Kematian teramati terjadi pada stadium inter-moulting [1]

    Epizootiologi:
    Sindrom ini pertama kali dilaporkan di India pada tahun 2011 [1]. Sindrom ini ditandai dengan kematian jangka panjang selama masa budidaya [2]. Pola mortalitas dari RMS ini berbeda-beda, antara 50-70%. Para pembudidaya di India kebanyakan akan melakukan panen parsial atau mengosongkan tambaknya selama 2-3 musim kedepan [1].

    Faktor pendukung
    Kematian lebih sering terjadi pada kolam dengan salinitas rendah [1]

    Gejala Klinis
    Gejala awal penyakit Running Mortality Syndrome (RMS) ini ditandai dengan antenna yang terpotong, berubahnya uropod menjadi merah. Selanjutnya hepatopancreas yang berwarna kuning kemerahan, lalu diakhiri dengan seluruh tubuhnya berubah menjadi merah tua. Feses yang berwarna putih atau kuning teramati pada udang yang sakit. Pada kolam yang terpapar, kematian akan terus terjadi. Udang yang mati akan berada di dasar kolam dan tidak ke permukaan [1]

    Perubahan patologi
    Pada pemeriksaan histopatologi, ditemukan lebih banyak sel B pada tubulus hepatopankreas untuk stadium awal. Tingginya sel B ini mengindikasikan adanya over feeding. Pada stadium lanjutan, teramati adanya sloughing hepatosit dan infiltrasi hemosit ringan tanpa adanya gejala infeksi virus internal. Beberapa sel menunjukkan karyomegali [3]

    Diagnosis
    Pada pemeriksaan wet mount, ditemukan banyak sekali fouling organisms seperti bakteri dan protozoa. Hemolim mengalami penundaan clotting time. Jumlah bakteri vibrio baik di air maupun di udang mengalami peningkatan [1]. Pemeriksaan secara histopatologi dapat dilakukan untuk membantu diagnosa

    Pencegahan dan Pengendalian
    Pembudidaya mengatasi sindrom ini dengan membuang udang yang mati disertai dengan mengurangi pakan selama beberapa hari. Hal ini bertujuan untuk menurunkan kematian. Pembudidaya yang menerapkan sistem budidaya ekstensif juga mampu mencapai target produksi tanpa RMS. Tidak ada treatmen untuk sindrom ini, namun praktek budidaya yang baik dengan pemilihan benih yang baik, menurunkan kepadatan, manajemen tambak dan kualitas air, penggunaan probiotik pada tanah, panen parsial, manajemen pakan, penggunaan asam organic, budidaya polikultur mampu mencegah dan menurunkan insidensi sindrom ini  [1]. Studi terbaru dari Rao, Venkatraluyu, Venkateswarlu (2017) menunjukkan bahwa penggunaan suplemen pakan Phytozoi herbal mampu meningkatkan kelangsungan hidup, feed intake, memperbaiki kualitas air, molting lebih sempurna, dan merekoveri kondisi hepatopancreas pada udang, serta meningkatkan ketahanan terhadap RMS [2]

    Referensi
    1. Mastan, S.A. dan Ahmed, M.O.  2016. Running Mortality Syndrome (Rms) In Farm-Reared Shrimp, Litopenaeus Vannamei Culture Systems In Andhra Pradesh, India. Indo American Journal of Pharmaceutical Research, 2016 ISSN NO: 2231-6876

    2. Rao, E.R., Venkatrayulu, CH., Venkateswarlu, V. 2017. Effect of herbal feed supplement Phytozoi on Running Mortality Syndrome in white leg shrimp Litopenaeus vannamei (Boone, 1931) farming. International Journal of Fisheries and Aquatic Studies 2017; 5(3): 365-368

    3. Mastan, S.A. 2016. Running Mortality Syndrome (RMS) in Farmed LItopenaeus vannamei Culture System. Aqua International May 64pp







































    1 comment: