-->

    Monday, 22 January 2018

    Nutrisi Pakan pada Ikan Hias


    Pakan memegang peranan penting dalam pemeliharaan ikan hias. Ikan harus diberikan pakan spesifik yang sesuai dengan biologinya. Ikan karnivora memiliki saluran pencernaan yang pendek karena itu pakan kadar protein yang tinggi akan lebih cepat tercerna. Sedangkan ikan herbivora memiliki saluran pencernaan yang panjang, oleh karenannya pakan berbahan sayuran akan lebih lama diproses oleh tubuh. Ikan karnivora membutuhkan protein tinggi (>50%), omnivora (40-50%), dan herbivora (30-40%).

    Pada ikan hias yang hidup di dalam akuarium, kebutuhan pakannya sangat ditentukan oleh si pemelihara.  Kebutuhan nutrisi pakan pada ikan hias ini berbeda-beda bergantung pada spesies, usia, suhu air, dan banyak faktor lainnya. Sayangnya kebutuhan nutrisi untuk ikan laut tropis sangat kurang begitu dipahami. Pemelihara harus mampu menyesuaikan kebutuhan nutrisi pakan ikan tersebut dengan jenis ikan, apakah herbivora, omnivora, atau karnivora dan mempertimbangkan faktor-faktor yang berkaitan kebutuhan nutrisi pada ikan hias.

    Seperti pada ikan budidaya, beberapa ikan hias merupakan pemakan di permukaan, beberapa di kolom air atau di dasar. Pakan ikan hias akan lebih efektif jika diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang sesuai dengan tiap spesies dan berbagai karakter konsumsi ikan. Beberapa ikan sangat bergantung pada pakan alami. Sedangkan yang lainnya dapat hidup dengan pakan buatan. Pada ikan hias, formulasi pakan yang tepat akan meningkatkan kecernaan, mensuplai kebutuhan metabolisme, dan menurunkan biaya serta cemaran air. Basic nutrisi pakan pada ikan hias sama dengan ikan budidaya lainnya. Pakan buatan mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan elemen lainnya untuk pertumbuhan optimal, reproduksi, dan kesehatan ikan. Kebanyakan pakan ikan mengandung protein (15-50%), lemak (10-25%), karbohidrat (10-25%), abu (5-10%), dan bahan tambahan sebanyak 5%. Nilai nutrisi pakan ikan hias ini bergantung pada suplai energi. 





    Protein


    Protein memegang peranan penting pada seluruh jaringan hewan sekaligus mengontrol pertumbuhan normalnya. Protein merupakan komponen termahal dalam pakan ikan. Dalam pakan, jumlah protein yang terdapat di dalamnya sekitar 50%. Total diet protein yang dibutuhkan spesies merupakan sejumlah minimal protein dalam pakan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhkan asam amino, pertumbuhan dan reproduksi yang maksimal. Pada ikan hias yang dipelihara atau dibudidayakan dalam ruang yang terbatas, protein harus digunakan secara efisien karena produk akhir metabolisme protein (terutama amonia) dapat mencemari secara langsung media tempat ikan tersebut hidup.

    Protein terbentuk dari serangkaian asam amino yang saling berkaitan untuk membentuk ikatan kovalen. Ikan dilaporkan membutuhkan 10 jenis asam amino dalam pakan yakni arginine, histidine, isoleucine, leucine, lysine, methionine, phenylalanine, threonine, tryptophan, dan valine. Pada ikan kebutuhan protein mencapai 35% untuk pertumbuhan. Sumber protein terbaik bagi ikan adalah tepung ikan sebab memiliki profil asam amino yang ideal dan lemak solid. Namun harganya cukup mahal.

    Tidak tercukupinya kebutuhan protein akan berdampak pada pertumbuhan. Sedangkan terlalu banyak protein, hanya sebagian yang digunakan untuk membuat protein baru, sisanya digunakan sebagai energi. Disamping itu kada protein yang tinggi menyebabkan tingginya produksi ammonia. Penggunaan protein oleh organisme bergantung pada tipe pakan, kecernaan, profil asam amino, perbandingan energi terhadap protein pakan, jumlah protein, ukuran, jenis kelamin, genotype spesies, dan kondisi lingkungan.

    Sumber protein merupakan faktor penting yang harus ditentukan dalam formulasi pakan. Sumber protein laut lebih efisien untuk memicu kenaikan berat badan pada neon tetra dari pada pakan yang dibuat dari protein nabati. Namun ikan ikan yang diberi sumber pakan dari keduanya (45 atau 55% crude protein) menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik daripada 25% crude protein. Stadium kehidupan ikan juga mempengaruhi kebutuhan protein, misalnya juvenile ikan mas koki membutuhkan protein 29% atau lebih rendah daripada larva (53%). Ikan muda juga membutuhkan protein lebih banyak dibandingkan ikan dewasa.



    Lemak


    Lemak merupakan komponen utama dari membrane sel. Lemak berfungsi untuk menghangatkan tubuh saat menghadapi shock, mengatur suhu tubuh, dan  memacu fungsi sel yang sehat. Lemak juga merupakan sumber energi bagi ikan. Ikan membutuhkan asam lemak omega 3 dan 6. Ikan laut mengandung >30% omega 3 HUFA dan merupakan sumber lemak dalam pakan ikan. Asam lemak lebih banyak dibutuhkan oleh ikan laut. Ikan air tawar tidak membutuhkan rantai Panjang HUFA, namun 18 carbon n-3 asam lemak, asam linoleate, dengan jumlah 0,5%-1,5% dari pakan kering. Asam lemak ini tidak diproduksi ikan air tawar, oleh karenanya harus disuplai dari pakan.

    Pada ikan koi  dibutuhkan asam lemak berupa linoleate dan linolenat sebanyak 1% dalam pakan. Ikan cyprinid lainnya termasuk carp, golden shiner, dan ikan mas koki membutuhkan lemak 10-15% dari total pakan. Tingginya kadar lemak dalam pakan harus diwaspadai sebab dapat berdampak pada komposisi karkas akibat deposit lemak. Lemak berlebih akan menghambat sistesis asam lemak dan menurunkan kecernaan ikan serta memicu penurunan tingkat pertumbuhan.

    Karbohidrat

    Karbohidrat dalam pakan merupakan sumber nutrisi yang murah dan membantu proses pencetakan pellet. Karbohidrat berperan sebagai precursor berbagai metabolit untuk pertumbuhan. Informasi mengenai metabolisme kabohidrat pada ikan hias sangatlah terbatas. Pada beberapa ikan karnivora, peningkatan tepung di atas 10% dari bahan kering dalam pakan akan menurunkan pemanfaatan pakan dan ikan tidak mampu mengefisiensikan konsentrasi glukosa. Tingkat kecernaan karbohidrat pada ikan hias bervariasi dari 70% pada ikan mas koki hingga yang terendah sebanyak 50% pada moonlight gourami (Trichogaster microlepis).

    Karbohidrat dapat dipecah menjadi unit glukosa yang merupakan sumber energi. Karbohidrat juga dapat diubah menjadi lemak untuk menyimpan energi. Ketidakcukupan energi dari sumber non protein mengakibatkan protein dipecah menjadi sumber energi sehingga jumlah energi untuk pertumbuhan makin sedikit. Oleh karena itu jumlah karbohidrat yang cukup sangatlah penting. Penggunaan karbohidrat bervariasi bergantung pada kebiasaan makan, struktur dan fungsi system pencernaan. Kemampuan ikan mencerna karbohidrat bergantung pada tingkat kecernaan, kerumitan tepung, derajat gelatinisasi tepung, sumber karbohidrat, interaksi karbohidrat dengan nutrisi lainnya, perbandingan tepung gelatinisasi dan non gelatinisasi dalam pakan



    Vitamin dan mineral

    Vitamin dan mineral memegang peranan penting dalam metabolisme dan ketahanan rangka. Terdapat 4 jenis vitamin larut lemak yang dibutuhkan sebagai nutrisi pakan ikan yaitu A, D, E, dan K. Sedangkan vitamin larut air yang dibutuhkan adalah thiamine (B 1 ), riboflavin (B 2 ), niacin (B 3 ), pantothenic acid (B 5 ), pyridoxine (B 6 ), folic acid (B 9 ), B 12 (cyanocobalamin), vitamin C, biotin, choline, and inositol (myoinositol). Mineral dibutuhkan ikan untuk proses biologis, osifikasi, osmoregulasi, dan fungsi system syaraf. Kebutuhan mineral ini dapat diperoleh dari pakan maupun lingkungan. Mineral yang dapat diperoleh dari lingkungan antara lain calcium (Ca), magnesium (Mg), sodium (Na), potassium (K), iron (Fe), zinc (Zn), copper (Cu), dan selenium (Se). Sisanya harus disediakan melalui pakan.

    Ikan hias dapat menyerap beberapa mineral larut air. Dari semua mineral, fosfor merupakan salah satu mineral terpenting untuk pertumbuhan, mineralisasi tulang, dan metabolisme lemak dan karbohidrat. Fosfor juga harus ditambahkan dalam pakan sebab jumlahnya di alam sangat terbatas.

    Serat

    Serat tidak ditemukan secara alami pada pakan ikan karena struktur karbohidrat tidak banyak dalam tanaman air. Serat berfungsi sebagai pengikat pembentuk pellet. Serat dapat mencegah penyerapan nutrisi, oleh karenanya jumlahnya dibatasi dibawah 5% saja.

    Karotenoid

    Karotenoid merupakan salah satu bahan yang harus ditambahkan untuk melengkapi kebutuhan nutrisi pakan pada ikan hias. Karotenoid memiliki fungsi sebagai antioksidan, penginduksi aktivitas provitamin A, memicu respon imun, reproduksi, pertumbuhan, pematangan, dan photoprotection. Karotenoid juga merupakan sumber bagi pigmentasi kulit dan otot.  Oleh karenanya untuk meningkatkan warna kulit dan daging pada ikan yang ditempatkan pada wadah terbatas, ikan harus memperoleh karotenoid dalam pakan. Warna kulit pada ikan hias berkaitan dengan keberadaan kromatofor yang mengandung pigmen seperti melanin, pteridines, purin, dan karotenoid.

    Karotenoid yang dapat ditemukan di air tawar antara lain beta karoten, lutein, taraxanthin, astaxanthin, tunaxanthin, alpha-, beta- doradexanthin, dan zeaxanthin. Ikan tidak mampu mensintesis pigmen tersebut dan bergantung pada suplai karotenoid dalam pakan. Oleh karena itu karotenoid harus ada dan disuplai sepenuhnya. Terlebih lagi pada ikan hias dimana kecantikan dan keindahan penampilan menjadi salah satu faktor agar ikan hias dapat bernilai tinggi. Pada ikan mas koki dan ikan mas, warna merah diperoleh dari astaxanthin, karotenoid yang didapat dari metabolisme pigmen kuning zeaxanthin. Ikan mas koki hanya sedikit memetabolisme beta karoten. Terdapat alga yang pada kondisi tertentu dapat mengakumulasikan karotenoid seperti Chlorella vulgaris, Haematococcus pluvialis dan Arthrospira maxima (Spirulina). Alga ini dapat digunakan sebagai pengganti warna sintetis dalam pakan ikan hias.





    Untuk dibaca

    Harper, C. dan Lawrence, C. 2011. The laboratory of Zebrafish. CRC Press: New York



    Mohanta, K.N. dan Subramanian, S. 2011. Nutrition of Common Freshwater Ornamental Fishes. Technical Bulletin No: 27, ICAR Research Complex for Goa (Indian Council of Agricultural Research), Old Goa - 403 402, Goa, India.

      

    Roberts, H.E. 2010. Fundamentals of ornamental fi sh health. Blackwell Publishing



    Sales, J. dan Janssens, G.P.J. 2003. Nutrient requirements of ornamental fish. Aquat. Living Resour. 16 (2003) 533–540

    Sandford, G. 1999. Aquarium Owner's Guide. Colourscan: Singapura



    Velasco-Santamaría, Y. dan Corredor-Santamaría, W. 2011. Nutritional requirements of freshwater ornamental fish: a review. REVISTA MVZ CÓRDOBA 16(2): 2458-2469



    Skhomal, G. 2007. Saltwater Aquariums For Dummies®, 2nd Edition. Wiley Publishing: Hoboken



    Skomal, G. 2006. Saltwater Aquarium 2nd Edition. Wiley Publishing: Hoboken



    Yousefian, M., Gharaati, A., Hadian, M., Hashemi, S.F., Navazandeh,A., molla, A.e. 2012. FOOD Requirements And Dietary In Aquarium Fish (Review). International journal of plant, animal, and environmental sciences vol 2


    No comments:

    Post a Comment