-->

    Saturday, 20 January 2018

    Argulus


    Nama lain:  Fish louse, Fish Lice, Brachiuran Fish Louse Disease [1], kutu ikan, Argulosis [4]

    Etiologi/ penyebab:

    Argulus. Ada sekitar 120 spesies [1]. Spesies yang penting pada air tawar adalah A. foliaceusi dan A. japonicus. A. japonicus kerap ditemukan pada ikan koi dan ikan mas koki [3].  Keberadaan spesies tertentu dapat bersifat terbatas, hanya di lokasi tertentu saja. Termasuk parasite oportunis. Dewasa berukuran cukup besar dan mudah dikenali. Juvenil berukuran 1-3mm. [1]. Ukuran maksimalnya kurang dari 1cm. Parasit ini berbentuk oval, pipih dorsoventral, memiliki titik mata pada karapasnya [3]. Tubuhnya terbagi menjadi kepala (karapas), thorax, dan abdomen. Throax memiliki 4 segmen dan abdomen berfusi seluruhnya. Kaki-kaki di karapas termodifikasi menjadi bagian mulut dan sucker. Di bagian thorac juga terdapat 4 pasang kaki yang belum termodifikasi. Sucker terdapat di sisi bawah (permukaan dorsal)  depan karapas. Stylet (sting) – serupa proboscis berukuran panjang terdapat di depan mulut di antara antenna. Abdomen tidak memiliki kaki dan bagian ujungnya berupa ekor yang terbagi dua [9]

    Gb. anatomi Argulus tampak ventral (pict credit to https://i.pinimg.com)




    Hospes

    Ikan air tawar, laut [1], dan payau [2].  Sebagian besar ditemukan pada ikan mas koki dan ikan mas. Terdapat juga laporan pada channel catfish, nila, barb, dan ikan lainnya [11]



    Stadium rentan

    Larva dan juvenile. Tidak berdampak pada ikan berukuran lebih besar namun berpotensi sebagai karier penyakit lain [14]



    Epizootiologi:

    Infeksi Argulus bersifat cosmopolitan. Sumber asal penyebaran parasite ini di seluruh dunia tidaklah jelas. Ada kemunginan parasite berasal dari Asia pada ikan mas koki, namun hal ini tak pernah jelas [11]. Infeksi Argulus jarang menimbulkan dampak serius. Dampak yang parah dapat terjadi terutama akibat infeksi sekunder [7]



    Siklus Hidup:

    Langsung [3]. Betina meninggalkan hospes dan meletakkan telur pada substrat yang tersembunyi [1]. Argulus betina menghasilkan 50-250 butir telur [22]. Telur akan menetas menjadi larva dalam 48-72 jam. Larva harus mendapatkan inang dalam kurun waktu 48-96 jam, selebihnya larva akan mati. Larva bersifat fototaksis dan berkembang cepat dengan cahaya. Larva berkembang menjadi fase copepodid dan mengalami molting beberapa kali baru kemudian menjadi subadult lalu dewasa [1]. Juvenil yang berenang bebas harus menemukan hospes dalam 2-3 hari dan berkembang menjadi dewasa setelah 30-35 hari setelah melekat pada hospesnya [9]. Pada inangnya Argulus akan memakan darah dan cairan tubuh. Setelah kenyang ia akan melepaskan diri dan kembali ke inang bila lapar. Argulus dewasa dapat hidup tanpa inang selama hari [22]. Semua stadium baik jantan maupun betina bersifat parasitik [16]. Parasit dewasa dapat bertahan tanpa hospes selama beberapa hari. Kecepatan siklus bergantung pada spesies dan suhu, puncaknya pada musim panas dan gugur. Lamanya siklus sekitar 30 hari atau lebih. Telur hingga juvenile membutuhkan waktu 10-50 hari [6]



    Faktor pendukung

    Kepadatan, kadar DO yang rendah, dan arus lambat akan meningkatkan perkembangan dan patogenesitas penyakit [1]



    Gejala Klinis

    Penyakit argulosis ditandai dengan gejala klinis berupa perubahan perilaku ikan yang kerap menggosokkan tubuhnya ke benda-benda keras. Infeksi berat menyebabkan ikan melompat tiba-tiba hinggga menjadi letargi dan bersembunyi di sisi dan dasar kolam. Ikan juga dapat mengalami kehilangan keseimbangan pada kasus berat. Parasit Argulus berukuran besar sehingga dapat tampak secara kasat mata [1]. Parasit ini dapat ditemukan di belakang sirip, sekitar kepala, mulut, dan operculum. Luka yang ditimbulkan pada tubuh dapat menjadi nekrosis dan ulcer yang rentan terhadap infeksi bakteri dan jamur. Fase copepodid menimbulkan dampak berupa mucus berlebih pada kulit, sirip, dan insang [1]. Infeksi berat mengakibatkan kerusakan pada kulit yang dapat memicu mortalitas yang tinggi, bahkan sedikit parasite saja dapat menimbulkan kematian pada larva ikan [7].

    Gb. Argulus pada tubuh ikan (panah) (pict credit to Wildgoose., 2011)


    Perubahan patologi

    Parasite ini menyuntikkan toksin sitolitik lalu memakan darah yang timbul akibat adanya luka. Bagian yang digigit akan menjadi eritemia dan hemoragi. Gigitan parasite secara bersamaan di lokasi yang berdekatan dapat menimbulkan edema dan pembengkakan jaringan setempat [1]. Epitel mengalami proliferasi dan peradangan. Pembuluh darah mengalami kongesti. Hemoragi diserta infiltrasi (dominan oleh limfosit dan eosinophil) juga terjadi. Pada kulit terjadi penurunan jumlah sel mucus, degenerasi dan disintegrasi lapisan epitel, terganggunya membrana basalis, hingga berubahnya lapisan kolagen dari dermis [10, 18]. Pada studi lain, perubahan histopatologi akibat infeksi A. foliaceus tidak menunjukkan perubahan jumlah sel mucus dan proliferasi sel [18].



    Parasit ini mungkin dapat menjadi vector dari virus Spring Viremia of Carp (SVC), bakteri, nematoda (anggota famili Anguillicolidae, Skrjabillanidae, dan Dracunculoidea)  protozoa [2, 3]. Pada studi yang dilakukan oleh Yusuf (2009) menemukan bahwa pada luka akibat gigitan Argulus pada ikan maskoki terdapat bakteri Aeromonas hydrophila, Pseudomonas fluorescent, dan Flexibacter columnaris. [15]



    Diagnosa banding

    Argulus dapat dibedakan dari copepoda lainnya dengan keberadaan dua sucker pada maxilla dan mulut yang serupa proboscis [3]. Dibedakan dari Caligus oleh sucker dan mata kompond yang besar [6]



    Patogenesis

    Argulus akan memasukkan stylet (pre oral sting) ke dalam hospes, lalu menghisap cairan dengan mulut yang serupa proboscis. Ikan kemudian mengalami perubahan cara berenang dan perilaku akibat iritasi yang disebabkan oleh stylet. Bersamaan ketika stylet masuk ke dalam kulit, enzim toksik akan diinjeksikan. Kait dan spina kaki menyebabkan kerusakan mekanik. Iritasi mengakibatkan hemoragi fokal dan hiperpigmentasi. Ikan kemudian menjadi anemia. Satu-dua parasite tidak menimbulkan gejala klinis pada ikan besar, namun parasite ini memiliki tingkat reproduksi yang tinggi yang dapat mengakibatkan perluasan infestasi [6]



    Patofisiologi

    Ikan yang terinfeksi akan melemah dan menunjukkan gejala klinis berupa penurunan nafsu makan, anoreksia, dan pertumbuhan yang terhambat. Parameter hematologi juga mengalami perubahan diantaranya peningkatan jumlah monosit dan granulosit yang mengindikasikan respon system imun. Infestasi jangka Panjang mengakibatkan penurunan jumlah haemoglobin, hematokrit, eritrosit, dan leukosit. Pada A. foliaceus terdapat peningkatan ekspresi interleukin-1 dan tumour necrosis factor alpha genes. Osmoregulasi bahkan dilaporkan terganggu pada killifish. Pada histopatologi perubahan menciri adalah hyperplasia/ hipertrofi area luka serta kerusakan stratum compactum. Infestasi Argulus juga dapat menginduksi stress jika infeksi dalam jumlah besar [7]



    Metode Diagnosa

    Diagnosa presumtif dilakukan dengan mengidentifikasi parasite dan pengamatan gejala klinis. Parasit ini berukuran cukup besar sehingga mudah diamati. Morfologinya sangat spesifik dan berbeda dibandingkan parasite krustasea lainnya. Perbedaan dengan spesies lain ada di sucker maxilla dan dorsal shield. Antara subadult dan dewasa dapat dibedakan dari struktur dan posisi area respirasi, jumlah dan bentuk sclerite penyokong sucker maxilla, dan  basal plate maxilla kedua. Parasit ini dapat diawetkan dalam buffer formalin 10% selama 2-3 hari lalu dipindah ke etanol 70% [1] atau gunakan 40% isopropanol. Tidak perlu dilakukan pewarnaan [11]



    Pencegahan dan Pengendalian

    Penanganan parasit ini harus menyasar semua stadium kehidupan mulai dari telur, juvenile, dan dewasa baik pada ikan maupun lingkungan [17]. Argulus dapat diambil secara langsung dari tubuh ikan, namun hal ini tidak efektif [3]. Terdapat bahan-bahan yang dapat digunakan untuk penanganan Argulus. Akan tetapi bahan-bahan tersebut sangat terbatas atau bahkan dilarang penggunaannya di negara-negara tertentu sebab dianggap cukup berbahaya.



    Penanganan dengan organofosfat, formalin, atau potassium permanganate akan mengeradikasi semua stadium dewasa. Stadium juvenile dapat ditangani dengan perendaman air laut 2%. Siklus juga dapat dipotong dengan pengosongan dan pengeringan selama beberapa hari. Penghambat kitin seperti diflubenzuron dilaporkan efektif menghambat perkembangan larva parasite [3]. Dosis sebanyak 10mg/kg berat badan ikan atau 15mg/l dalam air efektif mengontrol infeksi Argulus [7]. Diflubenzuron juga dapat digunakanpada dosis 0,1mg/L dan diulang pada hari ke 14 dan 30 [8]. Bahan lain serupa diflubenzuron adalah lufenuron. Bahan ini dapat digunakan dengan dois 0,13mg/L dan cukup efektif. Lufenuron tablet (409,8mg) yang dilarutkan dalam 3785lt (1 galon) air atau  konsentrasi 0,1 mg/L terbukti efektif membasmi Argulus dengan perlakuan 1 kali seminggu selama 5 minggu. Tetapi lufenuron memiliki keberbahayaan yang harus diperhatikan dimana dosis letalnya adalah 73mg/l untuk rainbow trout, lebih dari 63mg/L untuk koi, > 29mg/L untuk bluegill sunfish, >45mg/L untuk catfish. Di lingkungan, tanah, lufenuron baru terdegradasi setelah 13-20 hari [19]. Perendaman dalam larutan Ammonium klorida  1-1,5% selama 15 menit atau garam dapur dosis 1,25% selama 15 menit juga cukup efektif. Untuk garam dapur, perendaman jangka panjang dapat menggunakan dosis 500-1000mg/L air selama 24 jam diulang setiap minggu sebanyak 4 kali [20]



    Postassium Permanganat (PK) juga dinilai efektif menangani juvenile dan stadium dewasa Argulus dengan dosis 10mg/L selama 30menit yang diaplikasikan 2 kali dalam 3 hari. Namun demikian PK tidak efektif untuk ikan laut sebab konsentrasi garam yang tinggi akan mengganggu cara kerjanya [17]. Emamectin oral juga efektif [6]. Emamectin bekerja sebagai activator saluran Cl pengikat reseptor GABA. Bahan ini efektif membasmi A. coregoni pada konsentrasi 50mg/kg ikan [7]. Pada ikan mas koki dapat digunakan dosis 50g/kg berat badan selama 7 hari. Sedangkan untuk ikan koi 5g/kg berat badan selama 7 hari [19].



    Chloramin T sebanyak 40mg/l mampu membasmi Argulus meskipun parasite yang mati hanya 50% saja. Lime Chloride dengan konsentrasi 30 dan 40mg/l  dapat digunakan pada rainbow trout untuk membasmi Argulus dengan batas waktu letal 1jam. Sebuah percobaan yang dilakukan dengan sodium klorida 20mg/l selama 3 jam pada rainbow trout mampu membasmi semua parasite. Penanganan jangka pendek 75g/l sodium klorida selama 2 menit dapat menghilangkan A. foliaceus dari ikan koi dan ikan rainbow trout. Meskipun Argulus rontok dari tubuh ikan, namun parasite ini tidak mati. Dan hal yang perlu diwaspadai adalah ikan koi tidak mampu mentoleransi sodium klorida [16]. Penggunaan formalin untuk penanganan Argulus berbeda-beda efektifitasnya. Beberapa literature tidak menyarankan sebab tidak berdampak apapun terhadap Argulus. Namun apabila ingin dicobakan dapat menggunakan formalin standar 37-40% sebanyak 125ppm (125ml/L) [22].



    Komponen pyrethroid asal tanaman (activator saluran ion Na) cukup toksik bagi invertebrate akuatik dan berhasil digunakan melawan brachiura pada dosis 20-200ppm [7]. Sedangkan bahan Triklorfon digunakan pada dosis 0,25mg/L air tawar [5]. Khusus organofosfat seperti triklorfon dan yang lainnya, pH air berpengaruh terhadap keefektifan bahan ini. Jika pH air terlalu tinggi (8,2) organofosfat akan terdegradasi secara cepat [8]. Bahan lain yang dapat digunakan untuk membasmi Argulus adalah Malathion dan Dipterex dengan dosis 0,25ppm atau Bromex dosis 0,12ppm [10], neguvon 1gr/liter perndaman selam 10-30 detik [13].Siklus parasite ini cukup panjang. Oleh karenanya perlu dilakukan disinfeksi kolam. Untuk sementara ambil semua substrat keras yang memungkinkan parasite meletakkan telurnya lalu dibersihkan [6]. Air, jaring, dan peralatan lainnya harus disterilisasi menggunakan klorin [11] atau PK 0,01ppm selama 30 menit [22]. Telur dan larva dapat dibunuh dengan pengeringan atau pemberian kapur pada dasar kolam [12]. Dosis kapur yang diberikan sebanyak 40kg/acre (0,46ha). Kapur dibiarkan selama beberapa hari sebelum diisi dan pH dinormalkan kembali [18]. Penanganan secara biologis adalah dengan meletakkan ikan mosquitofish. Ikan air tawar angelfish dan stickleback juga memakan ektoparasit ini [6].  Metode lain untuk menangani telur dari parasite ini adalah dengan menempatkan wadah berwarna di dasar kolam untuk menarik perhatian parasite meletakkan telurnya. Wadah ini dapat diambil berkali-kali untuk mencegah parasite berkembangbiak [21]



    Pencegahan Argulus dilakukan dengan menerapkan biosekuriti untuk meminimalkan penularan ke kolam lain. Ikan yang baru masuk hendaknya dikarantina dan diambil sampelnya untuk  memperkecil resiko. Ketika terjadi serangan Argulus, penanganan dilakukan secara cepat. Sumber air harus dievaluasi ada tidaknya telur Argulus. Air sebaiknya difilter agar terbebas dari ikan liar dan Argulus [17]. Hoffman (1977) pernah menyarankan penutupan inlet kolam dengan mesh 3,2mm untuk mencegah kutu yang berukuran besar, namun cara ini kurang efektif sebab filter dapat terhambat dan membutuhkan perawatan [18].
    Bahan
    Dosis
    Keterangan
    Bawang putih
    60gr/100mL air untuk 600ml air
    In vitro
    Kesehatan Masyarakat
    Meskipun merupakan ektoparasit, Argulus dilaporkan dapat menyerang manusia. Kasus ini pernah dilaporkan oleh Hargis (1958). Parasit ini dapat masuk, bertahan, dan menyebabkan penyakit pada manusia [9]

    Referensi
    1.  Hogans, B. 1994. 3.2.15 Branchiuran Fish Louse Disease.  AFS-HS Blue Book
    2. Zajac, A.M dan Conboy, G.A. 2012. Veterinary Clinical Parasitology Eighth Edition. Wiley-Blackwell
    3. Wildgoose, W.H (Ed). 2001. BSAVA Manual of Ornamental Fish. British Small Animal Veterinary Association
    4. Kurniawan, A. 2012. Penyakit Ikan. UBB Press
    5. Mayer, J. dan GDonnelly, T.M (Ed). 2013. Cinical Veterinary Advisor Birds and Exotic Pets. Elsevier
    6. Noga, Edward J. 2010. Fish disease : diagnosis and treatment / Second Edition. Blackwell Publishing
    7. Woo, P.T.K. dan Buchmann, K (Ed). 2012. Fish Parasites Pathobiology and Protection. CABI : UK
    8. Lewbart, G.A. 2017. Self-Assessment Color Review Ornamental Fishes and Aquatic Invertebrates Second Edition. CRC Press: Boca Raton
    9. Williams, E. H., Jr. dan L. Bunkley-Williams. 1996. Parasites of offshore big game fishes of Puerto Rico and the western Atlantic. Puerto Rico. Department of Natural and Environmental Resources, San Juan, PR, and the University of Puerto Rico, Mayaguez, PR, 382 p., 320 drawings.
    10. Parasite Catfish
    11. Bunkley-Williams, L. and E. H. Williams, Jr. 1994. Parasites of Puerto Rican Freshwater Sport Fishes. Puerto Rico Department of Natural and Environmental Resources, San Juan, PR and Department of Marine Sciences, University of Puerto Rico, Mayaguez, PR, 168 p., 179 drawings, and 2 maps.
    12. Solichin, A., Widyorini, N., Wijayanto, D.S.M. 2013. Pengaruh Ekstrak Bawang Putih ( Allium sativum ) dengan Dosis yang Berbeda terhadap Lepasnya Suckers Kutu Ikan ( Argulus sp. ) pada Ikan Koi (Cyprinus carpio). JOURNAL OF MANAGEMENT OF AQUATIC RESOURCES. Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013, Halaman 46-53
    13. Depertemen Pertanian. 1985. Penyakit Ikan. Departemen Pertanian
    14. Sugianti, B. 2005. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Tradisional Dalam Pengendalian Penyakit Ikan. Makalah Pribadi Falsafah Sains (PPS-702)
    15. Yusuf, R.W.N. 2009. Isolasi Dan Identifikasi Bakteri Gram Negatif Pada Luka Ikan Maskoki (Carassius Auratus) Akibat Infestasi Ektoparasit Argulus Sp. Universitas Airlangga. Skripsi
    16. Merk, v.T.M. 2016. Effects of Antiparasitic Treatment for Argulosis on Innate Immune System of a Cyprinid Fish (Fathead Minnow; Pimephales promelas, Rafinesque 1820). Universitas Munchen Disertasi
    17. Stickler, N. dan Yanong,  R.P.E. 2012. Argulus (Fish Louse) Infections in Fish. IFAS Extension University of Florida
    18. Taylor, N.G.H., Sommerville, C., Wootten, R. 2005. A review of Argulus spp. occurring in UK freshwaters. Environment Agency: Bristol,  Science Report SC990019/SR1
    19. Mayer, J., Hensel, P., Meijia-Fava. K., Brandao, J., Divers, S. 2013. The Use Of Lufenuron To Treat Fish Lice. Journal of Exotic Pet Medicine 22 (2013), pp 65–69 6
    20. Maskur, Mukti Sri Hastuti, Taukhid, Angela Mariana Lusiastuti, M. Nurzain, Dewi Retno Murdati, Andi Rahman, Trinita Debataraja Simamora. 2012. Buku Saku Pengendalian Penyakit Ikan. Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.
    21. Anshary, H. 2016. Parasitologi Ikan: Biologi, Identifikasi, dan Pengendaliannya.  Deepublish: Yogyakarta
    22. Afrianto, E., Evi Liviawaty, Zafran Jamaris, Hendi. 2015. Penyakit Ikan. Penebar Swadaya: Jakarta Timur

    No comments:

    Post a Comment