-->

atas

    Sunday, 12 September 2021

    Mengenal bahan kimia yang digunakan pada pembenihan ikan

    Tak dapat dipungkiri bahwa bahan kimia banyak digunakan dalam pembenihan ikan. Penyebab maraknya penggunaan bahan kimia ini sangat beragam namun dengan tujuan yang sama yakni keberhasilan budidaya. Bahan kimia ini ada digunakan secara rutin, adapula yang digunakan sewaktu-waktu pada proses tertentu saja. Berikut adalah uraian beberapa jenis bahan kimia yang digunakan di dalam proses pembenihan ikan.

    1. Hormon
    Hormon banyak digunakan saat pemijahan ikan. Perangsangan secara hormonal ini dilakukan dengan menyuntikkan substansi hormon ke tubuh ikan. Masuknya hormon diharapkan dapat merangsang sistem reproduksi ikan. Perangsangan dengan hormon akan mempermudah pemijahan pada ikan yang belum diketahui cara membangkitkan sinyal reproduksinya dan membantu memijahkan ikan di luar musim pijahnya. Jenis hormon yang digunakan dalam pemijahan dan pembenihan antara lain:

    a. Gonadotropin
    Biasanya merupakan kombinasi ekstrak kelenjar hipofisa ikan dan mamalia

    b. LHRH-a (Luteinizing Hormone Releasing Hormone-analog)
    Hormon ini digunakan untuk menginduksi ovulasi.

    c. Steroid
    Jenis hormon ini diujicobakan pada ikan lele. Namun hasilnya belum memuaskan

    d. Metiltestosteron
    Hormon ini banyak digunakan pada nila untuk mendapatkan nila monosex

    e. Estradiol
    Sama sepeerti metiltestosteron, hormon ini digunakan untuk menghasilkan individu monosex.

    Penggunaan hormon ini harus secara hati-hati. Residu tidak akan ditemukan dalam kadar tinggi jika penggunaannya dengan cara dan jangka waktu yang tepat. Berdasarkan permen KP no 1 tahun 2019 mengenai Obat Ikan, Estradiol Sintetis (dietil stilbestrol, benestrol, dienestrol),17α-Metiltestoteron, HGPs (Hormon Growth Promotors) masih masuk ke dalam kelompok non antimikroba yang dilarang digunakan.

    2. Disinfektan

    a. Bleaching
    Bahan yang sering disebut dengan pemutih ini di pembenihan ikan digunakan untuk mendisinfeksi peralatan.

    b. Formalin
    Bahan ini digunakan untuk disinfeksi telur ikan. Dosis 2000ppm selama 15 menit secara flushing bisa dilakukan pada telur. Pada indukan, perendaman selama 1jam dengan takaran 10ppm disarankan sebelum mencampurkan induk tangkapan dengan ikan lainnya. Untuk disinfeksi tangki dalam jangka Panjang, dapat digunakan formalin 30ppm selama 12-24 jam.

    c. Povidon iodine
    Povidon iodine dapat digunakan untuk disinfeksi telur ikan dengan dosis 100ppm selama 10 menit. Namun bahan ini kurang efektif jika digunakan untuk mengendalikan jamur. Bahan ini tidak boleh digunakan pada telur yang sudah memiliki titik mata.

    d. Potassium permanganate
    Bahan ini digunakan untuk mendisinfeksi telur. Bahan ini kurang begitu disukai karena menimbulkan perubahan warna ikan dan dapat merusak mucus dan insang. Dosis yang disarankan adalah 50mg/L selama 5 menit untuk telur ikan nila dan 2mg/L selama 30 menit untuk ikan lele.

    e. Sodium Chlorida
    Bahan ini dapat digunakan sebagai disinfeksi telur. Konsentrasi yang dapat digunakan adalah 1000mg/L selama 5 menit untuk telur ikan nila.

    f. Metilin biru
    Bahan ini digunakan untuk disinfesi telur ikan patin, bawal tawa, dan nila. Perendaman dilakukan selama 10 menit dengan kadar 0,2ppm.

    g. Kapur tohor (CaO)
    Kapur ini digunakan untuk mendisinfeksi dasar kolam. Dosis yang dipergunakan adalah 7-10kg/100m2.

    3. Obat-obatan

    a. Formalin
    Bahan ini digunakan untuk membasmi parasite eksternal dan fungi pada telur ikan dengan takaran 100ppm selama 15 menit perendaman menggunaan aerasi. Setelah perendaman baru dilakukan flushing dengan air bersih.

    b. Hidrogen peroksida
    Bahan ini dipakai untuk mengendalikan jamur pada semua stadia ikan, termasuk telur. Bahan ini efektif digunakan pada konsentrasi 250-500ppm (H2O2 100%) selama 15 menit.

    c. Kupri sulfat
    Bahan ini efektif digunakan untuk membasmi jamur pada telur selama 15 menit dengan dosis 2,5-10ppm.

    d. Metilin biru
    Bahan ini cocok digunakan untuk membasmi protozoa eksternal dan infeksi bacterial yang ada di permukaan kulit ikan.

    e. Vitamin
    Indukan membutuhkan suplai vitamin seperti vitamin E 3mg untuk melancarkan kerja sel kelamin, 1000IU vitamin C untuk meningkatkan kekebalan tubuh, dan 1-2mg vitamin B kompleks untuk meningkatkan nafsu makan.

    f. Antibiotik
    Pada beberapa kasus, antibiotik diperkenankan digunakan di hatchery ikan. Penggunanya juga terbatas, hanya untuk perendaman saja. Misalnya saja sulfonamid yang digunakan untuk penanganan furunkulosis. Antibiotik juga dapat diberikan melalui pakan. Namun demikian, pemberian antibiotik melalui cara apapun memiliki resiko residu dan resistensi antibiotik.

    g. Malachite green
    Bahan ini dulunya digunakan sebagai antiparasit dan anti jamur namun sudah tidak boleh digunakan karena bersifat karsinogenik.

    4. Persiapan kolam induk

    a. Pengapuran
    Kapur yang dapat digunakan adalah kapur tohor/sirih (CaO), kapur tabur (Ca(OH)) atau dolomit (CaCO3).

    b. Pemupukan
    Pemupukan pada kolam induk tidak harus dilakukan. Pemupukan dalam pembenihan paling sering dilakukan pada kolam pemeliharaan benih dan pendederan. Pemupukan ini hanya bertujuan menjaga kesuburan perairan dan mengurangi penetrasi matahari. Pemupukan hanya dilakukan pada kolam tanah saja. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang dan TSP/urea

    Referensi

    Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya: Depok

    Khairuman H. dan Amri, K. 2002. Buku pintar Bisnis pembenihan ikan konsumsi. Gramedia Pustaka utama: Jakarta.

    Kordi, M.G.H. dan Tamsil, A. 2010. pembenihan ikan laut ekonomis secara buatan. Lily Publishers: Yogyakarta

    Gui et al. 2018. Aquaculture in China Success Stories and Modern Trends. Wiley: USA

    Hossain, M.B., S.M.N. Amin, M. Shamsuddin and M.H. Minar, 2013. Use of Aqua-chemicals in the Hatcheries and Fish Farms of Greater Noakhali, Bangladesh.Asian Journal of Animal and Veterinary Advances, 8: 401-408.

    Hoga, et al. 2018. A review on the use of hormones in fish farming: Analytical methods to determine their residues. CyTA - Journal of Food 16(1)

    Piper, R.G. 1982. Fish Hatchery Management. The Ohio State University

    Saparianto, C. dan Susiana, R.Sukses pembenihan 6 jenis ikan air tawar ekonomis. Lily Publisher: Yogyakarta

    Sharker et al. 2014. Drugs And Chemicals Used In Aquaculture Activities For Fish Health Management In The Coastal Region Of Bangladesh. Int. J. LifeSc. Bt & Pharm. Res 3(4)

    Valeta et al. 2016. Assessment Of Apparent Effectiveness Of Chemical Egg Disinfectants For Improved Artificial Hatching In Oreochromis Karongae (Pisces: Cichlidae). Ajfand 16(4)

    https://thefishsite.com/articles/managing-hatch-rate-and-diseases-in-catfish-eggs

    No comments:

    Post a Comment