-->

atas

    Saturday, 14 December 2019

    Pentingnya pengeringan tambak dalam budidaya Udang

    Pada budidaya udang, pengeringan tambak menjadi suatu proses persiapan lahan yang wajib dilakukan. Pengeringan tambak umum dilakukan pada tambak yang memiliki dasar tanah. Proses ini biasa dilakukan mengikuti proses pasca panen. Tujuan dari proses pengeringan adalah mendekomposisi mikroba dalam bahan organik tanah dan memineralisasi nutrisi organik. Tanah yang keras akan membantu algae untuk melekat. Tanah yang benar-benar kering akan membantu juga menghilangkan agen-agen patogen dan substansi berbahaya baik yang dihasilkan ketika tambak dalam kondisi penuh dengan air maupun  yang mungkin masih ada di dalam sedimen atau tanah yang basah. Misalnya pasa kasus white spot disease (WSD), running mortality syndrome (RMS) dan white gut diseases dan panen dini, dimana petak yang dikeringkan hingga 30-45 hari lebih sering memperoleh panen yang sempurna. Virus WSD masih dapat infektif dalam sedimen tanah hingga 26 hari atau lebih. Oleh karenanya proses pengeringan yang sempurna hingga 3-4 minggu dapat membantu mencegah kejadian WSD.

    Pada tanah yang memiliki kondisi anaerob, kadar hidrogen sulfida (H2S) akan meningkat. Keberadaan hidrogen sulfida ini biasanya ditandai bau seperti telur busuk pada sedimen. Hidrogen sulfida ini berbahaya bagi udang, bahkan pada kadar rendah sekalipun. H2S dapat dihilangkan dengan melakukan areasi, proses pengeringan dan pembalikan.

    Tidak ada patokan dalam proses pengeringan termasuk lamanya pengeringan atau berapa sering tanah harus dikeringkan. Hal yang pasti adalah pengeringan berlebihan tampaknya berbahaya dan tanah yang terlalu kering akan menjadi rapuh dan penurunan permukaan tipis retakan menjadi serbuk harus dihindari. Alur pengeringan yang biasa dilakukan petambak adalah pengeringan selama 7 hari, hingga permukaan 1cm kering, dan pengeringan hingga ada retakan dengan kedalaman 1-2cm.

    Lama pengeringan dasar tambak dapat mencapai 2-3  minggu. Lamanya pengeringan bergantung pada kondisi cuaca (hangat, jering, berangin, kondisi yang sesuai dan cepat untuk pengeringan), tekstur tanah (tanah yang kasar kering lebih cepat daripada yang bertekstur halus), dan kedalaman sedimen (sedimen yang tebal menghambat pengeringan). Kadangkala pengeringan juga dapat terhambat akibat resapan air dari tambak yang bersebelahan atau resapan dari air tanah. Agar pengeringan sempurna, pembalikan tanah dapat dilakukan. Proses ini akan membantu kontak dengan udara dan membantu penguapan.

    Pada tanah, bagian yang mengering terlebih dahulu adalah bagian permukaan yang akan membentuk retakan dimana terjadi evaporasi dan oksidasi. Retakan ini akan membantu pengeringan dan memberikan udara, namun permukaan dari retakan yang mengering ini akan menutupi proses penguapan dan oksidasi. Tanah yang telah mengalami pengurangan bahan kimia berwarna gelap dan seringkali menghitam akibat adanya zat besi. Adanya sedimen pada dasar tambak akan menghalangi pengeringan tanah, bahkan akan sulit untuk melakukan pengolahan lahan karena kondisinya yang basah.

    Pada pengeringan tambak, hal yang harus diperhatikan adalah terjadinya proses pengasaman terutama pada tanah yang memiliki potensi asam. Selama pengeringan, pirit dapat teroksidasi. Sehingga ketika tambak mulai diisi dengan air, keasaman terbentuk dan pH air akan turun. Oleh karenanya, pasca pengeringan, pada tanah tipe ini harus di flushing. Pembalikan pada tipe tanah ini tidak dianjurkan. Tanah bisa saja mengandung asam sulfat teroksidasi yang berbahaya. Pembalikan hanya dapat dilakukan pada  tanah yang tidak asam dan pada kondisi yang benar-benar kering atau yang produksi panen sebelumnya rendah.


    Referensi

    Boyd, C.F. dan Queiroz, J.F. 2014. The role and management of bottom soils in aquaculture ponds. Infofish International

    Cook, H.L.dan Rabanal, H.L. 1978. Manual On Pond Culture Of Penaeid Shrimp. ASEAN National Coordinating Agency of the Philippines

    ICAR. Soil and water quality management for Shrimp farming. Ciba Extension Series No. : 53

    Lazur, A. Growout Pond and Water Quality Management. JIFSAN

    Li Li, J.F. Queiroz, C.F. Boyd. 2014. Pond Bottom Dryout, Liming Part I. Disinfection in Semi-Intensive Shrimp Ponds. Global Aquaculture Advocate



    No comments:

    Post a comment