-->

    Monday, 15 October 2018

    Myxosporidiasis


    Nama lain:  penyakit gembil [1], Myxosporeasis

    Etiologi/ penyebab
    Myxosporea, filum myxozoa dari kelompok Myxobolus, Myxosoma, Thelohanellus, dan Henneguya. Parasit ini berbentuk seperti buah pir atau biji semangka yang berada dalam kista dengan ribuan spora. Myxobolus dan Myxosoma memiliki 1-4 polar kapsul dan sporoplasma. Saat spora belum matang, dua inti sporoplasma melebut menjadi satu sebelum atau setelah sporoplasma lepas. Organsime baru memiliki vakuola yang disebut vakuola iodinophilus. Myxosoma dan Myxobolus dapat dibedakan dengan vakuola ini dimana Myxosoma tidak memilikinya[1].

    Hospes
    Cyprinid, labyrinth, dan salmoidae. Di Indonesia menyerang pada mas, tawes, sepat, gurami, tabakan [1]


    Epizootiolog
    Untuk Myxobolus.sp masuk ke Indonesia pada tahun 1952 [6]. Myxosporeasis dapat menyebabkan kematian hingga 80% [2]. Di Indonesia, kematian pada ikan karper mencapai 60-90% dari populasi ikan yang terinfeksi. Tingkat keparahan infestasi parasit ini bergantung pada lokasi dimana kista berada [6].

    Siklus Hidup
    Siklus hidup tidak langsung dengan melibatkan cacing oligochaeta [4]  dan sejumlah vertebrata (ikan dan amfibi) [6]. Lebih lanjut lihat pada artikel whirling disease.

    Gejala Klinis
    Terlihat benjolan putih seperti tumor, berwarna kemerahan [2] bulat-lonjong seperti butiran padi pada insang. Infeksi berat membuat tutup insang tidak menutup sempurna, sirip bengkok, warna gelap. Tubuh membengkak di sisi kanan dan kiri, struktur tulang tidak normal [1]. Ikan yang terinfestasi pada insang akan mengalami kesulitan bernafas, kehilangan keseimbangan, dan berenang dengan spiral [6]. Ikan yang terinfeksi T. bryosalmonae mengalami letargi dan menghitam. Insang akan pucat akibat anemia. Sedangkan infeksi Hoferellus relative normal [7] . Gejala klinis akibat myxosporidiasis tidak selalu sama, bergantung agen patogennya.

    Agen patogen
    Nama penyakit
    Hospes
    Referensi
    Hoferrelus spp
    Kidney enlargement disease
    Ikan mas koki, crucian carp, carp
    Hoole et al, 2001
    Sphaerospora renicola
    sphaerosporosis
    carp
    Hoole et al, 2001
    Myxobolus koi
    Gill myxosporeosis
    Ikan mas
    Hoole et al, 2001
    Myxobolus ellipsoides
    Spinal deformities
    Juvenile chub, leuciscus spp
    Hoole et al, 2001
    Henneguya ictaluri
    Proliferative gill disease (PGD)/ hamburger gill disease
    Channel catfish
    Woo et al, 2012
    Tetracapsiloides bryosalmonae
    Proliferative kidney disease (PKD)
    Rainbow trout, samlom,


    Perubahan patologi
    Pada ikan kelompok cyprinid, myxosporidia dikaitkan sebagai organisme yang menyebabkan perubahan patologi pada kulit, sirip, insang, dan organ dalam [3]. Pada insang, infestasi yang besar Myxobolus.sp menyebabkan nekrosis dan tidak berfungsinya pernafasan. Pada usus akan menyebabkan myolisis dinding usus [6]. Tetracapsuloides bryosalmonae menyebabkan nefritis interstitial kronis, menyebar pada pembulurh darah dan menyebabkan vasculitis necrosis[7]. Sphaerospora menyebabkan infeksi pada tubulus ginjal dan mengakibatkan atrofi serta nekrosis. Tubulus juga akan tergantikan oleh granuloma. Hoferellus menyebabkan kebengkakan pada ikan mas koki. [7].

    Diagnosa banding
    -

    Metode Diagnosa
    Pengamatan klinis [1], wet squash dari vesical urinary, ureter, tubulus ginjal dapat menemukan organisme ini [5] serta histopatologi [6].

    Pencegahan dan Pengendalian
    Kolam sebaiknya dipersiapkan dengan baik (pengeringan dan disinfeksi) untuk memutus rantai hidup parasit. Ikan yang terinfeksi diambil dan dimusnahkan. Air yang digunakan untuk budidaya sebaiknya diendapkan dan diberi filter sebelum masuk ke kolam [1]. DIsinfeksi dapat menggunakan kapur 25kg/ha  [2]

    Beberapa obat telah diujicoba kemampuannya mengendalikan infeksi myxosporidia. Fumagilin (dicycloheylamine) telah digunakan untuk Myxobolus cerebralis namun hasilnya bervariasi. Obat ini efektif untuk menangani Thelohanellus hoyorkai pada ikan koi namun tidak efektif untuk Myxobolus cyprinid  dan Thelohanellus nikolskii. Meskipun hasilnya berbeda-beda, menurut Buchman et al., 1993), paling penting adalah aplikasinya sebelum sporogoni yang lebih efektif. Pasca sporogony, spora terenkapsulasi sehingga pengobatan tidak efektif. Furazolidone, amprolium, nicarbazine, oxytetracyline dapat mengobati M. cerebralis namun hasilnya berbeda-beda. Antikoksidia, Amprolium dan Salinomycine efektif namun tidak untuk H. ictaluri.

    Formalin, chloramines-T, sodium chloride (NaCl), potassium permanganate (KMNO4), copper sulfate (Cu504), hydrogen peroxide (H202), Rotenone® (C23H2205, 5% solution, Prentiss, Inc., Sandersville, Georgia, USA) and Bayluscide® (niclosamide, 70% wettable powder; Bayer Chemical Co., Kansas City, Missouri, USA) telah diuji kemampuannya mengeliminasi oligochaeta. Namun sayangnya, dosis untuk membasmi melebihi batas yang diperbolehkan dan disarankan digunakan pasca outbreak, bukan saat budidaya. Beberapa bahan juga toksik untuk ikan. Polikultur dengan ikan mas, juga disarankan untuk menurunkan populasi oligochaeta, namun ketika ikan menjadi besar, ukuran cacing tidak lagi cocok sebagai sumber makanan. Spesies lain yang juga dicobakan sebagai pemakan bentos adalah fathead minnow dan smallmouth buffalo meskipun keberhasilannya belum sepenuhnya terbukti [4]


    Sumber pendukung

    1. Maskur, Mukti Sri Hastuti, Taukhid, Angela Mariana Lusiastuti, M. Nurzain, Dewi Retno Murdati, Andi Rahman, Trinita Debataraja Simamora. 2012. Buku Saku Pengendalian Penyakit Ikan. Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
    2. Afrianto, E. dan Liviawaty, E. 1992. Pengendalian Haman & Penyakit Ikan. Pernerbit Kanisius: Yogyakarta
    3. Hoole, D., D. Bucke, P.Burgess., I Wellby. 2001. Diseases of Carp and Other Cyprinid Fishes Blackwell Science:
    4. Woo, P.T.K. dan Buchmann, K (Ed). 2012. Fish Parasites Pathobiology and Protection. CABI : UK
    5. Roberts, R.J (Ed). Fish Pathology 4th Ed. Wiley-Blackwell: UK
    6. Prihatini, N.C. dan Alfiyah. 2017. Myxosporeasis pada Ikan Koi (Cyprinus carpio). Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan 8(1):6-10
    7. Baker, D.G. (Ed). Flynn’s Parasites Of Laboratory Animals Second Edition. Blackwell Publishing: Iowa

    No comments:

    Post a Comment