-->

    Sunday, 28 August 2016

    Monodon Baculo Virus (MBV)

       Nama lain: P. monodon Nukleopolyhedrovirus (PemoNPV) [3]

        Etiologi/ penyebab: virus jenis baculovirus, dsDNA [1]. Virus ini beramplop dan berbentuk batang [5].
       

            Hospes : larva udang, kepiting, hewan payau lainnya [1]. Udang jenis Penaeus monodon, P. semisulcatus, Metapenaeus ensis, P. vannamei, P. merquensis [2,3], P. indicus [8]

         Stadium rentan : nauplii, mysis, larva, juvenil, PL [1,3]
      
         Epizootiologi
    Pertama kali penyakit ini dilaporkan pada udang yang berasal dari Taiwan pada tahun 1977. Kejadian epizootic baru terjadi pada thun 1988 di Taiwan [5]. MBV dilaporkan terjadi di Australia, Afrika Timur, TImur Tengah, negara indo pasifik, Asia selatan hingga Asia Timur. Virus tipe MBV juga ditemukan di Mediterania dan Afrika Barat, Tahiti, dan Hawai, beberapa lokasi di Amerika Selatan dan Utara serta Karibean [4]. Penularan MBV terjadi secara horizontal dan vertikal. INfeksi persisten pada udang penaeid sebagai hospes MBV dan indukan P. monodon yang terinfeksi MBV mengekskresikan feses terkontaminasi  MBV saat pemijahan. Oleh karenanya dapat mencemari telur dan menurunkan virus pada generasi selanjutnya. Keluarnya MBV bersama feses biasanya terjadi pada outbreak. Dan keparahan penyakit didapatkan pada juvenil daripada larva [8].  

    Virus ini diketahui menyebabkan mortalitas sebesar 85-100% selama stadium larva dan post larva di hatcheri. Meskipun MBV kurang mematikan dibandingkan bercak putih, infeksi MBV mengakibatkan kerugian ekonomi hatcheri karena pertumbuhan yang lambat dan rendahnya tingkat kelulushidupan post larva [7]. Prevalensi MBV bervariasi dari 1 hingga 100% pada udang liar maupun udang budidaya [8]. Udang yang terinfeksi juga menjadi rentan terhadap infeksi sekunder oleh vibrio dan protozoa. Oleh karena itu infeksi MBV kerap terlihat sebagai multi infeksi [6]

       Faktor pendukung
    Salinitas dan pH [6], buruknya kondisi lingkungan budidaya [8]

      Gejala Klinis
    Udang lemah, nafsu makan turun, terdapat bintik hitam di cangkang, hepatopankreas dan saluran pencernaan berwarna keputihan [2]. Perubahan warna tubu biru pucat-kelabu hingga biru gelap-hitam.  Udang mengalami perlambatan pertumbuhan, kehilangan nafsu makan [3].  Stadium protozoea, mysis, dan PL awal dengan infeksi BP yang berat dapat menunjukkan midgut keputihan (karena adanya badan oklusi dan debris sel di feses). Pada juvenil dan dewasa tidak menunjukkan gejala klinis yang bernilai begitu juga dengan larva yang terinfeksi ringan [9]

      Perubahan patologi
    Organ target virus adalah epitel tubulus dan ductus hepatopankreas postlarva, juvenil, dan dewasa. Sedangkan pada postlarva muda organ target adalah epitel midgut anterior [5]. Virus ini dalam inti sel inang dapat membentuk badan oklusi (occlusion body). Badan oklusi merupakan Kristal seperti bola yang terbentuk dari koloni virion dengan matriks proteinnya. Inti sel hospes mengalami hipertrofi [1]. Badan onklusi ini akan terlepas ke lumen setelah sel hancur [3]. Pada infeksi ringan, sebelum pembentukan badan inklusi, sel yang terinfeksi memiliki nukleus yang hipertrofi dengan kromatin nukleus yang mencolok dan nucleolus yang menepi sehingga nukleus tampak memiliki cincin [6].

    Gb. infeksi MBV pada hepatopankreas PL. Terdapat hipertrofi nukleus (panah merah) dan badan oklusi (panah putih) (pict credit to Bahari  et al., 2014)

    Meskipun terdapat nekrosis fokal hingga difus pada hepatopankreas, tidak ada tanda apapun yang menunjukkan reaksi seluler ataupun peradangan yang memicu terbentuknya enkapsulasi hemosit atau melanisasi. Hal ini bisa terjadi disebabkan kemampuan MBV untuk menyerupai protein hospes menghindari respon pertahanan hospes. Atau, dikarenakan MBV yang bersifat intraseluler sehingga tidak dapat dijangkau oleh mekanisme pengenalan dari pertahanan tubuh hingga terjadi nekrosis dari sel yang terinfeksi. Kemudian debris sel nekrosis dan virion MBV serta oklusi pada hepatopankreas dana tau lumen lambung diekskresikan secara cepat. Oleh karena itu mekanisme pertahanan hospes tidak punya banyak kesempatan merespon keberadaan MBV  [8]


    Siklus Hidup

    Siklus hidup bakulovirus diawali dengan penularan virus pada udang yang rentan melalui ingesti. Virus masuk ke dalam sitoplasma sel baik melalui viroplexis (sel menelan partikel dengan cairan yang mengelilingi) atau dengan fusi dimana virus dan membran sel serta inti virus masuk ke dalam sel. Infeksi sekunder terjadi melalui ekstraseluler virus yang melanjut dengan infeksi (digambar ulang oleh Summers dan Smith, 1987. Diambil dari  Johnson, 1995)

      Metode Diagnosa
    Diagnosa dapat dilakukan dengan metode cepat dan histopatologi [1] dan PCR [2]
    Pemeriksaan secara wet mount dapat  dilakukan menggunakan feses, HP, midgut [3]. Tehnik pemeriksaan secara cepat ini menurut Arifin et al., (2010) sebagai berikut:

    Alat dan Bahan:
    -          Spuit/ syringe 1mL
    -          Larutan Malachite Green Oxalate 0,1% dalam aquades
    -          Objek glass
    -           Cover glass

    Cara kerja
    -  Udang ukuran besar : diambil hepatopankreasnya kemudian dilakukan squash pada objek glass
    -   Benur/ post larva : dipotong cephalothoraxnya dan diletakkan pada objek glass
    -  Tekan dengan objek glass/ cover glass, malachite green oxalate 0,1% dibubuhkan pada salah satu ujung objek glass dan bagian lain diisap dengan kertas filter
    -   Diamati dengan mikroskop perbesaran 10-100x
    -   Diagnosa positif bila teramati badan oklusi berbentuk Kristal bola berwarna hijau

    gb. Gambaran badan oklusi MBV dari squash hepatopankreas PL udang windu, Badan oklusi berbentuk spheris, multipel, dan berada di intranuklear (panah). Pewarnaan dengan malachite green perbesaran 700x (b) dan 1700x (c) (pict credit tp Lighter: FAO Fisheries Technical  Paper 402/2)







           Diagnosa banding
    MMBV dan BP. Keduanya memiliki gambaran badan oklusi namun dapat dengan mudah dibedakan dengan MBV sebab warnanya yang basofilik sedangkan pada MBV bersifat eosinofilik [8]

         Pencegahan dan Pengendalian
    Pengendalian penyakiit ini dapat dilakukan antara lain dengan cara sebagai berikut:
    a.   Penyediaan benih bebas virus
    b.   Pemberian kalsium hipoklorit 30-40ppm untuk membebaskan air dari virus
    c.   Pemberian imunostimulan beta 1-3 glukan atau vitamin C dalam pakan
    d.   Menghindari perubahan kualitas air secara mendadak serta mengganti air secara kontinyu

       Perlakuan disinfeksi juga efektif untuk menginaktivasi virus. Formalin, klorin, dan iodophore direkomendasikan untuk disinfeksi pada hatcheri. Dari berbagai studi yang dilakukan, didapatkan kombinasi pencucian dengan formalin yang dilanjutkan dengan iodophore mampu mengeliminasi infeksi dari nauplii atau telur yang difertilisasi.  Dosis iodin yang direkomendasikan untuk menginaktivasikan MBV di hathceri setidaknya adalah 10000ppm.


    Referensi
    1 Arifin, Z., Handayani, R., Sri Murti Astuti, Noor Fahris. 2010.  Waspadai Penyakit pada Budidaya Ikan dan Udang Air Payau. Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau: Jepara.

    2.Maskur, Mukti Sri Hastuti, Taukhid, Angela Mariana Lusiastuti, M. Nurzain, Dewi Retno Murdati, Andi Rahman, Trinita Debataraja Simamora. 2012. Buku Saku Pengendalian Penyakit Ikan. Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

    3. Lio-Po. G.D. dan Inui, Y. 2014. Health Management in Aquaculture Second Edition. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department.

    4. Johnson, S.K. 1995. Handbook of Shrimp Diseases. Department of Wildlife and Fisheries Science, Texas A&M University.

    5.  Rajendran, K.V., M. Makesh, I. Karunasagar. 2012. Monodon Baculovirus of Shrimp. Indian J. Virol. (July–September 2012) 23(2):149–160 DOI 10.1007/s13337-012-0086-z

    6. Anonim. 2015. Monodon Baculovirus (MBV) Disease of Penaeid Shrimp. Fisheries and Ocean Canada

    7. Meimandi-Bahari, S. A., Afsharnasab M., Motallebi Moghanjoghi A. A., Azaritakami G.1, Sharifrohani M. 2014. Ultrastructural and pathogenesis of Monodon baculovirus in SPF shrimp, Litopenaeus vannamei imported to Iran. Iranian Journal of Fisheries Sciences 13(3) 640-652

    8. Vijayan, K.K., S.V Alavandi, K.V. Rajendran, K. Alagarswami. 1995. Prevalence and Histopathology of Monodon Baculovirus (MBV) Infection in Penaeus monodon and P. indicus in Shrimp Farms in The Southeast Coast of India.  Asian Fisheries Science 8 (1995): 267-272

    9. OIE. 2016. Chapter 2.2.7 Spherical Baculovirosis (Penaeus monodon – Type Baculovirus). Manual of Diagnostic Tests for Aquatic Animals


    No comments:

    Post a Comment