-->

    Thursday, 14 January 2016

    WSSV (White Spot Syndrom Virus)

    White Spot Syndrom Virus

       Nama lain: Bercak putih, WSSV, Baculoviral Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus (HHNBV), Rod Shaped Virus of Penaeus japonicus (RV-PJ), Systemic Ectodermal and Mesodermal Baculovirus (SEMBV), dan  White Spot Baculovirus (WSBV)


       Etiologi/ penyebab: genus whispovirus, family nimaviridae termasuk virus dsDNA. Virus ini berbentuk batang dan beramplop [1]

    v  Hospes: Penaeus monodon, P. indicus, P. japonicus, P. chinensis, P. merguensis, P. aztecus, P. stylirostris, P. vannamei, P. duorarum, P. setiferus, P. penicillatus, P. semisulcatus, P. curvirostris, Metapenaeus ensis, udang air tawar (Macrobrachium idella, M. lamerrae), kepiting air tawar (Paratelphusa hydrodomuos, P. pulvinata) [1]. Hingga saat ini belum pernah ada laporan krustasea yang resisten terhadap penyakit ini dan seluruh stadium udang dari telur hingga indukan rentan terhadap WSV [5].

      Epizootiologi
    Penyakit ini dilaporkan terjadi pertama kaliny di Cina dan Cina daratan pada tahun 1991-1992. Pada tahun 1999, penyakit WSD ini sudah meluas dan dilaporkan setidaknya di 9 negara yakni Amerika, Kolombia, Ekuador, Guatemala, Honduras, Nikaragua, Panama, Peru. Sementara itu, di Asia penyakit ini terjadi di Banglades, Cina, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Filipina, Taiwan, Srilanka, dan Thailand. Sumber utama dari penyebaran penyakit ini diduga berasal dari penggunaan induk dan benur liar yang diketahui membawa WSV, begitu juga dengan berbagai krustasea bahkan larva insekta akuatik [4]. Virus ini dapat ditularkan dari hospes ke hospes tanpa vector biologis. Dekapoda liar termasuk Mysis.sp, Acetes sp., Alpheus sp., Callianassa sp., Exopalaemon sp., Helice sp., Hemigrapsus sp. Macrophthalmus sp., Macrophthel sp., Metaplax sp.,Orithyia sp., Palaemonoidea sp., Scylla sp,. Sesarma sp., Stomatopoda sp dapat terinfeksi WSSV pada kondisi lingkungan yang sesuai. Copepoda, rotifer, artemia, Balanus sp., dan Tachypleidue sp dapat menjadi karier melalui infeksi laten tanpa menimbulkan penyakit. Moluska laut seperti cacing polichaeta dan arthropoda seperti isopoda dan larva insekta secara mekanik membawa virus ini. Infeksi dapat menyebar secara vertikal melalui ciran ovarium dan horizontal melalui kanibalisme serta melalui air. Hewan yang mati dan sekarat dapat menjadi sumber penularan. Prevalensi penyakit ini cukup bervariasi dari <1% populasi terinfeksi hingga 100%. Mortalitas berlangsung cepat dan parah, dapat mencapai 100% dalam 3-7 hari. Virus ini tetap di lingkungan selama 5 hari dan mampu bertahan dari pembekuan [5, 7].


       Faktor Predisposisi/ Faktor pendukung
    Perubahan suhu air, kesadahan, salinitas, dan penurunan kadar oksigen (<2 ppm) secara cepat diduga kuat dapat memicu outbreak infeksi subklinis WSD [4]. Munculnya penyakit ini juga dapat dipicu oleh blooming plankton yang kemudian mati mendadak, fluktuasi pH harian besar, suhu yang rendah, hujan mendadak, pengelolaan pakan yang kurang baik [8].


       Gejala Klinis
    Kebanyakan bintik putih ini akan muncul di eksoskeleton dan epidermis udang yang sakit sekitar dua hari pasca infeksi. Bintik putih ini mulai teramati dari karapas dan segmen 5-6 dengan diameter 3mm. Bintik ini dapat menyatu dan membentuk bercak yang meluas. Udang dengan infeksi WSSV terlihat mengapung [1, 5]. Perubahan tingkah laku udang teramati dengan terhentinya nafsu makan, letargi, dan berenang di dekat permukaan. Pada stadium awal infeksi, udang yang hampir mati mengalami perubahan warna menjadi kemerahan akibat perluasan kromatofora dengan sedikit atau tanpa ada bintik putih. Pada udang windu kutikula menjadi longgar disertai bercak putih di permukaan bagian dalam karapas. Bercak putih ini merupakan deposit kalsium pada karapas [6].

        Perubahan patologi
    Organ target utama dari WSSV adalah jaringan yang berasal dari ectodermal dan mesodermal terutama epitel kutikula dan jaringan ikat subkutikula. Meskipun dapat menginfeksi jaringan ikat yang melekat dengan hepatopankreas dan midgut namun sel epitel tubulus dari kedua organ ini tidak pernah terinfeksi [5].

       Metode Diagnosa
    Deteksi keberadaan virus ini paling baik dilakukan pada stadium akhir post larva, juvenil, dan dewasa. Probabilitasnya makin meningkat dengan adanya kondisi streas (seperti ablasi, pemijahan, moulting, perubahan salinitas, suhu atau pH, dan saat blooming plankton) [5]. Diagnosa awal dapat ditetapkan dengan melihat gejala klinis berupa bintik putih pda eksoskeleton. Squash dari insang, subkutikulla lambung ataupun cephalothorax menunjukkan nukleus hipertrofi dalam sel yang bervakuola. Diagnosa dengan histopatologi dapat teramati adanya degenerasi, hipertrofi nukleus, marginasi kromatin, benda inklusi intranuklear pada epitel cangkang, insang, lambung, jaringan hematopoietic, organ limfoid, kelenjar antennal, dan jaringan syaraf. Benda inklusi yang teramati merupakan Cowdry tipe A dengan halo. Pemeriksaan PCR dapat dilakukan dengan mengambil insang, pleopod, periopod, dan hemolimfe. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan antara lain LAMP, dot blot, IFA, MABs cell culture. Metode bioassay dapat dilakukan dengan memberikan pakan berupa udang yang terinfeksi yang dilanjutkan dengan pemeriksaan secara histopatologi dan PCR [1, 5, 7].

       Diagnosa Banding
    Berdasarkan perubahan makroskopisnya, bintik putih pada karapas selain disebabkan oleh WSSV juga dapat disebabkan oleh infeksi bakterial atau infeksi IHHNV [2].  Bintik putih akibat infeksi bakteri (Bacterial White Spot Syndrom) berhubungan dengan penggunaan  Bacillus subtilis sebagai  probiotik serta pH dan alkalinitas yang tinggi. Bintik putih ini tampak seperti “lichen”, memiliki pusat berlubang dengan titik-titik melanisasi. Namun pada pemeriksaan secara mikroskopis, bintik putih yang terjadi tidak disertai dengan adanya benda inklusi [3]. Perbedaan bintik putih akibat infeksi WSSV dan IHHNV adalah lokasi terdapatnya bintik tersebut.  Pada infeksi WSSV bintik ditemukan pada karapas dan kutikula permukaan tubuh, sedangkan untuk kasus infeksi IHHNV bintik putih terjadi pada kutikula pada segmen ketiga hingga ke enam abdomen [2].

        Pencegahan dan Pengendalian
    Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit WSSV antara lain:
    1.   Peningkatan biosekuriti
    2.    Penyediaan benih yang bebas WSSV
    3.    Mengeliminasi hewan karier dengan menggunakan plastic ataupun pembuatan bird scaring device
    4.   Disinfeksi telur dengan 5mg/L povidone iodine
    5.   Pemberian immunostimulan seperti peptidoglikan, LPS, glucan, probiotik, ekstrak rumput laut (fucoidan)
    6.    Vaksinasi  [1]
    7.    Mempertahankan nilai pH untuk mengurangi tingkat stress udang
    8.  Tidak menggunakan pakan beku atau pakan segar yang dibekukan asal hewan pada pembesaran dan hatchery sebelum disterilisasi dan pasteurisasi [4]
    9.     Disinfeksi seluruh peralatan budidaya
    10.  Pemeliharaan kualitas air yang baik

    Hal-hal yang dilakukan apabila terjadi outbreak
    a.    Tambak yang terinfeksi segera ditreatmen dengan 30ppm klorin untuk membunuh udang dan berbagai hewan karier.
    b.    Udang dan hewan lain yang mati segera dikubur atau dibakar
    c.     Air dari tambak yang terinfeksi didiamkan selama 4 hari sebelum dibuang
    d.    Menginformasikan kepada pemilik tambak berdekatan dan tidak melakukan penggantian air minimal 4 hari (apabila air tambak berkontak langsung dengan tambak terinfeksi).
    e.  Bila dilakukan pemanenan, air ditampung terlebih dahulu untuk didisfeksi dengan klorin dan didiamkan selama 4 hari. Semua material yang tersisa ditambak dibakar atau dikubur. Seluruh personil yang terlibat dalam pemanenan harus mandi dan berganti pakaian di lokasi. Pakaian sebaiknya disimpan dalam wadah khusus dan disinfeksi. Peralatan, kendaraan, alas kaki, dan container udang didisinfeksi dan air sisanya dibuang ke tambak treatmen [4].

     Referensi

    [1] Lio-Po. G.D. dan Inui, Y. 2014. Health Management in Aquaculture Second Edition. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department.

    [2] Lightner, D.V. 2012. Shrimp Pathology Course. Department of Veterinary Science, University of Arizona.

    [3] Afsharnasab, M., R. Mortezaei, V. Yegane, B. Kazemi. 2009. Gross Sign, Histopathology and Polymerase Chain Reaction Observation of White Spot Syndrom Virus in Shrimp Specific Pathogen Free Litopenaeus vannamei in Iran. Asian Journal of Animal and Veterinary Advances 4(6): 297-305
    [4] Reantaso, M.G.B., Sharon E. McGladdery, Iain East, Rohana P. Subasinghe. 2001. Asia Diagnostic Guide to Aquatic Animal Diseases. FAO FISHERIES TECHNICAL PAPER 402/2

     [5] OIE. 2014. OIE Manual of Diagnostic Tests for Aquatic Animals Chapter 2.2.06: White Spot Disease.
    [6] Varner, P.V. dan Kent W Hasson. 2008. White Spot Syndrome in Crustaceans in Blue Book 2014.
    [7] Raidal, S., Garry Cross, Stan Fenwick, Philip Nicholls, Barbara Nowak, Kevin Ellard, Frances Stephens. 2004. Aquatic Animal Health: Exortic Disease Training Manual. Fisheries Research and Development Corporation and Murdoch University
    [8] Amri, K. dan Iskandar Kanna. 2008. Budidaya Udang Vaname: Secara Intensif, Semi Intensif, dan Tradisional. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta



    No comments:

    Post a Comment